Sepulang dari rumah Riana, Keenan terus kepikiran tentang penjelasan neneknya Siska.
Mengenai peristiwa masala lalu yang melibatkan dirinya dan keluarganya beserta Siska.
Ingin secepatnya dia mengetahui kebenaran yang tersembunyi dari peristiwa tersebut.
Tapi apalah daya pekerjaannya cukup banyak dan tidak bisa ditinggalkan membuat Keenan terpaksa menunda keinginannya tersebut.
Sementara itu, orang tua Siska yang kebetulan sedang menjenguk Riana sedikit terkejut mengenai penjelasan ibundanya yang mengatakan bahwa sosok laki - laki, teman masa kecil Siska telah kembali.
Ada perasaan senang karena mungkin mereka berjodoh, karena selama ini Siska menutup diri terhadap laki - laki mungkin ada kaitannya dengan teman masa kecilnya ini.
Sebenarnya mereka cukup berbahagia dengan kehadiran Teddy yang sempat membuat putrinya tersebut membuka diri dan mau menikah.
Tapi apalah daya, takdir tampaknya berkata lain.
Teddy bukanlah jodoh putrinya yang selama ini dicari dan tampaknya karena lelaki itu sampai sekarang Siska menolak untuk membuka diri terhadap lelaki manapun.
Adelia dan Frans tidak bisa berbuat apa - apa karena putrinya tersebut tersakiti juga karena mereka salah menilai Teddy yang dipikirnya merupakan lelaki yang baik dan bertanggung jawab tapi kenyataannya tidak seperti itu.
Rosalie dan Bagus terdiam diruang keluarga setelah mendapat telepon dari putra semata wayangnya.
Tak seperti biasanya, hari ini Keenan ingin mengajak bicara kedua orang tuanya secara serius.
Tentu saja Rosalie dan Bagus Aji menyambut baik keinginan anak semata wayangnya itu meski dalam hati mereka ada perasaan was - was.
Karena terakhir kali anak kesayangannya itu mengajak ngobrol mereka berdua secara serius adalah agar mereka tidak lagi mencampuri urusan pribadinya, terutama masalah siapa wanita yang akan bersanding dengannya.
Bahkan Keenan saat itu sempat mengancam bahwa jika orang tuanya tetap memaksa maka dirinya tidak akan pernah menikah.
Pada hari itu juga, untuk membuktikan keseriusan omongannya Keenan meninggalkan rumah keluarganya dan memilih untuk tinggal sendiri disebuah apartemen mewah miliknya.
Setelah makan malam, Keenan yang akhirnya bisa meluangkan waktu segera mengajak mami dan papinya duduk bersama diruang keluarga.
" Mi...pi....tolong jawab Keenan dengan jujur ", ucap Keenan sambil menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
" Tolong ceritakan sedetail mungkin peristiwa yang pernah aku alami saat usiaku sepuluh tahun. Aku harap mami dan papi bicara jujur tanpa ada sesuatu yang ditutup - tutupi ", ucapnya dengan tatapan tajam.
Bagus Aji dan Rosalie yang mendengar pertanyaan putra semata wayangnya itu hanya bisa terdiam dan saling pandang.
Cukup lama keheningan tersebut tercipta hingga akhirnya, sambil menarik nafas yang cukup dalam Bagus Aji mulai berbicara.
" Apa kamu yakin ingin mendengar semuanya ", tanya Bagus ganti menatap tajam putranya itu.
" Aku yakin pi...", ucap Keenan mantap.
" Kuharap kamu tidak akan menyesal setelah mendengar semuanya " , ucap Bagus Aji cemas.
Karena putranya terus mendesak, akhirnya dengan nafas sedikit tertahan Bagus mulai menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya bersama putranya sepuluh tahun yang lalu.
Beberapakali Bagus menghela nafas panjang saat melihat perubahan diraut wajah putranya itu.
Meski agak sedikit syok dengan fakta yang diungkapkan oleh papinya, namun Keenan berusaha untuk tetap tegar mendengar peristiwa tersebut secara keseluruhan.
Beberapakali kepalanya terasa sangat pusing saat berusaha mengingat peristiwa yang diceritakan oleh papinya.
Namun rasa sakit tersebut dia tahan sekuat tenaga agar papi dan maminya tidak berhenti bercerita.
Setelah keseluruhan cerita dia dengarkan, Keenan segera pamit untuk beristirahat didalam kamarnya.
Didalam kamar, Keenan segera mengambil obat yang selalu dia bawa dibalik sakunya, kemudian meminumnya.
Cukup lama kedua matanya dia pejamkan sampai rasa sakit dikepalanya berangsur - angsur menghilang.
" Jadi semua ini bukan mimpi...", batin Keenan berkali - kali.
" Pantas saja Siska sangat trauma akan hal itu, mengingat usianya baru lima tahun saat kejadian itu menimpanya. Tapi apakah karena peristiwa ini dia benar - benar ingin melupakanku dan kenangan bersamaku selama - lamanya " , batin Keenan sedih.
Sementara Keenan sedang bergulat dengan hati dan pikirannya.
Hari ini Siska yang cukup dibuat stress oleh kelakuan Keenan, Devian , dan Andrew memilih mendatangi club langganannya.
Setidaknya disana dia bisa melepas sementara beban yang ada.
