Sepertinya lima hari kedepannya akan sangat sibuk. Tak akan bisa tidur dengan nyenyak. Begitulah pikir Wardah. Bahkan selepas acara pembukaan, ia harus membantu teman-temannya membereskan pekarangan.
Selepas salat maghrib yang jadwalnya adalah untuk istirahat, itu tak berlaku untuk Wardah. Seperti saat ini, setelah menjalankan kewajiban kepada Sang Khalik dan simakan Al-Qur'an sebentar dengan Anisa, Wardah kembali bergelut dengan laptop di meja kerjanya.
Sendiri? Tentu saja! Anisa pamit ke tenda untuk membaringkan badannya sejenak. Kenapa tidak di ruangan itu? Karena Wardah melarangnya. Sungkan jika nanti ada Asatidz yang tiba-tiba masuk. Kan berabe. Jadilah Wardah di ruangan itu sendiri.
Untung saja malam ini ia tak mendapatkan jatah sebagai penanggung jawab lomba. Jadi ia bisa melanjutkan tarian jemarinya. Lomba di mulai selepas sholat isya'. Lomba kali ini di khususkan santri putra. Lomba bola api katanya.
Jika menuruti kehendak hati, sebenarnya Wardah ingin ikut menonton dengan teman-teman yang lain. Tapi apalah daya.
Merasa bosan di ruangan, Wardah berpindah ke teras ruangan itu. Di teras tak ada siapapun. Karena memang sedang berada di lapangan yang tak begitu jauh dari posisinya.
Tap! Tap! Tap!
Langkah kaki seseorang menghampiri Wardah.
"Nduk?" Panggil Ustadz Azam. Beliau adalah anak angkat Abah Kyai, beliau merupakan tangan kanan Abah.
"Inggih Ustadz," Jawab Wardah sopan.
Ustadz duduk di hadapan Wardah. Oh iya! Wardah itu tengah duduk di kursi yang terdapat di teras kantor itu gaess.
Ustadz Azam membuka obrolan dengan Wardah. Mulai dari kesibukannya, keadaannya, hingga keluarganya. Bukan apa-apa. Ustadz Azam begitu dekat dengan almarhum Ayahnya. Bahkan di pesantren ini, Ustadz Azam dan Abah Kyai seperti Ayah untuk Wardah.
Wardah menyudahi kegiatan mengetiknya. Tak sopan rasanya, berbicara dengan Ustadz jika disambi melakukan kegiatan lain. Meskipun sebenarnya Sang Ustadz tak keberatan.
Sesekali Ustadz Azam bercanda ria dengan Wardah. Hingga satu pertanyaan sedikit mengusik telinga Wardah.
"Nduk, kalau seumpama ada yang ngajak kamu menikah bagaimana?"
Mak DEG! Rasanya!
Sudah dua orang yang bertanya menjurus pada hal pribadi. Tadi bertanya perihal pacar, sekarang perihal suami. Kelu lidah ini, bingung hendak menjawab apa. Bagaimana jika ada yang melamarmu Wardah? Tentu saja ia tak tahu hendak menjawab apa! Tak ada sama sekali pikiran menjurus ke arah sana.
"Saya ndak tahu Ustadz, hehehe," Celetuk Wardah dengan tawa garingnya.
"Lha kamu mau tidak kalau ada yang ngajak nikah?" Tanya beliau lagi.
"Saya ndak ada pikiran demikian sebelumnya Ustadz, saya ndak tahu," Jawab Wardah lirih.
"Sudah punya pacar?" Tanya beliau lagi. Kenapa jadi seperti ajang wawancara talkshow.
"Mboten (Tidak) Ustadz,"
"Kenapa ndak pacaran? Gak boleh sama orang tua ta?" Pertanyaan beliau masih berlanjut.
"Saya ndak minat untuk pacaran Ustadz," Jawab Wardah.
Tak berselang lama, datang Kang Najib ikut nimbrung dengan Wardah dan Ustadz Azam.
Topik Ustadz Azam telah teralihkan. Alhamdulillah, Wardah begitu lega kali ini. Lebih baik ia pamit ikut berkumpul bersama temannya yang lain.
.
.
.
Sampai di kerumunan santriwati ternyata pertandingan bola api belum usai. Jeritan santriwati yang lebay menggema dimana-mana. Tak terasa sudah jam 8 malam. Acara lomba dihentikan ketika pukul 9 malam. Para santri harus tidur sebab tengah malam harus terbangun kembali untuk pengambilan bantara.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
xixicu
Waahhhh, tanda-tanda hilal datang nih
2023-03-26
0
I'm beautifull
Lanjuuuuuttttt
2021-07-14
0
Hanisah Y.A
ustadz zainal sepertinya
2021-05-30
0