Setelah pertemuannya dengan Andrew tempo hari, sore ini Devian mengajak ketemuan tante Rosalie di sebuah restoran Jepang untuk membahas kelanjutan hubungan antara Keenan dengan Siska.
Di sebuah privat room mereka berbicara cukup lama dengan muka tegang.
Mereka mulai menyusun strategi baru agar apa yang menjadi tujuan mereka bisa tercapai.
" Bukan hanya Siska yang sulit didekati, orang tuanya pun seperti memasang tembok yang sangat tinggi jika menyangkut masalah ini " , ucap Rosalie sambil menghembuskan nafas dengan kasar.
" Tampaknya, kegagalan pernikahan antara Siska dan Teddy cukup mempengaruhi mereka " , ucapnya sedih.
" Langkah utama yang harus kita ambil sekarang adalah memperingatkan Keenan agar jangan terlalu berlebihan dalam mengejar Siska " , ucap Devian memberikan ide.
" Sebelum gadis itu semakin membencinya..." , ucapnya sedih membayangkan jika Siska benar - benar benci terhadap Keenan.
" Tapi mengingatkan Keenan itu bukan persoalan yang mudah Dev...", ucap Rosalie sedikit frustasi.
" Saya tahu tante...tapi jika tidak kita coba, kita tidak akan pernah tahu apa hasilnya ", ucap Devian berusaha optimis, meski dalam hatinya terdapat sedikit keraguan disana.
" Itu jika tante masih ingin mendapatkan seorang penerus ", ucap Devian memancing ego Rosalie.
Rosalie yang merasa disindir akhirnya memberikan respon yang diharapkan oleh Devian, yaitu menyetujui rencananya untuk membujuk Keenan secara perlahan agar tidak melakukan tindakan yang berlebihan serta mengarahkannya pada tindakan yang bisa membuatnya bisa dekat dengan Siska.
" Semoga rencana kita berhasil tante " , ucap Devian sambil tersenyum.
" Semoga saja kita bisa meluluhkan sifat keras kepalanya Keenan " , ucap Rosalie tersenyum.
Kedua orang tersebut sangat tahu bahwa Keenan adalah orang yang susah merubah pendiriannya jika dia sudah memutuskan sesuatu.
Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka untuk bisa meluluhkan hatinya.
Selain itu, mereka juga harus bisa membuat pandangan Siska terhadap Keenan berubah.
Untuk itu mereka akan menanamkan image yang bagus agar Siska mau merubah pemikirannya dan membiarkan Keenan untuk mendekatinya.
Setelah semua dirasa cukup, mereka berdua keluar dari privat room bergantian agar tidak membuat orang lain curiga.
Keenan yang kebetulan berada disamping ruangan mereka secara tidak sengaja melihat maminya keluar dari sebuah ruangan yang berada di sebelahnya.
Saat dirinya hendak memanggil maminya tiba - tiba dia melihat sahabatnya Devian keluar dari sebuah ruangan yang sama dengan tempat yang barusan maminya tinggalkan.
" Ada apa ini....kenapa mereka bisa keluar dari ruangan yang sama ", batin Keenan penasaran.
Keenan pun mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan menghubungi sahabatnya itu. Dia semakin curiga saat Devian mengatakan bahwa dia baru selesai meeting dengan staf kantornya.
Merasa dibohongi oleh sahabatnya, Keenan pun segera keluar dan memacu kendaraannya menuju kantor sahabatnya itu.
Dipertengahan jalan, dia sempat melihat mobil Devian menepi didepan disebuah café.
Tak lama kemudian terlihat asistennya Siska masuk kedalam mobil Devian.
" Ada hubungan apa antara Devian dan Andrew? ", batin Keenan semakin penasaran.
Untuk menghilangkan rasa penasarannya Keenan terus membuntuti mobil Devian.
Setelah menempuh perjalan kurang lebih dua jam akhirnya mereka tiba disebuah desa X.
Saat mobil Keenan memasuki gerbang desa, pemandangan disana seperti sesuatu hal yang tidak asing baginya.
Banyaknya pohon - pohon besar yang tumbuh dipinggir jalan, sawah yang terlihat membentang di sebelah kanan dan kiri jalan, membuat desa tersebut terlihat sangat asri dan sejuk.
" Ini tidak mungkin kan...", batin Keenan tidak percaya dengan kenyataan ini.
" Jika semua ini adalah nyata, dipertigaan depan mobil Devian pasti belok kekanan dan mereka akan berhenti disebelah taman bunha yang penuh dengan bunga mawar putih ", guman Keenan sambil menatap lurus mobil Devian.
Ternyata dugaan Keenan benar, dipertigaan depan mobil Devian belok kekanan.
Setelah berjalan kurang lebih dua ratus meter mobil berhenti disebuah rumah kuno besar disamping taman yang dipenuhi oleh bunga mawar putih.
"Ini bukannya rumah neneknya Siska..." , guman Keenan sambil berusaha mengingat - ingat serangkaian mimpi yang pernah dia alami.
Dia ingat betul bahwa dirinya pernah diajak Siska kerumah neneknya pada waktu usianya sepuluh tahun.
Pada waktu itu didalam mimpinya, dia melihat Siska menangis didalam kebun mawar sendirian.
Keenan yang saat itu baru saja datang segera menghiburnya.
Setelah agak tenang, Siska kemudian mengajak Keenan kecil masuk kedalam rumah neneknya.
Saat Keenan sedang berkutat dengan pikirannya. Tiba - tiba datang sebuah mobil *** putih masuk kedalam halaman rumah.
Dari dalam mobil turun seorang wanita cantik dengan rok coklat selutut yang dipadu padankan dengan blouse lengan panjang berwarna coklat susu.
" Siska...", guman Keenan terkejut.
" Jadi benar, ini rumah neneknya Siska ", ucap Keenan terkejut.
" Jadi apa yang aku alami didalam mimpi itu benar - benar nyata wujudnya ", ucap Keenan dengan wajah yang masih shock karena semakin kesini dia semakin menemukan bahwa semua yang dialami didalam mimpi adalah nyata adanya.
Setelah memarkirkan mobilnya ditempat yang aman Keenan segera turun dari dalam mobil dan mulai melangkah masuk kedalam rumah yang diyakininya sebagai rumah neneknya Siska.
Siska yang hendak melangkah masuk kedalam rumah sangat terkejut akan kehadiran Andrew dan Devian yang sudah duduk manis diruang tamu.
" Ada apa kalian kemari ?" , tanya Siska tidak senang.
" Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu..." , ucap Devian ramah sambil menyuruh Siska untuk duduk di kursi yang ada disampingnya.
" Apa maumu ?", ucap Siska to the point masih dengan posisi yang sama, berdiri di depan pintu.
" Siska...jangan begitu terhadap tamu ", ucap seorang perempuan tua yang masih terlihat sisa kecantikan di wajahnya, dia adalah Riana, nenek Siska.
" Nenek sudah tidak apa - apa ", ucap Siska cemas sambil menatap neneknya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
" Nenek tidak apa - apa, kemarin pingsan karena kecapekan aja" , ucapnya sambil tersenyum.
" Kalau begitu nenek sekarang masuk dan beristirahat ya" , ucap Siska bergelayut manja dilengan sang nenek sambil mengajaknya masuk kedalam kamar.
" Lalu tamu di depan bagaimana ? ", tanya Riana hendak berbalik.
" Biarkan saja....sudah Andrew disana" , ucap Siska sambil menuntun neneknya untuk masuk kedalam kamar.
Cukup lama Siska berada didalam kamar dan mengabaikan dua orang lelaki yang ada diruang tamu yang sedang gelisah menunggu dirinya keluar.
" Apa menurutmu rencana ini aka berhasil Ndrew ? ", tanya Devian mulai cemas.
" Rencana apa ? ", ucap Keenan yang tiba - tiba sudah masuk kedalam rumah.
" Kamu....", ucap Devian terkejut.
" Ya...ini aku. Sekali lagi aku tanya, apa yang sedang kalian rencanakan? ", tanyanya dengan tatapan tajam.
" Waduh....bisa gagal nih rencana. Bagaimana dia bisa ada disini ? ", batin Devian penuh tanda tanya.
" JAWAB AKU DEVIAN !!!...", teriak Keenan sambil memukul meja dengan keras.
Melihat kemarahan Keenan, Andrew dan Devian segera menciut, tapi diantar mereka tidak ada yang berani membuka mulut.
Mendengar suara keributan dari ruang tamu, Siska yang semula hendak beristirahat sebentar akhirnya mengurungkan niatnya dan melangkah pergi keruang tamu untuk melihat apa yang sedang terjadi.
" Untung nenek tidak terpengaruh suara tadi ", ucap Siska melangkah keluar kamar dengan perlahan agar sang nenek tidak bangun.
Sesampainya di ruang tamu Siska terlihat sangat marah dengan adanya tiga orang tamu yang tidak diundang itu.
" Jika kalian kesini hanya mau buat keributan, sebaiknya kalian cepat keluar...", ucap Siska marah sambil menunjuk kearah pintu.
" Tenang dulu bos...", ucap Andrew pelan berusaha menenangkan Siska.
" Kamu juga, cepat pergi dari hadapanku sebelum aku pecat " , ucap Siska dengan berkacak pinggang.
" Bawa juga dua temanmu keluar bersamamu " , ucapnya lagi sambil melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga yang masih terdiam membisu.
" Sebaiknya aden - aden pulang dulu sebelum non Siska bertambah marah ", ucap simbok pembantu nenek Siska.
Dengan berat hati mereka bertiga akhirnya melangkahkan kakinya keluar rumah.
Sesampainya dihalaman, Keenan segera menghentikan langkah Devian.
" Kamu ikut aku sebentar " , ucapnya sambil membawa Devian pergi.
Sedangkan Andrew yang ditinggal sendiri disana hanya bisa menatap binggung.
" Kok aku ditinggal sendirian sih...terus nasibku ini gimana...", ucap Andrew sambil mengacak - acak rambutnya karena frustasi dengan nasibnya.
Dia takut karena masalah ini Siska akan benar - benar memecatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments