Sesal selalu di akhir

Lihat....!!! Seperti itu wajah Rumah Tangga Ayah sekarang, Pecah tidak tersisa!!!! Bahkan di hati ini, semenjak Intan lihat dengan mata kepala Intan apa yang sudah Ayah perbuat ke Bunda, hati ini pun sama seperti Foto itu dan semakin hari rasa ini tidak akan tersisa untuk Ayah seperti serpihan kaca itu!!! Apa lagi hati Bunda, akan mati rasa ke Ayah!!!" Ucap Intan lalu berlalu pergi meninggalkannya.

Seperti rekaman kaset yang terputar berulang-ulang di dalam pikiran dan hati Haris. Haris terduduk di kursi kerjanya sembari memandang kondisi ruang kerjanya yang di sulap sekejap menjadi kapal pecah oleh putri Sulung kebanggaannya selama ini.

Haris berjalan dan memperhatikan foto keluarganya yang lengkap tengah tersenyum bahagia di sana. Dia dan istinya Mutia di tengah, Intan sulungnya dan Kean di kiri Haris lalu Zia dan Zea si kembar di sisi Mutia. Tidak pernah terbayang di pikiran Haris sedikitpun untuk menghilangkan senyum dari wajah-wajah buah hatinya itu. Tidak ada niatan sedikitpun untuk meninggalkan mereka, namun kini semuanya sudah menjadi puing-puing karena ke egoisnya dan cinta ke duanya pada istri keduanya.

Pertemuan pada Kiara saat bisnis di Bali dengan temannya terjalin begitu saja tanpa bisa Dia kendalikan, Kiara janda muda yang begitu menggoda imannya. Waktu itu berawal dari hobi lama kumpul dengan teman-teman kuliah jaman lama yang sesama pebisnis, lalu di kenalkan dia dengan Kiara oleh Andi yang memang punya istri dua.

Keakraban terjalin begitu saja hingga setiap ke Bali menumbuhkan rasa rindu bila tidak bersuara. Seperti mendapat kupu-kupu berterbangan di dadanya setiap mengingat nama Kiara, Haris merasakan jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Lalu atas permintaan Kiara Haris menyetujui menikahi secara siri dari pada Dia berzina.

Kiara seperti candu baginya, tak bisa Dia berpisah terlalu lama akhirnya Harus membelikan rumah di Jogja agar semakin dekat bila ingin bertemu. Dan mungkin memang benar serapat-rapatnya menyimpan bangkai maka lambat Laun tercium juga.

Panggilan masuk berkali-kali di ponselnya dari Kiara, namun Haris acuhkan karena belum siap berbicara, dadanya penuh oleh berbagai macam rasa, menyesal telah menghancurkan rumah tangganya, menyakiti Mutia dan anak-anaknya takut berpisah namun tidak ingin juga kehilangan Kiara.

Haris ingin keduanya, Dia ingin semua istrinya, kenapa Dia tidak bisa seperti Andi yang beristri dua kenapa Mutia tidak bisa memahami keinginannya. Kenapa tidak bisa saling berdampingan saja. Haris merasa rasa yang datang pada dirinya untuk Kiara juga cinta yang tulus dan rasa itu hadir sendiri tanpa dia minta.

Saat Haris tengah melamun tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan tampak Kiara istri sirinya masuk dengan dress hitam sepaha yang membentuk tubuhnya, rambut di buat bergelombang dengan hak tinggi yang membuat kaki jenjangnya yang sempurna terlihat. Kiara datang lalu memeluk Haris mencoba menenangkan.

"Maafkan Aku ya Mas... Semua akan baik-baik saja, Aku akan memohon pada Mbak Mutia untuk tidak menggugat cerai Mas Haris." Kata Kiara memeluk Haris dari belakang.

Haris hanya diam, tidak bisa berkata apa-apa, dia tidak ingin salah bicara. Kiara berlutut di depan Haris dengan mata yang berkaca-kaca lalu memohon pada Harus untuk tidak meninggalkannya.

"Mas Haris, apapun yang terjadi tolong jangan tinggalkan Aku... Aku sungguh tidak bisa tanpamu." Kata Kiara sambil berkaca-kaca, semakin menambah pusing kepala Haris.

Terpopuler

Comments

Neulis Saja

Neulis Saja

pelakor kan begitu utk mendapatkan simpati dari laki incarannya coba kalau si Haris miskin apa masih mau ? imposible jadi di sini hrsnya di Haris berpikir jernih yg mana istri yg mendampingi setia di kala duka dan senang sementara istri baru belum kelihatan mendampingi ketika kesulitan ekonomi ?

