Duka lara yang sempat menyelimuti rongga dada ini perlahan dapat diatasi. Mengalir dengan perlahan begitu saja. Sesosok wanita manis hadir bagai penawar rasa sedih yang selama ini dirasa.
Aliya Anisa Azzahra. Begitulah kira-kira namanya. Nama yang cantik, secantik parasnya pula. Gadis itu baru saja datang beberapa minggu lalu. Katanya sih pindahan, ntah apa nama sekolahnya dulu. Aku pun lupa.
Ia begitu ramah sejak pertama kali pertemuan kami. Ia selalu mengikutiku dimana pun aku bertapak. Aku sih senang, senang sekali. Sejak aku kembali ke pesantren teman-temanku terlihat begitu canggung padaku. Seolah-olah mereka sungkan jika bersama ku. Berbeda dengan Anisa. Ia selalu saja menggandeng tanganku yang haus akan perhatian seorang teman. Apalagi kami selalu sekelas, bahkan ia meminta agar kami sebangku. Aku jadi tak enak hati pada teman sebangku ku. Untung saja teman sebangku ku dengan senang hati mengalah.
Tak tahu jika ia mengetahui kasus pembunuhan Ayah. Apa mungkin ia juga akan menjauh dan merasa canggung seperti orang-orang lainnya? Biarlah waktu yang menjawab nantinya.
Aku tak tahu bagaimana menilai seorang Anisa. Bukan tak bisa, tapi lebih tak berani menilainya. Takut dosa kalau ghibah. Tapi bagaimana lagi? Aku tak sabar membeberkan sifat Anisa yang sesungguhnya pada para reader. Hahaha.
Maaf Nis, aku balas dendam dibagian novelku. Aku juga ingin jadi idola para pembaca. Bukan kamu saja. Hahahaha.
Aku harus ekstra bersabar menghadapi sosok Anisa. Sifat manjanya yang membuatku mengelus dada. Apa-apa yang akan dilakukannya harus melewatinya bersamaku. Hendak menolak pun aku tak enak. Uminya telah mengamanahkan kepada ku agar menjaganya. Hedeehhhh.
Doaku, semoga ini tak berlangsung lama. Mungkin saja ini karena Anisa masih santri baru.
Saking seringnya bersama, sampai-sampai kami dinobatkan sebagai kembaran. Tak jarang para santri mengira jika kami saudara kandung.
Mohon izin kepada Lhu-Lhu dan para pembaca lainnya, Wardah mau tranformasi mengganti visual diri. Hahahha. Tentu saja visual pilihan Wardah yeee,
Gimana? Gak kalah cute-nya sama Anisa kaaaan? Hahahaha
Anisa pindah ke pesantren ini ketika kelas 1 Aliyah. Aku ingat betul pesan orang tuanya padaku.
"Nak Wardah, Umi nitip Anisa yaa? Dia pemalu banget. Nanti tolong di temani," Ujar Uminya.
Oke! Akhirnya aku selalu menemaninya kemana pun yang ia mau. Anisa pemalu parah. Aku juga, tapi tak separah Anisa. Awal Anisa menginjakkan kaki di pesantren ini, mata-mata kekaguman selalu berpihak kepadanya. Bukan hanya itu, kang buaya pun tak mau ketinggalan. Sering kali aku menemukan secarik dua carik kertas surat di lacinya. Bahkan para pengagum itu tak segan-segan menitipkan kepadaku. Sepertinya aku alih profesi menjadi tukang pos.
Tenang, meski begitu aku bahagia. Hidupku tak lurus begitu saja tanpa teman dekat. Aku bahagia sebab hadirnya Anisa disisiku.
Sepulang sekolah, Anisa akan ikut aku ke ndalem salah satu Ustadzah di pesantren. Setelah meninggalnya Ayah, aku memang membantu Ustadzah Halimah di ndalemnya. Memang selama ini aku menggunakan uang beasiswa untuk keperluan sekolah, tapi tidak untuk keperluan sehari-hari. Ketika diminta Ustadzah Halimah awalnya aku menolak, tidak ketika yang meminta Bu Nyai. Aku akan selalu menuruti perintah Abah Kyai dan Bu Nyai. Aku tak mau jika dibayar, tapi Ustadzah Halimah selalu membujukku dengan alasan untuk membantu Bunda di rumah yang kini bekerja sebagai penjual lotek.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
Rinjani
Wardah ma Annisa sahabat sampai tua..di dosen ku suamiku ya lhu lhu🤣🤣😄🇮🇩
2022-08-14
0
¢ᖱ'D⃤ ̐NOL👀ՇɧeeՐՏ🍻
nah nah.. thor.. bikin galfok lg kn???
Wardah Asyifa Alifia.. panggilan Aliya
trus tmnnya Aliya jg.. Aliya Anisa Azzahra.. tp panggilan yang Nisa sih..
mknya pas eps 1 sedikit kuulang2 bcnya.. soalnya Wardah klo di rumah dipanggil Aliya..
pas bc eps 2 jg kuulang2 lg bc eps 1..utk mencari kebenarannya .. wkwk.. maklum agak2 oleng thor🤭
2022-02-07
1
I'm beautifull
Love you Lhu-Lhu
2021-07-14
0