Amukan Sulung

Suara perpaduan benda melayang dan pecah juga berserakan di dalam ruangan berpadu dengan umpatan-umpatan dari seorang perempuan.

Ruangan itu sudah tidak berbentuk, itu bukan tingkah dari sosok ibu yang penyabar dan totalitas selama ini, namun amukan seorang anak sulung yang memergoki kedua orang tuanya tengah di ujung perpisahan.

Anak yang tidak sengaja melihat betapa hancur dunia Bunda tersayangnya oleh Ayah yang sudah membesarkan selama ini. Ayahnya yang sudah selingkuh dan menikah lagi tanpa sepengetahuan semuanya terutama Bundanya.

Padahal selama ini Bundanya adalah wanita terhebat yang selalu sabar dan bisa segalanya di matanya dan adik-adiknya.

"Dasar Laki-laki tidak tau di untung..., Anakmu ini perempuan Yah Intan... Zea.... Zia... itu juga perempuan... apa Ayah tidak bayangin kalau sikap Ayah itu di lakuin laki-laki di luar sana ke kami???? Apa Ayah pengen jadi contoh buruk buat Kean??? Hahhhh mikir Yah..." Teriak Intan di sela amukannya.

"Makin tua itu makin bijak bukan makin buruk kelakuannya!!! Apa dengan nurutin isi celana udah cukup tanpa mikir resiko perasaan semua dan akibatnya.....????" Teriak Intan sambil melempar asbak ke dinding ruang kerja Haris Ayahnya yang terpaku di tempat.

"Kenapa bisa Isi kepala Ayah busuk kayak kelakuan Ayah sih??? Kalau dulu hanya akan nyakitin. istri dan anak-anak ngapain dulu nikah??? Punya kami??? Dulu kenapa Ndak mikir senengnya isi celana sama nafsu ayah terusss?????" Umpatan Intan semakin tidak karuan.

Dada Haris terasa sesak dan terbakar, dengan semua omongan Intan anak sulungnya. Semua kekacauan hari ini semakin bertambah dengan amukan anak sulung kebanggaannya selama ini, yang selalu bisa di andalkan namun kini menyakitkan.

Mutia menutup mulutnya tidak percaya di balik kaca pintu ruang kerja Haris, Sekertaris Haris baru saja mengabarkan kekacauan yang di buat anak sulungnya.

Tak di sangka amukan Intan bisa separah itu, bahkan omonganya sudah amat kasar terhadap Ayahnya. Mutia menahan sesak dan sedih bersamaan hingga Embu di matanya muncul. Ingin menghentikan namun takut semakin menambah kerunyaman di dalam.

"Kak... Ayah... "Haris ingin menjelaskan dan menenangkan amarah Intan namun belum juga selesai di potong Intan dengan cepat dan kasarnya.

"Cukup!!! Kelakuan Ayah itu Ndak ada bedanya sama binatang yang suka nurutin nafsunya saja!! Ayah itu tak pantas jadi Ayah kami dan Ndak pantas jadi suami Bunda sebaik Bunda Mutia." Potong Intan tajam.

Plakkkk

Tamparan Haris mendarat di pipi putri sulungnya untuk pertama kalinya. Mutia dan Haris sama-sama terkejut di tempatnya masing-masing atas apa yang baru saja terjadi di pipi Intan.

"Tamparan ini Ndak lebih sakit dari pada hari ini, terutama hati Bunda. Kalau aja selingkuhan mu tau betapa kasarnya Anda mungkin dia tidak akan rela menjual dirinya untuk jadi selingkuhan Anda." Tekan Intan sambil menahan perih di pipinya yang memerah.

Mutia menahan isaknya yang tak tertahankan, lalu memaksa masuk ke dalam dan memeluk Intan untuk menenangkan.

"Cukup Kak, kita pulang, Bunda tidak papa..." Ucapnya lalu menarik Intan untuk keluar dari ruangan Haris.

Namun Intan bersikukuh di tempat dan sekali lagi melempar foto keluarganya kehadapan Haris, tepat di bawah sepatu Haris sehingga membuat Harus dan Mutia terkejut atas tindakan Intan.

"Lihat....!!! Seperti itu wajah Rumah Tangga Ayah sekarang, Pecah tidak tersisa!!!! Bahkan di hati ini, semenjak Intan lihat dengan mata kepala Intan apa yang sudah Ayah perbuat ke Bunda, hati inipun sama seperti Foto itu dan semakin hari rasa ini tidak akan tersisa untuk Ayah seperti serpihan kaca itu!!! Apa lagi hati Bunda, akan mati rasa ke Ayah!!! Ucap Intan lalu berlalu pergi

Terpopuler

Comments

Neulis Saja

Neulis Saja

Haris, kamu akan menyesal setelah tahu kalau perempuan yg sekarang kamu nikahi telah berselingkuh dgn pria lain, accept your fate bad

2024-11-27

0

Rokhmi Nur Hidayati

Rokhmi Nur Hidayati

Alhamdulillah kamu punya buah hati menguatkan dirimu Mutia sabar tak ada batasnya😔

2025-01-05

0

G** Bp

G** Bp

betapa hancur hati seorang anak melihat kelakuan sang ayah...

2024-11-19

0

lihat semua
Episodes
1 Prahara Subuh
2 Penyakit lama
3 Meja Makan
4 Hadiah pahit
5 Amukan Sulung
6 Sesal selalu di akhir
7 Hati yang terluka
8 Serakah
9 Terkunci
10 Pagi
11 Pergi
12 Kehilangan
13 Penyesalan
14 Bertemu
15 Permohonan Haris
16 Tidak bisa
17 Pagi
18 Kedatangan Mertua
19 Bayangan Mutia
20 Permohonan Mertua
21 Kecewa lagi
22 Mengikhlaskan
23 Badai Malam
24 Rumah Sakit
25 Anak-anak pulang
26 Pulang
27 Berjumpa anak-anak
28 Buka puasa pertama
29 Kedatangan Kiara
30 Surat gugatan
31 Amukan Kiara
32 Malam
33 Menengok Kiara
34 Permohonan terakhir
35 Hari pertama dan terakhir
36 Talak
37 Sidang
38 Move on
39 Memenuhi undangan
40 Belanja
41 Malam takbir
42 Di pendopo
43 3 Hari kemudian.
44 Malam indah
45 Undangan
46 Perkelahian
47 Menuju Akad
48 Harapan kosong
49 Rasa yang berbeda
50 Pagi berdua
51 Ujian Atau Karma
52 Apartemen
53 Pertemuan tak terduga
54 Intan
55 Arsya
56 Malam di pendopo
57 Rasa yang hilang
58 Pagi yang hangat
59 Menjadi Kita
60 Berpisah
61 Takdir kah?
62 Pengharapan
63 Kesedihan Mutia
64 Pagi
65 Ini Nyata
66 Sudah seperti Prangko
67 Di kantor
68 Ruang Haris
69 Kumat
70 Intan
71 Menengok Haris
72 cemburu
73 Kiara
74 Kau Cantik Malam ini
75 Haris pingsan
76 Rumah Utama Arsya
77 Sesa
78 USG
79 Proktektifnya Arsya
80 Perkara Biru Atau Hijau
81 Kesepian Haris
82 Raga kosong
83 Lumuran Dosa
84 Sensitifnya Bumil
85 Kontraksi
86 Lahiran
87 Baby Zayn
88 Cerita Pagi hari
89 Kedatangan Haris
90 Lima tahun kemudian
91 pengumuman
92 pengumuman
93 Pengumuman Novel Intan
94 Curahan hati author
95 Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96 pengumuman
97 pengumuman zia
98 Pengumuman Zea
99 pengumuman
100 Pengumuman
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Prahara Subuh
2
Penyakit lama
3
Meja Makan
4
Hadiah pahit
5
Amukan Sulung
6
Sesal selalu di akhir
7
Hati yang terluka
8
Serakah
9
Terkunci
10
Pagi
11
Pergi
12
Kehilangan
13
Penyesalan
14
Bertemu
15
Permohonan Haris
16
Tidak bisa
17
Pagi
18
Kedatangan Mertua
19
Bayangan Mutia
20
Permohonan Mertua
21
Kecewa lagi
22
Mengikhlaskan
23
Badai Malam
24
Rumah Sakit
25
Anak-anak pulang
26
Pulang
27
Berjumpa anak-anak
28
Buka puasa pertama
29
Kedatangan Kiara
30
Surat gugatan
31
Amukan Kiara
32
Malam
33
Menengok Kiara
34
Permohonan terakhir
35
Hari pertama dan terakhir
36
Talak
37
Sidang
38
Move on
39
Memenuhi undangan
40
Belanja
41
Malam takbir
42
Di pendopo
43
3 Hari kemudian.
44
Malam indah
45
Undangan
46
Perkelahian
47
Menuju Akad
48
Harapan kosong
49
Rasa yang berbeda
50
Pagi berdua
51
Ujian Atau Karma
52
Apartemen
53
Pertemuan tak terduga
54
Intan
55
Arsya
56
Malam di pendopo
57
Rasa yang hilang
58
Pagi yang hangat
59
Menjadi Kita
60
Berpisah
61
Takdir kah?
62
Pengharapan
63
Kesedihan Mutia
64
Pagi
65
Ini Nyata
66
Sudah seperti Prangko
67
Di kantor
68
Ruang Haris
69
Kumat
70
Intan
71
Menengok Haris
72
cemburu
73
Kiara
74
Kau Cantik Malam ini
75
Haris pingsan
76
Rumah Utama Arsya
77
Sesa
78
USG
79
Proktektifnya Arsya
80
Perkara Biru Atau Hijau
81
Kesepian Haris
82
Raga kosong
83
Lumuran Dosa
84
Sensitifnya Bumil
85
Kontraksi
86
Lahiran
87
Baby Zayn
88
Cerita Pagi hari
89
Kedatangan Haris
90
Lima tahun kemudian
91
pengumuman
92
pengumuman
93
Pengumuman Novel Intan
94
Curahan hati author
95
Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96
pengumuman
97
pengumuman zia
98
Pengumuman Zea
99
pengumuman
100
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!