Kehilangan

"Bun.... Air Hangat sudah siap belum .."

"Siapin ya... Ayah mau mandi..."

Haris meminta Mutia menyiapkan air hangat untuk dirinya mandi pagi ini. Semalam begitu menggelora dirinya, setelah lama tidak menguasai Mutia ternyata rasanya begitu indah dan candu.

Meski dengan Isak tangis Mutia malam tadi namun mungkin karena semenjak mengenal Kiara dirinya sudah tidak menyentuh Mutia jadi rasanya berbeda.

Dulu sebelum mengenal Kiara, Mutia nampak membosankan di matanya, namun semalam terasa berbeda begitu nikmat dan indah, rasanya ingin sekali mengulang apa yang semalam di rasakannya.

"Bun..." Panggil Haris.

"Bun... Udah siap belum, mandi bareng yuk..."

Panggil Haris pada Mutia dengan mata yang masih terpejam, Haris mengambil guling di sisinya lalu memeluknya, sisa keringat Mutia juga parfumnya masih menempel di sana, membangunkan sesuatu yang tertidur di bawah, ulasan semalam membangunkan hasratnya.

" Kenapa aromamu menggoda sih Bun..." Kata Haris sambil tersenyum memeluk erat gulingnya.

Haris menunggu beberapa waktu namun saat tersadar tidak ada gerakan atau suara gemericik air di kamar mandi Dia pun membuka matanya.

"Bunda... Bunda..." Panggil Haris memastikan.

Haris menyapukan pandangan, tidak ada siapapun, lalu melihat ke pintu kamar nampak kunci kamar menggantung di sana, Dia pun tersadar apa yang sesungguhnya terjadi semalam.

"Astaga... Shitttt" Harus menjambak rambutnya saat sadar sepenuhnya.

Haris bangkit dengan polosnya lalu berlalu ke Kamar Mandi. Di kamar mandi juga tersisa aroma tubuh Mutia isterinya yang entah kenapa selalu membangunkan hasratnya.

Setelah mandi Haris keluar untuk memaksimalkan baju kerjanya di ruang ganti. Tidak ada baju Mutia sama sekali di sana hanya baju semalam yang terongkok di bak sampah. Haris memungutnya lalu membawanya ke keranjang cucian beserta memunguti baju berserakan miliknya yang ada di kamar.

Mata Haris menangkap kertas putih di atas meja lalu menghampirinya. Dadanya terasa bergemuruh penuh dengan detak tak beraturan, bercampur rasa sedih, kecewa dan amarah yang menyatu di dalamnya.

Assalamualaikum...

Untuk Mas Haris

Maaf... Aku pergi.

Mungkin ini memang sudah suratan di Langit.

Usia rumah tangga kita mungkin memang hanya sampai di sini, ternyata Allah tidak menggariskan kita bisa berjalan sampai di janah-Nya.

Maaf aku tidak bisa terus berada di sisimu.

Kami pergi, semoga Engkau Bahagia.

Haris menggebrak meja itu lalu meremas kertas surat peninggalan Mutia yang ia tulis untuknya. Haris berlari keluar kamar, nampak sepi, semua orang yang ada di dalam Rumah tidak ada.

Haris masuk kedalam kamar anak-anaknya dan semuanya bersih tanpa sisa. Bahkan foto keluarga yang biasanya ada di meja masing-masing kamar anak-anaknya juga tidak ada.

Haris menuju ke lemari pakaian dan di sana semuanya kosong. Haris terduduk di lantai menahan sesak di dada, lalu dengan sedikit harapan Dia menuju ke kamar si sulung.

Haris sudah tidak punya semangat lagi, Dia hanya punya sedikit harapan, berharap Intan tinggal karena Intan yang paling dekat dengan dirinya meski kadang meluap-luap anaknya.

Haris masuk ke kamar di sana masih ada foto keluarga, ada sedikit perasaan lega di hatinya, lalu membuka lemari masih ada pakaian di dalamnya.

Haris ingin mengambil foto keluarganya yang masih tersisa di meja, namun saat sudah dekat Haris menemukan amplop warna abu-abu di sana, Haris pun mengambil dan membacanya.

Assalamualaikum

Ayah...

Saat ayah menemukan surat ini, itu tandanya kami semua sudah tidak ada di sisi Ayah lagi. Ayah memang yang membuat kami bisa Lahir di dunia. Terimakasih karena mu Aku bisa memiliki Bunda sehebat Bunda Mutia. Terimakasih juga karena mu kami tidak akan lagi memimpikan seorang Ayah.

Seperti kenangan yang ada di kamarku, Semua akan menjadi kenangan pahit.

Jaga dirimu.

Haris luruh dan lemas di lantai seketika, Air matanya mengalir, dadanya terasa sakit sekali hingga susah bernafas. Sesakit ini rasanya ternyata jika di tinggalkan orang-orang yang amat dia cintai.

****

Mohon tinggalkan jejak ya ...

😭 like, komen dan vote juga Favoritnya...

🙏🙏🙏🙏🙏🌷🌷🌷🌷

Terpopuler

Comments

Neulis Saja

Neulis Saja

pelakor itu hanya mau ketika kamu bergelimang harta setelah tak punya apa2 apakah msh survive ?

2024-12-01

0

Rokhmi Nur Hidayati

Rokhmi Nur Hidayati

itulah hasil yg dituwainya dan penyesalan tidak akan dirasakan sblm dilakukan/kejadian

2025-01-05

0

Akun Saya

Akun Saya

salam kenal Thor...
lagi baca maraton...😭😭 lagi nyesek nyesek nyaaa

2024-11-04

1

lihat semua
Episodes
1 Prahara Subuh
2 Penyakit lama
3 Meja Makan
4 Hadiah pahit
5 Amukan Sulung
6 Sesal selalu di akhir
7 Hati yang terluka
8 Serakah
9 Terkunci
10 Pagi
11 Pergi
12 Kehilangan
13 Penyesalan
14 Bertemu
15 Permohonan Haris
16 Tidak bisa
17 Pagi
18 Kedatangan Mertua
19 Bayangan Mutia
20 Permohonan Mertua
21 Kecewa lagi
22 Mengikhlaskan
23 Badai Malam
24 Rumah Sakit
25 Anak-anak pulang
26 Pulang
27 Berjumpa anak-anak
28 Buka puasa pertama
29 Kedatangan Kiara
30 Surat gugatan
31 Amukan Kiara
32 Malam
33 Menengok Kiara
34 Permohonan terakhir
35 Hari pertama dan terakhir
36 Talak
37 Sidang
38 Move on
39 Memenuhi undangan
40 Belanja
41 Malam takbir
42 Di pendopo
43 3 Hari kemudian.
44 Malam indah
45 Undangan
46 Perkelahian
47 Menuju Akad
48 Harapan kosong
49 Rasa yang berbeda
50 Pagi berdua
51 Ujian Atau Karma
52 Apartemen
53 Pertemuan tak terduga
54 Intan
55 Arsya
56 Malam di pendopo
57 Rasa yang hilang
58 Pagi yang hangat
59 Menjadi Kita
60 Berpisah
61 Takdir kah?
62 Pengharapan
63 Kesedihan Mutia
64 Pagi
65 Ini Nyata
66 Sudah seperti Prangko
67 Di kantor
68 Ruang Haris
69 Kumat
70 Intan
71 Menengok Haris
72 cemburu
73 Kiara
74 Kau Cantik Malam ini
75 Haris pingsan
76 Rumah Utama Arsya
77 Sesa
78 USG
79 Proktektifnya Arsya
80 Perkara Biru Atau Hijau
81 Kesepian Haris
82 Raga kosong
83 Lumuran Dosa
84 Sensitifnya Bumil
85 Kontraksi
86 Lahiran
87 Baby Zayn
88 Cerita Pagi hari
89 Kedatangan Haris
90 Lima tahun kemudian
91 pengumuman
92 pengumuman
93 Pengumuman Novel Intan
94 Curahan hati author
95 Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96 pengumuman
97 pengumuman zia
98 Pengumuman Zea
99 pengumuman
100 Pengumuman
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Prahara Subuh
2
Penyakit lama
3
Meja Makan
4
Hadiah pahit
5
Amukan Sulung
6
Sesal selalu di akhir
7
Hati yang terluka
8
Serakah
9
Terkunci
10
Pagi
11
Pergi
12
Kehilangan
13
Penyesalan
14
Bertemu
15
Permohonan Haris
16
Tidak bisa
17
Pagi
18
Kedatangan Mertua
19
Bayangan Mutia
20
Permohonan Mertua
21
Kecewa lagi
22
Mengikhlaskan
23
Badai Malam
24
Rumah Sakit
25
Anak-anak pulang
26
Pulang
27
Berjumpa anak-anak
28
Buka puasa pertama
29
Kedatangan Kiara
30
Surat gugatan
31
Amukan Kiara
32
Malam
33
Menengok Kiara
34
Permohonan terakhir
35
Hari pertama dan terakhir
36
Talak
37
Sidang
38
Move on
39
Memenuhi undangan
40
Belanja
41
Malam takbir
42
Di pendopo
43
3 Hari kemudian.
44
Malam indah
45
Undangan
46
Perkelahian
47
Menuju Akad
48
Harapan kosong
49
Rasa yang berbeda
50
Pagi berdua
51
Ujian Atau Karma
52
Apartemen
53
Pertemuan tak terduga
54
Intan
55
Arsya
56
Malam di pendopo
57
Rasa yang hilang
58
Pagi yang hangat
59
Menjadi Kita
60
Berpisah
61
Takdir kah?
62
Pengharapan
63
Kesedihan Mutia
64
Pagi
65
Ini Nyata
66
Sudah seperti Prangko
67
Di kantor
68
Ruang Haris
69
Kumat
70
Intan
71
Menengok Haris
72
cemburu
73
Kiara
74
Kau Cantik Malam ini
75
Haris pingsan
76
Rumah Utama Arsya
77
Sesa
78
USG
79
Proktektifnya Arsya
80
Perkara Biru Atau Hijau
81
Kesepian Haris
82
Raga kosong
83
Lumuran Dosa
84
Sensitifnya Bumil
85
Kontraksi
86
Lahiran
87
Baby Zayn
88
Cerita Pagi hari
89
Kedatangan Haris
90
Lima tahun kemudian
91
pengumuman
92
pengumuman
93
Pengumuman Novel Intan
94
Curahan hati author
95
Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96
pengumuman
97
pengumuman zia
98
Pengumuman Zea
99
pengumuman
100
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!