2024-12-01

0

Rokhmi Nur Hidayati

Rokhmi Nur Hidayati

pelakor dimanapun kapanpun dimanapun kaya miskin banyak jalan ke Roma pelakor seperti tawon memang benghasilkan 🍯 sasarannya tapi menyakitkan orang lain

2025-01-05

0

Happy Kids

Happy Kids

awal mula kesesatan. punya temen hobby ginian jangan dikumpulin

2025-04-02

0

lihat semua
Episodes
1 Prahara Subuh
2 Penyakit lama
3 Meja Makan
4 Hadiah pahit
5 Amukan Sulung
6 Sesal selalu di akhir
7 Hati yang terluka
8 Serakah
9 Terkunci
10 Pagi
11 Pergi
12 Kehilangan
13 Penyesalan
14 Bertemu
15 Permohonan Haris
16 Tidak bisa
17 Pagi
18 Kedatangan Mertua
19 Bayangan Mutia
20 Permohonan Mertua
21 Kecewa lagi
22 Mengikhlaskan
23 Badai Malam
24 Rumah Sakit
25 Anak-anak pulang
26 Pulang
27 Berjumpa anak-anak
28 Buka puasa pertama
29 Kedatangan Kiara
30 Surat gugatan
31 Amukan Kiara
32 Malam
33 Menengok Kiara
34 Permohonan terakhir
35 Hari pertama dan terakhir
36 Talak
37 Sidang
38 Move on
39 Memenuhi undangan
40 Belanja
41 Malam takbir
42 Di pendopo
43 3 Hari kemudian.
44 Malam indah
45 Undangan
46 Perkelahian
47 Menuju Akad
48 Harapan kosong
49 Rasa yang berbeda
50 Pagi berdua
51 Ujian Atau Karma
52 Apartemen
53 Pertemuan tak terduga
54 Intan
55 Arsya
56 Malam di pendopo
57 Rasa yang hilang
58 Pagi yang hangat
59 Menjadi Kita
60 Berpisah
61 Takdir kah?
62 Pengharapan
63 Kesedihan Mutia
64 Pagi
65 Ini Nyata
66 Sudah seperti Prangko
67 Di kantor
68 Ruang Haris
69 Kumat
70 Intan
71 Menengok Haris
72 cemburu
73 Kiara
74 Kau Cantik Malam ini
75 Haris pingsan
76 Rumah Utama Arsya
77 Sesa
78 USG
79 Proktektifnya Arsya
80 Perkara Biru Atau Hijau
81 Kesepian Haris
82 Raga kosong
83 Lumuran Dosa
84 Sensitifnya Bumil
85 Kontraksi
86 Lahiran
87 Baby Zayn
88 Cerita Pagi hari
89 Kedatangan Haris
90 Lima tahun kemudian
91 pengumuman
92 pengumuman
93 Pengumuman Novel Intan
94 Curahan hati author
95 Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96 pengumuman
97 pengumuman zia
98 Pengumuman Zea
99 pengumuman
100 Pengumuman
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Prahara Subuh
2
Penyakit lama
3
Meja Makan
4
Hadiah pahit
5
Amukan Sulung
6
Sesal selalu di akhir
7
Hati yang terluka
8
Serakah
9
Terkunci
10
Pagi
11
Pergi
12
Kehilangan
13
Penyesalan
14
Bertemu
15
Permohonan Haris
16
Tidak bisa
17
Pagi
18
Kedatangan Mertua
19
Bayangan Mutia
20
Permohonan Mertua
21
Kecewa lagi
22
Mengikhlaskan
23
Badai Malam
24
Rumah Sakit
25
Anak-anak pulang
26
Pulang
27
Berjumpa anak-anak
28
Buka puasa pertama
29
Kedatangan Kiara
30
Surat gugatan
31
Amukan Kiara
32
Malam
33
Menengok Kiara
34
Permohonan terakhir
35
Hari pertama dan terakhir
36
Talak
37
Sidang
38
Move on
39
Memenuhi undangan
40
Belanja
41
Malam takbir
42
Di pendopo
43
3 Hari kemudian.
44
Malam indah
45
Undangan
46
Perkelahian
47
Menuju Akad
48
Harapan kosong
49
Rasa yang berbeda
50
Pagi berdua
51
Ujian Atau Karma
52
Apartemen
53
Pertemuan tak terduga
54
Intan
55
Arsya
56
Malam di pendopo
57
Rasa yang hilang
58
Pagi yang hangat
59
Menjadi Kita
60
Berpisah
61
Takdir kah?
62
Pengharapan
63
Kesedihan Mutia
64
Pagi
65
Ini Nyata
66
Sudah seperti Prangko
67
Di kantor
68
Ruang Haris
69
Kumat
70
Intan
71
Menengok Haris
72
cemburu
73
Kiara
74
Kau Cantik Malam ini
75
Haris pingsan
76
Rumah Utama Arsya
77
Sesa
78
USG
79
Proktektifnya Arsya
80
Perkara Biru Atau Hijau
81
Kesepian Haris
82
Raga kosong
83
Lumuran Dosa
84
Sensitifnya Bumil
85
Kontraksi
86
Lahiran
87
Baby Zayn
88
Cerita Pagi hari
89
Kedatangan Haris
90
Lima tahun kemudian
91
pengumuman
92
pengumuman
93
Pengumuman Novel Intan
94
Curahan hati author
95
Pengumuman novel dari Anak Bunda Mutia
96
pengumuman
97
pengumuman zia
98
Pengumuman Zea
99
pengumuman
100
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!