"Kau hampir terbunuh, yang kau ingat adalah bajumu?" Dasar dokter, tak bisakah dia sedikit sentimentil. Sementara aku kesulitan membuka tasku karena setengah lenganku mati rasa.
"Sini kubantu..." Dia duduk didepanku dan membantuku membuka tas.
"Tas ini juga harus dibuang, tas berwarna krem itu padahal kesukaanku juga."
"Dasar wanita..." Dia tersenyum.
"Aku memang wanita. Kenapa kau malah memarahiku seharusnya kau...." Seharusnya dia bilang dia akan bilang membelikanku lagi. Tapi kemudian aku sadar bahwa dia dan aku bukan siapa-siapa. Mana mungkin seseorang mengatakan hal seperti itu padaku.Kenapa aku berpikir dia bisa berkata seperti itu, apa aku sudah gila, sekali aku pernah bersandar padanya tak akan membenarkan perkataan ini... "Astaga kenapa aku bicara begini, aku memang tak normal, obat apa yang membuat otakku begini..." Aku meracau sendiri karena tiba-tiba merasa sedih.
"Aku tak memarahimu. Setengah obat bius efeknya adalah swing mood, besok akan hilang..." Dia malah menjelaskan ketidakjelasa perasanku adalah sebuah efek obat. Aku merasa malu sekarang. Harusnya aku tak berpikir macam-macam.
Aku menelepon Lenna dan menjelaskan aku di rumah sakit dan baik-baik saja. Tapi aku tak perlu dia datang hari ini besok saja karena aku tak punya baju, besok aku akan pulang. Sementara aku minta dia bilang ke Mama aku ada dirumah teman supaya dia tak khawatir malam ini.
Seseorang mengetuk pintu. Seorang perawat yang mengantar makan malam dan Andreas.
"Dokter Andreas..." Aku melihatnya tersenyum padaku.
"Dia doktermu, dia yang menemukanmu dan melakukan tindakan langsung sampai ruang operasi..." Vincent menjelaskan.
"Thanks Dok."
"Kau menakutiku saat kau pingsan, kupikir kau sudah kehilangan banyak darah. Kupikir ada film horror didepanku."
"Aku tak tahu dokter juga bisa merasa begitu. Aku hanya tak kuat melihat darahku sendiri." Aku tertawa. Dia memeriksa kondisiku kemudian.
"Aku boleh minta pulang Dok. Aku sudah baik-baik saja, cuma mengantuk kena obat bius..."
"No. Observasi dulu. Besok kau boleh pulang."
"Berapa kali kau mencoba minta pulang, kau belum menyerah juga, mana mungkin kau boleh pulang." Sekarang dr. Vincent memarahiku lagi. Andreas meringis padaku sambil menyelesaikan chart di tangannya. Dia menuliskan sesuatu ke chart dan memberikannya ke perawat, mungkin resep obat yang harus kuminum.
"Besok aku akan memeriksamu lagi. Dan aku memberimu obat yang harus kau bawa pulang. Senin Selasa kau tak boleh ke kantor dulu..."
"Kau dengar itu." Bambang melipat tangannya dan
"Makanlah dulu, lalu istirahat. Kau mual? Kadang beberapa orang mual terkena efek obat anestesi."
"Tidak."
"Ya sudah, makanlah ada obat yang harus kau minum, perawat akan mengambilkannya. Aku harus rotasi memeriksa pasien lain dulu sebentar. Oke..." Andreas meninggalkanku dengan Vincent.
"Dok, kenapa kau disini. Kau tak berkewajiban menungguiku, terima kasih sudah menemaniku. Ini akhir pekan seharusnya kau tak disini. Kenapa kau menungguiku disini..."
Dia tak menjawab pertanyaanku. Tapi membukakan plastik penutup makanan dan menaruh meja makannya di depanku.
"Makan."
"Dok, kau tadi tak mendengar perkataanku."
"Jangan bawel, makanlah." Dia tak menghiraukan pertanyaanku.
"Jadi ini caramu mengajakku makan malam." Dia tertawa sekarang.
"Anggap saja begitu. Mau disuapi..." Aku menatapnya. Bambang ini kenapa begitu baik padaku. Gara-gara satu makan malam dia begini baik. Apa yang diharapkannya...
"Aku bisa makan sendiri." Dia memperhatikanku makan. Aku jadi tak enak makan karena dia duduk didepanku dan melihatku begitu.
"Kau tak makan Dok?"
"Nanti." Jawabannya pendek saja. Dia mengambilkanku tissue di meja lainnya. Dan membantuku dengam mangkok sop yang bergeser. "Sudah lama aku tak menjadi dokter perawat orang sakit, kadang kurasa aku telah melupakan banyak hal. Jika kau tiba-tiba di depanku berdarah seperti itu, aku tak yakin tahu apa yang harus kulakukan, untung Andreas yang menemukanmu. . Dia sering di ER mengatasi situasi darurat. Aku melihat bajumu itu, begitu banyak darah, tadinya kupikir..."Dia menghela napas. Aku menatapnya bicara, hmm... apa yang mau dia katakan? Bahwa dia khawatir padaku. Kenapa dia sampai... Aku tak berani bertanya soal itu. Tapi dia bersedia menungguiku disini.
"Tapi syukurlah aku masih bisa melihat kebawelanmu." Dia tersenyum, sementara jantungku mulai terasa tergelitik. Kenapa dia berkata begitu, membuatku merasa dia memperhatikanku diatas segalanya.
"Tenang saja kau pikir aku akan mati begitu mudah, tak elit sekali mati kena cutter..." Dia tersenyum atas candaanku. Rambutku yang sebentar lagi sebahu kacau karena berbaring, menganggu makanku. Sementara satu tangan lagi tak bisa bergerak bebas. Dia melihat itu.
"Kau punya ikatan rambut, biar aku membantumu." Dia memeriksa tasku dan menemukan satu. Tanpa banyak bicara dia membantuku mengikatnya. "Nah, begitu lebih baik..." Sementara aku tertegun begitu saja dia melakukan hal yang manis itu.
"Nah begitu lebih baik. Ayo makanlah." Dokter ganteng ini. Kenapa dia membuatku berdebar begini. Tindakannya membuatku seperti seseorang yang berarti baginya.
"Permisi Dok, saya membawa obat buat Bu Melisa." Seorang perawat datang dan mengetuk pintu. Dia menanyakan resep obatku. Memastikan semuanya benar untuknya. Tak usah kau tanya, mukaku memanas karena itu. Aku merasa sangat diperhatikan. Kenapa Bambang ini harus melakukan ini, menyiksaku dengan perhatiannya.
"Minum obatnya..." Dia memastikan aku meminum obatku setelah makan sementara tadi menemaniku mengobrol.
"Dok pulanglah, aku tak apa." Dan aku merasa tak enak sudah menahannya lama disini.
"Kau tak perlu apa-apa lagi?"
"Tidak, terima kasih. Dokter sudah melakukan terlalu banyak. Saya tak tahu bagaimana membalas ini."
"Aku tak minta kau membalas." Dia tersenyum kecil. "Besok pagi aku akan kesini mengecekmu lagi. Oke. Kau istirahatlah, jika ada apa-apa panggil parawat, aku akan berpesan kepada mereka."
"Iya."
Ketika Dr. Vincent menghilang di balik pintu. Aku terpaku begitu saja menatap kepergiannya. Ya Tuhan kenapa dia melakukan ini. Apa arti perhatiannya ini.
❤❤❤❤
Vote, Jempol dan Hadiah jangan lupa
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Gabrielle
Jadi baperrrrr....pengen peyukkkkl🤭🤗🤗🤗🤗
2022-08-29
3
Lina Maryani
jd tersipu2 ngebayangi perhatian dr dokter bule 🤣
2022-03-20
0
Ririn
masih abu abu nihh perasaan Bambang ke Lisa
mau berteman tapi blom mau komitmen
hhmm penasaran
2022-01-15
0