"Ntar aku coba yang ngomong Kak,..." Lenna duduk disampingku setelah dia selesai mengecek Mama.
"Kenapa adekmu itu gak mau liat Mama sama sekali."
"Sabar kak... Mungkin dia itu tertekan juga. Kakak tahu kan dia pengen perhotelan kakak suruh masuk ekonomi. Belakangan kelihatan banget malesnya dia..." Aku diam, dia tak pernah serius dalam hidupnya, kenapa milih perhotelan. Berniat pilih patisserie lagi. Mau jadi koki kue, apa yang bagus dari itu.
Mungkin aku memang salah, tapi aku melakukan buat masa depannya. Lagipula dia akhirnya setuju ke ekonomi asal masuk kampus yang sama dengan teman-temannya.
Kampus mahal itu.
Aku menghela napas. Sekarang menyesalpun sudah terlalu banyak biaya yang keluar. Mungkin harusnya kubiarkan saja dia. Apa aku salah langkah.
"Skripsimu udah selesai Len."
"Udah 50% Kak, tenang aja. Aku udah dapet tawaran kerja kok dari perusahaan tempatku magang kemarin."
"Iya?"
"Iya Kak, tenang aja. Aku udah gak sabar nih, sidang selesai, aku langsung masuk. Gak sabar bisa ngasih Kakak dan Mama gaji pertama." Aku tersenyum mendengarnya. Lenna pelipur laraku, setidaknya dengan aku punya dia untuk menegahi semuanya.
"Gak usah simpen buat kamu aja. Kasih Mama aja..." Jika mereka sudah bisa membiayai hidup mereka masing-masing, aku merasa satu tugasku selesai.
"Istirahat kak, aku udah bilang Mama kok. Ardy sama temennya."
"Ya udah. Kakak tidur dulu ya. Makasih udah bantu kakak. Besok minta tolong kamu lagi buat lihat keadaan Mama."
"Iya Kak. Tenang aja..."
Setidaknya dirumah ini masih ada Lenna.
🧡🧡🧡
Itu insident memalukan kemarin, membuat masalah keluargaku diketahui si Bambang. Untungnya hari ini tak ada meeting apapun sehingga aku bisa menghindar bertemu.
Pun aku menghindari pergi ke kafetaria untuk menebus kupon makan. Kusuruh Dhea untuk memasukkan makananku ke kotak makan. Aku tak sanggup harus bertemu si Bambang lagi. Ohh ya sapu tangannya. Aku kemarin pesan ke Bibi di rumah, aku membawanya. Jangan sekarang lah, beberapa hari lagi.
Lenna meneleponku. Ada apa ya?
"Napa Len?"
"Kak kok Mama malah gak bisa minum ya Kak. Minum dikit aja muntah, terus napasnya sesak pendek-pendek. Aku udah nelepon dokter Rina, dia bilang opname kalo muntah terus."
"Ya udah, aku pulang sekarang." Aku bergegas mengambil tas dan pulang ke rumah.
"Dhea, saya pulang dulu. Mama saya sakit. Kayanya harus opname."
"Ohh iya Bu. Semoga cepat sembuh Mamanya Bu."
"Iya, kalo ada apa-apa telepon aja." Aku bergegas pulang. Ardy itu kenapa dia belum pulang juga sekarang. Mama udah opname begini mikirin dia.
Aku coba meneleponnya di jalan. Dia tidak mengangkat, mungkin ada kuliah atau apa. Sudahlah biarkan dulu, aku mengantikan dengan mengirim pesan padanya.
"Mama, kita ke rumah sakit dulu." Secepatnya setelah pulang aku membawanya ke rumah sakit. Sementara Lenna sudah mempersiapkan tasnya.
"Ardy belum mau pulang Mel?"
"Dia pulang ntar, lagi kuliah Ma. Kita opname aja ya, dokter Rina bilang Mama harus opname kalo gak bisa masuk cairan begini." Dia terus menanyakan Ardy, anak laki-laki semata wayangnya itu. Memang kesayangan.
