Meja Makan

Subuh sudah berlalu, Mutia sibuk di Kamar bawah menata pakaiannya ke dalam lemari. Setelah usai semua pakaian di tata di keluar kamar dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan anak-anaknya karena sebentar lagi akan berangkat sekolah.

Mutia menyiapkan susu coklat untuk si bungsu dan menyiapkan jus Apel untuk si kakak dan si kembar, tak lupa dia menyeduh kopi susu untuk suami yang sudah menyakitinya, meski hati berontak untuk membuatnya tapi dia tetap membuatnya.

Setelah semua makanan yang di masak selesai dia menata meja makan. Mutia sarapan terlebih dahulu agar tak bertemu Haris.

Intan turun sambil membawa tas di susul Zea dan Zia yang masih saja selalu ribut masalah pakaian, di belakang ada Kean yang belum selesai mengancingkan seragamnya.

Mutia menghampiri Kean dan merapikan pakaian putra bungsunya itu sambil mencium pipinya.

"Kak... Bunda siap-siap dulu ya, kalian sarapan dulu..." Ucap Mutia.

"Bunda ndak ikut sarapan?" Tanya Intan.

"Bunda udah tadi ..." Jawab Mutia lalu masuk ke kamar.

"Bunda kenapa sih Kak?" Tanya Zia.

"Auk...." Jawab Intan malas, namun dalam hati bertanya-tanya kenapa Bundanya tidur di Kamar bawah.

Haris turun langsung menuju meja makan berharap Mutia di sana, namun ternyata tidak ada.

"Kak Bunda mana?" Tanya Haris.

"Mandi Yah..." Jawab Intan sambil mengambil lauk.

"Yah... Ayah berantem lagi sama Bunda?" Tanya Kean polos.

"Uhuk... " Haris tersedak saat minum karena terkejut dengan pertanyaan Si bungsu.

Intan dan si kembar memandang Ayahnya tajam meminta pertanggung jawaban seolah ada sesuatu antara Ayah dan Bundanya.

"Yah..." Intan menatap Haris penuh ancaman.

"Ayah ada rapat pagi ini... kalian hati-hati nanti berangkat sekolahnya." Katanya buru-buru berdiri dan mengambil kunci mobilnya.

Anak-anak semakin yakin bila ada sesuatu di kedua orang tuanya itu. Mereka menyelesaikan makan lalu bersiap-siap berangkat sekolah. Zea dan Zia bareng Intan naik mobil sementara Kean nanti di antar Bundanya.

Mutia keluar dari kamar membereskan meja makan, lalu menaruhnya di wastafel. Dari belakang Intan datang menatap Bundanya dalam, rupanya barusan dia masuk ke kamar bawah tempat Bundanya tidur dan melihat lemari penuh pakaian Bundanya itu.

"Bun..." Kata Intan sambil duduk di kursi.

"Kenapa Bunda pindah kamar di bawah tidak sama Ayah di atas?" Tanya Intan.

"Bunda kalau di atas capek naik turun mberesin rumah belum lagi kalau masak Kak... " Bohong Mutia.

"Bunda Udah tua Kak, Kamu juga udah sebesar itu, tak terasa ya... " Mutia mengalihkan pembicaraan.

"Jangan bohong Bun... Ayah kumat lagi ya???" Intan mulai tersungut menahan emosinya.

"Heran... Apa sih kurangnya Bunda??? Kenapa Ayah dari dulu ndak berubah!!!" Intan mulai marah.

"Kak... nanti adek-adekmu dengar... jangan teriak-triak gitu..." Mutia menenangkan Intan meski matanya sudah berkaca-kaca.

Mutia paham betul sikap Intan yang keras dan tempramen itu jika sudah menyangkut sikap Ayahnya itu. Karena Intan sudah besar dan masih ingat kala Bundanya dan si kembar masih kecil keluar dari rumah gara-gara Ayahnya selingkuh dan memilih selingkuhanya di banding mereka.

Ingatan sikap buruk Ayahnya yang dulu selalu terputar di kepalanya, membuat dia tidak punya rasa takut pada Ayahnya dan mengeraskan hatinya.

"Bunda tidak apa-apa Kak..." Kata Mutia memeluk Intan.

"Jangan Bunda pendam sendiri rasa sakit itu. Intan ndak Mau kalau Bunda sakit." Kata Intan parau.

"Bunda kuat Kak... Udah gih... tu di tungguin Zea sama Zia." Kata Mutia.

Dan benar saja suara cemreng si kembar sudah terdengar memanggil Kakaknya.

"Kakkkkk Buruannnn." Triak mereka bareng.

