"Shiittttt!.
Adam mengumpat kasar kemudian meninju tembok. Dia lalu meremas rambutnya dengan kuat saat menyadari kecerobohannya yang begitu fatal.
"Astaga Adam, apa yang ada di dalam otakmu sebenarnya? Aarrrgggg, brengsek!.
Cesar yang sedang menyusun berkas langsung menoleh kearah Adam yang tidak berhenti mengumpat. Setengah jam yang lalu mereka baru saja mendarat di Negara N. Dan saat ini mereka tengah berada di salah satu hotel mewah milik Rolland, rekan bisnis mereka yang sebentar lagi akan menggelar meeting bersama.
"Kau kenapa Dam?" tanya Cesar penasaran.
"Cesar, aku harus segera kembali ke negara kita" jawab Adam kemudian menghampiri Cesar. "Aku lupa meminta nomor ponselnya Rose."
"Apaaa??? Kau sudah gila ya! Bagaimana bisa kau tidak menyimpan nomor milik istrimu sendiri!" teriak Cesar syok. "Rose pasti saat ini sedang kebingungan. Dia pasti menganggapmu sebagai pria bajingan karena pergi tanpa pamit setelah menidurinya. Ya Tuhan Adam, kemana perginya otakmu yang cerdas itu hah! Sinting kau!.
Adam menjadi semakin gelisah setelah mendengar ucapan Cesar. Tanpa pikir panjang lagi dia segera mengemasi barang-barangnya. Adam berniat kembali ke negaranya saat itu juga.
"Kau mau kemana?" tanya Cesar sambil menahan Adam yang ingin keluar dari kamar hotel.
"Aku harus kembali untuk menjelaskan pada Rose, Ces. Aku tidak mau dia berpikiran buruk tentangku" jawab Adam gusar.
Cesar menghela nafas.
"Kembalilah. Lalu setelah itu bersiaplah untuk merugi ratusan milyar jika proyek ini sampai gagal!.
"Aku tidak peduli. Uangku banyak, aku tidak akan jatuh miskin hanya gara-gara membayar ganti rugi pada Dantian Group."
"Oke kau memang tidak masalah mengenai uang, tapi bagaimana cara kau melindungi Rose dari keluargamu? Kau tahu bukan kalau pernikahan kalian itu masih tersembunyi?" ucap Cesar mengingatkan Adam. "Berfikirlah dengan jernih, Dam. Rose itu gadis yang lemah, dia tidak akan sanggup menghadapi tekanan dari keluargamu. Kasihan dia"
"Lalu aku harus bagaimana, hah? Aku tidak mau Rose membenciku, Cesar!.
Adam frustasi.
"Tenanglah, jangan panik. Sebaiknya kita segera bereskan pekerjaan yang ada di sini. Lalu setelah itu kau kembalilah lebih dulu, sisanya aku yang akan mengurus."
"Tapi Ces, aku..
"Sudah ayo. Rolland sudah menunggu kita di sana" sela Cesar kemudian merebut barang-barang dari tangannya Adam.
Dengan pikiran yang tidak tenang Adam akhirnya mengikuti saran Cesar. Untung saja meeting-nya ada di hotel ini, jadi mereka tak perlu repot-repot berperang dengan macetnya lalu lintas di jam makan siang. Dengan langkah gontai Adam mengikuti Cesar yang ingin masuk ke sebuah ruangan yang akan menjadi tempat meeting mereka bersama pewaris dari Dantian Group.
Rolland yang memang sudah menunggu kedatangan rekan bisnisnya nampak tersenyum senang menyambut keduanya. Keningnya mengerut ketika melihat wajah Adam yang terlihat murung.
"Halo Land" sapa Adam lesu.
"Halo juga, Dam, Cesar. Bagaimana kabar kalian?" sahut Rolland ramah. "Kau kenapa Dam? Apa ada masalah dengan kamarnya?.
"Tidak Land. Kamarnya sangat luar biasa mewah. Terima kasih" jawab Adam sambil mendudukkan bokongnya di sofa.
Adam diam melamun. Cesar yang tahu kalau bosnya tidak akan bisa fokus karena masalah tadi segera memikirkan cara untuk mendapatkan nomornya Rose. Dia kemudian terpikir dengan restoran tempat Rose bekerja.
"Kau selesaikanlah meeting ini dengan baik. Aku akan mencari cara untuk mendapatkan nomornya Rose" ucap Cesar.
"Tolong aku, aku bergantung padamu, Cesar" sahut Adam penuh harap.
"Iya."
Rolland sedikit kaget saat Cesar menyebut nama Rose. Secercah harapan langsung muncul di dalam hatinya.
"Land, kita langsung mulai meeting-nya ya? Aku harus segera pulang setelah ini" ucap Adam sambil membuka berkas pekerjaan.
"Maaf Dam, sepertinya kau tidak bisa kembali dulu dalam waktu dekat ini" sahut Rolland.
"Maksudnya?.
