Alhamdulillah acara esepsi berjalan dengan lancar. Tamu yang datang juga banyak, mulai dari tamu WArdah, Cak Ibil, Bunda, bahkan Abah dan Umi sebab bertempat di pesantren.
Acara berlangsung hingga malam hari. Bahkan masih tetap seramai di pagi ataupun siang. Wardah ditemani Anisa di kursi tamu menemui tamu-tamu yang ia kenal. Cak Ibil Tampak mengobrol dengan teman-temannya.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu Wardah, ini sudah malam, tamunya juga sudah berkurang'" UJar Bunda Wardah.
"Izinlah aja sama Cak Ibil. Aku juga mau istirahat," UJar Anisa.
Wardah mengangguk dan mulai mendekati Cak ibil ditmani Anisa. Farhan juga tengah berada di sana.
"Mau istirahat dulu?" Tanya Aibil pada istinya.
Wardah mengangguk.
"Istirahat dulu saja, nanti saya nyusul'" Ujar Aibil.
"Ya sudah Mas, Wardah ke kamar dulu Mas. Assalamualaikum'" Pamit Wardah.
Cup! Satukecupan mendarat di pelipis Wardah. Malu? tentu saja. Di sana banyak manusia. Tak menahan malu, Wardah segera melimpir hilang dari kerumunan. Sedangkan Anisa tampak menahan tawanya. Ia ikut pergi dari kerumunan karena telah mengantuk.
Sesampainya di kamar, Wardah disuguhi oleh pemandangan kamar yang luar biasa cantiknya. Padahal, terakhir ia masuk ke kamar, masih tertata rapi sebagaimana mestinya. Kini telah di sulap dengan geraian kain putih yang menghiasi dinding kamar dengan hiasan bunga di berbagai arah. Tak lupa dengan tempat tidur yang sudah diganti dengan seprai berwarna putih dengan taburan bunga di atasnya. Cahaya lampu kini telah berganti dengan cahaya lampu tumbler berwarna warm yang menggantung menambah keestetikan kamar ini.
Puas mengagumi kamarnya, WArdah segera melepaskan perintilan di jilbab dan segera membersihkan diri. Hari ini sungguh melelahkan. Jika menunggu Aibil pasti akan lama. Anak cowok sangat betah jika berkumpul dengan teman-temannya. Wardah memilih untuk melaksanakan sholat isya dulu.
.
.
.
Ceklek!
Aibil memasuki kamarnya tepat saat jam menunjukkan pukul 12:00 WIB. Dilihatnya Wardah sudah tidur dengan mengenakan dres rumahan dan masih mengenakan jilbab simpel. Wardah tak melepas jilbabnya.
Aibil langsung membersihkan tubuhnya dan berbaring di sebuah sofa yang ada di samping tempat tidur.
Seperti biasa, Wardah akan terbangun di jam-jam sepertiga malam terakhir. Tangannya meraba tempat di sebelahnya. Dimana Mas Aibil? Seketika Wardah membuka matanya. Dilihatnya Aibil tertidur di sofa. Satu hal yang muncul di kepala Wardah. Apa dirinya lasak ketika tidur? Atau ia mengorok? Makanya sang suami tak mau di dekatnya.
Wardah mendekati Aibil dan mulai mengusap pundaknya. Mencoba membangunkan. Aibil perlahan menggumam dan mulai mengerjapkan matanya.
"Astaghfirullah!" Teriaknya setelah melihat Wardah.
"Kenapa Mas?" Tanya Wardah yang juga kaget karena teriakan Aibil.
"Maaf Wardah, sayaa...saya lupa," lirihnya dengan mengusap kasar mukanya.
Wardah tersenyum,"Kita sholat berjamaah Mas?" Tanya Wardah.
"Kamu duluan saja. Saya mau ke masjid," Jawab Aibil kemudian melewati Wardah dan mengambil baju koko dan pecinya.
Wardah hanya bisa melihat punggung tegap itu menjauh darinya. Tak ingin berkelut dengan pikirannya, Wardah segera ke kamar mandi dan melaksanakan sholat malam dan lalaran sembari menunggu azan subuh.
.
.
.
Pagi menjelang siang, Wardah dikagetkan dengan munculnya Anisa di kamarnya. Anisa nyelonong masuk. Dan mengagetkan Wardah yang sedang menata baju sang suami. Untung saja Kang Suami sedang tak dikamar.
Anisa terus saja membujuk Wardah agar mau diajak ke pusat perbelanjaan. Melihat Anisa yang terus memohon, jadi tak enak hati mau menolak lagi. Wardah menghampiri Aibil yang sedang membaca buku di halaman belakang. Menjelaskan maksud Anisa dan tanpa pikir panjang, Aibil menyetujuinya.
Sesampainya di pusat perbelanjaan, Wardah disuguhi pemandangan uwuw dari Farhan yang merangkul Anisa. Diliriknya Aibil yang juga memandangi dua sejoli yang sudah berjalan duku.
"Kenapa Mas Aibil gak lakuin hal yang sama ya? Apa dia malu? Bahkan semalam ia tidak mau tidur satu ranjang," Batin Wardah terus berkejolak.
Wardah memilih peralatan rumah yang belum tersedia di asrama atau rumahnya. Aibil hanya mengikutinya dari belakang. Ada masalah apa sebenarnya dia ini? Kenapa kaku sekali? Bahkan ia tak peduli dengan Wardah yang menenteng keranjang belanja sendiri. Kemana sikap lembutnya tempo hari?
"Sudah? Ada lagi tidak?" Akhirnya suara barington itu keluar.
"Sudah," Singkat Wardah. Cak Ibil mengambil belanjaan itu dan langsung membayarnya. Kemudian menunggu Anisa dan Wardah di sebuah kursi tunggu. Lagi-lagi tak ada sepatah kata pun keluar. Lagi sariawan sepertinya.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
xixicu
Kalau malu nggak mungkin, sedangkan waktu mau ke kamar semalam saja Cak Ibil nyium kening Wardah di tempat umum😔
2023-03-26
0
Uswatun
mau aku getok kepala y. lihatiin y anisa suami y. ibilll otak dmn Istri d angguriin GA d anggep Sama sekali.
2021-12-15
0
I'm beautifull
Lanjuuut
2021-07-14
0