Sampai di rumah Anisa, kami di sambut Abi, Mbak Aiys dan Umi yang berhambur memelukku. Sudah sangat lama kami tak saling bertemu. Terlihat jelas untaian kebahagiaan di wajah beliau. Aku sangat bersyukur memiliki keluarga yang sangat dekat dari Anisa. Umi selalu saja memberikan kasih sayang dengan ku walaupun hanya menjabat sebagai sahabat dari anaknya.
"Ayo masuk, Umi kangen banget sama kamu," Ujar Umi menggandengku memasuki rumah.
Masuk ke ruang keluarga, sudah ada Bunda dan Ayah dari Mas Farhan. Aku sempat mengenali beliau saat berkunjung ke pesantren beberapa bulan yang lalu.
"Ini yang namanya Wardah?" Tanya Bunda yang menarik tanganku hingga terduduk di sampingnya. Aku hanya tersenyum sopan menjawab Bunda.
"Cantik banget, Anisa sering cerita tentang kamu. Coba aja Bunda punya anak laki-laki dua, pasti yang satu buat kamu," Celetuk Bunda.
"Hussh! Ngomongnya lho! Pengantin baru ini," Jawab Umi yang duduk di sisi lainku. Aku hanya terkikik mendengar candaan dua sahabat itu. Aku berharap, bisa seperti mereka kelak dengan Anisa.
Bunda dan dari tadi mengajak-ku mengobrol. Senang sekali rasanya, aku tak menyangka akan diterima dengan sangat baik disini. Sejenak aku melupakan kegundahan di hati. Kuabaikan pandangan Mas Aibil yang sesekali melihat ke arahku.
"Assalamu'alaikum," Sapa seseorang dari luar. Dari suaranya sih seperti Anisa. Bunda bergegas berjalan ke ruang tamu.
Selang beberapa saat muncul Mas Farhan dengan Bunda. Tapi tak ada Anisa.
"Nyari Anisa? Tuh di dapur. Sana ajah," Ujar Mas Farhan seolah tahu piiiranku.
"Hehehe, iya..." Jawabku salah tingkah.
.
.
.
"Assalamu'alaikum Ica kuu!" Sapa seorang perempuan menghampiri Anisa.
"Lho! Wardah! Udah sampai? Ya Allah, kangen bangeeet," Acara peluk memeluk antara dua sejoli itupun tak dapat dihindari.
"Kapan sampainya? Naik apa? Kak Ical jemput kan? Gimana kabarnya?" Anisa memberondong dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Syuuutt, satu-satu tanyanya," Wardah duduk di kursi meja makan sembari melihat Anisa yang tengah menyiapkan makanan.
"Aku tadi sama Mas Aibil naik bus ke sini. Terus dijemput deh sama Kak Ical.Waktu azan maghrib deh aku sampai sini. Eh, ternyata udah ada Bundanya Mas Farhan. Demi apa! Baik banget Niiiss!" Sambung Wardah dengan panjang lebar.
"Iya, Bunda memang baik. Tapi Ibunya Cak Ibil baik juga kan?"
"Alhamdulillah baik banget, Bapak juga baik banget. Tapi Mas Aibilnya yang masih sulit," Ujarnya lirih. Terlihat jelas kesedihan dan beban batin yang dibawa Wardah. Ntah mengapa' Anisa seolah bisa merasakan kesedihan itu,
"Sabar, aku yakin lambat laun Cak Ibil pasti bisa luluh. Semangat sayangkuuu. Kita ke ruang keluarga yuk," Ajak Anisa. Wardah membantu dengan membawa minuman di nampan.
Anisa memilih duduk di tengah-tengah Farhan dan Bunda setelah Bunda memintanya.
Sedangkan Wardah duduk di samping Cak Ibil dan Umi.
Alhamdulillah Anisa memesan makanan lebih banyak. Tak menyangka jika sahabatnya akan datang secepat itu.
"Bunda bawa Jacy sama Jeje lho! Bunda nungguin kamu pulang gak pulang-pulang," Ujar Bunda mengelus jemari Anisa.
"Bunda berlebihan dah! Baru aja 5 hari ditinggal udah kangen. Lebay," Canda Farhan.
"Diam Han! Nanti kamu di sembur. Lagi sensitif Bundamu," Sambung Ayah yang dibalas kekehan Abi.
"Sendiko dawuh Bunda, Ayah," Farhan membungkuk bak tengah sungkeman.
Jangan lupa dengan dedek bayi Kak Ical yaa. Dia juga ikut nimbrung dengan kata-kata abstraknya. Suasana malam ini tampak semakin mencair dengan lancarnya. Canda tawa, cerita-cerita menjadi satu. Cak sesekali ikut nimbrung juga. Sedangkan Wardah Tengah memangku dedek bayi. Ia berpindah duduk di dekat Kak Aisy. Wardah tampak menikmati suasana kebersamaan kali ini. Apalagi dengan candaan-candaan yang menghiasi suasana malam ini.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
Mah Da
SEMANGAT up ya thor . makin seru
2021-04-16
2
Elly Elma Tastho
up semangat kaka
2021-04-15
1
atik cahya
semakin penasaran sama wardah
2021-04-15
0