Di depan Universitas, saat ini Grace dan ibunya tengah menunggu kedatangan Rose. Kehadiran Nyonya Clarence di sana membuat beberapa mahasiswa saling berbisik penasaran, bahkan para guru pun menyempatkan diri untuk menyapa wanita yang menjadi nyonya dari keluarga paling berpengaruh di negara ini.
"Grace, gadis sundal itu masih lama atau tidak? Mama ada urusan di luar" tanya Vanya sambil mengipasi wajahnya yang mulai berkeringat. Cuaca sedikit panas karena mereka menunggu di depan pintu gerbang universitas.
"Sabar dulu, Ma. Mungkin sebentar lagi dia akan datang karena kelas sudah akan di mulai" jawab Grace mulai resah karena musuhnya tak juga muncul.
Vanya berdecak. Dia kemudian melihat ponselnya saat ada bunyi pesan masuk. Bibirnya yang berwarna merah menyala tampak tersenyum genit saat dia membaca pesan yang di kirim oleh salah satu daun muda peliharaannya.
"Pesan dari siapa Ma?" tanya Grace penasaran.
"Sales berlian" jawab Vanya asal kemudian menyimpan ponselnya di dalam tas. "Astaga Grace, Mama bisa mati kering jika terus menunggu di sini. Cepat cari tahu kapan gadis itu akan datang, Mama sudah tidak tahan lagi!.
Di saat yang bersamaan, Rose dan Mona keluar dari dalam mobil yang mereka tumpangi. Mona yang lebih dulu melihat keberadaan Grace bersama ibunya langsung menarik lengan Rose untuk melewati jalan lain. Tapi sayang, baru saja dia dan Rose berbalik badan, Grace sudah lebih dulu berteriak memanggil mereka berdua dengan nada menghina.
"Hei culun, mau kau bawa kemana temanmu yang sok cantik itu hah!.
Rose yang tidak tahu apa-apa nampak mengerutkan kening. Dia melirik sekilas kearah Mona sebelum akhirnya berbalik menghadap orang yang baru saja meneriaki mereka.
'Dia lagi.'
"Ma, gadis yang berdiri di sebelah si culun itu yang namanya Rose. Ayo cepat beri pelajaran padanya, Ma" bisik Grace dengan licik.
'Sialan. Gadis ini cantik sekali, seperti dewi. Aku bisa kalah telak jika gadis ini sampai menyombongkan kecantikannya. Huh!.
Vanya diam melamun sambil memandangi gadis bernama Rose yang hanya berdiri diam tanpa ada niat untuk menyapanya. Dia baru tersadar dari lamunannya saat pinggangnya di cubit oleh Grace.
"Mama ini apa-apaan sih. Ayo cepat buat perhitungan dengannya!" omel Grace.
"Ck, iya-iya."
Rose terus memperhatikan wanita bermake-up tebal yang sedang berjalan kearahnya. Rasanya ingin sekali dia tertawa melihat cara wanita ini yang terkesan ingin terlihat sempurna dengan sengaja melenggak-lenggokkan bokongnya. Seperti p*lacur, begitu pikir Rose.
"Rose, ayo kabur. Kita bisa kena masalah besar jika Nyonya Vanya sampai melaporkan kita pada pihak kampus" bisik Mona ketakutan.
"Biar saja,"
"Rose!.
Mona merengek. Wajahnya sudah memucat sejak tadi. Rumor tentang Nyonya Vanya yang angkuh membuat bulu kuduk Mona meremang. Di tambah lagi sekarang wanita itu memakai lipstik dengan warna merah menyala seperti darah, membuatnya terlihat seperti nenek sihir yang sangat jahat.
"Kau yang bernama Rose?" tanya Vanya angkuh sembari menunjuk wajah gadis yang kecantikannya membuat iri.
"Ya,"
'Astaga, sombong sekali anak ini. Lihat saja bagaimana aku akan memberimu pelajaran, nona manis.'
"Aku dengar kemarin kau melakukan body shaming pada putriku. Apa benar?.
Rose memiringkan kepala kemudian menelisik seluruh tubuh Grace yang sedang berdiri di belakang ibunya. Setelah itu dia diam, sama sekali tak berniat untuk menjawab pertanyaan wanita tersebut. Malas.
"Hei, aku sedang berbicara padamu. Cepat jawab!" hardik Vanya kesal karena merasa di abaikan.
Kaki Mona bergetar kuat saat ibunya Grace meneriaki Rose. Dia kemudian melirik kearah sahabatnya, sedikit merutuki sikap cuek Rose yang terlihat tenang-tenang saja saat menghadapi kemarahan Nyonya Vanya.
"Kau, beraninya kau mengabaikan aku. Kau tidak tahu ya aku siapa?" teriak Vanya semakin kesal.
"Suaramu sangat berisik, nyonya. Telingaku jadi sakit" sahut Rose malas. "Minggirlah, kau menghalangi jalanku!.
Grace, Vanya, dan Mona sama-sama tercengang heran melihat cara Rose memberi respon. Sungguh, Grace benar-benar di buat amat sangat kesal dengan sikap dingin gadis ini.