"Iya." Aku dan Lenna memapahnya keluar kamar, kami menuju rumah sakit tempat aku bekerja sebelumnya area Tangerang.
"Dok, gimana..." Dokter Rina yang langsung memeriksanya.
"Kita lanjut USG dan endoscopy dulu ya, sementara obat masuk. Saya belum bisa ngomong keparahannya."
"Kok napasnya malah jadi sesek gitu Dok."
"Iya, gas dari perut menekan paru jadi sesak. Tapi obat masuk, dan Mamanya gak dehidrasi jadi tenang aja, semuanya masih bisa diatasi." Mama sudah berada di tangan dokter spesialis penyakit dalam, aku sudah tenang. Mama nampaknya sudah bisa istirahat setelah beberapa obat yang di admisi dokter memberikan efek.
Dhea mengirimkan beberapa otorisasi yang bisa aku lakukan mobile sementara aku menunggui Mama sore ini sampai malam, Lenna pulang duluan dia akan mengantikanku nanti malam. Dan Ardy belum tampak batang hidungnya... Anak itu, tak bisakah dia mengerti kondisinya. Tak bisakah dia membantu menjaga Mama.
Yenni meneleponku, aku sudah menelepon mengirim kabar padanya Mama sedang dirawat. Tapi dia sedang hamil besar, dalam dua minggu ini HPL nya, dan dia tinggal di kota ujung Timur, Bekasi sementara aku di ujung Barat, Tangerang.
"Kak Mama gimana,..."
"Baik, udah ditangani dokter. Mau persiapan USG dan endoscopy, tadi udah bisa istirahat."
"Perlu aku kesana Kak? Yosan belum pulang."
"Gak pa-pa, Mama bisa kakak dan Lenna yang jaga."
"Ohh ya udah."
"Gimana keadaanmu.."
"Aku... baik." Nada baik yang tak yakin. Entahlah ada apa lagi sekarang. Mungkin dia terlalu malu cerita padaku urusan rumah tangganya.
"Baiknya kok gitu..." Aku mengulang bertanya. Sebenarnya aku sudah minta mereka menunggu sedikit, dia dan Yosan belum begitu mapan. Sekarang karena hyperemesis (Mual dan muntah berlebih saat kehamilan) Yenni harus berenti bekerja.
"Gak pa-pa Kak."
"Cerita ada apa. Jangan bilang gak pa-pa tapi nyatanya kamu kenapa-kenapa." Masalah lain lagi ternyata.
"Papanya Yosan masuk RS juga karena penyakit jantungnya kambuh, tabungan buat lahiran kepake. Termasuk tabungan aku juga. Dia bilang mau cari pinjeman dulu ke kantor,...aku jadi kepikiran Kak..."
"Habis lahiran kerja lagilah Yen, kalian tuh belum bisa satu orang yang kerja. Entar pake credit card kakak aja kalo memang mendesak."
"Iya Kak, aku rencananya emang mau kerja lagi."
"Ya udah, baek-baek jaga diri. Kabarin kakak aja oke..."
"Iya Kak, makasih ya."
Mau apalagi. Namanya keluarga siapa lagi yang bantu kalo gak kita. Mungkin nanti pas pensiun anak mereka bisa bantu aku yang udah sakit-sakitan. Mungkin...
Aku menghela napas. Sudahlah, mungkin perjuanganku masih banyak. Aku kerja bukan buat mereka buat siapa lagi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
ZQ
jadi inget Erwin
tooor novel kamu kok 100% bikin gagal move on
2022-12-06
3
Arya Al-Qomari@AJK
Melisa jadi sapi perah nih, duh kasihan sekali.
2022-11-09
0
Gabrielle
Ya ampun🤦♀️🤦♀️🤦♀️
Banyak banget beban hidupnya😖😵💫😮💨😱
2022-08-29
0