Alexander yang baru saja turun dari dalam mobil melihat Siska berjalan masuk segera berlari kecil untuk mengejarnya.
" Sudah lama tidak main kesini..." , ucap Alexander sambil tersenyum.
Kedatangan Alexander yang tiba - tiba membuat Siska sedikit terkejut.
Melihat ekspresi terkejut gadis disebelahnya membuat Alxander tersenyum lebar.
" Kamu kelihatan suntuk banget. Bagaimana kalau ikut keruanganku...", ajak Alexander.
" Boleh...", ucap Siska mengiyakan ajakan Alexander.
" Mungkin aku bisa bercerita dengannya agar persaanku sedikit lega " , batin Siska sambil mengimbangi langkah Alexander yang lumayan cepat.
" Masuklah....duduklah sebentar disana, aku mau mengecek beberapa kerjaan dulu ", ucap Alexander sambil menunjuk sofa hitam yang berada diujung ruangan.
Sambil duduk, Siska mengamati seluruh ruangan yang didominasi warna hitam dan putih, warna kesukaan Alexander.
Tidak ada yang mencolok dalam ruangan itu, sama seperti ruang kerja pada umumnya yang berisi meja, kursi, dan almari yang berisi arsip - arsip.
Hanya satu yang membedakannya, dibelakang kursi kerja yang sekarang diduduki oleh Alexander terdapat beraneka macam minuman keras dan anggur serta pajangan beberapa kepala binatang liar yang telah diawetkan.
Meski tangannya sibuk dengan semua berkas yang ditelitinya, namun pandangan matanya tidak lepas dari Siska.
Dia terus mengamati setiap gerak - gerik gadis yang ada didepannya itu.
Siska yang merasa gerak - geriknya diawasi segera duduk dikursi depan Alexander sambil tersenyum.
" Kupikir kamu tidak terlalu sibuk jika masih bisa mengamati gerak - gerik ku " , ucap Siska tersenyum mengoda.
" Aku tidak terlalu suka berkutat dengan hal - hal seperti ini. Bagaimana kalau kamu membantuku " , ucap Alexander sambil memberikan hampir sebagian berkas yang dia pegang kepada Siska.
" Hey...aku disini mau refresing, bukan kerja ", ucap Siska sewot dan segera meletakkan berkas yang ada ditangannya diatas meja.
" Aku bayar lima kali lipat dari gajimu...bagaimana ? ", ucap Alexander menawar.
" Kalua begitu kamu harus memberikan satu perusahaanmu untukku jika aku membantumu tuan Alexander ", ucap Siska menekankan.
" Jangankan satu perusahaan, semua perusahaan akan aku berikan kalau kamu bersedia menjadi nyonya Alexander ", ucapnya mengoda.
" Jangan bercanda lagi...ini sama sekali tidak lucu ", ucap Siska cemberut.
" Aku tidak sedang bercanda....aku serius Angelina Fransiska Kusuma putri ", ucap Alexander sambil menatap Siska tajam.
Siska pun maju dan menatap Alexander dengan tajam untuk mencari kebohongan disana.
Tapi hasil yang didapat cukup mengejutkan, tidak ada kebohongan didalam mata Alexander.
Tiba - tiba saja Siska bergidik ngeri.
" Ada dengan semua orang ini..." , batin Siska ngeri.
Melihat perubahan ekspresi Siska, Alexander yang tidak ingin menakuti gadis itu kemudian tertawa dengan keras.
" Apa yang kamu pikirkan...aku tidak meminta jawabanmu sekarang, kenapa mukamu kelihatan tegang seperti itu " , ucap Alexander tertawa sambil mengacak - acak rambut Siska.
" Tenang saja, aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku. Aku hanya ingin jujur saja pada diriku sendiri " , ucap Alexander lembut.
" Jadi, kamu jangan merasa terbebani. Bersikaplah seperti biasanya " , ucapnya pelan.
" Beri aku minum kalau begitu..." , ucap Siska manja.
" Kok yang ini..." , ucap Siska protes.
" Besok pagi kamu ada meeting penting...jadi malam ini jangan sampai mabuk " , ucap Alexander lembut.
Siska merasa bahwa yang diucapkan oleh Alexander tersebut benar, jika sekarang dirinya mabuk mungkin pada saat presentasi dengan klien besok dirinya tidak akan bisa maksimal.
Entah kenapa Siska selalu berpikir bahwa Alexander mengetahui semua hal tentang dirinya dan apa yang terjadi disekitarnya.
Jadi kadang dirinya tidak perlu menjelaskan sesuatu hal secara terperinci kepadanya, pria itu sudah paham apa yang Siska maksudkan.
Meski diawasi oleh Alexander namun dirinya tidak keberatan karena selama ini pria tersebut tidak pernah ikut campur dalam urusannya.
Hanya menyumbangkan ide jika dimintai pendapat.
Alexander memang menjaga dan memonitor Siska dari kejauhan.
Tapi dia tidak ingin langsung masuk dan mencampuri urusan gadis itu, karena dirinya tahu betul kalau Siska tidak akan suka jika hal itu terjadi.
Maka untuk menjaga gadis yang disayanginya, dia cukup mengetahui dan menjaganya dari jauh.
Serta menjadi pendengar setia kapanpun gadis tersebut membutuhkan teman untuk berbagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments