Tidak bisa

"Maaf... " Kata Mutia akhirnya sambil menarik nafas menahan emosi di dalam dirinya.

"Kita bukan anak kecil lagi, anak-anak juga sudah mulai besar, Mari kita jalani hidup kita masing-masing. Aku sudah cukup bahagia seperti ini, ternyata sendiri tidak terlalu buruk. Kita tetap bisa membesarkan mereka bersama kelak biarkan mereka memilih ingin tinggal dimana, sudah tidak perlu kita bertengkar lagi. Mari kita berpisah secara baik-baik..."Kata Mutia sambil melepas tangan Haris.

"Bun... Seandainya aku melepas Kiara, apakah Bunda mau tetap mempertahankan rumah tangga kita ini?"Tanya Haris masih dengan bersimpuh.

Mutia terkejut dengan ungkapan Haris barusan, apakah sungguh Haris akan melepas Kiara demi dirinya dan anak-anaknya. Lalu langkah apa yang akan ditempuh dirinya setelah ini, haruskah dirinya memaafkan Haris dan melupakan kesalahannya kembali, Apakah Haris tidak akan mengulangi kembali jika di beri kesempatan. Pikiran Mutia penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya bingung dalam mengambil keputusan.

"Maaf... Aku tidak bisa, ibarat gelas aku sudah pecah berhamburan, jika pun Mas paksa Aku tidak akan sama seperti dulu. Untuk Apa kita mempertahankan jika barang itu sudah rusak dan tidak bisa di perbaiki." Kata Mutia pada akhirnya karena jujur untuk percaya Dia sudah tidak bisa lagi.

Haris menunduk kan kepalanya sambil menggelengkan kepalanya, "Tidak Bun... Aku benar-benar menyesal.... Sampai ajalku pergi aku tidak mau berpisah dengan Bunda..."Kata Haris masih terus tidak menyerah untuk memohon.

Mutia berdiri melepaskan diri dari Haris suaminya, Dia sudah lelah berdebat. "Sudahlah Mas... Aku capek... Aku muak... Aku lelah... Aku tidak terus berpura-pura baik-baik saja saat memandang mu.... Ibarat luka darah di dalamnya belum mengering... Aku tidak bisa... Jangan paksa Aku...!!"Kata Mutia sedikit mengeraskan suaranya.

Haris memandang wajah Mutia, mata itu begitu terluka karenanya, namun Dia benar-benar tidak bisa melepaskan Mutia, sudah cukup satu bulan ini tanpanya, sungguh terasa hampa hidupnya.

"Dan Lagi... Mas mau melepas Kiara setelah semua ini terjadi??? Apa tidak cukup aku yang terluka, kamu juga akan menambah luka pada dirinya??? Ya dulu aku begitu sakit hati saat Mas bilang sudah menikah dengannya, Aku dulu meminta Mas melepaskannya. Tapi itu dulu saat aku belum sadar bahwa Dia juga korban dari serakahnya nafsu duniamu." Kata Mutia lagi, membuat Haris merasa semakin bersalah.

"Dan apakah bisa bila Mas memiliki keduanya???Maaf tidak... Mungkin Kiara bisa, karena Dia sudah tau dan bisa jadi menerima dirimu dengan adanya aku dan anak-anak saat menikah denganmu. Tapi Aku tidak bisa, Kamu bukan Rasulullah yang bisa adil dengan istri-istrinya. Kamu juga bukan orang yang menikahi janda miskin yang banyak anak, Kamu juga tidak menikahinya atas dasar menolong atau belas kasihan."Lanjut Mutia dengan pandangan yang kecewa teramat dalam.

"Mas Haris menikah dengannya karena Dia Cantik, Dia Seksi dan menawan, bukan karena kasian namun nafsumu yang tergoda oleh tubuh dan parasnya. Betul begitu kan???"Kata Mutia kemudian, membuat Haris tertampar kata-kata seketika.

Haris membeku lidahnya kelu, tidak ada tuduhan yang tidak benar yang terucap dari bibir Mutia. Namun semua sudah terlanjur apakah dirinya tidak boleh di beri kesempatan untuk memperbaiki semuanya, pikir Haris terdiam membisu dengan mata yang memejam.

"Maaf Aku wanita biasa, aku bukan wanita yang kuat saat suaminya beristri selain dirinya, jadi cukup Aku yang terluka dan biarkan aku mengobati luka ini perlahan dengan tidak melihat dan berada di sisimu. Sekarang Aku ijinkan Mas Haris tidur di sini, namun esok tidak akan Aku ijinkan jadi silahkan keluar dan tidur di kamar Anak-anak saja." Putus Mutia lalu membukakan pintu mempersilakan Haris keluar.

Haris pun keluar dari Kamar Mutia dengan pandangan yang amat kosong, beginilah rasanya ketika di abaikan dan tidak di inginkan. Beginilah rasanya ketika sudah tidak lagi di harapkan kehadirannya, Begitu terasa sakit ternyata, Haris Pun memegangi dadanya yang terasa sakit.

****

Kisah ini terinspirasi dari kisah orang yang begitu berharga, Semoga beliau dan anak-anaknya selalu dalam kesabaran dan lindungannya.🤲

Pembaca: Thor kok ceritanya ngebosenin sih... Sedih muluk kapan bahagianya???

