Rose keluar dari ruangan musik dengan diikuti Mona di belakangnya. Sejak insiden keributan yang terjadi di depan pintu gerbang universitas, Rose memutuskan untuk tidak masuk ke kelas. Dia terlalu malas untuk bertatap muka dengan Grace, si biang kerok yang selalu mencari masalah dengannya. Sebenarnya tadi itu Rose bisa saja memberi pelajaran pada gadis angkuh itu, tapi dia mengurungkannya karena bagaimana pun Grace adalah adiknya Adam. Rose tidak ingin ada salah paham di antara mereka, apalagi sekarang suaminya sedang sibuk dengan bisnisnya di negara lain.
"Rose, aku takut sekali. Bagaimana kalau Grace dan ibunya mengatakan yang tidak-tidak pada pihak kampus tentang kita berdua? Kita pasti akan berada dalam masalah yang sangat besar, Rose. Bagaimana ini?" tanya Mona sambil menahan tangis.
"Itu mulut mereka, jadi terserah mereka mau bicara apa" sahut Rose acuh.
Ingin sekali Mona menelan kepalanya Rose saat ini juga. Bisa-bisanya dalam keadaan genting begini Rose masih sanggup untuk bicara sesantai ini. Padahal Mona sejak tadi sudah hampir mati sesak nafas membayangkan jenis hukuman yang akan mereka terima dari pihak kampus. Sungguh, sahabatnya ini sangat tidak berakhlak.
"Kalau takut, jangan berteman denganku."
"Tidak mau. Sampai matipun aku akan tetap menjadi temanmu, Rose!" sahut Mona panik. "Pokoknya dimana pun kau berada aku akan selalu ikut. Tidak peduli kau mau menganggapku sebagai parasit atau apapun itu, aku akan terus menempel padamu!.
Rose tersenyum samar. Saat mereka hampir sampai di dekat pintu gerbang, seseorang memanggil mereka. Sontak saja panggilan itu membuat langkah Rose dan Mona berhenti. Mereka kemudian berbalik.
"Kalian darimana saja hah?" tegur Regar dengan tampang yang sangat garang.
Jika Mona langsung pucat pasi di tegur oleh dosen terkiller yang ada di universitas ini, maka Rose terlihat tenang-tenang saja. Dia sama sekali tak memperlihatkan reaksi apapun ketika dosen galak itu memelototinya.
"Kenapa diam saja? Kalian pergi kemana?.
"K-kami, kami....
"Apa ini ada hubungannya dengan laporan dua wanita yang membuat ulah di depan pintu masuk universitas siang tadi, Tuan Regar?.
Rose akhirnya membuka suara. Dia tak suka melihat Tuan Regar melemparkan tatapan mengintimidasi pada Mona.
"Jaga kesopananmu, Rose. Sekalipun kau adalah murid kebanggaan saya, perbuatanmu terhadap Nyonya Vanya dan Grace tetap tidak bisa di benarkan!" sahut Regar sambil menatap tajam kearah muridnya yang begitu dingin ini. "Apa yang sudah kau lakukan pada mereka itu sudah masuk dalam tindak kekerasan. Bagaimana bisa kau menyerang Nyonya Vanya hingga tulang di tangannya patah? Apa kau tidak tahu siapa beliau?.
"Patah?.
Sebuah seringai muncul di bibirnya Rose saat dirinya di fitnah oleh ibunya Grace. Tiba-tiba saja seperti ada yang mendidih di dalam tubuhnya. Rose sangat amat tersinggung dengan tuduhan yang di layangkan oleh sang dosen.
"Tuan Regar, saya rasa anda itu bukan orang yang bodoh. Apa anda tidak bisa membedakan mana aduan yang nyata dan mana aduan yang sengaja dilakukan hanya untuk menebar fitnah? Pernahkah anda melihat seseorang yang tangannya patah masih sanggup untuk mengamuk seperti orang gila? Pernahkah juga anda menemukan seseorang yang sedang terluka mampu untuk membuat aduan pada pihak kampus? Bukankah seharusnya orang-orang seperti itu lebih mendahulukan untuk pergi ke rumah sakit, bukan malah mencari pasukan untuk mencari pembelaan? Kalian para guru-guru di sini sebenarnya adalah orang yang pintar dan juga cerdas, tapi menjadi bodoh di bawah kekuasaan!.
Regar diam mematung. Dia tidak menyangka kata-kata sarkas seperti ini bisa keluar dari mulut muridnya. Meskipun tidak di pungkiri kalau apa yang dikatakan oleh Rose adalah benar adanya. Nyonya Vanya Clarence adalah istri dan ibu dari donatur terbesar di Universitas ini. Sudah pasti pihak kampus akan mendahulukan segalanya tentang keluarga itu walaupun kesalahan ada pada keluarga tersebut.
"Kenapa diam saja? Apa artinya semua yang saya katakan adalah kebenaran kalau kalian itu hanya di bodohi oleh Nyonya Vanya? Tuan Regar, tidakkah anda merasa malu bersikap pilih kasih hanya karena kami bukan berasal dari keluarga terpandang seperti mereka? Iya?!" amuk Rose.
Mona melongo hingga gerahamnya seperti akan terjatuh ke tanah. Sungguh, Rose seperti sedang kerasukan karena berani memarahi Tuan Regar sampai membuatnya tak bisa berkata-kata. Ini adalah rekor spot jantung dengan kematian tercepat menurut Mona karena sekarang para mahasiswa sudah berkerumun dan mengambil video kemarahan seorang Rose.
'Tamatlah sudah riwayat kita setelah ini, Rose. Namamu pasti akan menjadi trending topik di negara ini karena berani memaki Tuan Regar di hadapan para mahasiswa yang lain. Ya Tuhan, tolong usir iblis yang ada di tubuh sahabatku ini, tolong sadarkan dia sekarang juga Tuhan. Aku mohon!.
"Rose, tolong jaga bicaramu. Coba kau perhatikan ke sekeliling, semua orang sedang merekam tindakanmu. Jika masalah ini sampai menyebar keluar, kau bisa terkena masalah besar!" ucap Regar mencoba mengingatkan.
Bukannya takut, Rose malah semakin menggila. Dia sudah habis kesabaran, jadi memutuskan untuk tidak tinggal diam atas aduan Nyonya Vanya yang mencoba menekannya lewat pihak sekolah.
"Saya tidak takut sekalipun seluruh dunia melihat apa yang sedang saya lakukan. Memangnya salah jika saya merasa tidak adil atas sikap pihak kampus yang berat sebelah terhadap keluarga yang menjadi pemilik saham terbesar di sini? Salah kalau saya bersuara? Tuan Regar, anda salah besar jika mengancam saya. Karena saya tidak sedikitpun merasa ciut akan kekuasaan Keluarga Clarence. Kalau benar mereka bermartabat, harusnya mereka tidak menuduh saya yang tidak-tidak. Dan saya rasa anda dan pihak kampus sengaja membutakan mata atas kebenaran yang ada lalu memutar balikkan fakta kalau saya dan Mona-lah yang bersalah. Ingat Tuan Regar, di atas langit masih ada langit. Yang artinya di atas kekuasaan Keluarga Clarence masih ada keluarga lain yang jauh lebih kuat dan berkuasa. Permisi!.
Semua orang yang melihat kejadian itu menatap takjub kearah Rose yang dengan begitu kerennya berani menampar wajah si dosen killer dengan kata-kata yang sangat menusuk. Satu hal yang tak pernah berani dilakukan oleh para mahasiswa yang lain selama ini.
"R-Rose, kau mau kemana?" tanya Mona yang baru tersadar dari keterkejutannya.
Rose sama sekali tak berniat untuk membalas teriakan Mona. Dia kemudian melirik ke seberang jalan dimana Lorus sedang duduk di dalam mobil. Rose kemudian memperlihatkan satu gerakan yang hanya di mengerti oleh organisasinya saja.
Lorus yang melihat kode itu segera menyalakan mesin mobil kemudian bergerak menghampiri nonanya yang terlihat tidak senang. Belum sempat dia membukakan pintu, nonanya sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Braakkk
"Apa yang terjadi, nona?" tanya Lorus penasaran.
"Minta Resan untuk memblok semua video yang di rekam oleh para mahasiswa di universitas itu. Aku tidak ingin orang-orang sampai melihat pertengkaranku dengan Tuan Regar" jawab Rose dingin.
"Baik nona" sahut Lorus kemudian segera mengirim pesan pada Resan.
Dari kaca spion, Lorus terus memperhatikan nonanya yang sedang diam dengan wajah datar. Dia mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
"Pergi ke tempat Raina!" ucap Rose sambil menatap tajam kearah Lorus yang sedang memperhatikannya.
Glukk
"B-baik, nona!.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...🌹Jangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss 🔪🔪🔪...
...🌹Ig: rifani_nini...
...🌹Fb: Rifani...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 280 Episodes
Comments
Azzahro shofiya Ramadhani
siapa Raina ya....bkin penasaran🤔🤔🤔
2023-02-23
1
epifania rendo
keren rose
2022-11-22
0
Otin Frankenstein Jr.
wah wah nyonya tua nyari masalah
2022-08-07
0