Rasa penasaran Siska terhadap wanita yang berbincang akrab dengan Teddy dipesta pertunangan itu sampai sekarang belum terjawab.
Beberapa kali dirinya mencoba menanyakan hal tersebut, tapi tunangannya itu selalu menghindar.
Berbagai macam alasan diutarakan oleh Teddy agar Siska percaya dengan perkataannya, dan tidak mencari tahu lebih dalam tentang siapa sebenarnya Resty.
Teddy tidak ingin wanitanya itu curiga tentang Resty, dan mengulik tentang masa lalunya.
Jujur saya dirinya belum siap untuk menceritakan semua hal tersebut kepada Siska.
Dia mencintai Siska dan tidak ingin jika karena masa lalunya ini rencana pernikahannya dengan wanita itu gagal.
Masa lalu yang tidak pernah berakhir....
Itulah yang selalu dirasakan oleh Teddy.
FLASH BACK ON
Pagi itu Teddy cukup bahagia karena tesisnya telah disetujui.
Setelah lulus, Teddy langsung pulang ketanah air dengan wajah penuh kegembiraan.
Dia akan segera menyunting wanita cantik yang telah menjadi kekasihnya selama lima tahun ini.
Wanita yang selalu mendampinginya dalam suka dan duka selama dirinya berada di negara lain.
Meski menjalani hubungan jarak jauh, tapi cinta yang ada tidak pernah luntur dan tetap kokoh tak tergoyahkan.
Itulah yang Teddy pikirkan selama ini. Dia sama sekali tidak mengetahui kalau Resty bukanlah wanita baik seperti yang dia perlihatkan padanya.
Sudah satu minggu Teddy pulang, tapi sosok yang sangat dirindukannya tidak berhasil dia temukan.
Resty seperti menghilang ditelan bumi. Rumah yang selama ini ditinggali bersama orang tuanya ternyata sudah di jual. Dan tidak ada satupun tetangga yang mengetahui keberadaan keluarga itu sekarang.
Teddy sangat sedih dan kecewa. Selama ini hubungan mereka baik - baik saja. Bahkan kekasihnya tersebut masih mensupportnya pada saat dirinya sedang menghadapi sidang kelulusan.
Tapi saat sudah berada di tanah air, kekasihnya tersebut tiba - tiba tidak bisa dihubungi.
Tidak ada kata putus ataupun ucapan perpisahan membuat lelaki itu terus berupaya untuk mencari kekasihnya.
Tiga tahun upaya tersebut dilakukan, tapi tidak membuahkan hasil.
Dengan rasa sakit yang ada di hatinya, Teddy berusaha untuk menghilangkan bayang - bayang masa lalunya tersebut dengan pekerjaan.
FLASH BACK OFF
Siska berusaha percaya dengan apa yang lelaki itu ucapkan, meski dalam hatinya masih ada yang menganjal.
"Percaya adalah kunci dari suatu hubungan ", batin Siska.
Melihat kepercayaan yang telah diberikan oleh wanitanya, Teddy mulai berusaha untuk menjadi calon suami yang lebih baik bagi Siska.
" Aku sudah memilihnya sebagai pendamping hidupku. Jadi aku harus yakin, tidak boleh goyah ", ucap Teddy mantap.
Sedangkan disisi lain, Resty yang merasa telah mendapatkan lampu hijau dari Teddy terus berusaha untuk mengejar lelaki itu.
Meski Teddy sudah beberapakali menolaknya, tapi Resty sama sekali tidak menyerah.
Dirinya cukup percaya diri bahwa lelaki itu masih mencintai dirinya dan akan berkorban apa saja untuk dirinya.
Teddy yang melihat Resty berusaha untuk meminta maaf dengan tulus padanya akhirnya hatinya luluh.
Bagaimanapun cinta dalam hatinya untuk Resty masih ada meski tidak sebesar dulu.
Penerimaan Teddy terhadap dirinya membuat Resty berada diatas angin. Dia semakin menempel pada Teddy. Dan selalu berada di dekatnya saat ada kesempatan.
Kesibukan Siska untuk mengurus semuanya agar selesai pada saat pernikahannya, membuat dirinya jarang meluangkan waktu bersama calon suaminya tersebut.
Dan kesempatan itu dipergunakan oleh Resty untuk mengisi kekosongan tempat yang ditinggalkan oleh Siska.
Yang awalnya hanya sekedar berbincang ringan, kemudian berlanjut ke acara makan malam.
Bahkan tanpa Siska sadari kakau sekarang Resty juga sudah sering berkunjung ke apartemen Teddy.
Entah itu hanya sekedar mampir untuk mengantarkan camilan atau berkunjung biasa sebagai teman.
Andrew, sekretaris Siska, yang memiliki teman satu gedung dengan Teddy, sering melihat calon suami bosnya itu jalan dengan wanita lain.
Siska yang mendapat laporan dari Andrew tentang perilaku Teddy tersebut, tidak terlalu menangapinya.
Dirinya masih berusaha untuk selalu percaya dan menghapus semua pemikiran negativ tentang calon suaminya itu.
Karena Siska lihat tidak ada yang aneh pada perilaku calon suaminya itu.
Perhatian yang dia berikan padanya juga tidak berkurang, bahkan bertambah seiring semakin dekatnya waktu pernikahan.
Siang itu, disebuah butik ternama terlihat dua wanita paruh baya yang sedang asyik memilih baju pernikahan buat anak - anak mereka.
Ya....mereka adalah Adelia dan Lusy. Dua wanita itu sangat antusias dalam menyiapkan pesta pernikahan anak mereka.
Kedua calon pengantin yang disibukkan oleh pekerjaan yang akan mereka tinggalkan selama acara pernikahan dan bulan madu membuat mereka tidak bisa terlalu fokus mengurus acara besar yang hanya sekali dalam seumur hidupnya.
Untuk itu, kedua wanita paruh baya inilah yang menghandle semuanya. Mulai dari gedung hingga pernak - pernik pernikahan yang paling kecil sekalipun.
" Nach...ini dia calon mengantinnya ", sambut Lucy kepada Siska dan Teddy yang baru datang.
Dicobanya kebaya yang telah disiapkan untuk acara akad nikah dan resepsi. Totalnya ada tiga set pakaian yang harus mereka coba.
" Cantiknya....anak mami ", ucap Adelia dengan penuh kekaguman.
Bukan hanya Adelia dan Lusy saja yang terpana dengan kecantikan Siska.
Teddy yang baru selesai mencoba jas pengantinnya tidak bisa berkedip melihat sosok bidadari yang berdiri di depannya.
Dari balik dinding, Resty yang membuntuti Teddy ikut masuk kedalam butik merasa sangat marah saat melihat mantan kekasihnya tersebut terpana melihat kecantikan calon istrinya.
" Seharusnya aku yang memakai pakaian itu ", batin Resty kesal.
" Aku pastikan kamu tidak akan bisa mengenakan itu dipelaminan ", ucap Resty geram.
Sambil menahan amarahnya, Resty keluar dari dalam butik dengan hati yang panas.
Didalam mobil, Resty berusaha untuk mendinginkan kepalanya sambil memikirkan cara agar pernikahan tersebut gagal.
Kemudian senyum licik terukir diwajahnya saat terlintas satu rencana bagus untuk mengagalkan pernikahan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments