Seneng banget gendongin ni anak. Ocehan abstraknya mengalihkan duniaku. Jadi kangen Kaba, anak Kak Yusuf. Pasti udah gede sekarang.
"Lucukan?" Tanya Mbak Aiys.
"He'em, lucu banget Mbak," Jawabku spontan.
"Usaha terus sama Cak Ibil. Biar bisa dapet kek gini. Hahaha," Ujar Mbak Aiys.
"Hehehe, iya Mbak," Jawabku. Percayalah! Hatiku rasanya dicabik-cabik tak karuan.
"Cak Ibil! Gas ken!" Ujar Mbak Aiys pada Mas Aibil di sampingku.
Kulihat dia memasang wajah malunya. Dasar! Sok lugu! Gimana mau punya anak? Buka segel aja belum! Matanya dari tadi mengarah pada Anisa yang tengah berbaring di pangkuan Bunda. Tunggu! Kenapa perasaanku biasa saja? Tak ada getaran api cemburu sama sekali. Iya! Walaupun Anisa itu sahabatku, harusnya aku tetap memiliki rasa itu walaupun sedikit. Kenapa aku biasa saja sekarang? Aku benar-benar masa bodoh dengan sikap Mas Aibil.
.
.
Alarm gawai membangunkan Wardah. Seketika ia mengingat perbincangan yang tak di jawab sang suami. Apa pantas di sebut suami? Bahkan tidur pun saling berjauhan.
"Mas, ada yang salah ya sama aku?" Tanyaku lirih. Waktu aku duduk di sisi Cak Ibil semalam.
"Udah ya, aku mau tidur. Ngantuk, kamu juga jangan tidur kemalaman. Besok kita berangkat pagi," Jawab Cak Ibil.
Selalu begitu, setiap malam memang selalu begitu. Tak ada obrolan yang menjurus ke arah masa depan keluarga baru itu. Setiap kali menyinggung masalah rumah tangga pasti selalu dielakkan. Hendak bercerita dengan Anisa seluruhnya pun tak berani. Ini salah satu aib keluarga. Ya, memang Anisa tahu dasar permasalahannya, tapi tak semuanya.
Aku tahu betul selama di ruang keluarga semalam kang suami sering kali memperhatikan Anisa. Ketika Anisa dielus kepalanya oleh sang mertua. Sekali lagi! Sekali lagi muncul rasa iri-ku. Aku iri! Iya! Aku iri terhadap sahabatku sendiri. Tapi aku juga bahagia melihat sahabat terbaikku bahagia.
Dia yang setiap saat terlihat bahagia, dengan suami, keluarga, bahkan mertuanya. Sedangkan aku, setiap malam hanya diberi punggung bidangnya saja.
Ya Allah, bisakah aku bertahan dengan rumah tangga seperti ini? Ini belum ada sebulan, tapi aku selalu mengeluh di setiap harinya. Aku tahu Allah tak pernah bosan mendengarkan doaku. Tapi disini aku yang mulai lelah dengan kehidupanku.
Kling! Satu notiv muncul di gawai-ku .
'Bagaimana di rumah Anisa ndok?' Bunda mengirimku pesan.
"Alhamdulillah Bunda, Wardah senang disini, Umi titip salam tadi, Wardah lupa tidak memberi kabar," Jawabku.
"Alaiki wa alaihassalam. Kamu baik-baik saja kan ndok?" Tanya beliau lagi.
Naluri ibu memang selalu benar perihal anaknya. Tapi aku sama sekali tak ingin mengaku jika sedang tidak baik-baik saja. Rasanya ingin sekali aku mengetik jika 'aku tidak baik-baik saja Bunda'.
Mencurahkan seluruh uneg-uneg. Tapi tak bisa.
"Wardah baik Bunda, ya suda ya Bun, Mas Aibil menyuruh Wardah tidur cepat. Besok harus berangkat pagi-pagi". Lirih Wardah, hingga akhirnya menutup sambungan telepon.
Sambungan telepon yang sangat berarti untukku. Bunda memang seorang ibu yang perasa. Mungkin bukan hanya Bunda. Tapi seluruh ibu.
Ku lihat Mas Aibil masih tertidur pulas. Tak ada niatan sama sekali untuk mengajaknya sholat malam bersama. Aku memilih untuk ke kamar mandi untuk mandi sekaligus berwudhu.
Sepertinya dia memang jelmaan kebo. Kenapa tak bangun setelah aku mencoba berisik dari tadi? Sudah ku sengajakan membuka dan menutup pintu dengan keras masih saja tak bangun. Dimana hilangnya kedok seorang Ustadz yang ia sandang?
Bersambung....
Selamat menjalankan ibadah puasa yang ke 4 para pembaca setia Lhu-Lhu 😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
xixicu
Wardah, kamu yang sabar ya.,....
2023-03-26
1
Ida Saidah
ya dh baca d judul rektor dan dosen inti y ap nich..
2021-07-11
0
Rizqika Aprilliyani
hu
2021-04-18
0