Adam menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya dia bicara pada Rose yang sedang duduk di sebelahnya.
"Maaf... Aku benar-benar tidak tahu akan terjadi hal seperti ini. Kuharap kau tidak salah paham padaku."
Tidak ada jawaban dari Rose, dia hanya diam mendengarkan. Namun kediamannya ini malah membuat Adam menjadi gusar. Pria itu duduk dengan sangat tidak tenang, sebentar-sebentar membuat pergerakan kecil. Yang mana akhirnya membuat Rose mendesah panjang.
"Semua sudah terjadi, tidak ada gunanya meminta maaf" ucap Rose dingin.
"Kau marah padaku?" tanya Adam sedikit lega karena Rose mau membuka suara.
"Apa ini rencanamu?" ucap Rose balik bertanya.
"Bukan" sahut Adam cepat. "Aku sama sekali tidak tahu kenapa orang-orang itu bisa datang kemari. Aku tidak segila itu Rose sengaja membayar orang hanya untuk menangkap basah kita berdua di kamar ini!."
"Lalu?" sambung Rose dengan mata yang mulai mengantuk. Efek obat penenang yang dia minum mulai bekerja.
"Lalu, lalu aku....
Adam tergagap, dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Tadi, saat Adam dan Rose sedang berpelukan di atas ranjang, tiba-tiba saja kamar mereka di datangi oleh beberapa orang yang mengaku sebagai warga di sekitar tempat kost ini. Orang-orang itu menuduh Adam dan Rose telah melakukan zina karena mereka kedapatan sedang berduaan di dalam kamar dengan posisi yang sedikit intim. Adam sudah mencoba menjelaskan titik masalahnya pada orang-orang tersebut, tapi mereka semua tidak ada yang percaya. Mereka tetap kekeh menuduh keduanya sebagai pasangan mesum.
Flashback
"Maaf, ini semua tidak seperti yang kalian kira. Kami tidak sedang melakukan apapun, aku hanya sedang membantunya saja" ucap Adam mencoba meredam keadaan.
"Bantuan macam apa yang sedang coba kau berikan, Tuan? Apakah dengan saling menindih seperti tadi itu bisa di artikan sebagai bentuk pertolongan? Kami tidak bodoh, Tuan. Pokoknya kami tidak mau tahu, malam ini juga kalian harus menikah. Kami tidak mau lingkungan tempat tinggal kami dicemari oleh hal-hal buruk seperti yang sedang kalian lakukan tadi!.
Mata Adam melotot lebar begitu dia mendengar ucapan mereka. Dia lalu menatap kearah Rose, gadis itu hanya diam saja. Sama sekali tak menunjukkan reaksi apa pun, padahal mereka baru saja di minta untuk menikah.
"Bagaimana Tuan, kau akan menuruti keinginan kami atau lebih memilih di laporkan ke kantor polisi? Kami tahu Tuan berasal dari keluarga terpandang, akan sangat memalukan jika masalah ini sampai di ketahui oleh khalayak ramai. Semua keputusan ada di tangan Tuan, lebih memilih di permalukan oleh semua orang atau menikah dengan Rose malam ini juga. Silahkan Tuan pikirkan, kami akan menunggu di sini!" desak salah satu orang yang ada di sana.
"Rose, bagaimana ini?" tanya Adam panik.
"Terserah" jawab Rose singkat.
Rose pasrah, ingin berdebat pun rasanya tidak mungkin karena mereka sudah tertangkap basah oleh warga. Sebenarnya Rose merasa ada yang janggal di sini, karena orang-orang yang datang wajahnya terasa sangat asing. Tapi saat ini Rose sedang tak berdaya untuk melawan semua orang-orang ini setelah phobia yang di alaminya kambuh. Dia hanya bisa diam menunggu keputusan apa yang akan di ambil oleh Adam.
"Jangan terserah Rose, ini menyangkut harga diri kita berdua" cecar Adam frustasi.
"Lalu aku harus bagaimana?."
"Ya-ya setidaknya kau bantu aku untuk berfikir keputusan apa yang harus aku ambil."
"Aku kan sudah bilang terserah. Jadi apapun keputusanmu aku akan menerimanya" ucap Rose kemudian mendesis saat kepalanya berdenyut.
Adam dilema. Jika dia memilih untuk di laporkan ke kantor polisi, maka dia harus siap menanggung rasa malu. Dan juga Rose akan kehilangan harga dirinya sebagai gadis baik-baik. Adam tidak mau itu, dia tidak rela jika ada orang lain yang memandang Rose dengan rendah. Tapi jika dia memilih untuk menikahi Rose, apakah mungkin gadis ini akan bersedia? Kalau dari sudut pandang Adam sendiri, dia tentu saja akan langsung memilih opsi yang kedua, yaitu menikahi Rose. Selain karena dia yang memang menyukainya, dengan cara ini juga Adam bisa menyelamatkan harga diri mereka berdua. Tapi...
"Bagaimana Tuan, keputusan mana yang anda pilih?."
"Iya Tuan, tolong cepat sedikit. Hujan sudah semakin reda, kami tidak bisa bertanggung jawab jika para warga semakin banyak yang berdatangan. Kalian berdua akan lebih malu lagi jika mereka sampai mengetahui perbuatan zina yang kalian lakukan!."
Setelah menimang sekian lama akhirnya Adam mantap mengambil keputusan untuk menikahi Rose. Biarlah resikonya akan dia pikirkan nanti, lagipula Rose juga sudah mengatakan kalau dia akan menerima apapun keputusan yang dia ambil.
"Aku akan menikahinya!."
"Baguslah, kalau begitu kami akan mencarikan pendeta untuk menikahkan kalian. Tolong berikan kartu identitas kalian berdua, kami perlu itu untuk mengurus sesuatu" sahut salah seorang dari mereka.
Akhirnya, setelah semua urusan selesai, Adam dan Rose benar-benar menikah malam itu juga. Dengan di saksikan oleh orang-orang tadi mereka berdua sah menjadi pasangan suami istri. Mereka terpaksa menikah karena di salah pahami tengah berbuat hal mesum. Padahal yang terjadi hanyalah Adam yang sedang menolong Rose dari ketakutannya.
Flashback Now
"Tidur di sini atau pulang?" tanya Rose.
"Haaa...." beo Adam kaget.
"Tinggal atau pergi?."
"Tinggal!" sahut Adam cepat.
Rose mengangguk. Meski sebelumnya mereka tak saling kenal, Rose tetaplah menghargai Adam sebagai suaminya. Sambil berjalan sempoyongan Rose mengambil kaos miliknya dari dalam lemari kemudian menyerahkannya pada Adam yang terus menatapnya tanpa kedip.
"Ganti bajumu. Kau tidak mungkin tidur dengan pakaian seperti itu bukan?."
Adam mengangguk. Dia menerima baju yang di berikan oleh Rose kemudian menarik tangannya yang ingin pergi. "Benar kau tidak apa-apa dengan pernikahan ini?."
"Tidak!.
"Sungguh?.
"Kalau begitu kita bercerai saja!.
"Tidak mau" sahut Adam kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Bibir Rose berkedut. Dia kemudian duduk menyender di kepala ranjang, memikirkan pernikahan kilat yang baru saja terjadi. Rose tidak menyangka kalau pria yang tidak sengaja datang menolongnya malam ini akan menjadi suaminya. Terlebih lagi mereka menikah karena kesalahpahaman. Ingin marah, tapi tetap tak bisa merubah takdir kalau sekarang dia adalah istrinya Adam, pria yang selama ini selalu mengawasinya diam-diam.
Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka. Adam muncul dengan memakai kaos pemberian Rose yang untungnya memiliki ukuran oversize meski pun sedikit menggantung di tubuhnya.
"Istirahatlah" ucap Rose pelan.
"Emm, apa aku akan tidur di ranjang yang sama denganmu?" tanya Adam sembari berjalan mendekat kearah istrinya.
"Apa kau berharap aku menyuruhmu tidur di luar?.
"Tidak" jawab Adam kikuk. "Aku khawatir kau merasa tidak nyaman jika tidur bersama seorang pria asing!.
"Aku tidur bersama suamiku, bukan bersama pria hidung belang" ucap Rose datar kemudian mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Adam tersenyum, hatinya membuncah saat Rose menyebutnya sebagai suami. Sebelum naik keatas ranjang, Adam merapihkan selimut ke tubuh istrinya terlebih dahulu. Dia seakan tak percaya kalau gadis yang selama satu tahun ini terus dia awasi akan benar-benar menjadi miliknya, bahkan langsung menjadi istrinya. Sesuatu yang mengejutkan, tapi juga membuatnya sangat bahagia.
Karena pengaruh obat, Rose dengan cepat masuk ke alam mimpinya. Adam yang melihat istrinya sudah tertidur memberanikan diri untuk mengelus pipinya. Sangat lembut, itu yang dia rasakan.
"Cantik" gumam Adam.
Entah setan apa yang merasuki pikiran Adam, tiba-tiba saja dia sudah menyatukan bibirnya dengan bibir Rose. Awalnya hanya menempel saja, tapi lama-kelamaan Adam mulai terbawa nafsu. Dia menyesap bibir itu dengan perlahan, mencoba membuat gerakan selembut mungkin agar istrinya tak terbangun. Tapi sayang, deru nafas Adam yang memburu dan juga gerakan bibirnya yang semakin menuntut membuat mata Rose akhirnya terbuka. Mereka saling menatap dalam diam dengan kondisi bibir yang masih menyatu.
"Kau menginginkanku?" tanya Rose yang sadar arti dari tatapan mata suaminya.
"Apa boleh?" sahut Adam balik bertanya.
"Aku sekarang istrimu, kau boleh mengambil hakmu sebagai suami" jawab Rose tanpa ragu.
Adam terkejut. Dia tidak menyangka kalau Rose akan seterbuka ini dengan hubungan baru mereka meskipun itu terjadi karena ketidaksengajaan. Karena desakan nafsu yang menuntut agar segera terpenuhi, tanpa ragu lagi Adam kembali menyesap bibir lembut istrinya. Dia tersenyum bahagia saat Rose membalas perlakuannya dengan mengalungkan kedua tangan ke lehernya.
'Rose, aku mencintaimu....!.'
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...📢 Jangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss 🔪🔪🔪...
...🌹 Ig: emak_rifani...
...🌹 Fb: Nini Lup'ss...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 280 Episodes
Comments
Naufal Tan Arsenio
wah langsung to the point si rose
2023-10-14
2
Zuraida Zuraida
pasti kerjaan sekretaris siadam
2023-04-10
0
epifania rendo
akhirnya Adam mendaptkan ros selamat ya Adam
2022-11-22
0