"Dasar anak kurang ajar. Rasakan ini!.
Rose dengan cepat menangkap tangan ibunya Grace yang ingin menampar wajahnya. Dia lalu meremas tangan tersebut dengan sangat kuat kemudian mendorongnya ke belakang.
"Aakkhhhh!" pekik Vanya kesakitan.
Grace terkejut. Segera dia mendekati ibunya kemudian menatap tajam kearah Rose yang lagi-lagi sedang berdiri dengan raut wajah yang sangat datar. Tak terima ibunya di sakiti, Grace berniat membalas perbuatan Rose. Dia mengambil cutter dari dalam tasnya kemudian mengarahkan benda tajam tersebut ke wajahnya Rose.
"Maju kau kalau berani!.
Tadinya Grace berpikir kalau Rose akan ketakutan saat dia mengacungkan senjata kearahnya. Tapi sayangnya hal itu tidak terjadi. Karena bukannya mundur, Rose malah dengan tenang melangkah maju kearahnya. Gadis ini seperti tidak merasa terintimidasi meskipun di tangan Grace ada satu benda yang bisa mengoyak bagian tubuhnya.
"Aku sudah maju, sekarang kau mau apa?" tanya Rose setelah berhasil menyudutkan Grace ke tembok.
Grace sangat ketakutan, kedua kakinya terus bergetar dengan kuat. Untuk pertama kalinya dia bisa melihat dengan jelas kalau manik matanya Rose begitu tajam, seolah ada sisi lain yang tersembunyi di baliknya. Sambil menelan ludah, Grace mencoba mendorong dada Rose agar mundur ke belakang. Tapi belum sempat jarinya mendarat di sana, Rose sudah lebih dulu menepisnya.
"Tanganmu kotor, jangan menyentuhku."
"A-apaaa??!!!!!.
"Kau tuli? Berapa lama kau tidak membersihkan kotoran yang ada di dalam telingamu?" tanya Rose.
"Yakkk!!!" teriak Grace emosi.
Rose mencibir. Setelah itu dia segera melewati Grace dan ibunya begitu saja. Rose sama sekali tidak peduli meksipun perbuatannya menjadi tontonan banyak mahasiswa.
Mona yang sedang mematung bergegas menyusul Rose dengan cepat. Dia kemudian menarik sahabatnya itu untuk bersembunyi di balik loker ketika melihat kepala kampus dan beberapa guru yang lain sedang berlari kearah mereka. Sudah bisa di tebak kemana mereka semua akan pergi. Kemana lagi kalau bukan untuk menghampiri Grace dan ibunya yang sedang mengamuk di depan gerbang universitas.
"Matilah kita Rose!" bisik Mona sambil menepuk kening. "Grace dan Nyonya Vanya pasti akan membuat kita berdua mengalami kesulitan."
"Biar saja" sahut Rose acuh.
"Rose, tolong jangan acuh begini. Kalau mereka mendesak pihak kampus untuk mengeluarkan kita dari sini bagaimana? Memangnya kau mau gagal menjadi seorang sarjana?" tanya Mona hampir menangis.
"Tenang saja. Semua itu tidak akan pernah terjadi selama aku masih hidup."
'Karena aku adalah istrinya Adam, pemilik saham terbesar di Universitas ini.'
Mona menatap tak berkedip kearah Rose. Dia sedikit bingung darimana sahabatnya ini mendapat keyakinan tersebut.
"Ayo masuk. Kau terlihat seperti orang bodoh jika melamun seperti itu" ajak Rose kemudian melangkah lebih dulu menuju kelas.
"Aishhh, aku kan memang bodoh. Makanya aku terus menempel padamu supaya kecerdasanmu bisa sedikit menurun padaku" gumam Mona kemudian membetulkan letak kacamatanya. "Rose, tunggu aku!.
Mona berlari dengan sangat kencang kemudian langsung bergelayut di lengannya Rose begitu dia sampai. Dia memperlihatkan gigi putihnya saat Rose melirik kearah tangannya yang selalu saja menempel dimana pun mereka berada.
"Parasit!.
"Aku tidak peduli kau mau mengataiku apa."
"Dasar tidak tahu malu."
"Biar saja,"
"Anak anjing yang sangat kasihan!" ejek Rose sambil menahan tawa.
"Apa tidak ada julukan yang jauh lebih baik lagi dari itu Rose?" protes Mona.
"Tidak!.
"Jahat,"
"Itu tahu."
"Rooseeee!!!" rengek Mona.
Rose tersenyum.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...🌹Jangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss 🔪🔪🔪...
...🌹Ig: rifani_nini...
...🌹Fb: Rifani...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 280 Episodes
Comments
Otin Frankenstein Jr.
ngapain takut wong pemilik saham di kampus lakinya sendiri
2022-08-07
0
Gini Antika
rose rose....pinter aja ngerjain mona 😁😁😁😁
2022-07-06
0
selir jansen༻
rose bener bener seperti kk yg menjahili adeknya🌹🌹🌹
2022-07-06
0