"Dalam perjanjian kerjasama kita tertulis saat peletakan batu pertama untuk pembangunan resort itu akan di lakukan oleh pemegang saham terbanyak pertama dan kedua. Dan itu adalah kita berdua, jadi kau tidak di izinkan melanggar perjanjian tersebut apapun alasannya" jawab Rolland tegas.
Adam mengumpat pelan. Kepalanya tiba-tiba sakit memikirkan istrinya yang dia tinggal tanpa kabar.
"Peletakan batu pertama akan di lakukan tiga hari lagi dari sekarang. Jadi aku harap kau bisa bersikap profesional terhadap pekerjaan kita, Dam. Aku tidak tahu masalah apa yang sedang kau hadapi, tapi tolong jangan kecewakan aku. Kau tidak seharusnya membawa masalah pribadimu ke meja kerjasama kita."
"Aku tahu, Land. Maaf, aku lalai" sahut Adam kemudian tersenyum kecut kearah rekannya. "Aku lupa meminta nomor gadis yang baru saja menjadi milikku semalam. Aku sangat mencintainya, aku begitu khawatir kalau dia akan membenciku karena aku pergi tanpa pamit."
Mata Rolland menatap dalam kearah Adam. Dia sedang menimang satu pertanyaan tentang nama gadis yang tadi di sebutkan oleh Cesar.
"Adam, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?.
"Tanyakan saja."
"Rose, siapa dia?" tanya Rolland penuh harap. "Apa dia memakai kalung bernama di lehernya?.
Adam terdiam. Kini dia tahu kemana arah pertanyaan Rolland. Sambil duduk menegakkan tubuhnya, Adam memberitahu Rolland siapa Rose. Dia tentu saja tahu tentang kisah saudara kembar Rolland yang hilang sejak usia mereka tujuh tahun. Dan sepertinya Rolland menganggap kalau istrinya adalah adiknya yang hilang itu.
"Dia kekasihku" jawab Adam berbohong.
"Lalu kalungnya?" desak Rolland tak sabar.
"Untuk kalungnya sendiri aku tidak melihatnya, Land. Tapi nanti saat aku pulang aku akan menanyakan padanya apakah dia mempunyai kalung bernama itu atau tidak."
Wajah Rolland langsung lesu.
"Rolland, sepertinya kau salah paham. Rose kekasihku tidak mungkin adikmu. Dia adalah seorang gadis biasa yang berasal dari pedesaan, dan usianya saat ini masih dua puluh dua tahun. Sangat tidak mungkin kalau dia itu adikmu yang hilang tujuh belas tahun lalu, usia kalian saja sudah berbeda. Jadi aku sangat yakin kalau kekasihku itu bukan orang yang sedang kau cari" jelas Adam tak tega.
"Maafkan aku, Dam. Maaf kalau pertanyaanku membuatmu tidak nyaman. Aku-aku..
Ucapan Rolland tersendat, dadanya sesak. Rasa bersalah dan juga kesedihan begitu membelenggu hati dan perasaan Rolland. Dia akan selalu bereaksi seperti ini tiap kali mendengar nama Rose di sebut oleh orang lain. Rolland begitu merindukan adiknya, dia ingin sekali bertemu dengannya.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu, Land. Tidak apa-apa, aku maklum" sahut Adam ikut merasa sedih. "Tenang saja, untuk memastikan apakah Rose itu adikmu atau bukan, nanti jika dia ada waktu libur aku akan membawanya ke negara ini. Masalah kalung bernama itu nanti aku juga akan bertanya padanya. Oke?.
"Terima kasih banyak, Dam. Astaga, kau jadi harus melihat sikapku yang cengeng ini" ucap Rolland kemudian terkekeh sambil mengusap wajah.
"Mungkin ini adalah hari baikku karena bisa melihatmu cengeng begini. Kapan lagi aku bisa melihat langsung wajah buruk dari seorang Rollando Osmond?" ejek Adam mencairkan suasana sedih yang sedang menyelimuti diri temannya.
"Sialan kau!.
Adam dan Rolland sama-sama tertawa setelah melepaskan beban di hati mereka. Setelah itu mereka mulai larut dalam pembahasan kerjasama yang sedang mereka jalin. Saking sibuknya, Adam sampai lupa kalau Cesar masih belum kembali dari luar. Dia fokus membicarakan ini dan itu mengenai pembangunan resort pariwisata yang di gadang-gadang akan menjadi tempat wisata paling di incar oleh para pelancong baik dari dalam maupun dari luar negeri.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...🌹 Jangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss 🔪🔪🔪...
...🌹 Ig: rifani_nini...
...🌹 Fb: Rifani...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 280 Episodes
Comments
Azzahro shofiya Ramadhani
ahhh...blom apa2 jantung ku dah dibuat deg2an bcay....😁😘😘😘❤️❤️❤️🌹🌹🌹
2023-02-23
1
epifania rendo
adam adam
2022-11-22
0
Otin Frankenstein Jr.
itu adikmu Rolan, semoga cpt di pertemukan
2022-08-07
0