"BUNUH MEREKA BERDUA!!"
Bagaikan suara pengontrol otomatis, orang-orang berbaju hitam gelap dan bercadar itu maju menyerbu keduanya. Tatapan Yi Changyin menjadi beringas, bisa-bisanya mereka menyerang di saat waktunya bersantai ria.
Yi Changyin berputar bak angin topan mengelilingi Xuan Chen dengan kipasnya yang mengeluarkan gelombang energi spiritual. Seketika orang-orang itu ambruk karena tekanan kipasnya. Baru saja Xuan Chen mengambil kesempatan untuk mengeluarkan pedang spiritualnya, buru-buru Yi Changyin memindahkan Xuan Chen kedalam rumah, menguncinya dengan aura spiritual yang tak dapat di buka oleh siapapun. Sebenarnya Yi Changyin juga heran mengapa dia mempunyai kemampuan mengunci seperti ini. Ya.. semenjak kemasukan kristal aneh itu.
Xuan Chen terbelalak melihat tingkah Yi Changyin. Dia ingin membantu, mana mungkin Yi Changyin mengalahkan mereka semua sendirian! Bahkan luka dalam cambukan siluman itu belum sembuh sepenuhnya!
Shen Lan sedang mengunjungi alam langit, Yi Xuemei sedang pergi ke kediamannya untuk meminta izin. Yi Changyin pasti tidak akan bisa. Dia harus mencari cara untuk keluar. Tapi dia sangat tidak berdaya untuk melawan kekuatan besar gadis itu.
Aneh, gelombang spiritual sudah menjatuhkan mereka semua. Bak tak pernah di lukai, kelompok hitam itu bangkit kembali dan langsung menghunuskan pedang tajam mengkilapnya ke arah Yi Changyin.
Cepat-cepat gadis itu memutar badannya dan terbang satu meter di atas kepala mereka. Awalnya ini adalah tipu daya untuk membuat pedang mereka saling menusuk satu sama lain, tapi ternyata salah. Mereka telah berhenti tepat sebelum saling menusuk, kemudian menatap tajam Yi Changyin yang berada di atasnya.
Yi Changyin sempat tertegun sebelum akhirnya dia mengerutkan kening, memikirkan cara yang tepat untuk melawan mereka yang begitu aneh.
Tanpa di duga, sepuluh orang di antara mereka menyusul Yi Changyin keatas, gadis itu terkejut melihatnya. Sepuluh orang itu mengelilingi Yi Changyin dengan tatapan yang membunuh. Tapi aneh, mereka belum saja menyerang. Seperti sedang mempermainkan gadis itu.
Yi Changyin segera mengubah kipasnya menjadi pedang tajam yang ramping dan mengkilap. Dia segera memasang jurus jika sewaktu-waktu mereka menyerangnya. Dia tidak mau buang-buang tenaga jika harus menyerang terlebih dahulu.
Tanpa di duga, ratusan orang di bawahnya menyuntikkan energi spiritual berwarna hitam ke arah sepuluh orang yang mengepung Yi Changyin dari atas.
Aura spiritual itu masih terpasang, tapi sepuluh orang itu sudah bersiap menyerang Yi Changyin.
Sepuluh pedang dengan cepat hampir mendarat ke atas ubun-ubun Yi Changyin, tapi gadis itu segera menghadangnya dengan pedang dari kipas Yin Zhenjie itu. Tekanan itu sangat kuat, mungkin berkat bantuan dari teman-temannya yang berada di bawah sana.
Xuan Chen yang melihat hal itu terbelalak, dia semakin bersemangat untuk membuka kunci terkuat yang pernah di pasang Yi Changyin. Ini sangat menyulitkan!
Wajah Yi Changyin terlihat tertekan, dia benar-benar kewalahan ketika di hadang oleh keluatan besar ini. Walaupun dia sudah mencapai Dewi tahap awal, tapi jika kekuatan mereka di gabungkan, akan lebih kuat walaupun setara dengan kekuatan manusia.
