Bab XV - Perpustakaan Langit

Shen Lan kini sudah berada di gerbang istana alam langit. Sebelumnya dia tidak pernah datang kemari, hingga agak merasa aneh dengan lingkungannya. Klan rubah ekor sembilan masih bagian dari alam langit, tapi lingkungan mereka jelas-jelas berbeda.

Alam langit atas berbeda dengan alam langit bawah. Mereka lebih ketat dan teratur. Tidak ada warna hitam di setiap sudut bangunan-bangunan nya. Bahkan sampai baju zirah prajurit pun berwarna putih dengan kilauan perak.

Tanpa menunggu lama, Shen Lan menghampiri kedua penjaga gerbang dan menunjukkan token kekerabatan Phoenix nya. Kedua penjaga itu tidak menghadang, bahkan dengan senang hati membiarkan Shen Lan masuk ke dalam.

"Silahkan Dewa kecil masuk." Ujar salah satunya dengan sopan.

Shen Lan mendengus saat dirinya di sebut dewa kecil, lalu dia bergegas masuk tanpa memperdulikan mereka lagi. Tak lama kemudian, dia bertemu dengan seorang dayang alam langit yang menghadangnya.

"Tuan dewa, anda tampak baru di istana langit kami. Jika perlu bantuan hamba untuk penunjuk jalan, hamba bisa melakukannya." Ujar dayang itu dengan sopan. Awalnya Shen Lan mengira dayang itu akan macam-macam, nyatanya tidak.

Shen Lan segera menunjukan pelakat kekerabatan klan Phoenix pada pelayan itu. "Nona Xuemei kami mengutusku untuk berbicara dengan putri agung Feng Lian."

*Putri agung \= sebutan untuk istri pangeran di alam langit.

"Silahkan tuan dewa kecil ikuti hamba." Kata pelayan itu sebelum akhirnya berjalan untuk memimpin jalan. Tanpa ragu, Shen Lan mengikutinya dari belakang.

Sampai lah mereka pada gerbang sebuah paviliun yang megah. Pelayan itu beringsut undur diri, sedangkan Shen Lan segera menunjukan plakat pada dua orang pengawal itu.

"Harap tuan dewa menunggu sebentar." Ujar pengawal itu sebelum akhirnya pergi masuk di dalam halaman.

Shen Lan diam-diam tersenyum. Sangat enak dia bisa memasuki sebuah tempat tanpa harus berkelahi terlebih dahulu. bahkan mereka menyebutnya sebagai tuan dewa kecil, ah sungguh menyenangkan.

Tak lama menunggu, pelayan itu kembali. "Putri agung setuju untuk bertemu dengan anda."

"Baik." Shen Lan tersenyum lagi, ini adalah suatu keberuntungan baginya yang belum pernah menginjak alam langit atas sebelumnya.

Shen Lan di bawa masuk menemui Feng Lian. Wanita itu terbilang masih muda dan cantik. Anggun dan menawan. Di pangkuannya tertidur seorang bayi, tidak salah lagi kalau dia adalah anaknya.

Meningkatkan formalitas, Shen Lan bersujud di hadapan wanita itu. "Shen Lan, memberi hormat pada putri agung Feng Lian."

Wanita itu tidak sombong seperti kebanyakan orang di klan Phoenix lainnya. Walaupun masih adik Feng Chao, tapi kepribadian mereka jelas-jelas berbeda. "Bangunlah.." Shen Lan segera menegakkan tubuhnya. "Apa tujuan Yi Xuemei mengutusmu kemari, dewa kecil?" Tanyanya dengan ramah.

Lagi-lagi dia di sebut dewa kecil. Apakah benar dia seperti dewa? Dia hanya bunga roh biasa!

"Jawab putri agung. Perpustakaan langit banyak menyimpan informasi yang bahkan tidak diketahui dunia. Nona muda menyuruhku kemari untuk mencari salah satu buku di sana. Kalau putri agung berkenan, hamba ingin masuk ke dalam dan mencari yang di inginkan nona muda kami atas nama putri agung." Jelas Shen Lan.

Feng Lian tersenyum. "Qiuqiu, antar dewa kecil ini ke perpustakaan langit." Ujarnya pada dayang yang berdiri di dekatnya.

"Baik, putri agung." Gadis pelayan itu menghampiri Shen Lan. "Mari, dewa kecil."

"Terimakasih, putri agung." Ujar Shen Lan sebelum akhirnya pergi.

Awalnya dia mengira kalau Feng Lian akan sama dengan kakaknya. Yaitu menyulitkannya terlebih dahulu. Tapi ternyata dia hanya berburuk sangka. Feng Lian sama sekali tidak menunjukkan keagungannya sebagai wanita dari klan Phoenix. Justru di lihat dari lekuk wajahnya, dia bukan orang sombong.

Setelah berjalan lama, Shen Lan dan Qiuqiu sampai pada gerbang yang di jaga dua orang prajurit langit. Keduanya tentu saja sangat tidak asing dengan keberadaan Qiuqiu.

"Bukankan ini Qiuqiu dari kediaman putri agung Feng Lian?" Tanya salah satu panjaga itu dengan ramah.

Qiuqiu tersenyum. "Yaa, dewa kecil ini adalah utusan keponakan putri agung. Atas nama putri agung kami, mohon izinkan dewa kecil ini untuk masuk."

"Oh, tentu saja!"

"Dewa kecil, silahkan masuk." Ujar Qiuqiu mempersilahkan.

"Baik." Selagi Shen Lan memasuki ruangan, Qiuqiu bergegas kembali ke kediaman majikannya.

Shen Lan menatap perpustakaan itu dengan takjub. Jika Yi Changyin yang di bawa ke sini, mungkin dia akan berekspresi sama dengannya. Shen Lan tersadar, mengapa kali ini dia lebih banyak mengeluarkan ekspresi?!

Perpustakaan langit ini jauh berbeda dengan perpustakaan di tempat lain. Ruangannya sangat luas dan tinggi tak beratap. