Bertemu

Delapan bulan berlalu.

Sudah berhari-hari berlalu dan Minggu berlalu Haris tidak pulang ke rumah utama, waktunya habis untuk bekerja dan bekerja, pulang ke Rumah yang ia beli untuk Kiara setelah malam tiba.

Orang-orang yang di suruh olehnya untuk mencari Mutia dan anak-anaknya tidak juga memberi kabar, jika di tanya selalu saja bilang tidak ketemu.

Malam ini Haris sengaja tidak segera pulang ke Rumah Kiara dia sengaja berkeliling menyusuri tempat-tempat kenangannya bersama Mutia dan anak-anaknya dulu.

Haris berhenti di Masjid Syuhada memarkirkan mobil di sana, menarik nafasnya pelan, sudah lama dia tidak singgah ke Masjid ini, dulu sering sekali jika di paksa mengantarkan Istri dan anak-anaknya untuk mengikuti kajian umum di sana.

Pandangan Haris menyapu ke semua sudut hingga tak terasa matanya melihat ke sisi serambi perempuan seperti melihat wajah Mutia berbalut mukena hendak melaksanakan Shalat.

Haris turun dari mobilnya lalu buru-buru berjalan ke sana dan mengintip dari celah jendela. Mata Haris mengembun di sana benar-benar Mutia istrinya yang tengah Khusyuk beribadah pada Rabb-Nya.

Sebulan tidak melihat Mutia terasa kurang hidupnya, terasa kosong hatinya, sudah dia usahakan untuk tidak terlalu memikirkannya dengan gila kerja nyatanya wajah Mutia yang terluka terakhir kali yang selalu berada di bayangannya.

Wajah cantik yang tidak menua meski sudah memiliki empat anak itu, kini sedikit kurus namun justru membuat Dia kembali lebih muda dari usiannya.

Air wudhu yang masih menempel di wajahnya bercahaya terkena sinar lampu di atasnya membuat wajahnya yang tanpa make up itu begitu ayu menawan.

Nampak Mutia melepas mukenanya, Jilbab Syar'i yang selalu di pakainya nampak begitu cantik membungkus tubuhnya yang terjaga. Mutia memakai kaus kakinya, kulit putihnya terpampang begitu bersih membuat desiran pada diri Haris yang merindu.

Bayangan tubuh istrinya saat tanpa memakai penutup berkelebat dalam fikirnya, membuat Dia bersyukur karena istrinya selalu menutup seluruh tubuhnya yang berharga itu.

Seperti tamparan yang keras pada diri Haris apa yang barusan terlintas dalam otaknya, ternyata benar dirinya yang tidak tau diri, dulu sering merasa bosan saat istrinya selalu berpenampilan tertutup, dan sekarang dia tersadar, seandainya tubuh itu terbuka seperti Kiara mungkin sudah banyak orang yang akan tergoda, namun anehnya dia sempat merasa bosan dan mencari kesenangan yang lain.

Sudut mata Haris mengalir air mata, ingin dia segera berlari dan memeluk Mutia, namun karena ini di Masjid, Haris tidak mau membuat keributan di tempat ibadah.

****

Mutia sudah selesai shalat Isyak, barusan Dia pulang dari butik dan mampir shalat di masjid, sengaja pulang malam, karena Anak-anak sedang berlibur ke Jakarta ikut Opa dan Omanya. Anak-anak meminta liburan ke rumah Orangtuanya dari Haris suaminya, sementara dia sendiri sudah tidak punya orang tua.

Kedua orang tua Mutia sudah lama meninggal dunia, jadi sudah tidak punya tempat pulang atau mengadu bila memiliki banyak masalah. Hanya dengan mengadu kepada Allah lah yang bisa Mutia lakukan setiap harinya.

Mutia masuk kedalam mobil lalu melaju ke rumahnya, sampai di rumah Mutia di sambut oleh sepi dan hampa, karena Anak-anaknya sedang tidak ada semua.

Mutia tidak memiliki penjaga dan pembantu, sengaja dia lakukan karena ingin berhemat untuk mengurus semua anak-anaknya. Karena semuanya membutuhkan biaya besar, sedang uangnya sebagian besar sudah dia investasikan untuk membangun kebun buah, kebun sayur dan kebun bunga di sebelah Rumahnya.

