Hari-hari di pesantren diwarnai dengan perhatian Bang Fadhil kepada Wardah. Bahkan sekarang Bang Fadhil mengikuti gaya Wardah ketika memakai jam tangan. Jika orang pada umumnya mengenakan jam tangan dengan meletakkan kepalanya ke arah punggung tangan, maka Wardah disebaliknya. Kepala jam tangan searah dengan telapak tangannya.
Para santri sudah banyak mengetahui kedekatan mereka berdua. Bahkan Ustadz Azam sekalipun. Tapi Wardah masih pada pendiriannya. Ia tak mau pacaran. Ia hanya menyikapi sewajarnya. Meskipun ia tak bisa berbohong perihal hatinya.
Hari ini Bang Fadhil ditugaskan untuk menjadi pendamping pramuka adik-adik santri di luar kabupaten. Ia sempat mengirimkan surat kepada Wardah perihal kegundahannya meninggalkan Wardah. Tenang gaess, suratnya langsung dimusnahkan oleh Wardah. Sehingga ia tak perlu khawatir ditakzir atau dihukum nantinya. Hehehe. Dasar Wardah! Nakal juga ternyata.
"Ayo Wardah, ikut ibu mengantarkan anak-anak," Ajak Bu Mai kepada Wardah yang berdiri di sampingnya.
"Pengen Bu," Rengek Wardah. Bu Mai merupakan salah satu guru yang supel terhadap muridnya.
"Ayo ikut, sama Ibu... Temani ibuk," Ajak beliau lagi.
"Boleh Bu?" Tanya Wardah memastikan.
"Iya, boleh. Ajak temanmu satu lagi," Jawab Bu Mai.
"Yes! Alhamdulillah!" Seru Wardah.
Wardah segera menuju kamarnya. Tak lupa ia menarik tangan Anisa. Anisa yang linglung pun hanya mengikutinya. Wardah menjelaskan pada Anisa sembari bersiap-siap. Jangan ditanya bagaimana Anisa. Ia sangat mendukung hal itu. Anisa sangat mendukung akan hubungan tanpa status sahabatnya itu.
Setelah siap, mereka kembali ke tempat Bu Mai. Mereka langsung memasuki mobil.
"Heh! Tahu gak? Tadi Bang Fadhil kegirangan banget waktu aku kasih tahu kalau kamu ikut nganterin," Bisik Anisa.
"Kapan kamu ngomong sama dia?" Tanya Wardah.
"Sebelum masuk ke mobil," Bisik Anisa lagi.
Wardah mesam-mesem sendiri dibuatnya. Apalagi saat berpapasan dengan Bang Fadhil yang berboncengan dengan Ustadz Zainal menggunakan sepeda motor.
.
.
Sesampainya di lokasi, Wardah dan Anisa membantu menyiapkan perkemahan. Para peserta kemah diminta untuk berkumpul di lapangan. Tinggallah di tenda hanya Wardah, Anisa,Pak Saipul dan Ustadzah Caca. Guru-guru yang lain sepertinya tengah jalan-jalan melihat bumi perkemahan.
"Wardah? Kamu bisa nyapu gak?" Tanya Ustadzah Caca dengan sinisnya.
"Bisa Ustadzah," Jawab Wardah sopan.
"Kamu-kan rajin, abdi ndalemnya Abah, Nih! Kamu sapu. Pengen lihat bisa bersih gak sih nyapunya? Kan ada Fadhil itu, biar dia lebih kesem-sem sama kamu," Ujarnya dengan menekankan kata FADHIL.
Pas banget saat Bang Fadhil datang. Wardah menerima sapu lidi dengan gelagapan saat dilemparkan oleh Ustadzah Caca.
"Sabar Wardah, dia Ustadzah kamu. Harus ta'dzim. Gak boleh durhaka sama guru" Batin Wardah.
"Biasa aja lah Yuk! Jangan gitu banget," Ujar Anisa yang memang masih saudaraan dengan Ustadzah Caca. Yaaa, meskipun saudara jauh.
"Biar Bang Fadhil yang ganteng ini tahu, kalau cem-cemannya itu rajin," Sindirnya pada Bang Fadhil yang sedang mengambil tali pramuka.
"Lah Yuk, jangan gitu, kasihan Wardah," Ujar Bang Fadhil.
Mereka yang akrab dengan Ustadzah Caca memang terbiasa memanggil dengan sebutan Ayuk. Berbeda dengan Wardah, yang memang tak begitu dekat ataupun akrab.
Wardah terus menyapu tanpa mempedulikan Ustadzah Caca yang terus menggonggong. Bahkan ia tetap beroceh ria walaupun di sana ada guru sekolah yaitu Pak Saipul. Wardah harus kebal hati, kebal telinga.
.
.
Selepas sholat zuhur, mereka yang mengantarkan anak-anak berkemah pamit. Begitupun dengan rombongan Wardah tadi. Mereka memasuki mobil, dan
"Lho! Balonnya Bang Ian ketinggalan di tenda kayaknya Mbak Wardah, bisa tolong ambilkan?" Bu Diyah meminta tolong.
"Boleh Bu, sebentar nggeh," Jawab Wardah.
Wardah berjalan sedikit berlari untuk mempersingkat waktu. Anisa mengikutinya.
"Kenapa?" Tanya Bang Fadhil menghampiri Wardah yang berlari.
"Balonnya Bang Ian ketinggalan di tenda Bang," Ujar Wardah ngos-ngosan.
"Tunggu disini!" Tegasnya. Ia berlari ke arah tenda yang kebetulan berada di ujung. Dan kembali dengan membawakan balon berbentuk spiderman.
"Ini! Kirain mau pamitan sama Abang," Godanya dengan menyerahkan balon itu.
"Ah, bisa aja. Saya pulang dulu Bang, jangan lupa istirahat yang cukup dan makan. Makasih ya Bang," Ujar Wardah dengan malu-malu.
"Besok jenguk ke sini lagi?" Tanya Bang Fadhil.
"Insyaallah kalau ada yang ngajak Bang," Ujar Wardah.
"Ehm! Udah ditunggu kita," Sindir Anisa.
"Astaghfirullah! Ya sudah Bang, saya pulang ke pesantren. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
xixicu
Kok rese kali ustadzah satu ini
2023-03-26
0
I'm beautifull
Lagiiiiii
2021-07-14
0
Agna
kayakx msh lama ni baru sampe ke Wardahx nikah sm Cak Ibil
2021-04-07
1