Terpopuler

Comments

Neulis Saja

Neulis Saja

intan, kamu hrs menjadi orang yg bisa dibanggakan oleh orang tuamu walau ayahmu tdk utk ditiru tapi kamu hrs bisa membanggakan ibumu kalau bisa kuliahnya cepat selesai kemudian kerja dan biayai adik2mu keluar dari rumah itu karena tdk ada yg bisa diharapkan lagi kalau udah berkali2 melakukan perselingkuhannya

2024-11-27

0

Wandi Fajar Ekoprasetyo

Wandi Fajar Ekoprasetyo

berikan semangat bunda mu Intan....jadilah ana yg berbakti dan KK yg baik....jadilah pembela bunda dan adik² mu

2025-01-24

0

Wandi Fajar Ekoprasetyo

Wandi Fajar Ekoprasetyo

berikan semangat bunda mu Intan....jadilah ana yg berbakti dan KK yg baik....jadilah pembela bunda dan adik² mu

2025-01-24

0

lihat semua
Episodes
1 Prahara Subuh
2 Penyakit lama
3 Meja Makan
4 Hadiah pahit
5 Amukan Sulung
6 Sesal selalu di akhir
7 Hati yang terluka
8 Serakah
9 Terkunci
10 Pagi
11 Pergi
12 Kehilangan
13 Penyesalan
14 Bertemu
15 Permohonan Haris
16 Tidak bisa
17 Pagi
18 Kedatangan Mertua
19 Bayangan Mutia
20 Permohonan Mertua
21 Kecewa lagi
22 Mengikhlaskan
23 Badai Malam
24 Rumah Sakit
25 Anak-anak pulang
26 Pulang
27 Berjumpa anak-anak
28 Buka puasa pertama
29 Kedatangan Kiara
30 Surat gugatan
31 Amukan Kiara
32 Malam
33 Menengok Kiara
34 Permohonan terakhir
35 Hari pertama dan terakhir
36 Talak
37 Sidang
38 Move on
39 Memenuhi undangan
40 Belanja
41 Malam takbir
42 Di pendopo
43 3 Hari kemudian.
44 Malam indah
45 Undangan
46 Perkelahian
47 Menuju Akad
48 Harapan kosong
49 Rasa yang berbeda
50 Pagi berdua
51 Ujian Atau Karma
52 Apartemen
53 Pertemuan tak terduga
54 Intan
55 Arsya
56 Malam di pendopo
57 Rasa yang hilang
58 Pagi yang hangat
59 Menjadi Kita
60 Berpisah
61 Takdir kah?
62 Pengharapan
63 Kesedihan Mutia
64 Pagi
65 Ini Nyata
66 Sudah seperti Prangko
67 Di kantor
68 Ruang Haris
69 Kumat
70 Intan
71 Menengok Haris
72 cemburu
73 Kiara
74 Kau Cantik Malam ini
75 Haris pingsan
76 Rumah Utama Arsya
77 Sesa
78 USG
79 Proktektifnya Arsya
80 Perkara Biru Atau Hijau
81 Kesepian Haris
82 Raga kosong
83 Lumuran Dosa
84 Sensitifnya Bumil
85 Kontraksi
86 Lahiran
87 Baby Zayn
88 Cerita Pagi hari
89 Kedatangan Haris
90 Lima tahun kemudian
91 pengumuman
92 pengumuman
93 Pengumuman Novel Intan
94 Curahan hati author
95 Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96 pengumuman
97 pengumuman zia
98 Pengumuman Zea
99 pengumuman
100 Pengumuman
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Prahara Subuh
2
Penyakit lama
3
Meja Makan
4
Hadiah pahit
5
Amukan Sulung
6
Sesal selalu di akhir
7
Hati yang terluka
8
Serakah
9
Terkunci
10
Pagi
11
Pergi
12
Kehilangan
13
Penyesalan
14
Bertemu
15
Permohonan Haris
16
Tidak bisa
17
Pagi
18
Kedatangan Mertua
19
Bayangan Mutia
20
Permohonan Mertua
21
Kecewa lagi
22
Mengikhlaskan
23
Badai Malam
24
Rumah Sakit
25
Anak-anak pulang
26
Pulang
27
Berjumpa anak-anak
28
Buka puasa pertama
29
Kedatangan Kiara
30
Surat gugatan
31
Amukan Kiara
32
Malam
33
Menengok Kiara
34
Permohonan terakhir
35
Hari pertama dan terakhir
36
Talak
37
Sidang
38
Move on
39
Memenuhi undangan
40
Belanja
41
Malam takbir
42
Di pendopo
43
3 Hari kemudian.
44
Malam indah
45
Undangan
46
Perkelahian
47
Menuju Akad
48
Harapan kosong
49
Rasa yang berbeda
50
Pagi berdua
51
Ujian Atau Karma
52
Apartemen
53
Pertemuan tak terduga
54
Intan
55
Arsya
56
Malam di pendopo
57
Rasa yang hilang
58
Pagi yang hangat
59
Menjadi Kita
60
Berpisah
61
Takdir kah?
62
Pengharapan
63
Kesedihan Mutia
64
Pagi
65
Ini Nyata
66
Sudah seperti Prangko
67
Di kantor
68
Ruang Haris
69
Kumat
70
Intan
71
Menengok Haris
72
cemburu
73
Kiara
74
Kau Cantik Malam ini
75
Haris pingsan
76
Rumah Utama Arsya
77
Sesa
78
USG
79
Proktektifnya Arsya
80
Perkara Biru Atau Hijau
81
Kesepian Haris
82
Raga kosong
83
Lumuran Dosa
84
Sensitifnya Bumil
85
Kontraksi
86
Lahiran
87
Baby Zayn
88
Cerita Pagi hari
89
Kedatangan Haris
90
Lima tahun kemudian
91
pengumuman
92
pengumuman
93
Pengumuman Novel Intan
94
Curahan hati author
95
Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96
pengumuman
97
pengumuman zia
98
Pengumuman Zea
99
pengumuman
100
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!