Saat Mutia duduk hendak makan di ruang makan tiba-tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang.

"Aaaa... Astaghfirullah..." Teriak Mutia terkejut.

Namun sesaat Mutia mengenali parfum yang dulu selalu membuat dirinya merasa nyaman dan damai. Tapi itu dulu, sekarang parfum itu sudah seperti racun di hidungnya sehingga segera Mutia melepaskan pelukan tangan itu dari pinggangnya.

"Mas Haris.... Kenapa kamu bisa ada di sini???" Tanya Mutia waspada lalu mulai memundurkan dirinya.

"Aku lapar Sayang... Ayah Rindu Bunda..."Kata Haris lalu duduk di meja makan, tanpa ijin Haris memakan makanan yang ingin di makan Mutia tadi.

Haris memakan makanan itu dengan lahapnya, nampak sekali kelaparan sehingga semua makanan tadi lekas tandas, di pipinya mengalir air mata tanpa henti.

Haris begitu merindukan makanan buatan istri pertamanya ini, sudah hampir satu bulan makanan yang masuk ke tenggorokan tidak terasa makanan di lidahnya. Apa lagi di rumah Kiara tidak ada makanan yang layak di bilang makanan meskipun Istri keduanya itu berusaha memasak dengan sebisanya.

Mutia memandang laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu dengan wajah terkejut, kenapa bisa laki-laki itu bisa menemukan tempat tinggalnya dan kenapa Mutia bisa tidak menyadari ada orang masuk ke Rumahnya.

Ada perasaan tidak tega saat menyaksikan wajah Haris yang begitu menyedihkan, akhirnya pun Mutia ke dapur dan membuatkan Kopi yang biasa dia buatkan untuk Haris suaminya itu.

"Bila sudah kenyang, mohon maaf bisa tinggalkan Rumah saya." Kata Mutia sambil menunduk dan meletakkan Kopi di depan Haris.

"Anak-anak kemana Bun... Ayah Rindu mereka..." Tanya Haris tidak menghiraukan ucapan Mutia.

"Mereka berlibur kerumah Opa dan Oma..."Jawab Mutia lalu mengambil makanan untuk dia makan sendiri.

Haris menikmati kopi yang selalu pas di lidahnya itu, kopi yang tidak bisa di buatkan oleh siapapun kecuali Mutia istri pertamanya.

Sementara Mutia menikmati makanan yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Haris. Mutia menunduk selalu tidak mau melihat wajah Haris yang membuat hatinya mengingat luka yang belum kering itu.

Setelah makan selesai Mutia membereskan Meja makan, mencuci semua bekas makan mereka ke wastafel. Mutia menoleh ke belakang dan sudah tidak ada Haris di sana. Mutiapun bisa bernafas lega, berarti Harus benar-benar telah pergi dari Rumahnya.

Terpopuler

Comments

sri wahyuni

sri wahyuni

katanya 8 bulan telah berlalu kok malah sebulan thor🤦

2025-02-09

1

Rokhmi Nur Hidayati

Rokhmi Nur Hidayati

hati" maling ga' mungkin omong/izin yg akan dicuri🤭akalnya seperti belut panjang licin

2025-01-05

1

Neulis Saja

Neulis Saja

katanya 8 bulan tdk bertemu thor, tapi malah diceritakan 1 bulan bgmn Thor? yg benernya yg mana?

