Keluar dari kantor yayasan, Wardah mencercah Anisa berbagai pertanyaan. Bisa-bisanya ia meninggalkan di ruang kantor yayasan sendiri.
"Maaf, tadi aku di panggil Izza. Katanya kamu disuruh ke ndalemnya Ustadzah Halimah," Ujar Anisa.
Ntah kenapa Wardah tak bisa marah pada teman yang satu ini.
"Ya udah, ayo ke ndalemnya Ustadzah Halimah dulu," Ajak Wardah menggandeng tangan Anisa.
Dengan beberapa lembar kertas hasil print yang dimasukkan ke dalam map seolah-olah membuat Wardah seperti orang kantoran. Hahahaha.
Pernah terlintas di benaknya, kelak ia bercita-cita ingin sukses di bidang perusahaan. Sesekali saat keluar pesantren ia melihat orang-orang kantoran berpakaian rapi. Membuatnya kagum.
Di sisi lain ia ingin menjadi pengacara. Mengungkap kasus sang Ayah tercinta. Sudah setengah tahun lamanya pembunuh Ayahnya belum juga ditemukan. Jika terus seperti ini, kasus Ayahnya akan di tutup secara sepihak.
"Assalamu'alaikum," Sapa Wardah ketika sampai di ndalem Ustadzah Halimah.
"Wa'alaikumussalam, Wardah? Saya boleh minta tolong?" Ujar Ustadzah sembari mempersilahkan Wardah dan Anisa masuk.
"Minta tolong apa Ustadzah? Insyaallah saya bantu," Jawab Wardah.
"Tolong isikan raport santri MTS kelas delapan," Ujar Ustadzah Halimah.
"Ustadzah di utus Umi untuk pergi ke kota, mungkin kembali ke pesantren dua hari sebelum pembagian raport," Sambung beliau.
"Insyaallah bisa Ustadzah, nanti bisa saya sambi ketika acara classmeeting," Jawab Wardah dengan patuh.
"Terima kasih ya, sebentar Ustadzah ambilkan laptop untuk kerjanya. Ini bisa kamu bawa ke asrama, Ustadzah sudah izin kepada Ustadz Zainal," Ujar beliau kemudian berlalu ke dalam kamar.
Beberapa saat kemudian, Ustadzah keluar dengan menenteng tas laptop dan map yang lumayan besar di tangan sebelahnya.
"Ini laptopnya, yang di map ini nilai-nilai santri. Nanti kalau mau print langsung ke Ustadz Zainal saja," Ujar beliau memindah alihkan barang ke tangan Wardah.
"Siap Ustadzah, kalau begitu kami pamit dulu, Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
.
.
.
Habis tugas satu, muncul tugas dua. Belum kelar tugas dua, hadir lagi tugas 3 dan seterusnya. Tenang gaess, Wardah orangnya sabar kok. Hehehe,
Untung saja Wardah memiliki meja kerja khusus. Sebagai sekretaris, ia harus selalu siap jika dimintai dokumen-dokumen atau yang berhubungan dengannya. Selalu siap, sigap, dan tanggap! Kini mejanya semakin penuh dengan barang bawaan barunya. Sudah tak heran, tahun lalu Wardah juga diberi tugas yang sama. Tapi dengan guru yang berbeda.
Ia dikejar-kejar deadline untuk menyelesaikan pengisian nilai raport secara online. Esok harinya harus membantu guru-guru sekolah formal untuk menyelesaikan dokumen-dokumen penunjang akreditasi sekolah. Bahkan ia sampai melemburnya.
"Assalamu'alaikum, Bang Fadhil? Ini surat-surat yang perlu ditandatangani Sampean dan Abah Kyai," Ujar Wardah menghampiri Bang Fadhil dan teman-teman panitia yang tengah menyiapkan panjat pinang.
"Oh iya, terima kasih Wardah," Jawabnya. Ia segera berpindah mencari meja yang sekiranya bisa digunakan untuk alas tulisnya.
"Pakai papan ujian saya saja," Tawar Wardah.
Cliing! Senyumannya mengembang begitu manis. Diambilnya dari uluran Wardah dan mulai menandatangani berkas-berkas yang lumayan banyak.
"Sudah, kamu temani saya ke ndalemnya Abah Kyai ya?" Ajak Bang Fadhil kepada Wardah.
