Seharian ini Frans tidak bisa konsentrasi bekerja, pikirannya menerawang tentang permintaan Ibundanya tempo hari.
Dia masih belum sanggup rasanya untuk mengajak Siska bertemu dengan keluarga Wisnudharta.
Karena merekalah putrinya yang pada saat itu masih kecil harus mengalami trauma yang cukup mendalam.
Jika mengingat hal tersebut, rasa marah, kecewa dan sedih yang begitu menyesakkan kembali terasa.
Namun, Ibundanya sudah meminta hal itu, sebagai anak yang cukup berbakti Frans tidak pernah sekalipun menolak keinginan Ibundanya.
" Jika Ibu meminta hal ini, pasti hal tersebut baik untuk Siska ", batin Frans terhibur.
Selama ini memang apa yang diputuskan oleh Riana selalu yang terbaik buat dirinya dan keluarganya.
Untuk itu, meski cukup berat tapi Frans akan berusaha untuk menjalankannya.
Setelah sebelumnya berdiskusi dengan istrinya, hari ini di waktu senggangnya Frans mengumpulkan seluruh anggota keluarganya termasuk Adrian yang pada malam itu pulang cepat dan tidak ada aktivitas diluar.
Satu persatu anggota keluarga yang sudah berkumpul diruang keluarga ditatapnya dengan intens tanpa berkedip.
Untuk memecah ketegangan yang ada, sebelum masuk ke inti pembicaraannya, Frans berbasa - basi menanyakan masalah pekerjaan kepada Siska dan Adrian.
Siska mulai bertanya - tanya dalam hati tentang apa yang ingin papinya sampaikan sampai harus melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang dia yakin papinya itu sudah tahu jawabannya.
Siska cukup paham, papinya tidak mungkin melakukan basa - basi yang tidak perlu seperti ini jika bukan ingin membahas persoalan yang sangat penting.
" Langsung ke intinya aja pi...nggak usah berbasa - basi kaya gini " , ucap Siska yang mulai penasaran dengan apa yang ingin papinya katakan.
Melihat raut wajah yang tidak enak dari putrinya, Frans terpaksa menghentikan basa - basinya dan mulai mengutarakan beberapa pertanyaan yang akan menuju pada inti permasalahan yang ingin dibahasnya malam ini.
" Apa kamu sudah mengingat tentang semua masa lalumu waktu kamu kecil, pada saat kamu masih tinggal dengan nenek ", ucap Frans hati - hati.
" Tidak semuanya aku ingat, hanya sebagian kecil saja ", ucap Siska santai.
" Apa saja yang kamu ingat...", Frans kembali bertanya.
" Hanya sebagian tentang masa kecilku dan sebagian kecil tentang kecelakaan itu " ucapnya kembali dengan santai.
Melihat respon Siska yang terlihat sangat tenang dan cuek membuat Frans semakin khawatir dengan kondisi putrinya itu.
Bukan hanya Frans yang merasakan hal itu, Adelia yang berada disana juga merasakan apa yang dirasa oleh suaminya.
Untuk memastikan hal itu maka Frans bertanya sekali lagi kepada putrinya.
" Jika teman masa kecilmu dan keluarganya ingin bertemu, apa kamu tidak ada masalah atau keberatan...", ucap Frans sambil menatap tajam putrinya.
" Untuk apa...?", Siska balik bertanya.
" Mereka ingin meminta maaf atas apa yang terjadi tiga belas tahun yang lalu dan ingin menjalin tali silaturahmi kembali dengan kita ", ucap Frans menyampaikan permintaan orang tua Keenan.
" Kapan....", tanyanya lagi.
" Kalau kamu tidak sibuk akhir pekan ini mereka mau datang kerumah " , ucap Frans mulai tenang.
" Oh...", ucap Siska singkat.
Setelah mengatakan hal itu, Siska kembali terdiam tidak mengatakan sepata katapun.
Keheningan kembali terjadi, hal itu tentunya membuat kedua orang tuanya semakin cemas.
Begitu pula dengan Adrian yang cukup heran dengan sikap sepupunya tersebut.
" Kenapa dia bisa sesantai itu, apakah trauma yang dialaminya sudah sembuh ", batin Adrian curiga.
Sikap Siska yang terlihat sangat santai dan cuek tanpa ekspresi tersebut membuat hati Frans ketar - ketir.
Dirinya sangat khawatir jika Siska diam tersebut bukan berarti dirinya baik - baik saja.
Justru hal tersebut semakin berbahaya karena dibalik sikap santai dan diamnya itu seperti bom waktu yang sewaktu - waktu bisa meledak jika kita salah pencet tombol yang ada.
Siska yang melihat raut muka penuh kekhawatiran yang tampak jelas di wajah kedua orang tuanya akhirnya bersuara.
" Tenang saja, aku baik - baik saja sekarang. Aku sudah tidak perduli lagi dengan masa laluku. Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan melupakan semua hal yang dapat menyakiti diriku " , ucap Siska penuh keyakinan.
" Jika tidak ada yang mau dibicarakan, aku ijin ke kamar dulu mau istirahat ", ucapnya dan kemudian melangkah pergi.
Sementara itu Adrian dan kedua orang tuanya hanya menatap kepergian Siska dalam diam. Saat ini mereka sibuk dengan pemikiran masing - masing.
" Apa menurutmu dia benar baik - baik saja ? ", tanya Adelia cemas.
" Kurasa tidak. Dia hanya tidak ingin kita cemas saja ", ucap Frans sedih.
" Menurut om, apa maksud kedatangan keluarga Wisnudharta sebenarnya....kalau hanya untuk meminta maaf atas kejadian yang telah berlalu tiga belas tahun yang lalu, kenapa baru sekarang ", tanya Adrian curiga.
" Kurasa ini semua karena putranya ", ucap Frans menebak.
" Keenan...", ucap Adrian terkejut.
" Ya...siapa lagi. Bagus Aji dan Rosalie adalah orang yang mempunyai harga diri yang cukup tinggi. Mereka tidak akan mau merendahkan diri jika bukan karena putra kesayangannya itu " , ucap Frans datar.
" Lalu om menyetujui rencana mereka begitu saja setelah apa yang mereka lakukan terhadap Siska..", ucap Adrian marah.
Adrian tidak ingin melihat sepupunya tersebut tersakiti kembali.
Keenan dan keluarganya adalah orang yang menyakiti Siska di awal sehingga dia menutup diri dengan yang namanya laki - laki.
Dan kali ini Adrian tidak akan tinggal diam saja jika sampai om nya tersebut berusaha menjodohkan dengan Keenan.
" Tidak om...tidak....Adrian tidak rela Siska untuk Keenan...", ucap Adrian penuh emosi.
" Adrian...kamu tenang dulu ya.semua kita serahkan keputusan ini pada Siska. Tante yakin Siska mampu melihat mana yang terbaik untuknya mana yang tidak ", ucap Adelia berusaha menenangkan kreponakannya itu.
" Om tahu perasaanmu. Tapi hal tersebut masih asumsi kita saja....ya kita tunggu saja kedatangan mereka untuk mengetahui maksud sebenarnya ", ucap Frans bijak.
Tanpa mereka sadari, sebenarnya Siska tidak pergi kekamarnya.
Dia hanya berdiam diri diatas sambil mendengarkan semua pembincangan yang mereka lakukan.
" Keenan...apakah itu adalah orang yang sama dengan orang yang sering mengangguku akhir - akhir ini ", guman Siska mulai geram.
Tanpa menunggu waktu lama Siska pun segera menghubungi asistennya untuk menyakan semua hal yang berkaitan dengan Keenan.
Siska sangat yakin kalau asistenya tersebut mengetahui semua hal yang berkaitan dengan pria penganggu itu, mengingat dekatnya hubungan antara Andrew dengan Devian, sahabat Keenan.
Setelah mendengar semua penjelasan yang diberikan oleh asistennya itu, Siska tersenyum sinis.
" Ternyata...semua laki - laki sama saja, tidak ada yang tulus ", gumannya geram.
Malam ini dirinya benar - benar akan melupakan semuanya.
Semua hal yang nantinya akan membuatnya sakit dan terluka kembali.
" Luka tersebut telah kering dan menutup. Meski belum rapat, aku tidak akan membiarkannya terbuka kembali ", ucapnya penuh amarah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments