Pagi

Hari ini hari Minggu, pagi hari selepas subuh Mutia sudah sibuk menyapu, mengepel, menyiram tanaman, setelah selesai semuanya Mutia masuk dan berkutat di dapur. Mutia membuat nasi goreng sederhana dengan toping ayam dan timun di atasnya kemudian di temani kerupuk sebagai pegangannya.

Haris duduk di sofa seperti tidak terlihat, namun Haris Pun tidak sakit hati, ternyata sebegitu lincah dan energiknya Mutia meski usianya sudah tak lagi muda.

Haris membayangkan betapa sibuknya istri pertamanya itu saat anak-anaknya ada dan ingin sekolah semua, dirinya juga membayangkan saat dulu masih tinggal di rumah utama, betapa sibuknya Mutia saat mengurus dirinya, rumah, pekerjaannya dan juga semua anak-anaknya.

Haris merenung selama ini tak pernah sekali pun istri pertamanya itu mengeluh apapun padanya, padahal sudah mengurusi segitu banyak pekerjaan dan juga semua kegiatan rumah tangga.

Pantas saja bila kadang istrinya itu tidak sempat ke salon atau pun menjaga tubuhnya. Haris semakin berpikir betapa egois dan acuhnya dirinya selama ini yang hanya melihat satu sisi yang tidak dia sukai saja namun tidak melihat sebegitu luasnya kebaikan dan kehebatan istri pertamanya.

"Maaf Sarapan sudah siap, mari sarapan..." Suara Mutia memecahkan lamunannya.

Haris pun tersenyum kikuk dan segera berdiri mengikuti Mutia ke meja makan dan saat sampai di sana nampak nasi goreng yang menggugah selera di matanya. Tidak banyak makanan di sana hanya ada satu gelas susu coklat di depan Mutia, satu cangkir kopi kesukaannya dan dua porsi nasi goreng kesukaannya.

"Terimakasih Bun... "Kata Haris lalu duduk di kursi bersiap untuk makan, dalam hatinya Haris membatin " Kamu memang selalu tau makanan kesukaanku Bun... Andai aku masih bisa kamu perlakukan seperti ini setiap hari..."

Mutia menuang dua gelas Air putih lalu satu di taruh di depan Haris dan satu lagi di hadapannya, setelah itu barulah Mutia makan sarapannya tanpa bersuara.

Hening.

Tidak ada suara selain dentingan sendok beradu dengan piring, kedua manusia yang berhadapan itu saling membisu namun larut dalam pikirannya masing-masing.

Mutia selesai makan diapun berlalu ke wastafel lalu mencuci piringnya, di tolehnya Haris masih menikmati makanannya, Mutia pun berlalu ke kamar untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi mengawasi kebun-kebunnya.

Mutia memakai rok celana di padu dengan baju kaus panjang dan jilbab instan panjang, keluar dari kamar lalu memakai topinya, Mutia masih melihat Haris di meja makan sedang menikmati kopinya, tanpa pamit pun Mutia berlalu keluar Rumah dan menaiki sepedanya menuju ke kebun sayuran dimana sudah banyak pegawai yang tengah membersihkan rumput nya.

Mutia mengawasi kerja dari para pekerjanya, lalu memberi arahan bagi pekerja-pekerja yang masih muda dan belum berpengalaman.

Setelah selesai mengawasi Mutia mengambil keranjang lalu memilih bayam dan pakcoy yang sudah siap panen, selanjutnya memetik timun dan buah tomat yang sudah masak dia letakkan di keranjang, akan dia masak untuk makan siang.

Di tepi Jalan nampak Haris berada di dalam mobil memperhatikan semua aktivitas Mutia, Wanita itu semakin matang dan serba bisa, semakin hari tampak semakin mapan dalam menggeluti usahanya. Haris tidak menyangka tanpanya Mutia bisa bertahan dan tidak merengek ataupun ketakutan.

Mutia nampak beranjak dari posisinya lalu Haris pun keluar dari mobilnya dan menyapa Mutia." Terimakasih untuk semuanya Bun,... Aku pamit pulang..."Kata Haris yang di jawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum tipis padanya. Cukup seperti itu saja Haris sudah merasa lebih di hargai dari pada sebelumnya. Sementara Mutia sangat bersyukur karena Haris akhirnya pergi, kedepan pintunya tidak akan dia buka lagi untuk sembarang orang.

*****

Terpopuler

Comments

Neulis Saja

Neulis Saja

pintu hatinya sdh tertutup utkmu kalau menyesal sdh terlanjur jadi biarkanlah dia menata masa depannya tanpa kalaupun dipaksakan yg tersakiti adalah kamu karena nantinya kamu akan berjuang sendiri utk mendapatkan cintanya lagi, sementara dia sdh tdk tersisa cinta utkmu, for give me 🙏

2024-12-01

0

Lala lala

Lala lala

waktu serumah merasa bosan dn lirik yg lain

bgtu diceraikan kelabakan .. lelakii

2024-11-01

1

Rokhmi Nur Hidayati

Rokhmi Nur Hidayati

hati terlalu sakit banget sampai ada komplikasi penyakit kan sampai susah sembuhnya

2025-01-05

0

lihat semua
Episodes
1 Prahara Subuh
2 Penyakit lama
3 Meja Makan
4 Hadiah pahit
5 Amukan Sulung
6 Sesal selalu di akhir
7 Hati yang terluka
8 Serakah
9 Terkunci
10 Pagi
11 Pergi
12 Kehilangan
13 Penyesalan
14 Bertemu
15 Permohonan Haris
16 Tidak bisa
17 Pagi
18 Kedatangan Mertua
19 Bayangan Mutia
20 Permohonan Mertua
21 Kecewa lagi
22 Mengikhlaskan
23 Badai Malam
24 Rumah Sakit
25 Anak-anak pulang
26 Pulang
27 Berjumpa anak-anak
28 Buka puasa pertama
29 Kedatangan Kiara
30 Surat gugatan
31 Amukan Kiara
32 Malam
33 Menengok Kiara
34 Permohonan terakhir
35 Hari pertama dan terakhir
36 Talak
37 Sidang
38 Move on
39 Memenuhi undangan
40 Belanja
41 Malam takbir
42 Di pendopo
43 3 Hari kemudian.
44 Malam indah
45 Undangan
46 Perkelahian
47 Menuju Akad
48 Harapan kosong
49 Rasa yang berbeda
50 Pagi berdua
51 Ujian Atau Karma
52 Apartemen
53 Pertemuan tak terduga
54 Intan
55 Arsya
56 Malam di pendopo
57 Rasa yang hilang
58 Pagi yang hangat
59 Menjadi Kita
60 Berpisah
61 Takdir kah?
62 Pengharapan
63 Kesedihan Mutia
64 Pagi
65 Ini Nyata
66 Sudah seperti Prangko
67 Di kantor
68 Ruang Haris
69 Kumat
70 Intan
71 Menengok Haris
72 cemburu
73 Kiara
74 Kau Cantik Malam ini
75 Haris pingsan
76 Rumah Utama Arsya
77 Sesa
78 USG
79 Proktektifnya Arsya
80 Perkara Biru Atau Hijau
81 Kesepian Haris
82 Raga kosong
83 Lumuran Dosa
84 Sensitifnya Bumil
85 Kontraksi
86 Lahiran
87 Baby Zayn
88 Cerita Pagi hari
89 Kedatangan Haris
90 Lima tahun kemudian
91 pengumuman
92 pengumuman
93 Pengumuman Novel Intan
94 Curahan hati author
95 Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96 pengumuman
97 pengumuman zia
98 Pengumuman Zea
99 pengumuman
100 Pengumuman
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Prahara Subuh
2
Penyakit lama
3
Meja Makan
4
Hadiah pahit
5
Amukan Sulung
6
Sesal selalu di akhir
7
Hati yang terluka
8
Serakah
9
Terkunci
10
Pagi
11
Pergi
12
Kehilangan
13
Penyesalan
14
Bertemu
15
Permohonan Haris
16
Tidak bisa
17
Pagi
18
Kedatangan Mertua
19
Bayangan Mutia
20
Permohonan Mertua
21
Kecewa lagi
22
Mengikhlaskan
23
Badai Malam
24
Rumah Sakit
25
Anak-anak pulang
26
Pulang
27
Berjumpa anak-anak
28
Buka puasa pertama
29
Kedatangan Kiara
30
Surat gugatan
31
Amukan Kiara
32
Malam
33
Menengok Kiara
34
Permohonan terakhir
35
Hari pertama dan terakhir
36
Talak
37
Sidang
38
Move on
39
Memenuhi undangan
40
Belanja
41
Malam takbir
42
Di pendopo
43
3 Hari kemudian.
44
Malam indah
45
Undangan
46
Perkelahian
47
Menuju Akad
48
Harapan kosong
49
Rasa yang berbeda
50
Pagi berdua
51
Ujian Atau Karma
52
Apartemen
53
Pertemuan tak terduga
54
Intan
55
Arsya
56
Malam di pendopo
57
Rasa yang hilang
58
Pagi yang hangat
59
Menjadi Kita
60
Berpisah
61
Takdir kah?
62
Pengharapan
63
Kesedihan Mutia
64
Pagi
65
Ini Nyata
66
Sudah seperti Prangko
67
Di kantor
68
Ruang Haris
69
Kumat
70
Intan
71
Menengok Haris
72
cemburu
73
Kiara
74
Kau Cantik Malam ini
75
Haris pingsan
76
Rumah Utama Arsya
77
Sesa
78
USG
79
Proktektifnya Arsya
80
Perkara Biru Atau Hijau
81
Kesepian Haris
82
Raga kosong
83
Lumuran Dosa
84
Sensitifnya Bumil
85
Kontraksi
86
Lahiran
87
Baby Zayn
88
Cerita Pagi hari
89
Kedatangan Haris
90
Lima tahun kemudian
91
pengumuman
92
pengumuman
93
Pengumuman Novel Intan
94
Curahan hati author
95
Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96
pengumuman
97
pengumuman zia
98
Pengumuman Zea
99
pengumuman
100
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!