Penyesalan

Waktu berlalu meninggalkan hari demi hari, seminggu berlalu amat sepi di rumah utama. Haris selalu di sapa kehampaan saat sudah memasuki rumahnya, rumah yang dulu begitu ramai kini hanya tinggal dirinya seorang dan pembantu dan penjaga rumah.

Haris pulang kerja langkahnya gontai memasuki kamar yang dulu saat pulang selalu ada yang menyambutnya dengan senyumnya. Sepatu kerjanya akan terlepas tanpa harus menggerakkan tangannya. Air hangat tinggal ia masuki tanpa harus menyiapkan sendiri, begitupun baju ganti akan tersedia bila selesai mandi.

Haris sudah mandi dan berganti baju, langkahnya semakin lemas saat menghadapi meja makan, dulu begitu ramai dan terdengar canda tawa anak-anaknya, kini hanya makan sendirian, rasanya begitu hambar.

Haris akhirnya tidak jadi makan, dia mengambil kunci mobil lalu bilang ke bibi jika tidak akan pulang jika ada yang mencarinya, karena ingin ke rumah istri keduanya.

"Bik, Saya akan pergi dan tidak pulang ya... Kalau ada yang mencari."Kata Haris yang di angguki oleh sang pembantu, Haris pun kemudian berlalu pergi.

Mobil Haris keluar dari gerbang, melaju menuju rumah istri keduanya. Haris masih bingung kenapa selama satu Minggu ini susah sekali menemukan anak-anaknya, begitu pula Mutia. Seperti sedang bermain petak umpet, anak-anaknya tidak pundak sekolah namun susah sekali di temuinya.

Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu Haris masuk ke rumah moderen minimalis, lalu parkir di sana. Setelah parkir Haris membuka pintu dengan kuncinya sendiri.

Haris masuk ke ruang tamu, di dalam Kiara sudah menyambutnya dengan baju dinas terbukanya lalu menghampiri Haris dengan senyum bahagianya kemudian memeluknya mesrah.

"Kangennn...Udah beberapa hari tidak kesini... Mas sibuk apa sih..."Cerocos Kiara sambil bergelayut manja.

"Aku lapar Sayang..."Kata Haris lalu duduk di meja makan, saat membuka tudung makanan tidak ada makanan satu pun.

Haris menghelai nafas, perutnya terasa perih namun tidak ada makanan. Inilah bedanya Mutia dengan Kiara, Mutia selalu tau kebutuhan dirinya, selalu bisa melayaninya, makan, pakaian, pijitan, beberes rumah, kerja semua Dia bisa hanya saja terlalu pasif dan malu-malu saat di ranjang juga saat di rumah selalu memakai jilbabnya tidak pernah mau memakai pakaian terbuka, alasannya ada penjaga rumah lah dan lain-lain.

Sementara Kiara dia sangat jago masalah ranjang dia selalu berinisiatif memulai duluan, selalu berpakaian terbuka saat di rumah, penampilan selalu cantik dan menggodanya, namun tidak bisa memasak, beberes dan menyiapkan kebutuhannya yang lain.

" Maaf Mas, tidak ada makanan, aku pesankan dulu ya..." Kata Kiara merasa bersalah.

Akhirnya Kiara pun memesan makanan online sambil menunggu makanan datang Kiara membuatkan kopi itu yang bisa dia buatkan untuk suaminya.

Haris memejamkan matanya, menarik dalam dalam nafasnya lalu meminum kopi buatan Kiara. Lagi-lagi Haris membandingkan Kopi buatan Mutia jauh lebih sedap dan pas takarannya.

Kiara menghampiri Haris lalu membelai suaminya "Mas... Kenapa??" tanya Kiara lalu duduk di pangkuan Haris berniat untuk menggoda suaminya, agar menghilangkan kesediahan atau kegundahan suaminya.

Kiara masih berusaha menenangkan suaminya dengan caranya, suaminya paling suka saat dia berada di ranjang, namun ada yang berbeda di wajah suaminya, wajahnya tidak begitu menikmati saat dia melayaninya.

Sementara Haris selalu terbayang-bayang wajah Mutia saat bersama dengan Kiara bahkan saat ini saat mereka sedang bersatu wajah Kiara yang terbayang saat melepaskan hasratnya.

Ini terasa begitu membingungkan bagi Haris, dulu saat belum terjadi masalah dengan Mutia semua terasa tidak membingungkan, dia bisa menikmati waktu bersama Kiara begitupun saat bersama keluarganya semua terasa nyata begitu membahagiakan.

Haris memejamkan matanya saat selesai melakukan semuanya, Kiara berfikir Haris kelelahan karena barusan yang mereka lakukan, nyatanya Haris kelelahan berpikir kenapa aroma Mutia justru yang Dia rindukan.

Begitulah saat manusia hanya memikirkan kenikmatan sesaat, tidak mensyukuri apa yang telah di anugrahkan kepadanya, kenikmatan yang hakiki dan nyata pun akan hilang, karena telah menodai cinta yang suci.

Begitu serakahnya manusia ingin memiliki semuanya secara bersamaan, namun tangan manusia tidak bisa memeluk keduanya maka jika tidak bisa akan kehilangan salah satunya, karena tidak ada satu pun istri yang tidak terluka jika berbagi.

Haris semakin kehilangan nafsu makannya meski perutnya terasa lapar. Haris menyesal namun terlambat, sudah terlanjur pergi Mutianya dalam dekapan. Dan sudah terlanjur terjadi dia menyeret Kiara dalam dekapannya, nyatanya setelah tiada Mutia kehangatan dekapan itu sirna hanya hampa yang terasa, Kiara tidak cukup untuk mengisi kekosongan hati dan dirinya.

Terpopuler

Comments

G** Bp

G** Bp

Haris bodoh ga tau dimana tgglnya Mutia kan bisa diselidiki dari sekolah anaknya,terus diikuti kmna plg anaknya...mmg klu isi kplanya cuma nafsu ya gitu ..

2024-11-19

0

Rokhmi Nur Hidayati

Rokhmi Nur Hidayati

pelakor biasanya kulitnya dibagus bagusi tapi dlmx sebusuk busukx malah ada byak ulet

2025-01-05

0

Neulis Saja

Neulis Saja

karena si pelakor tdk pandai dlm membahagiakan suaminya tdk seperti istri pertama utk membahagiakan tdk cukup masalah ranjang saja sungguh terlalu sulit utk bisa melayani keseharian suami dan itu tdk ada di diri si pekor. urusan ranjang bisa dilihat di google cuma sayang kamu harus sdh terpedaya oleh kesenangan sesaat dan akhirnya menyesal tak bertepi yg lebih parah tdk ada yg sehebat istri pertamamu dlm melayani suaminya cuma kamu terlanjur dibutakan, enough until here ☝️