Tiba-tiba wajah terkekan itu berubah menjadi dingin, sekelebat warna matanya menjadi biru cerah seperti langit di siang hari, namun kembali lagi menjadi hitam. Setelah itu badannya sama sekali tidak merasakan tekanan apapun.
Dengan cekatan, dia segera menendang kepunyaan salah satu pria itu hingga pertahanan goyah. Pedangnya ia dorong ke atas hingga kesepuluh orang itu terpental, terutama pria yang di ia tendang tadi. Area bawahnya seperti tersengat berjuta-juta lebah. Dia pun tergelatak ke tanah tak berdaya.
Orang-orang yang menyalurkan energi hitam itu pun memuntahkan seteguk darah. Merasakan sakit pada organ dalamnya setelah mendapatkan serangan balik.
Yi Changyin segera menikam salah satu pria yang didepannya hingga mati. Di susul dengan dua orang lainnya yang menyerang Yi Changyin. Anehnya, sisanya itu tidak ikut menyerang. Tapi malah sibuk menyalurkan energi pada si penyerang.
Yi Changyin menghadang pedang yang hendak menikamnya, kaki kirinya menendang area bawah pria yang akan menyerangnya hingga jatuh itu. Huh, mungkin hal seperti ini akan menjadi jurus andalan Yi Changyin untuk mengalahkan musuh laki-laki.
Pria itu memutar pedangnya hingga tangan Yi Changyin mengikutinya secara paksa. Saat terlepas dari tekanan, pria itu mengarahkan pedangnya ke leher Yi Changyin, tapi dengan cepat gadis itu menghindar kebelakang.
Pertarungan keduanya pun berlangsung sengit. Semakin lama, dorongan yang di berikan itu semakin kuat. Pengaruh dari penyuntikam energi spiritual itu sangat besar. Strategi macam apa ini?! Siapa yang memerintahkan mereka?
Yi Changyin terus menerus di pukul mundur, dia sangat kewalahan menghadapi tenaga dalam pria itu yang kuat. Sehingga luka-luka goresan di tubuhnya pun tak bisa terhindarkan. Jangankan membunuh, diberi kesempatan menyerangpun tidak bisa.
Gadis itu harus memikirkan cara lain!
Kali Yi Changyin bergerak sedikit menjauh, masih mengambang di udara kosong. Kemudian Yi Changyin mengepalkan tinjunya mengeluarkan aura spiritualnya yang berwarna jingga terang.
Tepat sebelum pria itu menyerang, Yi Changyin menembakkan aura spiritualnya yang perlahan membentuk panah kecil dan mematikkan. Panah kecil itu menghujani beberapa orang yang menyalurkan energi hingga tewas. Ini cukup efektif untuk melemahkan pertahanan mereka.
Di saat yang bersamaan, pria yang bertugas membunuh Yi Changyin itu bergerak cepat dengan pedang yang dia hunuskan dengan lurus. Yi Changyin menghindar kebelakang. Sudut bibirnya terangkat, menandakan dia sudah menemukan suatu ide untuk untuk mengalahkan pasukan busuk ini.
Yi Changyin mencengkram erat tangan pria yang memegang pedang itu. Menusukkan pedang rampingnya ke dada kiri pria itu hingga muntah darah. Tampak di balik cadarnya yang basah itu. Kakinya segera mendorong pria itu hingga jatuh ke tanah, mati.
Tak berhenti sampai di situ, serangan lain datang ke arah Yi Changyin satu persatu. Kali ini Yi Changyin menjadi penyerang. Orang-orang yang menyalurkan energi berkurang, menjadikan kesempatan itu untuk menghabisi mereka semua.
Tangan kanan Yi Changyin sibuk membunuh seseorang yang menyerangnya secara beruntun. Tangan kirinya sibuk mengeluarkan panah spiritual yang tajam dan mematikan itu.
Xuan Chen yang berada di dalam terus-menerus menyuntikkan energi spiritual nya demi membuka kunci segel yang kuat itu. Tapi itu sia-sia, hanya seteguk darah yang dia keluarkan, bukan kekuatan yang besar. Jika dia terus menerus memaksa segel itu untuk terbuka, maka energi spiritual nya akan terkuras habis. Jika keluar pun hanya akan menjadi beban Yi Changyin.
Apa yang harus dia lakukan? Dia hanya bisa menyesal karena hidup menjadi seorang pengecut.
.......
.......
.......
Jika keadaan di kediaman Xuan Chen begitu ricuh dengan pertarungan berdarah, maka Shen Lan yang berada di alam langit dengan santainya mencari buku yang di cari. Keadaan perpustakaan alam langit itu begitu tentram, bahkan bisa berpengaruh pada hati siapapun yang datang kesana.
Shen Lan terus menerus mendengus saat meletakkan buku yang bukan dia cari ke tempat asalnya. Walaupun keadaannya begitu nyaman, tapi Shen Lan merasa kesal. Dari pagi sampai siang, entah sudah berapa jam dia berdiam di situ mencari sesuatu. Dan dia tidak tahu apa yang terjadi pada majikannya saat itu.
Tanpa menyerah, Shen Lan kembali mengambil salah satu buku di sana. Wajahnya terlihat jelek karena tahu hal itu tidak akan ada. Shen Lan membuka setiap lembaran dengan kasar.
Kesal! Sangat kesal! Dia tidak menemukan apapun di sana. "Sungguh tidak berguna!" Gerutunya sambil melemparkan buku itu ke bawah.
Tangan seorang gadis yang tembus pandang mengambil buku yang Shen Lan lemparkan. Wajah gadis itu begitu berseri dan mirip seseorang. Aneh, sekujur tubuhnya berwarna emas dan hampir tembus pandang, hanya lekukan tubuh dan pakaiannya saja yang terlihat. Seperti seorang hantu emas yang bergentayangan di alam langit. Kemudian dia naik ke atas mensejajarkan tingginya dengan Shen Lan.
"Tuan Dewa, kau tidak boleh terlalu emosi." Ujar gadis itu lembut sambil meletakkan buku ke tempat asalnya.
Shen Lan menoleh, dia tertegun. Wajah itu seperti... "Xuan Rong?"
Gadis itu menatap Shen Lan dengan heran. "Siapa Xuan Rong?"
"Kau adalah Xuan Rong, mengapa kau berada di sini? Mengapa tubuhmu berubah menjadi emas? Dan.. tembus pandang?" Tanya Shen Lan secara beruntun.
Gadis tembus pandang itu terkekeh "Aku bukan orang, dewa ataupun makhluk apapun."
Ucapannya begitu konyol, membuat wajah Shen Lan mengkerut karena bingung. "Apakah kau bercanda?"
"Jiwa Dewi, mau lari kemana kau?!" Kecam seorang wanita tiba-tiba datang kesana.
Wanita muda itu tampak suci dan terbang beralas teratai merah muda yang melayang membawa kemana dia ingin pergi. Gadis tembus pandang itu merasa terintimidasi dengan kedatangannya, dia sembunyi di balik punggung Shen Lan.
"Jiwa Dewi?" Gumam Shen Lan mengingat ucapan wanita itu lagi.
"Jiwa Dewi, beberapa puluh tahun lagi kau akan melakukan pengembangan jiwa selama seribu tahun. Masih berani untuk kabur?" Tegurnya seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya.
Shen Lan hanya terdiam dan menyimak.
Gadis tembus pandang itu keluar dari persembunyiannya, wajahnya pucat dan tidak mau menatap wanita suci di hadapannya.
"Bersabarlah sedikit, setelah seribu tahun.. kau akan segera menjadi Dewi." Kali ini nada bicaranya terdengar lembut. Seperti wanita suci itu tidak mau terlalu lama mengintimidasinya.
"Baik.."
