Pergi

Assalamualaikum...

Untuk Mas Haris.

Maaf... Aku pergi.

Mungkin ini memang sudah suratan di Langit.

Usia rumah tangga kita mungkin memang hanya sampai di sini, ternyata Allah tidak menggariskan kita bisa berjalan sampai di janah-Nya.

Maaf aku tidak bisa terus berada di sisimu.

Kami pergi, semoga Engkau Bahagia.

Mutia berjalan amat pelan saat meletakan surat di atas meja kamarnya, sambil melihat suaminya Haris yang masih nyenyak tergulung selimut. Mutia pergi ke luar kamar dengan amat pelan sekali agar tidak membangunkan Mutia.

Mutia ke garasi untuk mengambil mobilnya kemudian keluar dari rumah bersama anak-anaknya. Di belakang Intan menyusulnya dengan mobilnya sendiri.

Dua mobil beriringan menuju Rumah baru yang sudah Asisten Mutia belikan, setelah sampai di lampu merah mereka berpisah, Mutia menuju sekolah, sementara Intan menuju Rumah barunya.

Setelah sampai di sekolah si kembar mereka pun turun dan berpamitan kepada Bundanya. " Zea berangkat Bun..."Kata Zea sambil Salim.

Zia juga Bun, Bunda fokus aja sama kepindahan nanti pulangnya kita naik taksi aja ke rumah baru." Jelas Zia sambil bersalaman ke Bundanya.

Mutia tersenyum dengan kaca-kaca di matanya sambil mengangguk kepalanya, "Hati-hati sayang... Assalamualaikum..."Kata Mutia sambil mengecup kening keduanya.

"Wa'alaikumusalam Bun..."Jawab si kembar Kompak lalu mereka pun masuk kedalam gerbang sekolah.

Mutia melanjutkan kembali mobilnya menuju sekolah Kean. Setelah sampai Kean bukanya turun justru menghambur kedalam pelukan Bundanya dengan isakan yang tertahan, terlihat dari guncangan tubuh si bungsu.

"Bun... Kean ini pindah sekolah yang dekat rumah baru saja."Katanya di sela-sela tangisannya.

"Hari ini Kean tidak usah masuk dulu, Kean mau bantuin Bunda..." Lanjutnya lagi masih terisak.

"Jagoan Bunda anak hebat, terimakasih sayang... tapi Bunda lebih senang dan bangga kalau Kean sekolah, masalah pindah sebentar lagi ya nunggu lulus sekolah tinggal beberapa bulan kan... Sabar ya sayang..."Ucap Mutia sambil mengusap air mata putranya.

Kean mengangguk tanda setuju, lalu Dia mengurai pelukannya pada Bundanya kemudian pamit untuk masuk kedalam sekolahan. "Kean masuk Bun... Assalamualaikum..." Kata Kean sambil Salim pada Bundanya kemudian turun dari mobil.

"Wa'alaikumusalam Sayang... Hati-hati..."Jawab Mutia melihat punggung si bungsu yang sudah masuk kedalam gerbang Sekolahnya.

Mutia kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah barunya, sesekali tangannya mengusap air mata yang masih saja mengalir. Lalu Mutia menarik nafas dalam dan membuangnya. sudah cukup Air mata ini mengalir, sudah tidak perlu lagi menangisi semua keadaan, sekarang fokus pada anak-anak masalah pernikahan biar di urus pengacara. Kalaupun Haris tidak mau ya sudah yang penting tidak tinggal bersamanya pikir Mutia menghapus jejak air matanya.

Tak lama kemudian sampailah Mutia di rumah yang cukup nyaman di dekatnya ada halaman luas dan di sisi kanan kebun bunga kesukaannya serta di sisi kiri kebun bunga ada kebun sayur dan di ujung kirinya lagi ada kebun buahnya.

"Mbak Tya memang paling mengerti seleraku kata Mutia turun dan menghampiri asistennya yang membukakan gerbang untuknya.

Mbak Tya yang sudah di anggap seperti kakak dari Intan itupun menghampirinya dan mengambil kunci mobil untuk di parkir di dalam Garasi, sementara Mutia berjalan menghampiri kebun bungannya.

Mutia duduk di saung di tepi kebun bunga menghirup udara segar di kebun-kebunnya,." Harusnya Aku tidak takut, Aku bisa menghidupi Anak-anak semua, Ada restoran ada butik dan ada kebun ini, aku ingin membuat kebun buah, kebun bunga dan sayur." Ujarnya sendiri

Mutia ingin memulai lembaran baru di dalam hidupnya tanpa bayang-bayang Haris, Mutia yakin Dia bisa hidup tanpa Haris di sisinya.

"Selamat tinggal kepedihan selamat datang kebahagian...." Ujar Mutia sambil memandang jauh ke depan.

****

Mohon selalu dukung karya aku ya...

like...

komen...

Vote...

Dan favorit ya...

please...

Dukung Mutia lebih baik lagi...🥺🥺🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

Rokhmi Nur Hidayati

Rokhmi Nur Hidayati

😢😢😢dengan kesabaran dan mendapatkan ujian /cobaan ada hikmanya

2025-01-05

0

Neulis Saja

Neulis Saja

apalagi yg hrs dirisaukan Mutia, kamu punya segalanya harta, anak dan kamu wanita Sholehah sekaligus cantik, terus menatap kedepan bersama anak2mu don't look back

2024-12-01

1

G** Bp

G** Bp

bunda hebat pasti bisa bahagia tanpa ada nya suami yang mendampingi...

2024-11-19

1

lihat semua
Episodes
1 Prahara Subuh
2 Penyakit lama
3 Meja Makan
4 Hadiah pahit
5 Amukan Sulung
6 Sesal selalu di akhir
7 Hati yang terluka
8 Serakah
9 Terkunci
10 Pagi
11 Pergi
12 Kehilangan
13 Penyesalan
14 Bertemu
15 Permohonan Haris
16 Tidak bisa
17 Pagi
18 Kedatangan Mertua
19 Bayangan Mutia
20 Permohonan Mertua
21 Kecewa lagi
22 Mengikhlaskan
23 Badai Malam
24 Rumah Sakit
25 Anak-anak pulang
26 Pulang
27 Berjumpa anak-anak
28 Buka puasa pertama
29 Kedatangan Kiara
30 Surat gugatan
31 Amukan Kiara
32 Malam
33 Menengok Kiara
34 Permohonan terakhir
35 Hari pertama dan terakhir
36 Talak
37 Sidang
38 Move on
39 Memenuhi undangan
40 Belanja
41 Malam takbir
42 Di pendopo
43 3 Hari kemudian.
44 Malam indah
45 Undangan
46 Perkelahian
47 Menuju Akad
48 Harapan kosong
49 Rasa yang berbeda
50 Pagi berdua
51 Ujian Atau Karma
52 Apartemen
53 Pertemuan tak terduga
54 Intan
55 Arsya
56 Malam di pendopo
57 Rasa yang hilang
58 Pagi yang hangat
59 Menjadi Kita
60 Berpisah
61 Takdir kah?
62 Pengharapan
63 Kesedihan Mutia
64 Pagi
65 Ini Nyata
66 Sudah seperti Prangko
67 Di kantor
68 Ruang Haris
69 Kumat
70 Intan
71 Menengok Haris
72 cemburu
73 Kiara
74 Kau Cantik Malam ini
75 Haris pingsan
76 Rumah Utama Arsya
77 Sesa
78 USG
79 Proktektifnya Arsya
80 Perkara Biru Atau Hijau
81 Kesepian Haris
82 Raga kosong
83 Lumuran Dosa
84 Sensitifnya Bumil
85 Kontraksi
86 Lahiran
87 Baby Zayn
88 Cerita Pagi hari
89 Kedatangan Haris
90 Lima tahun kemudian
91 pengumuman
92 pengumuman
93 Pengumuman Novel Intan
94 Curahan hati author
95 Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96 pengumuman
97 pengumuman zia
98 Pengumuman Zea
99 pengumuman
100 Pengumuman
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Prahara Subuh
2
Penyakit lama
3
Meja Makan
4
Hadiah pahit
5
Amukan Sulung
6
Sesal selalu di akhir
7
Hati yang terluka
8
Serakah
9
Terkunci
10
Pagi
11
Pergi
12
Kehilangan
13
Penyesalan
14
Bertemu
15
Permohonan Haris
16
Tidak bisa
17
Pagi
18
Kedatangan Mertua
19
Bayangan Mutia
20
Permohonan Mertua
21
Kecewa lagi
22
Mengikhlaskan
23
Badai Malam
24
Rumah Sakit
25
Anak-anak pulang
26
Pulang
27
Berjumpa anak-anak
28
Buka puasa pertama
29
Kedatangan Kiara
30
Surat gugatan
31
Amukan Kiara
32
Malam
33
Menengok Kiara
34
Permohonan terakhir
35
Hari pertama dan terakhir
36
Talak
37
Sidang
38
Move on
39
Memenuhi undangan
40
Belanja
41
Malam takbir
42
Di pendopo
43
3 Hari kemudian.
44
Malam indah
45
Undangan
46
Perkelahian
47
Menuju Akad
48
Harapan kosong
49
Rasa yang berbeda
50
Pagi berdua
51
Ujian Atau Karma
52
Apartemen
53
Pertemuan tak terduga
54
Intan
55
Arsya
56
Malam di pendopo
57
Rasa yang hilang
58
Pagi yang hangat
59
Menjadi Kita
60
Berpisah
61
Takdir kah?
62
Pengharapan
63
Kesedihan Mutia
64
Pagi
65
Ini Nyata
66
Sudah seperti Prangko
67
Di kantor
68
Ruang Haris
69
Kumat
70
Intan
71
Menengok Haris
72
cemburu
73
Kiara
74
Kau Cantik Malam ini
75
Haris pingsan
76
Rumah Utama Arsya
77
Sesa
78
USG
79
Proktektifnya Arsya
80
Perkara Biru Atau Hijau
81
Kesepian Haris
82
Raga kosong
83
Lumuran Dosa
84
Sensitifnya Bumil
85
Kontraksi
86
Lahiran
87
Baby Zayn
88
Cerita Pagi hari
89
Kedatangan Haris
90
Lima tahun kemudian
91
pengumuman
92
pengumuman
93
Pengumuman Novel Intan
94
Curahan hati author
95
Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96
pengumuman
97
pengumuman zia
98
Pengumuman Zea
99
pengumuman
100
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!