Rose tersenyum samar sambil memandangi layar ponselnya yang sudah berubah gelap. Dia lega karena ternyata Adam tidak pergi meninggalkannya. Hampir saja tadi Rose memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu dimana keberadaan Adam. Dan untungnya suaminya ini menelfon tepat ketika Rose ingin menghubungi Resan.
"Rupanya kau tidak seburuk yang aku pikirkan, Dam. Kau benar-benar bertanggung jawab pada pernikahan kita" ucap Rose senang.
Setelah kembali dari memberi peringatan pada Falcon, Rose berdiri termenung di dekat jendela. Pikirannya terus tertuju pada suaminya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Dan di saat Rose sedang memikirkan nasib pernikahannya yang tidak jelas, tak ada angin dan tak ada hujan tiba-tiba saja Adam menelfon. Pria itu menjelaskan alasannya yang pergi tanpa memberi kabar. Meskipun pernikahannya dengan Adam terjadi karena sesuatu yang tidak di sengaja, Rose tetaplah ingin menjadi istri yang berbakti. Dia sama sekali tak berniat untuk mempermainkan pernikahan mereka walaupun dia dan Adam sebelumnya tidak pernah saling mengenal. Rose ingin menjaga hubungan ini dengan baik, entah kenapa dia begitu menginginkan pernikahannya dengan Adam tetap berlanjut.
Drrttt, drrtttt
Ponsel milik Mona bergetar. Sedangkan pemiliknya sedang berkelana di alam mimpi. Tak ingin getaran ponsel itu mengganggu tidur sahabatnya, Rose bergegas mengambilnya kemudian melihat id si pemanggil.
"Kakek Niel?" gumam Rose sambil mengerutkan kening.
Tahu kalau itu adalah anggota keluarga Mona, Rose pun segera mengangkat panggilan tersebut. Dia hanya diam saja sembari mendengarkan cecaran dari kakek sahabatnya itu.
"Mona, kau kemana Nak? Ini sudah hampir dini hari dan kau masih belum juga kembali ke rumah. Sebenarnya kau ada dimana? Jangan membuat Kakek dan Nenekmu khawatir, Nak."
Hati Rose menghangat begitu mendengar kekhawatiran kakeknya Mona. Dia jadi terkenang dengan kakeknya yang tinggal di desa, sudah cukup lama dia tidak kembali kesana karena tugas sekolah selalu membuatnya merasa sibuk. Belum lagi dengan pekerjaannya sebagai seorang pelayan, semakin membuat Rose kesulitan untuk membagi waktu. Sebenarnya Rose bisa saja mengirim anak buahnya untuk menjaga sang kakek di desa, namun dia enggan melakukannya karena khawatir hal itu akan membuat sang kakek merasa khawatir. Rose selalu di wanti-wanti untuk tidak berbuat neko-neko selama berada di tempat ini. Dia hanya di perbolehkan untuk menuntut ilmu saja, bahkan kakeknya pun tidak tahu kalau Rose juga bekerja sebagai waiters di sebuah restoran.
"Mona, kau dengar Kakek tidak? Kau ada dimana sayang? Nenekmu terus menangis sejak tadi. Ayo katakan kau ada dimana sekarang, biar Kakek datang menjemputmu."
"Dia ada di rumahku" jawab Rose dingin. "Mona kelelahan setelah menyelesaikan tugas sekolah bersamaku. Jadi dia memutuskan untuk menginap di sini."
Hening. Tidak ada suara apapun lagi setelah Rose mengatakan dimana keberadaan Mona pada Kakek Niel. Tak lama kemudian suara kembali terdengar, tapi kali ini suara seorang wanita. Mungkin ini adalah neneknya Mona, pikir Rose.
"Apa ini Rose?.
Sebelah alis Rose terangkat keatas. Dia kaget karena ternyata neneknya Mona tahu siapa namanya.
"Ya, ini aku, Rose."
Rose tersenyum samar ketika mendengar kehebohan yang terjadi di dalam telepon. Sepertinya Mona banyak menceritakan tentang pertemanan mereka karena sang nenek begitu mendetail ketika menyebut jika dirinya adalah satu-satunya teman yang di miliki oleh cucu mereka.
"Rose, apa Mona membuat ulah? Maaf ya kalau sikapnya sedikit manja, sejak kecil dia sudah di tinggal oleh kedua orangtuanya dalam kecelakaan mobil. Jadi kami selalu menuruti apapun yang dia mau agar kesedihannya bisa sedikit berkurang. Sejak Mona bertemu denganmu, dia jadi terlihat lebih bersemangat. Karena sebelum masuk ke Universitas, Mona itu tak pernah memiliki teman. Tidak ada satu orangpun yang bersedia mengajaknya bermain hanya karena dia tak memiliki orangtua. Waktunya banyak di habiskan untuk berdiam diri sambil berandai-andai sebuah kebahagiaan jika seandainya ayah dan ibunya masih hidup. Terima kasih ya sudah mau berteman dengan cucu kami, kau sangat baik, Rose."
