Pagi

Pagi yang amat suram, saat Mutia mandi dengan derai Air Mata semalaman diri dan hatinya tersiksa karena ulah Haris. Haris dengan amarahnya menunjukan sisi kekuasaannya bahwa, selama dirinya belum mengucap kata talak atau cerai maka seluruh diri Mutia adalah Miliknya.

Mutia melihat pantulan dirinya di kaca, betapa dirinya sangat berantakan, seandainya anak-anak melihat wajahnya yang seperti ini tentu anak-anak akan bersedih dan Intan khususnya akan semakin tidak menghargai Ayahnya.

Mutia memberanikan diri keluar dari kamar mandi, subuh belum tiba tapi dirinya sudah terbangun karena seluruh tubuhnya terasa tidak nyaman.

Mutia melihat Haris masih menggulung dirinya di dalam selimut. Haris tertidur dengan nyenyaknya setelah apa yang terjadi pada dirinya semalam.

Mutia mengambil kunci perlahan dari nakas lalu membuka pintu kamar perlahan-lahan agar Haris tidak terbangun.

Mutia memasak makanan untuk sarapan, setelah matang lalu Dia sajikan di atas Meja makan. Selanjutnya seperti hari-hari biasanya Mutia membangunkan semua Anaknya untuk shalat subuh bersama.

Ada yang berbeda pagi ini, Mutia melihat semua anak-anak mudah sekali di bangunkannya, lalu tidak terlalu banyak drama.

Waktu menunjukan pukul 06.00, anak-anaknya semaunya telah selesai bersiap mereka sudah berjajar duduk rapi di meja makan, mengambil makanan tanpa protes, lalu memakan semua makanannya dengan lahap tanpa sisa.

Mutia sedikit bingung dan penasaran apa gerangan yang membuat anak-anak semua menjadi anak yang patuh dan tenang seperti ini.

"Masya Allah... Bunda senang hari ini, Kakak, Zea, Zia dan Kean semuanya hebat hari ini. Terimakasih ya Sayang Bunda semua..."Kata Mutia tersenyum bahagia, meski mata Mutia sembab karena menangis semalaman, Mutia tetap berusaha Bahagia di depan anak-anaknya semua.

"Sudah siap sekolah ya, Bunda antar sekarang?" Tanya Mutia.

"Iya Bun..."Jawab Zea dan di setujui dengan anggukan kepala oleh Zia dan Kean.

"Kakak Bunda yang antar apa berangkat sendiri?" Tanya Mutia pada si sulung.

"Intan berangkat sendiri aja Bun, Nanti sekalian ngantar koper ke rumah Bunda yang baru." Kata Intan.

"Ehm... koper ?? koper siapa??" Mutia terkejut karena setahunya semua koper sudah di pindahkan oleh Haris.

"Koper kita Bun, Bunda tinggal terima beres." Kata Intan sambil tersenyum.

"Kita semua tahu kalau Ayah mengurung bunda semalaman, Kita tidak mau Buda sedih terus menerus, Pumpung Ayah belum bangun Bunda segera pergilah kerumah baru. Koper nanti Intan susulkan, sebagian kecil sudah intan kirim melalui Ojek online semalam, saat Bunda dan Ayah di kamar." Jelas Intan kepada Bundanya.

"Iya Bun, Ayuk kami tidak papa jika Bunda tidak bisa sama-sama terus sama Ayah. Yang penting ada Bunda di sisi kita."Kata Zea parau.

"Iya Bun..." Dukung Zea.

Kean si bungsu hanya mengangguk kepala tanda setuju. Semalaman Intan sudah menceritakan semua yang Dia ketahui kepada Adik-adiknya, Intan memohon kepada Adik-adiknya untuk bersikap dewasa serta menjadi anak yang baik juga patuh terhadap Bundanya.

Semua Anak-anak kecewa pada Ayahnya, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa, mereka masih menyayangi Ayahnya meski sekarang jarang sekali bersama.

Kean si bungsu paling marah saat tau ayahnya menikah lagi, Dia jadi tidak mengidola Ayahnya lagi, karena baginya Ayahnya sudah melukai Bundanya.

Setelah mereka selesai sarapan mereka pun berangkat sekolah , sementara Intan di bantu Mbk Tya asisten Bundanya memindahkan barang-barang Bundanya untuk di bawa ke rumah baru.

****

😭😭😭 kasih like dong...

huhuhu Komentar....

hiks hiks vote...

🥺 favorit dong....

jangan lupa tinggalkan jejak... terimakasih 🤗🙏🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

Rokhmi Nur Hidayati

Rokhmi Nur Hidayati

Alhamdulillah buah hati mendukung 😢kalau sendiri tidak akan bisa mendapatkan harapan yg diinginkan🙄

2025-01-05

0

Tatan Utari

Tatan Utari

Aku sedih, ini cerita nya mirip dgn kehidupan ku/Sob//Sob//Sob/

2025-01-20

0

Hastin71

Hastin71

aku baru baca udah mewek dari awal

2024-12-23

0

lihat semua
Episodes
1 Prahara Subuh
2 Penyakit lama
3 Meja Makan
4 Hadiah pahit
5 Amukan Sulung
6 Sesal selalu di akhir
7 Hati yang terluka
8 Serakah
9 Terkunci
10 Pagi
11 Pergi
12 Kehilangan
13 Penyesalan
14 Bertemu
15 Permohonan Haris
16 Tidak bisa
17 Pagi
18 Kedatangan Mertua
19 Bayangan Mutia
20 Permohonan Mertua
21 Kecewa lagi
22 Mengikhlaskan
23 Badai Malam
24 Rumah Sakit
25 Anak-anak pulang
26 Pulang
27 Berjumpa anak-anak
28 Buka puasa pertama
29 Kedatangan Kiara
30 Surat gugatan
31 Amukan Kiara
32 Malam
33 Menengok Kiara
34 Permohonan terakhir
35 Hari pertama dan terakhir
36 Talak
37 Sidang
38 Move on
39 Memenuhi undangan
40 Belanja
41 Malam takbir
42 Di pendopo
43 3 Hari kemudian.
44 Malam indah
45 Undangan
46 Perkelahian
47 Menuju Akad
48 Harapan kosong
49 Rasa yang berbeda
50 Pagi berdua
51 Ujian Atau Karma
52 Apartemen
53 Pertemuan tak terduga
54 Intan
55 Arsya
56 Malam di pendopo
57 Rasa yang hilang
58 Pagi yang hangat
59 Menjadi Kita
60 Berpisah
61 Takdir kah?
62 Pengharapan
63 Kesedihan Mutia
64 Pagi
65 Ini Nyata
66 Sudah seperti Prangko
67 Di kantor
68 Ruang Haris
69 Kumat
70 Intan
71 Menengok Haris
72 cemburu
73 Kiara
74 Kau Cantik Malam ini
75 Haris pingsan
76 Rumah Utama Arsya
77 Sesa
78 USG
79 Proktektifnya Arsya
80 Perkara Biru Atau Hijau
81 Kesepian Haris
82 Raga kosong
83 Lumuran Dosa
84 Sensitifnya Bumil
85 Kontraksi
86 Lahiran
87 Baby Zayn
88 Cerita Pagi hari
89 Kedatangan Haris
90 Lima tahun kemudian
91 pengumuman
92 pengumuman
93 Pengumuman Novel Intan
94 Curahan hati author
95 Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96 pengumuman
97 pengumuman zia
98 Pengumuman Zea
99 pengumuman
100 Pengumuman
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Prahara Subuh
2
Penyakit lama
3
Meja Makan
4
Hadiah pahit
5
Amukan Sulung
6
Sesal selalu di akhir
7
Hati yang terluka
8
Serakah
9
Terkunci
10
Pagi
11
Pergi
12
Kehilangan
13
Penyesalan
14
Bertemu
15
Permohonan Haris
16
Tidak bisa
17
Pagi
18
Kedatangan Mertua
19
Bayangan Mutia
20
Permohonan Mertua
21
Kecewa lagi
22
Mengikhlaskan
23
Badai Malam
24
Rumah Sakit
25
Anak-anak pulang
26
Pulang
27
Berjumpa anak-anak
28
Buka puasa pertama
29
Kedatangan Kiara
30
Surat gugatan
31
Amukan Kiara
32
Malam
33
Menengok Kiara
34
Permohonan terakhir
35
Hari pertama dan terakhir
36
Talak
37
Sidang
38
Move on
39
Memenuhi undangan
40
Belanja
41
Malam takbir
42
Di pendopo
43
3 Hari kemudian.
44
Malam indah
45
Undangan
46
Perkelahian
47
Menuju Akad
48
Harapan kosong
49
Rasa yang berbeda
50
Pagi berdua
51
Ujian Atau Karma
52
Apartemen
53
Pertemuan tak terduga
54
Intan
55
Arsya
56
Malam di pendopo
57
Rasa yang hilang
58
Pagi yang hangat
59
Menjadi Kita
60
Berpisah
61
Takdir kah?
62
Pengharapan
63
Kesedihan Mutia
64
Pagi
65
Ini Nyata
66
Sudah seperti Prangko
67
Di kantor
68
Ruang Haris
69
Kumat
70
Intan
71
Menengok Haris
72
cemburu
73
Kiara
74
Kau Cantik Malam ini
75
Haris pingsan
76
Rumah Utama Arsya
77
Sesa
78
USG
79
Proktektifnya Arsya
80
Perkara Biru Atau Hijau
81
Kesepian Haris
82
Raga kosong
83
Lumuran Dosa
84
Sensitifnya Bumil
85
Kontraksi
86
Lahiran
87
Baby Zayn
88
Cerita Pagi hari
89
Kedatangan Haris
90
Lima tahun kemudian
91
pengumuman
92
pengumuman
93
Pengumuman Novel Intan
94
Curahan hati author
95
Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96
pengumuman
97
pengumuman zia
98
Pengumuman Zea
99
pengumuman
100
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!