2024-12-01

1

lihat semua
Episodes
1 Prahara Subuh
2 Penyakit lama
3 Meja Makan
4 Hadiah pahit
5 Amukan Sulung
6 Sesal selalu di akhir
7 Hati yang terluka
8 Serakah
9 Terkunci
10 Pagi
11 Pergi
12 Kehilangan
13 Penyesalan
14 Bertemu
15 Permohonan Haris
16 Tidak bisa
17 Pagi
18 Kedatangan Mertua
19 Bayangan Mutia
20 Permohonan Mertua
21 Kecewa lagi
22 Mengikhlaskan
23 Badai Malam
24 Rumah Sakit
25 Anak-anak pulang
26 Pulang
27 Berjumpa anak-anak
28 Buka puasa pertama
29 Kedatangan Kiara
30 Surat gugatan
31 Amukan Kiara
32 Malam
33 Menengok Kiara
34 Permohonan terakhir
35 Hari pertama dan terakhir
36 Talak
37 Sidang
38 Move on
39 Memenuhi undangan
40 Belanja
41 Malam takbir
42 Di pendopo
43 3 Hari kemudian.
44 Malam indah
45 Undangan
46 Perkelahian
47 Menuju Akad
48 Harapan kosong
49 Rasa yang berbeda
50 Pagi berdua
51 Ujian Atau Karma
52 Apartemen
53 Pertemuan tak terduga
54 Intan
55 Arsya
56 Malam di pendopo
57 Rasa yang hilang
58 Pagi yang hangat
59 Menjadi Kita
60 Berpisah
61 Takdir kah?
62 Pengharapan
63 Kesedihan Mutia
64 Pagi
65 Ini Nyata
66 Sudah seperti Prangko
67 Di kantor
68 Ruang Haris
69 Kumat
70 Intan
71 Menengok Haris
72 cemburu
73 Kiara
74 Kau Cantik Malam ini
75 Haris pingsan
76 Rumah Utama Arsya
77 Sesa
78 USG
79 Proktektifnya Arsya
80 Perkara Biru Atau Hijau
81 Kesepian Haris
82 Raga kosong
83 Lumuran Dosa
84 Sensitifnya Bumil
85 Kontraksi
86 Lahiran
87 Baby Zayn
88 Cerita Pagi hari
89 Kedatangan Haris
90 Lima tahun kemudian
91 pengumuman
92 pengumuman
93 Pengumuman Novel Intan
94 Curahan hati author
95 Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96 pengumuman
97 pengumuman zia
98 Pengumuman Zea
99 pengumuman
100 Pengumuman
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Prahara Subuh
2
Penyakit lama
3
Meja Makan
4
Hadiah pahit
5
Amukan Sulung
6
Sesal selalu di akhir
7
Hati yang terluka
8
Serakah
9
Terkunci
10
Pagi
11
Pergi
12
Kehilangan
13
Penyesalan
14
Bertemu
15
Permohonan Haris
16
Tidak bisa
17
Pagi
18
Kedatangan Mertua
19
Bayangan Mutia
20
Permohonan Mertua
21
Kecewa lagi
22
Mengikhlaskan
23
Badai Malam
24
Rumah Sakit
25
Anak-anak pulang
26
Pulang
27
Berjumpa anak-anak
28
Buka puasa pertama
29
Kedatangan Kiara
30
Surat gugatan
31
Amukan Kiara
32
Malam
33
Menengok Kiara
34
Permohonan terakhir
35
Hari pertama dan terakhir
36
Talak
37
Sidang
38
Move on
39
Memenuhi undangan
40
Belanja
41
Malam takbir
42
Di pendopo
43
3 Hari kemudian.
44
Malam indah
45
Undangan
46
Perkelahian
47
Menuju Akad
48
Harapan kosong
49
Rasa yang berbeda
50
Pagi berdua
51
Ujian Atau Karma
52
Apartemen
53
Pertemuan tak terduga
54
Intan
55
Arsya
56
Malam di pendopo
57
Rasa yang hilang
58
Pagi yang hangat
59
Menjadi Kita
60
Berpisah
61
Takdir kah?
62
Pengharapan
63
Kesedihan Mutia
64
Pagi
65
Ini Nyata
66
Sudah seperti Prangko
67
Di kantor
68
Ruang Haris
69
Kumat
70
Intan
71
Menengok Haris
72
cemburu
73
Kiara
74
Kau Cantik Malam ini
75
Haris pingsan
76
Rumah Utama Arsya
77
Sesa
78
USG
79
Proktektifnya Arsya
80
Perkara Biru Atau Hijau
81
Kesepian Haris
82
Raga kosong
83
Lumuran Dosa
84
Sensitifnya Bumil
85
Kontraksi
86
Lahiran
87
Baby Zayn
88
Cerita Pagi hari
89
Kedatangan Haris
90
Lima tahun kemudian
91
pengumuman
92
pengumuman
93
Pengumuman Novel Intan
94
Curahan hati author
95
Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96
pengumuman
97
pengumuman zia
98
Pengumuman Zea
99
pengumuman
100
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!