Pagi hari tepatnya ketika sang surya muai menampakkan pancaran sinarnya, para santri sudah diberi instruksi untuk segera memasuki lokasi perkemahan. Acara pramuka memang dilakukan di pesantren, akan tetapi para guru pembimbing sudah memilihkan tempat yang strategis. Agar terkesan seperti kemah di bumi perkemahan sungguhan.
Lokasi kebun pesantren menjadi tempat pilihan. Masih asri dengan pepohonan dan beberapa sayuran yang tertanam. Untung saja luas lokasi itu lumayan besar, bahkan bisa digunakan untuk santri putri dan santri putra. Lokasi keduanya dipisahkan oleh sebuah bangunan yang awalnya digunakan untuk penyimpanan bahan-bahan atau keperluan kebun. Saat ini disulap menjadi tempat panitia. Ntah dipindahkan dimana barang-barang itu.
Wardah dan Anisa kini terpisah. Bukan karena apa-apa, tugas mereka memang berbeda, makanya tak bersama. Sepertinya ini rencana orang-orang atasan itu. Sengaja memisahkan dua sejoli yang selalu bersama.
Wardah tampak mengarahkan santriwati yang masih berada di asrama untuk segera menuju bumi perkemahan.
“Ayo segera ke lokasi Mbak-Mbak, sebentar lagi acara pembukaan perkemahan akan dilangsungkan,” Ujar Wardah.
“Siap Mbak Wardah yang unyuuuk,” Jawab salah satu adik kelas Wardah.
Percayalah, para santri tak ada takut sama sekali dengan Wadah. Tak segan-segan dari mereka bahkan curhat dengannya. Terkadang Wardah sampai sungkan jika harus menghukum mereka. Tapi yaaa, harus tetap dijalani.
Selain pengurus pramuka, Wardah juga merupakan jajaran pengurus santri putri. Dan lagi-lagi jabatannya merupakan sekretaris. Memang, masalah tulis menulis, data-mendata seolah tak dapat terpisahkan dari diri seorang Wardah.
“Setelah membereskan barang, segera ke lapangan utama nggehh? Abah sebentar lagi menuju lokasi, tidak pantas jika diminta menunggu para santri,” Ujar Wardah pada para santri.
Setelah memastikan para santri berkumpul, kini saatnya mengerjakan tugas selanjutnya. Menyiapkan konsumsi untuk para petinggi-petinggi yang budiman. Hahaha.
Kenapa seolah-olah hanya Wardah sendiri yang mengerjakan? Tidak gaess! Wardah tidak sendiri. Semuanya dilakukan bersama-sama. Saking ajah Lhu-Lhu nyeritain dari sisi Wardah. hahaha.
Kasihan mereka panas-panasan. Kenapa ya pramuka itu identik dengan panas-panasan, dingin-dinginan. Pokoknya yang berbau gak enak? Katanya sih supaya kebal. Kuat. dan tahan lama.
Sejujurnya seorang Wardah tak begitu senang dengan adanya pramuka, tapi tak mungkin juga jika ia mengikuti jejak Anisa yang mencari alasan ngumpet di koperasi pesantren. Hahaha.
“Wardah, kamu antar meja depan ya?” Ujar Nana salah satu panitia pramuka ini juga.
“Iya,” Begitulah Wardah, jarang sekali Wardah menolak perintah ataupun permintaan tolong seseorang. Yaaa, meski sebenarnya ia juga kecapaian. Belum lagi ia harus mengisi raport.
Ia mengantarkan konsumsi ke depan tidak sendiri. Melainkan dibantu oleh Bang Fadhil. Tiba-tiba ia menyahut nampan yang dibawa Wardah. Tak tega katanya. Kasihan terlalu berat. Jadilah Bang Fadhil yang membawa nampan dan Wardah yang menurunkan dan mempersilahkan.
Dengan berjalan sedikit membungkuk. Begitulah para santri ketika melewati atau berpapasan dengan guru, ustadz, terkhusus Kyai. Tunduk takdzim.
“Mbak Wardah, tolong jagain neng Sila nggeh,” Ujar Neng Nisrin (Putri Abah Kyai).
“Inggih Neng,” Jawab Wardah.
Wardah mengambil alih balita imut dari gendongan sang Uminya. Dengan senang hati balita itu menyambut uluran tangan Wardah. sudah sering Wardah membantu Neng Nisrin untuk menjaga anaknya. Maka dari itu balita yang biasa dipanggil Ning Sila tak pernah berontak jika bersama Wardah.
Wardah kembali berkumpul dengan teman-teman yang lain. Tentu saja dengan Bang Fadhil di belakangnya.
“Berangkat berdua, pulangnya bawa anak kamu Dah,” Celetuk Anisa.
“Apaan sih, ngomongnya lhoo...” Sanggah Wardah.
Panitia pramuka berkumpul di teras ruang rapat. Sebuah bangunan tempat penyimpanan perlengkapan kebun tadi lhoooo!
Wardah menjaga Neng Sila dengan telaten, sesekali ia tampak berfikir. Waktu yang telah ia susun tadi adalah saatnya menyicil pengisian raport. Jika kini ia menjaga Neng Sila, tentu saja ia tak dapat menyicil pengisian raport. Bagaimana yaa!
“Kamu kenapa sih?” Tanya Anisa yang sedari tadi mengamati Wardah.
“Aku belum nyicil pengisian raport,” Lirih Wardah.
“Ke dalam ruangan yuk! Neng Sila biar aku bantuin jaga, kamu ngisi raport,” Ujar Anisa.
“Neng Sila mau?” Tanyanya. Sebab biasanya ia sulit jika digendong orang lain.
“Biarin dia mainan di karpet, kalau kamu masih dalam angkauan Neng Sila, pasti gak akan rewel. Sekalian aku pendekatan, hehehe” Ujar Anisa.
Akhirnya Wardah menyetujuinya. wardah duduk di meja kerjanya dan meletakkan Neng Sila bersama Anisa. Ternyata Neng Sila mau ikut bersama Anisa. Dengan begitu, Wardah bisa mengisi raport.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
Jumadin Adin
next
2024-01-29
0
xixicu
keren kak, aku jadi ikut belajar dunia pesantren
2023-03-26
0
xixicu
Mau buat batu baterai ABC ya Lhu?
2023-03-26
0