Rose langsung menatap kearah sahabatnya yang sedang terlelap. Dia tidak menyangka kalau Mona memiliki masalalu sesedih ini. Sambil terus menempelkan ponsel di telinganya, Rose berjalan mendekat kemudian duduk di tepi ranjang. Satu tangannya terulur mengusap kepala Mona, dia iba.
"Rose, tolong jangan tinggalkan Mona ya. Kasihan dia. Hanya kau satu-satunya teman yang di milikinya. Oh ya Rose, kalau kau mengalami masalah tentang biaya sekolah, jangan ragu untuk meminta bantuan pada kami ya. Biarkan kami membalas kebaikan hatimu yang tidak memandang cucu kami dengan sebelah mata. Maaf bukannya merendahkan, Mona bilang kau bekerja paruh waktu di sebuah restoran ya?.
"Iya" sahut Rose singkat.
Tangan Rose terus membelai kepala Mona. Sepertinya kakek dan nenek gadis ini adalah orang baik. Meski tak pernah bertatap muka, mereka tanpa ragu menawarkan bantuan yang jelas-jelas Rose sendiri tidak membutuhkannya. Bukannya takabur, tapi kekayaan yang di miliki Rose sudah lebih dari cukup untuk sekedar membiayai sekolah dan juga kebutuhan sehari-harinya. Bekerja sebagai waiters hanya di lakukan untuk menutupi kedoknya saja karena Rose tidak ingin menjadi pusat perhatian banyak orang. Dia tidak suka hal itu.
"Kau tidak marah kan kalau kami menawarkan bantuan?.
"Tidak. Kalian tenang saja, nanti kalau aku memang benar-benar membutuhkan bantuan, aku pasti akan mendatangi kalian. Tapi untuk sekarang aku sedang tidak membutuhkan apapun lagi. Ada Mona bersamaku itu sudah lebih dari cukup" jawab Rose mengakui jika sahabatnya ini adalah orang yang berarti dalam hidupnya.
"Oh, begitu ya? Ya sudah, karena sekarang sudah hampir dini hari, kau sebaiknya segera tidur bersama Mona. Maaf ya malam-malam begini kami malah mengganggu istirahatmu. Selamat malam, Rose."
Rose mengangguk meskipun tahu kalau neneknya Mona tidak akan bisa melihat. Dia lalu meletakkan ponsel di atas meja, kembali menatap sahabatnya yang sama sekali tidak merasa terganggu.
"Dasar tukang tidur, aku dan nenekmu berbincang sebegini lama dan kau sama sekali tidak merasa terusik. Ruhmu tersesat di alam mana, hm?"
Mona menggeliat ketika Rose tidak berhenti menyentil keningnya. Tapi setelah itu dia kembali mendengkur yang mana hal itu membuat Rose terkekeh lucu. Mona satu tahun lebih tua darinya, tapi Rose merasa kalau Mona jauh lebih pantas menjadi adiknya. Konyol memang, tapi itulah yang dia rasakan setiap kali bersama gadis culun ini.
"Mona, tidak ku sangka kita memiliki kehidupan yang hampir sama. Kita sama-sama kehilangan kasih sayang dari orangtua kita, kita kesepian. Tapi beruntunglah Tuhan mempertemukan kita berdua, jadi kita bisa saling melengkapi satu sama lain. Semoga saja kau tidak jera berteman denganku yang dingin ini. Aku menyayangimu" bisik Rose lirih.
Seakan mendengar bisikan Rose, Mona tampak menganggukkan kepala. Dia juga bergumam seakan ikut menjawab, membuat Rose terkekeh lucu. Seandainya saja ada yang melihat senyuman Rose saat ini, orang itu pasti akan langsung mimisan. Ya, mimisan. Karena Rose terlihat sangat cantik dengan senyuman tersebut.
Karena malam sudah hampir menjelang dini hari, Rose akhirnya membaringkan tubuhnya di samping Mona. Dia menatap lurus kearah langit-langit, mengenang percintaan panas yang dia lakukan bersama Adam kemarin malam.
"Tuhan, aku tidak tahu ini adalah sebuah kebetulan atau memang pertanda darimu. Sebelum aku menikah dengan Adam, aku seperti pernah melihat kejadian itu di dalam mimpiku. Rasa yang Adam berikan terasa tidak asing, kehangatan itu terasa begitu nyata. Mungkinkah Adam adalah jodoh terbaik yang kau kirimkan untukku?.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...🌹Jangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss 🔪🔪🔪...
...🌹Ig: rifani_nini...
...🌹Fb: Rifani...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 280 Episodes
Comments
🌷mei aja.🌹
bkan ny rose punya kelebihan melihat masa depan ya???
apa rose blum sadar itu??
2022-12-07
2
epifania rendo
sahabat yang baik
2022-11-22
0
Otin Frankenstein Jr.
Niel siapa ya,, lupa ,,
hehehe
2022-08-07
0