2024-12-01

1

lihat semua
Episodes
1 Prahara Subuh
2 Penyakit lama
3 Meja Makan
4 Hadiah pahit
5 Amukan Sulung
6 Sesal selalu di akhir
7 Hati yang terluka
8 Serakah
9 Terkunci
10 Pagi
11 Pergi
12 Kehilangan
13 Penyesalan
14 Bertemu
15 Permohonan Haris
16 Tidak bisa
17 Pagi
18 Kedatangan Mertua
19 Bayangan Mutia
20 Permohonan Mertua
21 Kecewa lagi
22 Mengikhlaskan
23 Badai Malam
24 Rumah Sakit
25 Anak-anak pulang
26 Pulang
27 Berjumpa anak-anak
28 Buka puasa pertama
29 Kedatangan Kiara
30 Surat gugatan
31 Amukan Kiara
32 Malam
33 Menengok Kiara
34 Permohonan terakhir
35 Hari pertama dan terakhir
36 Talak
37 Sidang
38 Move on
39 Memenuhi undangan
40 Belanja
41 Malam takbir
42 Di pendopo
43 3 Hari kemudian.
44 Malam indah
45 Undangan
46 Perkelahian
47 Menuju Akad
48 Harapan kosong
49 Rasa yang berbeda
50 Pagi berdua
51 Ujian Atau Karma
52 Apartemen
53 Pertemuan tak terduga
54 Intan
55 Arsya
56 Malam di pendopo
57 Rasa yang hilang
58 Pagi yang hangat
59 Menjadi Kita
60 Berpisah
61 Takdir kah?
62 Pengharapan
63 Kesedihan Mutia
64 Pagi
65 Ini Nyata
66 Sudah seperti Prangko
67 Di kantor
68 Ruang Haris
69 Kumat
70 Intan
71 Menengok Haris
72 cemburu
73 Kiara
74 Kau Cantik Malam ini
75 Haris pingsan
76 Rumah Utama Arsya
77 Sesa
78 USG
79 Proktektifnya Arsya
80 Perkara Biru Atau Hijau
81 Kesepian Haris
82 Raga kosong
83 Lumuran Dosa
84 Sensitifnya Bumil
85 Kontraksi
86 Lahiran
87 Baby Zayn
88 Cerita Pagi hari
89 Kedatangan Haris
90 Lima tahun kemudian
91 pengumuman
92 pengumuman
93 Pengumuman Novel Intan
94 Curahan hati author
95 Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96 pengumuman
97 pengumuman zia
98 Pengumuman Zea
99 pengumuman
100 Pengumuman
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Prahara Subuh
2
Penyakit lama
3
Meja Makan
4
Hadiah pahit
5
Amukan Sulung
6
Sesal selalu di akhir
7
Hati yang terluka
8
Serakah
9
Terkunci
10
Pagi
11
Pergi
12
Kehilangan
13
Penyesalan
14
Bertemu
15
Permohonan Haris
16
Tidak bisa
17
Pagi
18
Kedatangan Mertua
19
Bayangan Mutia
20
Permohonan Mertua
21
Kecewa lagi
22
Mengikhlaskan
23
Badai Malam
24
Rumah Sakit
25
Anak-anak pulang
26
Pulang
27
Berjumpa anak-anak
28
Buka puasa pertama
29
Kedatangan Kiara
30
Surat gugatan
31
Amukan Kiara
32
Malam
33
Menengok Kiara
34
Permohonan terakhir
35
Hari pertama dan terakhir
36
Talak
37
Sidang
38
Move on
39
Memenuhi undangan
40
Belanja
41
Malam takbir
42
Di pendopo
43
3 Hari kemudian.
44
Malam indah
45
Undangan
46
Perkelahian
47
Menuju Akad
48
Harapan kosong
49
Rasa yang berbeda
50
Pagi berdua
51
Ujian Atau Karma
52
Apartemen
53
Pertemuan tak terduga
54
Intan
55
Arsya
56
Malam di pendopo
57
Rasa yang hilang
58
Pagi yang hangat
59
Menjadi Kita
60
Berpisah
61
Takdir kah?
62
Pengharapan
63
Kesedihan Mutia
64
Pagi
65
Ini Nyata
66
Sudah seperti Prangko
67
Di kantor
68
Ruang Haris
69
Kumat
70
Intan
71
Menengok Haris
72
cemburu
73
Kiara
74
Kau Cantik Malam ini
75
Haris pingsan
76
Rumah Utama Arsya
77
Sesa
78
USG
79
Proktektifnya Arsya
80
Perkara Biru Atau Hijau
81
Kesepian Haris
82
Raga kosong
83
Lumuran Dosa
84
Sensitifnya Bumil
85
Kontraksi
86
Lahiran
87
Baby Zayn
88
Cerita Pagi hari
89
Kedatangan Haris
90
Lima tahun kemudian
91
pengumuman
92
pengumuman
93
Pengumuman Novel Intan
94
Curahan hati author
95
Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96
pengumuman
97
pengumuman zia
98
Pengumuman Zea
99
pengumuman
100
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!