Hallo semuanya! Terimakasih banyak ya udah mau klik & baca novel ini, semoga kalian suka! Happy reading❤️🌼
°°°°°°°°°°
Devian sangat kesal dengan respon yang diberikan oleh Amanda, "Gak ada sopan-sopannya ya kamu bicara sama atasan seperti itu!" omel Devian
"Maaf Pak," ucap Amanda
"Jangan maaf aja. Cepat kamu pergi ke rumah saya untuk mengambil jas saya yang masih bersih," ucap Devian lalu pergi begitu saja
Amanda pun mengejar Devian, "Pak Devian, tapi saya gak tau rumah Bapak dimana, boleh say----"
"Tanya sama sekretaris saya," ucap Devian
Amanda pun menghentikan langkahnya, lalu ia kembali berjalan ke arah Kelvin dan Angel.
"Pak Kelvin, Bu Angel, kalian tau alamat rumah Pak Devian gak? Aduh saya panik banget nih," tanya Amanda
"Saya gak tau Nda, tapi ayo coba saya bantu kamu cari sekretaris Pak Devian," ucap Kelvin
"Ya udah Pak ayo," ucap Amanda lalu ia menarik tangan Kelvin
"Eeeh Nda, tempat makan kamu sini, biar saya aja yang taro di meja kerja kamu," ucap Angel
"Oiya Bu, makasih yaa," saut Amanda sembari menyodorkan tas bekalnya
"Oke. Hati-hati ya, Nda!" ucap Angel
"Iyaa Bu."
Amanda dan Kelvin pun mencari-cari dimana sekretaris Devian itu berada, ia bertanya dengan beberapa karyawan yang ada di sana.
"Permisi Pak. Bapak liat Bu Alana gak? Sekretaris Pak Devian," tanya Amanda
"Aduh saya kurang tau Bu, coba tanya yang lain ya, saya juga lagi buru-buru," ucapnya lalu pergi begitu saja
"Pak Kelvin, kira-kira dimana yaa Bu Alana?" tanya Amanda panik
"Saya juga gak tau, coba ya kita tanya sama yang lain," jawab Kelvin
Mereka pun kembali bertanya-tanya pada karyawan yang lain mengenai keberadaan sekretaris Devian.
"Pak Ryan, liat Bu Alana gak?" tanya Kelvin
"Ohh Bu Alana barusan aja masuk ke ruangan Pak Devian," jawabnya
"Oh gitu, oke deh Pak makasih yaa," ucap Kelvin
"Makasih ya Pak," ucap Amanda
"Iyaaa sama-samaa."
Dengan perasaan yang sangat amat takut, Amanda yang ditemani oleh Kelvin pun pergi menuju ruangan Devian.
Tokk... Tokk... Tokk...
"Permisi," ucap Amanda sambil membuka pintunya
Benar saja, di dalam ruangan itu ada sekretaris Devian dan juga Devian.
"Ya, masuk," saut Devian
Amanda pun masuk ke dalam ruangan Devian, lalu ia berjalan menghampiri Devian, begitupun dengan Kelvin.
"Permisi Pak," ucap Amanda
"Ada perlu apa?" tanya Devian tanpa menatap Amanda, ia sibuk dengan laporan yang ada di tangannya
"Saya ingin bertemu dengan Bu Al---"
"Saya gak tanya kamu." Devian memotong ucapan Amanda
Amanda pun bingung, "Tapi saya ingin ber---"
"Saya bilang apa? Saya gak tanya kamu," ucap Devian, lagi lagi ia memotong ucapan Amanda
"Saya di sini untuk mengantar Bu Amanda Pak," ucap Kelvin tiba-tiba
"Emangnya Bu Amanda anak kecil yang harus diantar? Apa karena menurut kamu dia akan masuk ke kandang macan jadi kamu harus antar dia?" tanya Devian
Kelvin pun terdiam, ia sama sekali tidak berani menjawab ucapan Devian.
"Bu Alana, tolong kasih dia alamat rumah saya ke Amanda," suruh Devian
"Baik Pak," ucap Alana, "Mari Bu Amanda ikut saya," lanjutnya
Mereka berdua pun keluar dari ruangan Devian, karena Alana juga harus melihat alamat rumah Devian lewat beberapa berkas yang ada di meja kerjanya.
Bagaimana dengan Kelvin?
"Pak, saya permisi ya," ucap Kelvin
"Sebentar dulu," suruh Devian
"Pak, tapi saya ha---"
"Harus antar Amanda? Saya tanya sekali lagi sama kamu, emangnya dia anak kecil yang harus diantar?" tanya Devian
Kelvin hanya diam.
"Kamu duduk dulu di sana," suruh Devian sambil menunjuk sofa yang ada di ruangannya
"Tapi Pak, sa---"
"Duduk di sana," ucap Devian
Dengan berat hati, dan hati yang sangat kesal, Kelvin pun mengikuti suruhan Devian.
***
Setelah mendapatkan alamat rumah Devian, Amanda pun segera menuju ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Jarak rumah Devian dari kantor tidak terlalu jauh. Berdasarkan google maps, waktu yang akan di tempuh adalah sekitar 30 menit saja kalau lancar.
Pukul 13.15 Amanda sudah sampai di rumah Devian, ia pun langsung mengetuk pintu rumahnya itu karena pagarnya memang sedang terbuka, jadi Amanda bisa langsung masuk.
Tokk... Tokk... Tokk...
"Permisii," ucap Amanda
Tak lama, ada wanita paruh baya yang menghampirinya, "Iyaa, ada perlu apa ya, Mba?" tanyanya
"Permisi, Bu. Saya Amanda, karyawan yang bekerja di perusahaannya Pak Devian. Jadi saya ke sini untuk mengambil jas milik Pak Devian Bu," jelas Amanda
"Ohh begitu ya, silahkan masuk dulu, saya akan ambilkan jas Devian."
Wanita paruh baya itu mempersilahkan Amanda untuk masuk ke dalam rumahnya dan Amanda pun duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Sepertinya wanita itu adalah Mama dari seorang Devian Abraham.
"Kamu tunggu di sini dulu ya," ucapnya
"Iya Bu."
"Bi, tolong siapkan minum ya. Ada tamu," teriaknya lalu ia naik ke lantai 2
"Iyaa Nyonyaa."
"Buu.. Maaf," ucap Amanda dengan maksud memanggil wanita itu
"Iya, ada apa?" tanyanya
"Jasnya yang warna hitam ya Bu," jawab Amanda
"Oh iyaa, okee," ucapnya sambil tersenyum lalu melanjutkan langkahnya
"Itu Mamanya Pak Devian kali ya? Cantik banget," gumam Amanda
Tak lama, ada pembantu rumah tangga yang mengarah ke Amanda sambil membawa nampan yang di atasnya sudah terdapat minuman.
"Mba, ini ya minumannya," ucapnya sambil meletakan minuman itu di atas meja
"Terimakasih banyak ya Bu," ucap Amanda
"Iyaa sama-sama." Ia pun tersenyum lalu kembali pergi ke dapur
Tak perlu menunggu waktu yang lama, wanita paruh baya yang mengambil jas Davian pun turun dari lantai 2 dan menghampiri Amanda.
"Ini ya Mba, di dalamnya sudah ada jas milik Devian," ucapnya sembari menyerahkan sebuah paper bag ke Amanda
"Terimakasih Bu," ucap Amanda
"Sama-sama, diminum dulu ya minumannya," suruhnya
"Iyaa Bu." Amanda langsung mengambil minuman itu dan meneguknya
"Nama kamu siapa? Kita belum kenalan loh," tanyanya
"Oiya Bu, nama saya Amanda Caroline. Saya karyawan baru di perusahaan Pak Devian," ucap Amanda sambil mengulurkan tanggannya kepada wanita baya itu
Wanita itu pun meraih uluran tangan Amanda, "Nama saya Astrid, Mamanya Devian," ucapnya
"Salam kenal ya Bu," ucap Amanda dengan senyum manisnya
"Iyaa, kamu panggil saya Tante aja ya gak usah Ibu," ucapnya
"Gapapa, Bu?"
"Gapapa kok, sama saya santai aja. Saya gak segalak Devian kok," ucapnya diakhiri dengan tawanya
"Pak Devian emang galak berarti. Gak cuma di kantor, tapi di rumah juga," ucap Amanda dalam hati
"Ngomong-ngomong, kamu kok ambil jas Devian ke rumah sih? Ada apa?" tanya Tante Astrid
"Hmm.. Jadi gini Tante, semuanya salah saya, makanya harus saya yang ambil ke rumah Pak Devian," jawab Amanda
"Kamu salah apa?" tanyanya lagi
"Tadi saya gak sengaja kenain cream kue ke jas Pak Devian, jadinya saya mencoba untuk bertanggungjawab karena beliau akan rapat pukul 2 siang nanti," ucap Amanda
Tante Astrid pun tertawa setelah mendengar tiap-tiap penjelasan yang keluar dari mulut Amanda, "Pasti dia marah-marah ya?" tanyanya
"Hehehe iyaa Tante," jawab Amanda
"Devian emang gitu, jangankan sama karyawan di perusahaannya, sama Abangnya aja suka marah-marah," ucap Tante Astrid
"Oalaah gitu yaa Tante," ucap Amanda
Mereka pun akhirnya mengobrol sebentar karena Tante Astrid sempat beberapa kali menceritakan tentang sifat Devian di rumah, sementara Amanda menceritakan sifatnya di kantor.
Tak lama, handphone Amanda berdering, ia pun melihatnya. Tetapi, pada layar handphonenya hanya tertera nomor telfon saja.
"Tante Astrid, saya izin angkat telfon dulu ya," ucap Amanda
"Iyaa silahkan."
Amanda pun menjauh dari Tante Astrid untuk mengangkat telfon itu.
"Hallo?" ucap Amanda
"Dimana sih kamu? Ini udah jam berapa? Saya ada meeting jam 2 loh!"
°°°°°°°°°°
Alhamdulillah part 8 selesai! Terimakasih sudah mau baca sampai kalimat terakhir❤️ Aku juga mau minta tolong untuk like, comment, dan juga vote yah! Biar aku tambah semangat buat lanjutin ceritanya❤️
...Facebook : Kinderjoy Estrin...
...Instagram : kinderjoy_estrin...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Si-ta
Amanda nya gak tegas
2021-08-27
0
Ikbal Hafiz
💪💪💪💪
2021-08-14
1
Mutmainah
Amanda lupa yah lagi ditunggu sama bis galak
2021-07-20
0