Terkunci

Malam yang menyedihkan bagi Mutia, Setelah drama tadi dia di kunci Haris di dalam kamar, kini sampai malam Mutia masih terkunci di dalam kamar. Haris benar-benar tidak mengijinkannya keluar dari kamar bahkan selangkah pun.

Ponselnya pun juga Haris minta dengan Paksa sehingga Mutia belum juga menemuinya. Haris berpesan kepada semua karyawan yang ada di rumah untuk tidak mengeluarkan Mutia.

Sementara di ruang tamu nampak Hariz yang kelelahan setelah mengembalikan semua koper-koper anak-anaknya yang sempat Mutia tata untuk di bawa keluar dari Rumah.

Bagaimana Mutia begitu kuat membawa semua koper tadi sementara dirinya yang laki-laki saja kesusahan dan kelelahan pikir Hariz.

Di luar nampak mobil intan pulang dan terdengar suara Zea juga Zia dan Kean. Tak lama kemudian mereka masuk ke dalam Rumah. Anak-anak pun datang menghampirinya kemudian saling dan mencium tangannya kecuali Intan yang melewatinya begitu saja.

"Assalamualaikum Yah..." Sapa Zea, Zia dan yang terakhir Kean.

"Wa'alaikumusalam Sayang..." Jawab Haris sambil memberikan tangannya untuk di cium anak-anaknya.

"Bunda mana Yah?" Tanya Kean.

"Bunda di kamar jangan di ganggu dulu ya... Bunda baru sakit, kaau ada apa-apa bilang sama Ayah atau sama bibi." Kata Hariz berbohong.

Anak-anak pun nurut dan masuk kedalam kamar mereka tanpa banyak bertanya-tanya atau curiga, kecuali Intan yang mencari Bundanya di seluruh Kamar.

"Bun..." Tanya Intan sambil mengetuk pintunya.

"Iya Kak... Bunda di dalam, bukain pintunya Kak... " Teriak Mutia dari dalam Kamar, sambil menggedor-gedor pintu Kamarnya.

Haris yang mendengar keributan segera datang dan meminta Intan untuk meninggalkan Bundanya. Sempat terjadi perdebatan Antara Harus dan putri sulungnya itu.

"Yah... Jangan kaya anak kecil deh... Pakai ngurung Bunda segala..." Kata Intan datar terhadap Ayahnya.

"Ini urusan Ayah sama Bunda kak. Kamu urus saja adik-adikmu." Kata Haris tajam ke Intan, Intan sedikit bergidik saat melihat ada amarah di dalam mata Ayahnya. Akhirnya Intan pun mengalah dan ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.

Haris pergi ke dapur mengambilkan makanan untuk Mutia lalu kembali lagi ke Kamar dan membuka Kamar dan menemui Mutia.

"Bunda makan dulu." Kata Haris lembut sambil meletakkan makanan di sisi Mutia yang membelakanginya karena masih marah.

"Makan sendiri apa Mas suapi dengan bibirku ini." Kata Haris mengancam agar Mutia mau makan.

Mutia bergidik jijik lalu diapun mengambil makanan itu dan memakannya perlahan sambil terus menundukkan kepalanya, Di kepalanya masih berpikir bagaimana cara Dia keluar dari sini.

***

waktupun berjalan menginjak pukul 12 malam Mutia berpura-pura tidur untuk mengelabuhi Haris. Saat Haris sudah tertidur Mutia mengambil kunci yang di simpan Haris di laci sebelahnya perlahan-lahan lalu Mutia berjalan ke pintu memutar kunci dengan sangat hati-hati.

Saat ingin memutar gagang pintu dan melangkah keluar tiba-tiba tubuhnya melayang ke udara karena Haris membopongnya dan menguncinya lagi.

"Mau kemana kamu Bun... Jangan harap kamu bisa keluar dari Rumah ini, apa lagi Kamar kita ini?" Kata Haris menahan amarahnya.

'Kenapa Bunda susah sekali di ajak berdamai??" Kata Haris mendorong Mutia setengah kasar karena marah. Membuat Mutia terhenyak dan kesakitan.

Haris mengikis jarak dan menatap mata Mutia dalam-dalam mencoba menyelami mata Mutia, masih adakah rasa yang tersisa untuknya. Namun yang Haris lihat adalah mata yang penuh dengan kekecewaan, kesedihan dan kebencian pada dirinya.

Mutia mendorong Haris agar menjauh dari tubuhnya, namun Haris tidak mau menjauh justru Dia Kalap dan me*****t Bibir Mutia yang dari tadi membisu mendiamkannya. Haris amat kecewa saat sudah tidak mendapatkan tatapan cinta dari Mutia seperti dulu-dulu, hatinya terasa amat sakit dan kecewa

Haris semakin melampiaskan amarahnya saat mendapat penolakan dari Mutia, Akhirnya pun Haris murka Dia semakin mengikis jarak dan memaksa Mutia untuk melayaninya, hingga Mutia semakin menangis berurai Air mata.

Terpopuler

Comments

Rokhmi Nur Hidayati

Rokhmi Nur Hidayati

ya Allah sabar dan kuat dan berd o'a hanya itu yg bisa istri lakukan hanya Pencipta yg Berkendak

2025-01-05

0

entin sutini

entin sutini

tak tu diri si Hariz makin benci gw pingin nonjok Sam laki hidung belang

2024-11-27

0

Ibu rujak hensom kovi Ibu rujak hensom kovi

Ibu rujak hensom kovi Ibu rujak hensom kovi

laki laki egois mau nya menang sendiri

2024-11-03

0

lihat semua
Episodes
1 Prahara Subuh
2 Penyakit lama
3 Meja Makan
4 Hadiah pahit
5 Amukan Sulung
6 Sesal selalu di akhir
7 Hati yang terluka
8 Serakah
9 Terkunci
10 Pagi
11 Pergi
12 Kehilangan
13 Penyesalan
14 Bertemu
15 Permohonan Haris
16 Tidak bisa
17 Pagi
18 Kedatangan Mertua
19 Bayangan Mutia
20 Permohonan Mertua
21 Kecewa lagi
22 Mengikhlaskan
23 Badai Malam
24 Rumah Sakit
25 Anak-anak pulang
26 Pulang
27 Berjumpa anak-anak
28 Buka puasa pertama
29 Kedatangan Kiara
30 Surat gugatan
31 Amukan Kiara
32 Malam
33 Menengok Kiara
34 Permohonan terakhir
35 Hari pertama dan terakhir
36 Talak
37 Sidang
38 Move on
39 Memenuhi undangan
40 Belanja
41 Malam takbir
42 Di pendopo
43 3 Hari kemudian.
44 Malam indah
45 Undangan
46 Perkelahian
47 Menuju Akad
48 Harapan kosong
49 Rasa yang berbeda
50 Pagi berdua
51 Ujian Atau Karma
52 Apartemen
53 Pertemuan tak terduga
54 Intan
55 Arsya
56 Malam di pendopo
57 Rasa yang hilang
58 Pagi yang hangat
59 Menjadi Kita
60 Berpisah
61 Takdir kah?
62 Pengharapan
63 Kesedihan Mutia
64 Pagi
65 Ini Nyata
66 Sudah seperti Prangko
67 Di kantor
68 Ruang Haris
69 Kumat
70 Intan
71 Menengok Haris
72 cemburu
73 Kiara
74 Kau Cantik Malam ini
75 Haris pingsan
76 Rumah Utama Arsya
77 Sesa
78 USG
79 Proktektifnya Arsya
80 Perkara Biru Atau Hijau
81 Kesepian Haris
82 Raga kosong
83 Lumuran Dosa
84 Sensitifnya Bumil
85 Kontraksi
86 Lahiran
87 Baby Zayn
88 Cerita Pagi hari
89 Kedatangan Haris
90 Lima tahun kemudian
91 pengumuman
92 pengumuman
93 Pengumuman Novel Intan
94 Curahan hati author
95 Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96 pengumuman
97 pengumuman zia
98 Pengumuman Zea
99 pengumuman
100 Pengumuman
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Prahara Subuh
2
Penyakit lama
3
Meja Makan
4
Hadiah pahit
5
Amukan Sulung
6
Sesal selalu di akhir
7
Hati yang terluka
8
Serakah
9
Terkunci
10
Pagi
11
Pergi
12
Kehilangan
13
Penyesalan
14
Bertemu
15
Permohonan Haris
16
Tidak bisa
17
Pagi
18
Kedatangan Mertua
19
Bayangan Mutia
20
Permohonan Mertua
21
Kecewa lagi
22
Mengikhlaskan
23
Badai Malam
24
Rumah Sakit
25
Anak-anak pulang
26
Pulang
27
Berjumpa anak-anak
28
Buka puasa pertama
29
Kedatangan Kiara
30
Surat gugatan
31
Amukan Kiara
32
Malam
33
Menengok Kiara
34
Permohonan terakhir
35
Hari pertama dan terakhir
36
Talak
37
Sidang
38
Move on
39
Memenuhi undangan
40
Belanja
41
Malam takbir
42
Di pendopo
43
3 Hari kemudian.
44
Malam indah
45
Undangan
46
Perkelahian
47
Menuju Akad
48
Harapan kosong
49
Rasa yang berbeda
50
Pagi berdua
51
Ujian Atau Karma
52
Apartemen
53
Pertemuan tak terduga
54
Intan
55
Arsya
56
Malam di pendopo
57
Rasa yang hilang
58
Pagi yang hangat
59
Menjadi Kita
60
Berpisah
61
Takdir kah?
62
Pengharapan
63
Kesedihan Mutia
64
Pagi
65
Ini Nyata
66
Sudah seperti Prangko
67
Di kantor
68
Ruang Haris
69
Kumat
70
Intan
71
Menengok Haris
72
cemburu
73
Kiara
74
Kau Cantik Malam ini
75
Haris pingsan
76
Rumah Utama Arsya
77
Sesa
78
USG
79
Proktektifnya Arsya
80
Perkara Biru Atau Hijau
81
Kesepian Haris
82
Raga kosong
83
Lumuran Dosa
84
Sensitifnya Bumil
85
Kontraksi
86
Lahiran
87
Baby Zayn
88
Cerita Pagi hari
89
Kedatangan Haris
90
Lima tahun kemudian
91
pengumuman
92
pengumuman
93
Pengumuman Novel Intan
94
Curahan hati author
95
Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96
pengumuman
97
pengumuman zia
98
Pengumuman Zea
99
pengumuman
100
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!