Author : Maafin ya, emang ceritanya kayak gini, realnya seperti ini... 🙏🙏🙏

Tapi Author ucapkan banyak terimakasih yang selalu mengikuti cerita Aku... 🙏🤗🌷🌷🌷

Semoga keluarga kita semua selalu terjaga, dan Sakinah Mawadah Warahmah selalu...🤲🤲🤲

Jangan lupa dukungannya dengan Like, komen, vote dan tekan favoritnya... 🙏🙏😍😍😍

Terpopuler

Comments

Rokhmi Nur Hidayati

Rokhmi Nur Hidayati

semoga tabah sabar berserah diri pada Allah Gusti Allah akan Berkehendak Baik untuk hamba yg berta'wa

2025-01-05

0

Diajeng Lope

Diajeng Lope

kiara korban tpi dri awal sdh tahu haris punya istri n anak2 jdi ibarat kiara numpang hidup ma haris

2025-02-11

0

Tantris Tantris

Tantris Tantris

kisah nyata yg dikemas dg apik,aku prnah diposisi intan,

2024-11-13

0

lihat semua
Episodes
1 Prahara Subuh
2 Penyakit lama
3 Meja Makan
4 Hadiah pahit
5 Amukan Sulung
6 Sesal selalu di akhir
7 Hati yang terluka
8 Serakah
9 Terkunci
10 Pagi
11 Pergi
12 Kehilangan
13 Penyesalan
14 Bertemu
15 Permohonan Haris
16 Tidak bisa
17 Pagi
18 Kedatangan Mertua
19 Bayangan Mutia
20 Permohonan Mertua
21 Kecewa lagi
22 Mengikhlaskan
23 Badai Malam
24 Rumah Sakit
25 Anak-anak pulang
26 Pulang
27 Berjumpa anak-anak
28 Buka puasa pertama
29 Kedatangan Kiara
30 Surat gugatan
31 Amukan Kiara
32 Malam
33 Menengok Kiara
34 Permohonan terakhir
35 Hari pertama dan terakhir
36 Talak
37 Sidang
38 Move on
39 Memenuhi undangan
40 Belanja
41 Malam takbir
42 Di pendopo
43 3 Hari kemudian.
44 Malam indah
45 Undangan
46 Perkelahian
47 Menuju Akad
48 Harapan kosong
49 Rasa yang berbeda
50 Pagi berdua
51 Ujian Atau Karma
52 Apartemen
53 Pertemuan tak terduga
54 Intan
55 Arsya
56 Malam di pendopo
57 Rasa yang hilang
58 Pagi yang hangat
59 Menjadi Kita
60 Berpisah
61 Takdir kah?
62 Pengharapan
63 Kesedihan Mutia
64 Pagi
65 Ini Nyata
66 Sudah seperti Prangko
67 Di kantor
68 Ruang Haris
69 Kumat
70 Intan
71 Menengok Haris
72 cemburu
73 Kiara
74 Kau Cantik Malam ini
75 Haris pingsan
76 Rumah Utama Arsya
77 Sesa
78 USG
79 Proktektifnya Arsya
80 Perkara Biru Atau Hijau
81 Kesepian Haris
82 Raga kosong
83 Lumuran Dosa
84 Sensitifnya Bumil
85 Kontraksi
86 Lahiran
87 Baby Zayn
88 Cerita Pagi hari
89 Kedatangan Haris
90 Lima tahun kemudian
91 pengumuman
92 pengumuman
93 Pengumuman Novel Intan
94 Curahan hati author
95 Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96 pengumuman
97 pengumuman zia
98 Pengumuman Zea
99 pengumuman
100 Pengumuman
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Prahara Subuh
2
Penyakit lama
3
Meja Makan
4
Hadiah pahit
5
Amukan Sulung
6
Sesal selalu di akhir
7
Hati yang terluka
8
Serakah
9
Terkunci
10
Pagi
11
Pergi
12
Kehilangan
13
Penyesalan
14
Bertemu
15
Permohonan Haris
16
Tidak bisa
17
Pagi
18
Kedatangan Mertua
19
Bayangan Mutia
20
Permohonan Mertua
21
Kecewa lagi
22
Mengikhlaskan
23
Badai Malam
24
Rumah Sakit
25
Anak-anak pulang
26
Pulang
27
Berjumpa anak-anak
28
Buka puasa pertama
29
Kedatangan Kiara
30
Surat gugatan
31
Amukan Kiara
32
Malam
33
Menengok Kiara
34
Permohonan terakhir
35
Hari pertama dan terakhir
36
Talak
37
Sidang
38
Move on
39
Memenuhi undangan
40
Belanja
41
Malam takbir
42
Di pendopo
43
3 Hari kemudian.
44
Malam indah
45
Undangan
46
Perkelahian
47
Menuju Akad
48
Harapan kosong
49
Rasa yang berbeda
50
Pagi berdua
51
Ujian Atau Karma
52
Apartemen
53
Pertemuan tak terduga
54
Intan
55
Arsya
56
Malam di pendopo
57
Rasa yang hilang
58
Pagi yang hangat
59
Menjadi Kita
60
Berpisah
61
Takdir kah?
62
Pengharapan
63
Kesedihan Mutia
64
Pagi
65
Ini Nyata
66
Sudah seperti Prangko
67
Di kantor
68
Ruang Haris
69
Kumat
70
Intan
71
Menengok Haris
72
cemburu
73
Kiara
74
Kau Cantik Malam ini
75
Haris pingsan
76
Rumah Utama Arsya
77
Sesa
78
USG
79
Proktektifnya Arsya
80
Perkara Biru Atau Hijau
81
Kesepian Haris
82
Raga kosong
83
Lumuran Dosa
84
Sensitifnya Bumil
85
Kontraksi
86
Lahiran
87
Baby Zayn
88
Cerita Pagi hari
89
Kedatangan Haris
90
Lima tahun kemudian
91
pengumuman
92
pengumuman
93
Pengumuman Novel Intan
94
Curahan hati author
95
Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96
pengumuman
97
pengumuman zia
98
Pengumuman Zea
99
pengumuman
100
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!