Penyakit lama

"Kenapa sih kamu betah sama dia, katanya kamu bilang dia ndak asik... kok pulang sih... Ih sebel... aku marah nih kamu gak boleh minta jatah lagi." Oceh perempuan itu lagi membuat Mutia menahan sesak di dadanya.

Badan Mutia luruh, sambil melipat sajadahnya dia berurai air mata, sambil memandang suaminya yang masih di atas pembaringannya.

"Mas Haris... Kamu kok diem aja sih...? ih belum bangun ya...? Atau masih mimpiin yang semalam ya..." Ucap Perempuan itu, Mutia mengeraskan Volume Hp itu dan mendekatkan di telinga suaminya.

"Ih... Apa sih sayang... Pagi-pagi udah berisik aja... ci*m nih... " Jawab Haris masih sambil setengah tidur.

"Ehm.!!!" Dehem Mutia keras sambil duduk di sisi suaminya.

Haris membuka setengah matanya pelan lalu menarik mutia kedalam pelukanya.

"Sayang... kangen... nanti kesini lagi ya... atau aku yang ke kantor??" Ucap perempuan di seberang.

Haris terperajat lalu membuka matanya lebar dan memandang perempuan yang tengah di peluknya tanpa sadar itu.

"Kenapa??? Menyesalkah Ayah buka mata dan ternyata bukan dia yang kamu peluk????" Ucap Mutia sambil mematikan Hp suaminya itu, matanya tak mampu menahan bendungan air mata yang membobol pertahanannya.

"Bunda... itu salah sambung..." Kata Haris memegang tangan Mutia.

"Kenapa lagi Yah???" Mutia menggigit bibirnya sendiri menahan sesak di dadanya.

"Bun... Demi Cinta kita... itu orang iseng aja..." Kata Haris memeluk Mutia.

"Bunda jangan mudah terhasut... please ... percaya sama Ayah..." Kata Haris mengeratkan pelukannya pada istrinya.

"Kamu bohong Yah... kamu jahat!!!!" Teriak Mutia sambil memukul punggung Haris yang tengah mendekapnya.

"Endak... Bun..." Haris masih memeluk Mutia erat.

"Ayahkan Udah janji ndak mau gitu lagi..." Rayu Haris sambil mengusap rambut Mutia.

"Itu cuma orang iseng aja Bun... Paling telfon nyasar..." Kata Haris.

"Dia panggil Mas Haris!!! Itu bukan nyasar....!!!" Mutia melepas pelukan Haris dan mendorong Haris ke kasur. Dibukanya kancing kemeja kerja suaminya yang belum ganti dari semalam.

"Bohong....!!" Isak tangis Mutia pecah, setelah melihat dada suaminya penuh tanda merah dari bibir wanita lain.

"Kenapa lagi Yah!!!!

"Sejak kapan????

"Kenapa????

"Apa kurangku????

Haris menghambur ketubuh Mutia yang merosot kebawah sambil menutup mata. Mutia menutup wajahnya sambil menangis pilu, lagi dan lagi suaminya itu bermain dengan wanita lain.

"Kapan Ayah akan benar-benar berhenti???

"Kenapa penyakit lamamu itu tidak bisa hilang???

"Bisakah Ayah lihat Bunda seorang???" Suara Mutia melemah.

"Tak bisakah Ayah mengingatku dan anak-anak???

"Aku sudah muak Yah.... Aku lelah bila harus bertahan degan penyakit burukmu itu." Ucap Mutia sambil meremas bajunya sendiri.

"Ayah minta maaf Bun.... Ayah khilaf..." Haris menyesal dan memeluk Mutia erat tak mau melepaskanya.

"Ayah hanya sekali denganya, Ayah akan mengahirinya... kumohon percayalah...." Bujuk Haris sambil mencium kening Mutia.

Jijik itu yang Mutia rasakan ketika mendapat kecupan dari Suaminya itu, bibir yang telah menghianatinya.

Mutia mendorong Haris dan masuk ke kamar mandi membasuh wajahnya dan mencuci bekas Suaminya itu meski dengan derai air mata.

🍁🍁🍁🍁🍁

Mutia keluar dari kamar mandi menghampiri pakaian-pakaiannya lalu memasukkan ke dalam koper-koper untuk di bawa ke kamar bawah. Dia sudah memutuskan untuk tidak bersama Haris lagi, sudah cukup sakit hati yang ia rasakan selama 20 tahun membina rumah tangga dengan suaminya.

Sakit hati yang sudah tertumpuk tumpuk sekian tahun dan toleransi sekian tahun sudah meletus hari ini.

Dia tidak habis pikir kenapa suaminya selalu saja suka berselingkuh, padahal dia sudah berusaha sekuatnya untuk menjadi istri dan ibu yang baik, saking sibuknya mengurus keluarga sampai tidak sempat sekedar kesalon untuk merawat dirinya sendiri.

Saat Sibuk memasukkan baju, tiba-tiba Haris menarik tubuh mutia dan memeluknya erat.

"Bunda mau kemana?"

"Maafin Ayah..."

"Bun... Jangan pergi..." Ada tangis penyesalan dari suara Haris.

"Maafin Bunda Yah, Bunda mau pindah ke kamar bawah." Isak Mutia.

"Ayah tidak mau Bun..." Kata Haris.

"Kita Pisah Ranjang mulai sekarang Yah... pilih Aku atau dia." Jawab Mutia sambil melepas tangan Haris.

Haris terduduk lemas saat memandang Mutia membawa koper keluar dari kamarnya. Dia sadar tidak akan mudah baginya untuk mendapat maaf dari Mutia.

Terpopuler

Comments

Berliy Athena

Berliy Athena

Kalo laki-laki sudah berselingkuh dan diberikan kesempatan ke 2
tapi menyiakan kesempatan ke 2 itu
maka itu tidak akan pernah bisa berubah!..

2025-01-15

1

ALNAZTRA ILMU

ALNAZTRA ILMU

apa. saja sifat kalau sudah bagitu.. pasti susah dihilangkan... bukan senang.. tukang selingkuh, tukang kdrt... red flag tu... hati2.. sekali maaf xbererti .. pasti diulang

2024-12-22

0

Eva Oktarina

Eva Oktarina

inilah laki laki klo udah sekli selingkuh dimaafkan pasti ngulang lagi klo gak dr dlam htinya
dan mudah tergoda si pelakor 😩😩

2024-12-07

1

lihat semua
Episodes
1 Prahara Subuh
2 Penyakit lama
3 Meja Makan
4 Hadiah pahit
5 Amukan Sulung
6 Sesal selalu di akhir
7 Hati yang terluka
8 Serakah
9 Terkunci
10 Pagi
11 Pergi
12 Kehilangan
13 Penyesalan
14 Bertemu
15 Permohonan Haris
16 Tidak bisa
17 Pagi
18 Kedatangan Mertua
19 Bayangan Mutia
20 Permohonan Mertua
21 Kecewa lagi
22 Mengikhlaskan
23 Badai Malam
24 Rumah Sakit
25 Anak-anak pulang
26 Pulang
27 Berjumpa anak-anak
28 Buka puasa pertama
29 Kedatangan Kiara
30 Surat gugatan
31 Amukan Kiara
32 Malam
33 Menengok Kiara
34 Permohonan terakhir
35 Hari pertama dan terakhir
36 Talak
37 Sidang
38 Move on
39 Memenuhi undangan
40 Belanja
41 Malam takbir
42 Di pendopo
43 3 Hari kemudian.
44 Malam indah
45 Undangan
46 Perkelahian
47 Menuju Akad
48 Harapan kosong
49 Rasa yang berbeda
50 Pagi berdua
51 Ujian Atau Karma
52 Apartemen
53 Pertemuan tak terduga
54 Intan
55 Arsya
56 Malam di pendopo
57 Rasa yang hilang
58 Pagi yang hangat
59 Menjadi Kita
60 Berpisah
61 Takdir kah?
62 Pengharapan
63 Kesedihan Mutia
64 Pagi
65 Ini Nyata
66 Sudah seperti Prangko
67 Di kantor
68 Ruang Haris
69 Kumat
70 Intan
71 Menengok Haris
72 cemburu
73 Kiara
74 Kau Cantik Malam ini
75 Haris pingsan
76 Rumah Utama Arsya
77 Sesa
78 USG
79 Proktektifnya Arsya
80 Perkara Biru Atau Hijau
81 Kesepian Haris
82 Raga kosong
83 Lumuran Dosa
84 Sensitifnya Bumil
85 Kontraksi
86 Lahiran
87 Baby Zayn
88 Cerita Pagi hari
89 Kedatangan Haris
90 Lima tahun kemudian
91 pengumuman
92 pengumuman
93 Pengumuman Novel Intan
94 Curahan hati author
95 Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96 pengumuman
97 pengumuman zia
98 Pengumuman Zea
99 pengumuman
100 Pengumuman
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Prahara Subuh
2
Penyakit lama
3
Meja Makan
4
Hadiah pahit
5
Amukan Sulung
6
Sesal selalu di akhir
7
Hati yang terluka
8
Serakah
9
Terkunci
10
Pagi
11
Pergi
12
Kehilangan
13
Penyesalan
14
Bertemu
15
Permohonan Haris
16
Tidak bisa
17
Pagi
18
Kedatangan Mertua
19
Bayangan Mutia
20
Permohonan Mertua
21
Kecewa lagi
22
Mengikhlaskan
23
Badai Malam
24
Rumah Sakit
25
Anak-anak pulang
26
Pulang
27
Berjumpa anak-anak
28
Buka puasa pertama
29
Kedatangan Kiara
30
Surat gugatan
31
Amukan Kiara
32
Malam
33
Menengok Kiara
34
Permohonan terakhir
35
Hari pertama dan terakhir
36
Talak
37
Sidang
38
Move on
39
Memenuhi undangan
40
Belanja
41
Malam takbir
42
Di pendopo
43
3 Hari kemudian.
44
Malam indah
45
Undangan
46
Perkelahian
47
Menuju Akad
48
Harapan kosong
49
Rasa yang berbeda
50
Pagi berdua
51
Ujian Atau Karma
52
Apartemen
53
Pertemuan tak terduga
54
Intan
55
Arsya
56
Malam di pendopo
57
Rasa yang hilang
58
Pagi yang hangat
59
Menjadi Kita
60
Berpisah
61
Takdir kah?
62
Pengharapan
63
Kesedihan Mutia
64
Pagi
65
Ini Nyata
66
Sudah seperti Prangko
67
Di kantor
68
Ruang Haris
69
Kumat
70
Intan
71
Menengok Haris
72
cemburu
73
Kiara
74
Kau Cantik Malam ini
75
Haris pingsan
76
Rumah Utama Arsya
77
Sesa
78
USG
79
Proktektifnya Arsya
80
Perkara Biru Atau Hijau
81
Kesepian Haris
82
Raga kosong
83
Lumuran Dosa
84
Sensitifnya Bumil
85
Kontraksi
86
Lahiran
87
Baby Zayn
88
Cerita Pagi hari
89
Kedatangan Haris
90
Lima tahun kemudian
91
pengumuman
92
pengumuman
93
Pengumuman Novel Intan
94
Curahan hati author
95
Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96
pengumuman
97
pengumuman zia
98
Pengumuman Zea
99
pengumuman
100
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!