"Ini sudah malam. Sebaiknya kita pulang."
Rose hanya bisa pasrah saat dirinya di paksa untuk menemani Mona berkeliling seharian. Tapi jujur saja, apa yang dia lakukan bersama sahabatnya yang cupu ini sedikit banyak membuat Rose melupakan rasa sedihnya setelah di tinggal Adam begitu saja. Yah meskipun dia harus menahan nyeri di bagian intimnya, setidaknya hari ini dia merasa happy. Sesuatu yang jarang sekali dia rasakan semenjak datang ke tempat ini.
"Tapi Rose, aku masih ingin menonton film denganmu" rengek Mona tak rela menyudahi jalan-jalan hari ini.
"Kau bisa mati kalau keluyuran sampai malam!.
Gluk
Mona langsung menelan ludah begitu mendengar ucapan sarkas sahabatnya. Terkadang Rose ini bicara tanpa memandang tempat. Bisa-bisanya dia menyinggung masalah kematian hanya karena dirinya yang menolak untuk pulang.
"Jangan membuatku takut, Rose. Aku ini tidak bisa bela diri. Bagaimana kalau ucapanmu benar-benar jadi kenyataan? Memangnya kau rela kehilangan sahabat sepertiku?" protes Mona sambil mengeratkan pelukan di lengan Rose.
"Ya itu deritamu. Kau yang mati, bukan aku!.
Sudut bibir Rose berkedut setelah berkata seperti itu. Dia tidak sungguh-sungguh mendoakan gadis cupu ini untuk benar-benar meninggal. Rose hanya bercanda, karena menurutnya itu sangat lucu ketika Mona mulai ketakutan.
"Roseee...."
"Jangan merengek. Kau terlihat seperti anak anjing" ejek Rose sambil menahan tawa.
"Ck, kau ini" sungut Mona sembari mengerucutkan bibir.
Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Rose. Dia kembali terbayang wajahnya Adam.
"Rose, ayo kita pulang. Aku sekarang benar-benar takut akan di bunuh oleh penjahat" bisik Mona saat dia tidak sengaja melihat seorang pria yang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan. "Di sudut bangunan itu ada orang yang sejak tadi terus menatap kearah kita, Rose. Sepertinya kita sedang di awasi."
"Dimana?.
"Itu di sana, di dekat bangunan kosong itu."
Arah pandang Rose langsung tertuju ke bagian sudut yang di tunjuk oleh Mona. Mata tajamnya segera menemukan keberadaan seorang pria asing yang memang tengah memperhatikan mereka. Sadar jika pria itu bukanlah orang biasa, Rose segera mengajak Mona untuk pergi dari sana. Dia melangkah dengan santai, sama sekali tidak merasa terganggu meski pria tersebut masih terus mengawasinya dari kejauhan.
"Rose, aku takut sekali" cicit Mona.
"Lalu kau mau apa?.
"Ayo pulang!.
"Tidak mau" tolak Rose sambil mengulum senyum.
Mata Mona berkaca-kaca.
"Cengeng!.
Lucu. Puas rasanya melihat Mona hampir menangis setelah Rose menolak ajakannya yang memaksa untuk segera pulang. Ekor mata Rose kemudian melirik kearah samping dimana pria asing itu masih setia mengikuti. Bahkan kini pria itu melangkah lebih dulu di depan mereka.
"Mona, sepertinya pria itu ingin berkenalan denganmu. Mau menyapanya tidak?.
Jangan di tanya bagaimana keadaan Mona sekarang. Dia hampir kencing di celana saat pria yang tadi membuntutinya dengan Rose kini tengah berdiri di hadapan mereka. Saking takutnya Mona, dia sampai tidak bisa bicara. Lidahnya terasa kelu.
"Halo nona-nona cantik, kalian mau pergi kemana?" tanya si pria asing sambil menatap lapar kearah dua orang gadis yang sejak tadi di buntutinya.
"Kau buta ya?" sahut Rose sarkas.
"Yoo nona, kau galak sekali. Tapi aku suka, hahahahahaha..."
Setelah berkata seperti itu, si pria asing langsung berteriak memanggil teman-temannya. Jika tadi Mona hampir kencing di celana, kini dia hampir pingsan begitu melihat belasan pria asing berdatangan ke hadapan dia dan Rose. Tak ingin mengalami hal buruk, Mona dengan sekuat tenaga berniat menarik tangan Rose untuk kabur dari sana.
"R-Rose, a-ayo lari."
Tak ada sahutan dari Rose. Mona yang heran pun akhirnya menatap wajah sahabatnya. Dia tertegun melihat reaksi Rose yang terlihat santai-santai saja meskipun di hadapan mereka sedang ada bahaya besar. Sadar kalau dirinya sedang di perhatikan, Rose pun menoleh. Sebelah alisnya terangkat keatas.
"Ada apa?.
"A-ayo kabur" jawab Mona masih dengan raut wajah keheranan.
"Kabur kemana?" tanya Rose dingin.
"R-Rose, mereka orang jahat. Ki-kita harus segera pergi melarikan diri dari sini sebelum mereka berbuat yang tidak-tidak pada kita berdua. Ayo pergi Rose, ayo!" paksa Mona sambil menarik tangan Rose yang entah kenapa terasa begitu berat.
