Kemarin hari masih ada Anisa yang menemani berkomunikasi. Kali ini terasa sangat sepi. Semenjak menikah, Umi juga jarang memanggil untuk sekedar meminta bantuan. Kalau berinisiatif kesana pun Umi lebih sering meminta untuk kembali ke rumah.
"Jangan sering tinggalkan suamimu Ndok, temani, kalau kamu disini nanti kesepian. Kalau Aibil lagi gak di kamar dan urusan rumah sudah selesai, baru kamu bisa main ke sini," Begitulah pesan Umi.
Untuk apa aku di rumah kalau tak ada percakapan sama sekali. Selalu aku yang memulai percakapan. Itu pun hanya dijawab dengan sepatah dua patah kata saja.
Seperti malam ini, setelah pulang dari masjid Mas Aibil langsung sibuk dengan kitab-nya. Sedangkan aku? Tentu saja aku lalaran Al-Quran. Padahal, impianku bersama Anisa dulu tak jauh berbeda. Ingin lalaran Al-Quran setiap hari dengan disimak Kang Suami. Ututututuuuu...
Aku menyelesaikan lalarannya setelah melihat jam dinding menunjukkan pukul 12;00 dini hari. Kulihat, Mas Aibil sudah tertidur pulas di tempat tidur. Tak terasa aku menghabiskan waktu terlalu lama. Bahkan suamiku tak menegurku untuk sekedar mengingatkan bahwa ini sudah terlalu malam.
Aku mengganti mukena dengan jilbab sorong. Supaya lebih nyaman untuk tidur. Aku memang belum sama sekali memperlihatkan rambutku yang kata Anisa sangat indah pada suamiku. Bukannya tak mau, hanya saja aku ingin Mas Aibil yang memintanya sendiri. Bahkan sudah seminggu dari pernikahan, dia belum sama sekali menyentuhku. Dia seolah selalu menghindari setiap kali aku hendak berbincang santai dengannya.
Tempat tidur kami pun terbatasi oleh sebuah guling. Ingin rasanya aku tidur dengan lasak. Supaya aku bisa melewati pembatas itu tanpa sadar. Bangun dengan dipeluk atau memeluk laki-laki itu. Tapi kenapa tak pernah? Selasak-lasaknya aku, tak pernah sekalipun melewati batas itu. Mas Aibil pun juga begitu, ia tidur seolah orang mati. Posisi tidurnya tak berubah sama sekali. Tidur dengan posisi itu, bangun pun dengan posisi seperti itu. Heran aku.
Hendak melewati batas dengan kondisi sadar, masih belum cukup mentalku. Aku tak berani. Menatap matanya saja aku tak berani. Serem... Kemana sikap. Manisnya sebelum masuk kamar ini saat di acara resepsi? Hilang! Lenyap! Begitu saja. Selimut pun kami memegang masing-masing. Ada masalah apa sebenarnya orang itu?
.
.
.
"Nanti ya, saya mau ngajar dulu,"
"Saya ngantuk, mau tidur,"
"Saya lagi tadarus kitab, dibahas nanti ya,"
"Saya dipanggil Abah,"
Selalu saja ada alasan jika aku mengajukan pertanyaan. Hari ini ia pamit selama 3 hari. Mengantarkan Abah pergi. Pasti dia senang sekali tak perlu membuat alasan lagi.
Oke! Aku akan membahas hal ini dengan serius saat perjalanan ziarah. Anisa bilang, akan memberikan waktu yang banyak untuk berduaan dengan Mas Aibil. Saat berdua itu, aku harus menggunakan dengan sebaik-baiknya.
Oke! Aku tak merasa kesepian walaupun tak ada Mas Aibil. Ada dia pun aku tetap kesepian. Sudah kebal dengan kata kesepian. Dengan begini, aky bisa puas main ke ndalem. Mengobrol dengan Umi. Untung saja Umi tak pernah menyinggung tentang keadaan rumah tanggaku. Jika menyinggung pun aku tak tahu akan menjawab apa. Hendak berbohong pun aku tak berani. Takut dilaknat.
Jujur, ingin sekali rasanya mulut ini bercerita pada Bunda, Umi, Kak Yusuf, mengenai keadaan keluarga baruku. Tapi, aku takut jika tak sanggup melihat wajah kecewa dan sedih mereka nantinya. Biarkan aku saja yang merasakan pedihnya. Aku harus berusaha. Jangan cengeng Wardah! Baru menikah dua minggu saja sudah mengeluh.
Ayo! Bangkit. Kamu pasti bisa bertahan. Ntah sampai kapan aku bisa bertahan. Aku pun tak tahu... 😢
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
xixicu
Jahat banget sih kamu Bil
2023-03-26
0
Sayful Bahri
kasian ny
2021-04-12
0
Yayuk Bunda Idza
semangat kak lhu lhu.... hampir selaras dengan kisah satunya... penasaran akut nich....
selamat menunaikan ibadah puasa esok hari insha Allah.... semoga mendapatkan gelar muttqaiin... aamiin....
2021-04-12
0