Aneh! Kata ini yang muncul ketika setiap kali mendengar orang mengeluh dengan mengeluarkan kata seperti:
“Males ah! Pusing! capek! Pengen nikah ajah!”
Seolah-olah menikah itu dapat menyelesaikan segala problem yang sedang dihadapi. Kata itu sering sekali kudengar sewaktu di bangku kuliah. Dikira, perikahan itu seindah di surga. Gara-gara doktrin dari teman-teman tak bertanggung jawab itulah, aku ingin membuktikannya. Aku sebentar lagi akan meniikahi seorang lelaki dengan title Ustadz. Bukan main-main, bahkan beliau merupakan abdi ndalem sepertiku.
Hari ini! Tepat hari ini aku akan memulai hidup baru dengan menyandang gelar istri. Aku tak tahu ini benar atau tidak, yang jelas aku mengikuti keputusan Bunda yang menyetujui lamaran itu. Bagaimana perasaaku? Tentu saja gugup. Sama seperti pengantin pada umumnya. Tapi sedikit terobati disaat aku melengos kebelakang sahabatku hadir. Ia tengah mengobrol dengan Umi saat aku masih dirias.
“Pengantinnya cantik banget, aku sampai pangling lhoo,” Celetuk Anisa menghampiriku.
“Makasih udah datang, aku gak bisa hadir diacara ijab qobul kamu,” Lirihku merasa bersalah.
“Nggak papa, kamu cantik bangeet...” Jawabnya. Aku hanya menjawab dengan senyuman.
"Umi tinggal dulu ya, Anisa temani Wardah. Umi mau ke depan. Nanti Ibunya Wardah akan menjemput kalau sudah selesai Ijabnya," Ujar Bu Nyai.
Hanya mereka berdua yang tertinggal dalam ruangan itu. Wardah begitu gugup. Terasa dari tangannya yang terlampau dingin ketika menggenggam tangan Anisa.
"Aku takut Nis," Lirih Wardah.
" Bismillahirahmanirrahim, semua akan berjalan lancar insyaallah," Jawab Anisa menenangkan.
"Kamu memang gugup kan Dah? Tapi disisi lain hatimu juga bahagia," Ujar Anisa sembari menyentuh dadanya.
Wardah mengangguk kemudian tersenyum.
"Aku awalnya memang tak menyukai Mas Aibil, tapi aku sekarang sudah yakin. Pilihan Abah dan Umi pasti yang terbaik," Ujar Wardah.
"Eeaak! Panggilannya udah berubah. Biasanya juga Cak Ibil," Ledek Anisa.
Wardah dari dulu begitu kagum pada Faisal. Ya,ia begitu kagum pada kakak sahabatnya. Ternyata rasa kagum itu berubah menjadi rasa cinta. Rasa cinta yang tak terbalas. Huhuhuhuuu, zeediiiiihhhh.
Umi dan Abah Kyai menjodohkan Wardah dan Cak Ibil tiga bulan yang lalu. Setelah melalui beberapa pertimbangan dan musyawarah keluarga, akhirnya terlaksana pada hari ini.
"Nis, gak usah ngledek deh. Alhamdulillah aku udah bisa move on dari kakak kamu," Ujar Wardah.
"Nama Cak Ibil aslinya siapa sih?" Tanya Anisa. Jujur, semenjak kenal Anisa tak tahu nama lengkap Cak Ibil.
"Muhammad Aibil Abqari. Masak kamu gak baca papan ucapan di depan sih Nis?" Jawab Wardah dengan sebal. Anisa cengengesan dan menggeleng.
"Gimana? Udah isi belum?" Tanya Wardah sambil mengusap perut sahabatnya.
"Doakan saja, saat ini aku masih menikmati masa pacaran," Jawab Anisa.
Wardah tersenyum dan mengangguk.
"Aku kagum sama kalian. Gak pernah aku dengar kalian berantem. Padahal pernikahan kalian udah jalan 5 bulan," Ujar Wardah.
"Alhamdulillah, memangnya kalau aku bertengkar bakalan ngomong sama kamu?" Tanya Anisa.
"Hehehe, iya juga sih. Kita kan harus menutupi aib suami. Lho! Berarti kamu sering bertengkar?" Wardah terkaget.
"Ya enggak Wardah, alhamdulillah gak ada perselisihan yang rumit. Mas Faridz itu sabar banget," Jawab Anisa.
"Alhamdulillah, semoga aku dan Mas Aibil juga bisa seperti kamu dan Mas Farhan," Harap Wardah.
"Aammiiin, eh! Itu udah mulai ijab qobulnya. Dengerin deh!" Ujar Anisa.
Umi meninggalkan kami berdua. Para perias pun juga sudah keluar bersama Umi.
Anisa dan Wardah masih mendengarkan dengan fokus lantunan ijab qobul Cak Ibil. Tangan Wardah semakin dingin. Pegangannya pada jemari Anisa pun semakin erat. Gugup, takut, deg-degan, campur aduk rasanya.
"SAH!" Sorakan yang terdengar dari luar.
"Alhamdulillah," Ucap Anisa dan Wardah secara bersama.
Wardah memeluk Anisa. Air matanya tak dapat dibendung kembali. Tangis bahagia menghiasi wajah cantiknya.
"Ush! Ush! Ush! Udaaah, nanti riasannya belepotan. Sini aku benerin dulu," Ujar Anisa. Di ambilnya tisu di atas nakas. Untung saja riasan itu water proof.
"Nih bawa! Buat pegangan kalau nanti nangis lagi," Ujar Anisa memberikan beberapa lembar tisu.
.
.
"Nak? Ayo ke depan," Panggil Ibunda Wardah.
Wardah melihat Anisa.
"Kenapa liatin gua gitu!" Sanggah Anisa.
"Hehehe, maap say. Ayo! Tenang yaa, slow, semua akan lancar," Sambung Anisa menenangkan.
Anisa mulai menuntun Wardah bersama Bunda.
"Lihat deh, Cak Ibil senyum sama kamu Dah," Bisik Anisa pada Wardah. Wajah Wardah merah seketika. Malu.Tangannya semakin dingin ketika duduk bersebelahan dengan Cak Ibil. Bukan! Sekarang sebutannya Mas Aibil.
Aibil menuntun tangannya menyentuh ubun-ubun Wardah dan mulai membacakan doa. Wardah mencium tangan suaminya dan dibalas dengan kecupan di dahinya.
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
xixicu
Suka banget sama ceritanya Kak Lhu-Lhu
2023-03-26
0
I'm beautifull
Lanjuuuut
2021-07-14
0
Ghendis
entah knp lebih seru acaranya Annisa ma pak rektor😂😂.waktu anisa tarik ulur tangan nya😂
2021-04-22
0