Wanita suci itu tersenyum tipis, telapak tangannya membawa sekuntum bunga teratai yang di penuhi dengan aura putih. Gadis tembus pandang itu melebur, raganya memasuki teratai itu secara perlahan.
"Maaf membuat dewa kecil terganggu." Ujar Wanita suci itu dengan hormat pada Shen Lan.
"Tidak apa.." Jawab Shen Lan tak acuh.
Wanita itu membungkuk sebelum akhirnya pergi dengan teratai melayangnya. Tiba-tiba Shen Lan teringat akan wajah gadis tembus pandang itu yang mirip dengan Xuan Rong.
"Ah Dewi, tunggu.." Cegah Shen Lan.
Wanita suci itu berbalik sambil tersenyum. "Ada yang bisa ku bantu?"
"Apa maksudmu tadi? Jiwa Dewi? Apa itu?" Tanya Shen Lan.
Dengan senang hati, wanita itu menjelaskan. "Dia akan gadis yang akan segera lahir setelah pengembangan jiwa. Ini begitu istimewa, bahkan Dewi kehidupan sendiri yang membuat jiwanya. Setelah berpuluh-puluh tahun, baru dia akan melakukan pengembangan jiwa dengan salah satu roh yang akan bereinkarnasi."
"Begitu ya.." Gumam Shen Lan. "Sudahlah, maaf mengganggu anda, Dewi.."
"Tidak masalah. Kalau begitu.. hamba pamit dulu."
"Baik."
Wanita suci itu pergi, meninggalkan Shen Lan yang sedang bergelut dengan pikirannya. Satu-satunya yang mengganjal adalah.. mengapa wajahnya begitu mirip dengan Xuan Rong?!
.......
.......
.......
Gelombang spiritual meledak dari tubuh mungil Yi Changyin. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba gadis itu melewati sebuah terobosan. Sekarang inti aura spiritualnya berubah menjadi ungu muda terang, dia sudah mencapai Dewi tahap awal level empat!
Gelombang itu mengakibatkan para pasukan hitam itu terkapar di atas tanah. Tubuhnya seperti sudah tak berdaya ketika mendapat serangan yang melukai organ vitalnya. Tapi yang menjengkelkan mereka masih hidup!
Aura di sekitarnya menjadi sedikit tenang. Artinya kekuatan spiritual mereka sudah habis karena telah banyak terbuang-buang. Sungguh kasihan. Ketika Yi Changyin mencapai terobosan level, entah kenapa energi spiritual mereka seperti terkuras habis.
Yi Changyin turun di tengah-tengah manusia yang terkapar di atas tanah itu. Mereka masih hidup, hanya saja menjadi lemah layaknya manusia biasa. Entah dari mana mereka mendapatkan kekuata yang sebesar itu. Aneh pula.
Walaupun tubuh Yi Changyin penuh dengan luka berdarah, dia seperti tak merasakan sakit apapun. Dia masih harus membereskan mereka semua. Gadis penuh luka itu tidak mau Xuan Chen keluar dari rumahnya sebelum mereka semua habis.
"Sekarang kita akhiri pertempuran ini dengan adil!" Seru Yi Changyin yang membuat pria yang tadinya ratusan, tinggal menjadi dua puluh orang lagi itu berdiri dengan susah payah.
Mereka hanya sedikit lemah karena energinya terserap, tapi tenaga dalam mereka seperti tak akan pernah ada habisnya. Para pria berbaju hitam itu lantas menyerang Yi Changyin secara bersamaan. Tanpa belas kasihan pada seorang gadis yang tengah terluka parah luar dalam itu.
Xuan Chen yang berada di dalam semakin tidak sabar. Dia terus berusaha membuka pintu itu walau hasilnya nihil. Dia sangat marah, terutama saat melihat pedang-pedang tajam itu menggores kulit Yi Changyin yang sehalus giok. Sungguh perusak! Xuan Chen dapat melihatnya lewat jendela.
Jauh di sebrang pertempuran puluhan orang melawan satu itu, dua sosok berdiri di atas kuda dengan santainya. Bak sedang menonton pertunjukan aksi saling membunuh di sebuah pentas seni.
Xuan Chen melihat mereka, dia jelas-jelas mengenalnya. Pria itu adalah Xuan Ye dan Xuan Hua. Tidak salah lagi kalau dia lah yang memerintahkan pasukan aneh ini untuk menyerangnya dan Yi Changyin.
Amarah pria itu mengebu. Saat itu dia berani menggoda Yi Changyin. Lalu ibunya mencambuk gadis itu hingga terluka parah. Sekarang membawa pasukan aneh hingga menambah lukanya. Dia benar-benar emosi. Kemarahannya itu menimbulkan gerakan tak biasa di dalam tubuhnya.
Tiba-tiba saja kilat matanya berubah menjadi dingin, aura berwarna hitam muncul di sudut matanya, berkibar seperti terbawa angin. Matanya menjadi merah menyala, terutama saat melihat gadis itu sudah terpojokkan oleh para pria biadab.
Di sana Yi Changyin melakukan kecerobohan. Dia sudah lelah. Luka lamanya belum sembuh, sekarang di tambah luka yang baru. Dia benar-benar sudah terpojokkan. Rasa sakit mungkin bisa di tahan olehnya, tapi tubuh Yi Changyin benar-benar tidak bisa menolaknya.
Kemarin saat di cambuk, ada kekuatan aneh yang membantunya. Lalu kenapa sekarang tidak ada?! Ah sungguh menyebalkan. Pemandangan seperti itu membuat Xuan Ye dan Xuan Hua tersenyum dari kejauhan.
Ini mungkin akhir hidupnya, pedang tajam itu di angkat tinggi dan siap untuk membunuh. Yi Changyin sudah tidak berdaya, bahkan membuka mata pun dia sangat lemah.
.......
.......
.......
Shen Lan mengacak-acak rambutnya frustasi. Mencari satu buku atau gulungan di tempat seluas ini, sama saja dengan mencari jarum di tumpukan jerami. Dia pun tak yakin kalau apa yang dia cari tersimpan di tempat memusingkan ini.
"Tuan dewa.." Tiba-tiba suara gadis mengiang di telinganya. Sempat tertegun, akhirnya Shen Lan berakhir mengacuhkan suara itu karena sibuk membolak-balikan beberapa buku.
"Tuan dewa.." Suara itu kembali berbisik. Awalnya dia mengira itu hanyalah khayalannya saja. Tapi ketika yang kedua kalinya, Shen Lan merasa kalau suara itu nyata. Pria itu segera meletakkan buku itu dan berbalik ke belakang.
Betapa terkejutnya dia saat melihat seorang gadis bertubuh tembus pandang dengan kilauan emas di setiap sisinya. Wajah itu masih sama dengan sebelumnya. Yaitu wajah yang mirip dengan Xuan Rong.
"Kau lagi?!" Shen Lan terlihat jengkel.
Bibir gadis itu mengerut. "Tuan dewa jangan kesal padaku. Aku datang kemari untuk membantumu." Katanya dengan serius.
Shen Lan mendengus, dia kembali mengambil salah satu buku dan membolak-balikannya. "Kau tidak akan pernah tahu apa yang sedang aku cari."
"Kau ingin mencari sampai kapan? Untuk menelusuri semua yang ada di sini, butuh waktu seratus tahun. Apakah kau yakin?" Gadis itu tersenyum.
Shen Lan menaikkan pandangannya. Benar juga. Jika dia harus berdiam disini selama seratus tahun, Xuan Chen tidak akan mampu hidup sepanjang itu.
"Memangnya.. kau bisa membantuku?" Tanya Shen Lan masih sedikit acuh. Sebenarnya dia sangat berharap gadis itu membantunya.
"Kau mencari apa? Silahkan tanyakan."
"Aku sedang mencari mantra penyegel kaki dan cara membukanya."
Ekspresi wajah gadis tembus pandang itu terlihat rumit. "Di dunia ini mantra formasi seperti itu hanya ada satu. Dan itu telah di curi seseorang."
Shen Lan menjatuhkan rahangnya. Bukankah dia sudah melakukan hal yang sia-sia?!?! Jika hanya ada satu, maka barang berharga itu sudah di bakar oleh Xuan Ye?!
"Biar ku tebak, kau sedang mencarinya untuk memecahkan formasi yang mengunci kaki temanmu kan?"
Shen Lan mengangguk cepat. Dia berharap gadis itu mempunyai solusinya.
"Sebenarnya formasi itu bisa di teliti langsung di kakinya.."
Lagi-lagi Shen Lan merasa ingin menghancurkan semua benda yang berada di sampingnya.
"Tapi itu membutuhkan waktu yang lama." Gadis itu tampak berfikir, sebelum akhirnya berbinar karena telah menemukan sesuatu. "Tapi seingatku di sini ada satu buku yang bisa membuat seseorang berdiri saat kakinya di segel."
Niat hati Shen Lan yang ingin menghancurkan semua benda yang berada di sampingnya terurungkan. Wajahnya kembali menggambarkan secercah harapan.
"Benarkah?"
"Yaa! Ikut aku!" Ajak gadis tembus pandang itu antusias.
"Baik!"
.......
.......
.......
BRAKKK!!
Pintu rumah Xuan Chen terbuka paksa hingga hancur dan menimbulkan suara memekakkan telinga. Yi Changyin menjatuhkan rahangnya, dia tak percaya Xuan Chen bisa memecahkan kuncinya. Bak alat penghenti waktu, semua orang yang hendak menikam Yi Changyin berhenti seketika. Bahkan Xuan Ye yang berada di kejauhan terkejut melihatnya.
Dia Xuan Chen?
Auranya begitu berbeda dan mendominasi. Seperti seseorang yang kuat telah meminjam tubuh pria itu. Tatapannya begitu dingin dengan kilatan merah berdarah dalam bola matanya.
Pria itu maju melayangkan tubuhnya menuju semua orang. Saat itu pula, Yi Changyin dapat melihat samar sesuatu yang besar menempel pada punggung Xuan Chen.
'Itu..'
Sayap emas?!
Bukankah dia terlihat seperti seseorang dalam bayangannya. Walaupun terlihat samar, Yi Changyin dapat mengenalinya. Inikah bakat terpendam Xuan Chen yang pernah di katakan Shen Lan saat itu? Sebenarnya siapa Xuan Chen yang sebenarnya?
Xuan Chen yang terasa asing itu mengeluarkan gelombang spiritual berwarna hitam. Sangat kuat dan seperti tembok yang menghantam dada semua orang hingga terjatuh. Ada yang menabrak pagar, pohon persik dan tanaman-tanaman yang di rawat Xuan Chen. Bahkan Xuan Ye dan Xuan Hua pun hampir terjatuh dari atas kudanya.
Sekarang, rumah kecil dan sederhana itu sudah hancur bak tertimpa bom. Terporak-porandakkan sudah!
Kumpulan pria hitam dan aneh itu masih belum menyerah. Mereka kembali berdiri walaupun dengan kondisi lemah, menghunuskan senjata pada Xuan Chen yang terasa asing itu.
"Siapa yang berani melukai gadisku?!" Kedengarannya sangat dingin dan menyeramkan, tapi begitu asing. Dia benar-benar sudah menjadi Xuan Chen yang lain!
.......
.......
.......
Jangan lupa like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
…𝕮ℓα𝕣α♡🦄🌈 (hiatus)
Nah.. 🤣🤣
2021-03-18
2
…𝕮ℓα𝕣α♡🦄🌈 (hiatus)
Kak zulfa gantung mulu.. ಥ‿ಥ
2021-03-16
2