HEYY!!! begitulah kira-kira suara yang ku dengar. Sebuah teriakan lebih tepatnya suara yang terdengar berat dan keras. Amat jelas terdengar di antara riuhan dedaunan malam. Suara seorang lelaki yang seolah-olah marah padaku. Tepat saat aku membaca untaian kalam ilahi "Wal Yatalattof". Tapi kenapa suara keras itu kalau dituliskan malah luucu sh Lhu-Lhu! Kan aku pengennya yang terkesan mengerikan. Hey! Kalian para pembaca! Kalau membaca kata yang awal paragraf itu bayangkan dengan suara keras, berat, kasar, daaannnn pokoknya nyeremin deh! Okeee!
Malam itu aku melaksanakan sholat malam dan dilanjutkan dengan membaca surat Al-Kahfi. Naasnya aku malah mendapatkan panggilan suara tak dikenal. Sesaat setelah insiden itu, tiba-tiba jari ku terasa kaku. Mulut tertutup rapat seakan gigiku bersembunyi ketakutan. Tubuhku mendadak dingin seperti kucing yang tersesat di kutub utara. Hanya hatiku yang masih terus bergumam melangitkan doa-doa yang ku ingat. Setelah sedikit tenang, aku memberanikan diri melanjutkan bacaan yang sempat tertunda hingga selesai.
Memberanikan diri memeriksa kejadian adalah cara yang tepat untuk menjawab rasa penasaran ini. Aku paksa otot leher ini untuk memalingkan wajah ke kanan, ke kiri, dan sekeliling masjid. Kini tak kutemukan seorangpun ada di sekitar sini. Dengan tergesa-gesa aku menutup kitab suci, dan bergegas kembali ke asrama. Langkah kaki seakan tertahan oleh tanangnya angin. Tanganku mendekap Al-Qur'an dengan kekakuan yang hakiki.
Tak henti-hentinya mulutku berkomat-kamit melantunkan ayat suci. Jarak 10 M dari masjid ke asrama seakan 1 KM. Gonggongan anjing di luar pesantren memancing bulu kuduk berantusias untuk kegiatan baris berbaris. Ku tambah kecepatan langkah ini. Kreekk...!!! Perlahan aku membuka pintu asrama agar tidak berbunyi, tapi tetap saja. Aku melangkahkan kaki dengan amat hati-hati melewati para santri yang tidur berjejer bak ikan teri yang berjemur di tepi pantai. Setelah sampai pada bagian pojok kamar, aku membangunkan temanku dengan paksa. Ku ayunkan tangan di pundaknya dengan kekuatan full.
"Lik...!! Ilik....! Bangun lah.... Pleace... Ilik..." Kali ini bukan Anisa yang kubangunkan. Karena aku tahu ia penakut jika mengenai ha mistis. Aku lebih memilih membangunkan Ilik teman sekelasku dengan Anisa.
"Apo hal ko?? Hobi nian dak bebangun ughang tidou..." Gumamnya dengan sebal saat kuganggu tidur nyenyaknya. (Ada apa ini? Hobi banget gangguin orang tidur) kira-kira begitu ucapannya tadi.
Alhamdulillah, Ilik bangun juga. Dengan wajah masam ditambah jengkel, ia duduk sambil mengusap matanya yang masih mengantuk. Ciri khas bibir cemberut dan tatapan elangnya. Tanpa pikir panjang aku menceritakan semua kejadian yang yang baru saja terjadi. Ilikpun kini ketakutan.
Ilik menarik tanganku hingga aku tersungkur di sampingnya. Ntah mengapa tiba-tiba mataku tertuju pada bola lampu yang menggantung di tengah kamar. Aku terus memandangi, kini udara malam memanas tapi juga mendingin seakan kami berada di dalam lemari es. Betapa terkejutnya, tiba-tiba lampu itu bergoyang. Ternyata Ilik juga melihatnya. Kami memutuskan untuk masuk dalam selimut. Tangan kami saling berpegangan. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami. Seolah telah terkunci otomatis seluruh tubuh ini.
Belum sampai hilang rasa was-was ini, tiba-tiba terasa sebuah tangan yang meraba selimut kami. Bertambah takutnya kami. Bulu ini hendak lari dari kulit. akhirnya mereka berencana untuk berani membuka selimut. Sebelum kami membuka selimut, ternyata tangan tadi telah lebih dahulu menarik. Spontanitas mata ini terbelalak seakan hendak lepas dari tempat berteduhnya. Ulfa menutup mulut kami dengan kedua tangannya. Upaya kami berteriak pun terhalangi. Ulfa adalah adik kelas kami. Ternyata Ulfa mendengarkan cerita kami sebelumnya. Ia takut dan akhirnya menyentuh kami untuk bergabung. Kami pun tidak tidur hingga cak Jojo mulai mengumandangkan suara lentiknya. Aku tak memperdulikan lagi suara semalam. Hingga saat ini aku masih di selimuti rasa penasaran yang amat kuat. Ntah suara apa itu aku pun tak tahu.
Pagi hari menjelang berangkat sekolah kami bertiga masih membahas kejadian semalam. Iyalah bertiga, karena yang tahu kejadian itu kami bertiga, aku, Ilik, dan Ulfa. Masih saja terbayang suara berat itu berteriak. Memang jika dituliskan tak bisa mewakili suara berat itu sama sekali. Tapi! Percayalah. Suara itu sungguh sangat menyeramkan. Bagaimana malam nanti? Akankah aku berani ke masjid sendirian. Sebelumnya aku sudah memantapkan hati untuk ikttikaf menjelang subuh. Setelah kejadian semalam, aku tak tahu harus bagaimana.
“Tenang bae, awak temani korang ke masjid beko,” (Tenang aja, aku temani kamu nanti ke masjid) kira-kira seperti itu artinya. Bagai seorang malaikat penolong temanku satu ini. Seolah ia tahu isi pikiranku kali ini. Spontan ku peluk erat-erat Ilik, tak peduli taapan santri lain yang tak sengaja melewati asrama kami.
“Aku juga mau Mbak nemenin,” Sambung Ulfa.
Wuuuiiiihh! Oke! Fiks! Hantu bersuara seram dan berat itu pasti takut dengan kami bertiga. Aku bisa tenang sekarang. Terima kasih Ya Allah, engkau telah memberikan jalan padaku untuk tetap berusaha dekat dengan-Mu.
“Kalian ngomongin apa sih?” Tanya Anisa yang baru bergabung.
“Gak usah tanya kamu Nis kalau nanti malam mau tidur nyenyak,” Jawab Ilik. Aku dan Ulfa pun hanya tersenyum
“Hallah! Kasih tahu lah,” Rengeknya. Ekspresi yang tak kusuka. Aku sudah malas jika Anisa telah merengek. Tak ada habis-habisnya.
Tak mau ambil pusing, aku menceritakan pada Anisa kejadian tadi malam. Eh! Bukan! Itu sudah pagi keless!. Benar kata Ilik, Anisa langsung beringsut.
“Sudah-sudah! Aku gak mau denger lagi. ayo kita ke kelas!” Ujarnya dan bergegas menarik tanganku.
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
WafaUl Amanah
sama kek aku kalo di kobong tidur nya,jadi kalo mau tahajud gak bisa di kamar soalnya kamarnya penuh hha,
2022-03-11
0
Jusmiati
😂😂😂😂😂
2021-08-06
0
I'm beautifull
Serem-serem sedeep
2021-07-14
0