"Dasar bodoh!" kesal Rose kemudian menghempaskan tangan Mona dari lengannya.
Tanpa menghiraukan teriakan Mona yang memintanya untuk berhenti, dengan santai Rose berjalan menghampiri para bajingan itu. Dia lalu mencekik pria yang tadi mengawasinya. Menatap tajam kearah yg lainnya saat ingin ikut menyerang.
"Kalian salah mencari lawan. Jangan kalian kira aku tidak tahu siapa orang yang telah mengirim kalian untuk membuntutiku" ucap Rose sambil terus mencekik leher si pria asing hingga membuat lehernya terjulur keluar.
Buugghhh
Terdengar gemeletuk gigi ketika salah seorang dari pria itu meninju perutnya Rose dari arah samping. Seketika darah di tubuh Rose mendidih. Dia lalu menghajar pria yang masih dia cekik berbarengan dengan suara Mona yang sedang menjerit histeris. Suasana taman yang sepi membuat kejadian itu tidak di ketahui oleh orang lain. Mona yang melihat sahabatnya di keroyok oleh belasan pria jatuh terduduk di tanah. Dia bahkan tidak tidak peduli lagi ketika celananya basah terkena air kencingnya sendiri.
"Dasar j*lang sialan! Habisi mereka!.
Tatapan Rose begitu dingin ketika dia di sebut j*lang oleh salah satu dari mereka. Nafasnya menderu. Tidak ada yang tahu kalau sebenarnya Rose menguasai beberapa ilmu bela diri. Yang mana hal itu membuatnya tidak merasa takut sedikit pun ketika para bandit ini mengeluarkan belati tajam.
"Memalukan!" ejek Rose sebelum akhirnya menerjang pria-pria itu dengan tendangannya yang cukup mematikan.
Dengan gerakan yang begitu gesit Rose berhasil menumbangkan mereka semua. Dia yang masih kesal segera mengambil belati yang tergeletak di tanah kemudian menusukkannya ke perut masing-masing pria itu. Mata Rose terpejam ketika darah yang memancar mengenai wajahnya. Dan di saat yang bersamaan terdengar jeritan Mona yang berteriak meminta tolong.
"Rose!!! To-tolong aku!.
"Hei kau j*lang.. Serahkan dirimu atau aku akan memotong leher temanmu ini. Cepat buang belati itu kemudian bersujud di sana. Ayo cepat!" ancam salah seorang pria yang tadi berhasil lepas dari serangan Rose.
Wajah Mona pucat pasi ketika sebuah benda dingin menempel di lehernya. Habislah sudah, dia pasti mati malam ini.
"Potong saja kalau kau mau" sahut Rose datar.
Mata pria itu terbelalak. Dia tidak menyangka kalau wanita ini akan membiarkan temannya mati. Sedangkan Mona, tubuhnya berubah kaku seperti patung. Dia tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Rose.
Jleb
Saat pria itu tengah berada dalam kekagetannya, Rose dengan tepat membidik keningnya menggunakan belati yang sudah berlumuran darah. Dia dengan cerdik menggunakan kesempatan itu untuk melumpuhkan lawan yang sedang menggunakan nyawa Mona untuk mengancamnya.
"R-Rose, k-k-kau gi-gila ya" ucap Mona syok dengan apa yang terjadi.
Rose tersenyum tipis. Dia berjalan mendekati Mona kemudian memeluk tubuhnya yang gemetaran. Tanpa menghiraukan jasad pria yang terbaring kaku dengan belati menancap di keningnya, Rose segera membawa Mona pergi dari taman.
"Jangan melihat ke belakang."
"Tapi mereka..
"Apa kau tidak rela meninggalkan mereka? Atau kau ingin menjadi piala bergilir di tangan mereka? Aku tidak keberatan untuk mengembalikanmu kesana!.
Mona langsung menggelengkan kepala. Dia tentu saja tahu arti dari piala bergilir yang di maksudkan oleh Rose.
"Jangan bilang kau kencing di celana, Mona" tanya Rose ketika mencium aroma tidak sedap.
"K-kran-nya bocor sendiri, Rose."
Rose tergelak. Setelah itu dia tersenyum, dia tahu kalau sahabatnya ini begitu ketakutan setelah melihat apa yang terjadi. Rose berhenti di dekat air mancur untuk membersihkan wajahnya yang terkena noda darah. Setelah itu dia kembali memeluk Mona lalu mengajaknya pergi mencari taksi.
"Kau mau menginap atau pulang ke rumahmu?.
"Menginap saja, aku takut pulang sendiri!.
"Baiklah. Tapi nanti kau mandi dulu sebelum tidur di ranjangku."
"Iya.."
"Berhenti menangis. Aku geli melihat ingus di hidungmu."
"Rosee.."
"Diamlah. Aku hanya bercanda!.
Dan akhirnya mereka berdua pun pergi dari sana. Meninggalkan segerombolan pria asing tergeletak begitu saja di taman.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...🌹Jangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss 🔪🔪🔪...
...🌹 Ig: rifani_nini...
...🌹 Fb: Rifani...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 280 Episodes
Comments
Azzahro shofiya Ramadhani
ini baru keturunan liona Serra ma
2023-02-23
0
epifania rendo
suka gayamu ros
2022-11-22
0
kimmy
🤭🤭🤭🤭🥲😄😄😄😄
2022-11-12
0