"Ha!" Deg! Bisa-bisanya dia mengajak Wardah.
"Kamu-kan abdi ndalemnya Umi, jadi kamu yang izin ke Abah. Hehehe, aku gak berani," What! Apa-apaan ini. Seseorang yang terkenal goodlooking tidak berani menghadap pimpinan pesantren? Hahaha, lucu sekali.
"Saya mau, tapi yang perlu ditegaskan disini, saya bukan abdi ndalem, saya hanya sesekali ke ndalem jika dipanggil Umi atau Abah," Ujar Wardah hati-hati.
"Iya, maaf kalau begitu. Mari ke ndalem," Ajak Bang Fadhil.
Wardah mengangguk dan mengikutinya dari belakang. Jangan berani berjalan beriringan jika tak ingin di takzir. Mungkin karena perawakannya yang tegap dan gagah serta title goodlooking menjadikannya soritan massa kali ini. Bahkan Wardah juga terjerumus dalam tatapan para massa itu.
.
.
"Assalamu'alaikum," Sapa Wardah dan Bang Fadhil.
"Wa'alaikumussalam, Wardah? Fadhil? Ada apa?" Umi menghampiri mereka berdua. Wardah segera mencium tangan sang Umi.
"Kulo ada perlu dengan Abah Mi, minta tanda tangan untuk pelegalan acara pramuka," Ujar Wardah dengan sedikit membungkuk di hadapan Umi.
"Pelegalan, kayak mau buat bisnis aja. Hahaha. Ayo masuk sini," Jawab Umi dengan tawanya yang lembut.
Memang, jika keluarga sholeha semuanya terlihat sopan. Mulai dari cara bicara, berjalan, bahkan tertawa pun. Berbeda dengan Wardah dan Anisa. Apalagi Lhu-Lhu! Jaauuuuhhhh!!
"Bah? Abah? Dicari Wardah ini, mau minta tanda tangan katanya," Umi memanggil Abah, sepertinya beliau di ruang baca.
"Fadhil? Sama kamu ternyata," Celetuk Abah kemudian duduk di sofa dengan Wardah dan Bang Fadhil yang duduk di lantai. Tapi tak sedekat yang kalian bayangkan, mereka duduknya berjauhan kok.
"Inggih Abah," Jawab Bang Fadhil dengan menunduk sopan.
"Bagaimana persiapannya Dhil? Kapan di mulai acaranya?" Tanya Abah pada Bang Fadhil.
"Alhamdulillah sudah hampir siap semua Abah, selepas ini tinggal pengecekan kelengkapan. Jika Abah berkenan, acara akan dimulai lusa hari," Jelas Bang Fadhil.
"Ya sudah, Abah juga sudah rapat dengan dewan guru dan asatidz. Abah sudah menyetujuinya," Jawab Abah.
"Niki Abah, surat-surat yang perlu di tandatangani," Ujar Wardah sembari meletakkan di meja depannya Abah Kyai.
Yang perlu ditandatangani berjumlah tujuh buah. Banyak sekali? Ya, memang! Untuk melakukan classmeeting berbentuk umum (di luar konteks peragamaan), memerlukan izin ketat dari pimpinan. Tentu saja semua ini sebagai bentuk meyakinkan Abah Kyai, bahwa pramuka ini juga penting.
Maklumlah, Abah begitu menyeleksi kegiatan-kegiatan yang umum. Takut jika tak bermanfaat untuk santrinya. Apalagi acaranya di gabung antara santriwan dan santriwati.
.
.
"Terima kasih ya Wardah, sudah mengantarkan saya ke ndalemnya Abah Kyai," Ujar Bang Fadhil setelah keluar dari ndalem.
"Sama-sama Bang, saya permisi dulu. Mau fotocopy surat ini dulu." Pamit Wardah.
"Iya, nanti yang nyebarin undangan pembukaan suruh yang lain aja,"
"Siap! Assalamu'alaikum," Wardah tersenyum sebelum benar-benar pergi meninggalkan Bang Fadhil.
Bersambung....
Wardah mau nyapa nih :")
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
xixicu
Nga to the Kak, ya Lhu?
hahaha
2023-03-26
0
xixicu
Semangat Wardahhhh
2023-03-26
0
Yuyun Asri
manis...pas untuk visualnya
2021-10-19
0