Hadiah pahit

Mutia kehabisan setok bahan di dapur, kulkas sudah kosong, hari ini dia berencana untuk belanja ke Mall.

Anak-anak tengah sekolah, dia akan belanja sebelum menjemput Kean.

Mobil Mutia melaju di jalanan, entah kenapa perasaan dia semakin tidak enak, dia bingung harus bertahan atau berpisah, jika di tanya cinta tidakkah dia pada suaminya tentu saja cinta, kalau tak cinta bagaimana dia bisa bertahan dan melahirkan 4 anak yang sangat di cintainya. Namun seberapa besar cinta itu, dia tidak bisa mengatakan besar karena sering suaminya menghianatinya.

Tak terasa mobil sudah sampai di Mall dia masuk ke area parkir lalu turun. Ketika mutia melewati restoran tiba-tiba dia terkejut mendapati Haris duduk di sana dengan perempuan lebih muda darinya, di lihat dari pakaiannya saat terbuka, perempuan itu nampak bergelayut manja di lengan Haris, dan parahnya suaminya itu nampak bahagia.

Dada Mutia bergemuruh, tangannya terasa gemetar kakinya lemas untuk melangkah, air matanya sudah mau membobol pertahanan.

Pelayan nampak menyampaikan pesanan mereka , Haris dan perempuan itu makan bersama, sesekali perempuan itu menyuapi Haris dengan mesrahnya, Mutia berdiri di tempatnya tidak bisa bergerak semua kekuatan dalam dirinya terasa hilang.

Setelah makan Haris dan perempuan itu berdiri untuk pergi, Haris menaruh tangannya di pinggang perempuan itu sambil membisikan sesuatu di telinganya, entah apa yang dia katakan, namun itu membuat si perempuan tersenyum bahagia lalu mengecup pipi Haris.

Di depan pintu Mutia bersandar pada dinding memandang tepat ke wajah suaminya, kecewa, sedih, sakit hati dan marah bermuara di matanya.

Haris terkejut saat melihat Mutia di sana dengan tatapan yang sangat menakutkan juga memilukan. Haris melepas tangannya dari pinggang perempuan itu, wajahnya gugup dan pucat. Sementara perempuan di sisinya nampak bingung dengan perubahan Haris.

Mutia melangkah pelan ke arah mereka, berusaha tersenyum meski pahit, Haris berhenti dengan kaku dan gugub.

"Hay Mbak..." Katanya mengulurkan tangannya pada perempuan di sebelah Haris.

"Anda siapa?" Tanya perempuan itu sambil menyambut tangan Mutia.

"Saya Mutia istri Mas Haris yang ada di sisimu." Kata Mutia.

"Bun... emh..." Haris mencoba menjelaskan namun di potong oleh Mutia.

"Cukup Yah, aku hanya akan memastikan sendiri..." Jawabnya.

"Bisa kita kesana, saya tidak enak di lihat orang..." Mutia menarik tangan perempuan itu.

Mereka pun duduk di dalam restoran, semuanya membisu tidak ada yang bicara.

"Bisa Anda jelaskan ada hubungan apa Anda dengan suami saya?" Mulai Mutia.

Perempuan itu menatap Haris meminta persetujuan, namun Haris hanya membisu.

"Sudah berapa lamakah hubungan kalian?" Tanya Mutia.

Namun keduanya membisu, wajah Haris memucat, tertangkap seperti ini membuat dia tidak bisa beralasan.

"Saya tidak akan marah, silahkan Anda jelaskan." Kata Mutia mencoba bersikap tenang.

"Saya dan Mas Haris sudah menikah." Jawab perempuan itu pelan.

"Kapan?" Tanya Mutia lagi ada gurat kecewa di wajahnya.

"6 bulan yang lalu..." Jawab si perempuan.

"Dimana?" Tanya Mutia sambil meremas bajunya.

"Di Bali, kami nikah siri di sana..." Jawab si perempuan itu tanpa malu.

Ada sebutir air mata lolos di sudut mata Mutia yang lolos dari pertahanannya, luka di hatinya semakin menganga.

"Bun... Maafin Ayah, dia istriku juga, Kiara namanya, saya harap Bunda menerima hubungan kami." Akhirnya Haris memberanikan diri berucap.

"Jika Bunda mengijinkan Ayah ingin menikahinya secara legal..." Lanjutnya.

"Jahat kamu ya Yah." Suara Mutia parau menahan tangis.

"Pilih Bunda dan anak-anak atau dia?" Mutia meremas jarinya.

"Kalian sama-sama berharga Bun... Ayah tak bisa memilih di antara kalian." Haris menunduk.

"Baik saya anggap Ayah memilih dia, Bunda akan urus perceraian kita!" Mutia geram, lalu berdiri dan pergi dari hadapan keduanya.

Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang namun hadiah pahit yang di dapat dari suaminya membuat hatinya semakin terluka. Sepanjang perjalanan Mutia berderai air mata, air mata yang di tahannya sudah tak bisa dia tahan lagi.

Terpopuler

Comments

Reni Fitria Mai

Reni Fitria Mai

Bagus Mutia jangan kita sebagai perempuan di angap lemah lihat kan kamu bisa hidup dg anak2 yg begitu cantik, pelakor tidak akan tenang dg do'a istri yg teraniaya Mutia 😭

2024-12-29

0

Neulis Saja

Neulis Saja

good joblah Mutia utk apa survive with your husband if there is betrayal in it ✊

2024-11-27

1

Ita Zarah

Ita Zarah

itu lebih baik mutia.

dari pd tersakiti terus

2024-12-09

0

lihat semua
Episodes
1 Prahara Subuh
2 Penyakit lama
3 Meja Makan
4 Hadiah pahit
5 Amukan Sulung
6 Sesal selalu di akhir
7 Hati yang terluka
8 Serakah
9 Terkunci
10 Pagi
11 Pergi
12 Kehilangan
13 Penyesalan
14 Bertemu
15 Permohonan Haris
16 Tidak bisa
17 Pagi
18 Kedatangan Mertua
19 Bayangan Mutia
20 Permohonan Mertua
21 Kecewa lagi
22 Mengikhlaskan
23 Badai Malam
24 Rumah Sakit
25 Anak-anak pulang
26 Pulang
27 Berjumpa anak-anak
28 Buka puasa pertama
29 Kedatangan Kiara
30 Surat gugatan
31 Amukan Kiara
32 Malam
33 Menengok Kiara
34 Permohonan terakhir
35 Hari pertama dan terakhir
36 Talak
37 Sidang
38 Move on
39 Memenuhi undangan
40 Belanja
41 Malam takbir
42 Di pendopo
43 3 Hari kemudian.
44 Malam indah
45 Undangan
46 Perkelahian
47 Menuju Akad
48 Harapan kosong
49 Rasa yang berbeda
50 Pagi berdua
51 Ujian Atau Karma
52 Apartemen
53 Pertemuan tak terduga
54 Intan
55 Arsya
56 Malam di pendopo
57 Rasa yang hilang
58 Pagi yang hangat
59 Menjadi Kita
60 Berpisah
61 Takdir kah?
62 Pengharapan
63 Kesedihan Mutia
64 Pagi
65 Ini Nyata
66 Sudah seperti Prangko
67 Di kantor
68 Ruang Haris
69 Kumat
70 Intan
71 Menengok Haris
72 cemburu
73 Kiara
74 Kau Cantik Malam ini
75 Haris pingsan
76 Rumah Utama Arsya
77 Sesa
78 USG
79 Proktektifnya Arsya
80 Perkara Biru Atau Hijau
81 Kesepian Haris
82 Raga kosong
83 Lumuran Dosa
84 Sensitifnya Bumil
85 Kontraksi
86 Lahiran
87 Baby Zayn
88 Cerita Pagi hari
89 Kedatangan Haris
90 Lima tahun kemudian
91 pengumuman
92 pengumuman
93 Pengumuman Novel Intan
94 Curahan hati author
95 Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96 pengumuman
97 pengumuman zia
98 Pengumuman Zea
99 pengumuman
100 Pengumuman
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Prahara Subuh
2
Penyakit lama
3
Meja Makan
4
Hadiah pahit
5
Amukan Sulung
6
Sesal selalu di akhir
7
Hati yang terluka
8
Serakah
9
Terkunci
10
Pagi
11
Pergi
12
Kehilangan
13
Penyesalan
14
Bertemu
15
Permohonan Haris
16
Tidak bisa
17
Pagi
18
Kedatangan Mertua
19
Bayangan Mutia
20
Permohonan Mertua
21
Kecewa lagi
22
Mengikhlaskan
23
Badai Malam
24
Rumah Sakit
25
Anak-anak pulang
26
Pulang
27
Berjumpa anak-anak
28
Buka puasa pertama
29
Kedatangan Kiara
30
Surat gugatan
31
Amukan Kiara
32
Malam
33
Menengok Kiara
34
Permohonan terakhir
35
Hari pertama dan terakhir
36
Talak
37
Sidang
38
Move on
39
Memenuhi undangan
40
Belanja
41
Malam takbir
42
Di pendopo
43
3 Hari kemudian.
44
Malam indah
45
Undangan
46
Perkelahian
47
Menuju Akad
48
Harapan kosong
49
Rasa yang berbeda
50
Pagi berdua
51
Ujian Atau Karma
52
Apartemen
53
Pertemuan tak terduga
54
Intan
55
Arsya
56
Malam di pendopo
57
Rasa yang hilang
58
Pagi yang hangat
59
Menjadi Kita
60
Berpisah
61
Takdir kah?
62
Pengharapan
63
Kesedihan Mutia
64
Pagi
65
Ini Nyata
66
Sudah seperti Prangko
67
Di kantor
68
Ruang Haris
69
Kumat
70
Intan
71
Menengok Haris
72
cemburu
73
Kiara
74
Kau Cantik Malam ini
75
Haris pingsan
76
Rumah Utama Arsya
77
Sesa
78
USG
79
Proktektifnya Arsya
80
Perkara Biru Atau Hijau
81
Kesepian Haris
82
Raga kosong
83
Lumuran Dosa
84
Sensitifnya Bumil
85
Kontraksi
86
Lahiran
87
Baby Zayn
88
Cerita Pagi hari
89
Kedatangan Haris
90
Lima tahun kemudian
91
pengumuman
92
pengumuman
93
Pengumuman Novel Intan
94
Curahan hati author
95
Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96
pengumuman
97
pengumuman zia
98
Pengumuman Zea
99
pengumuman
100
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!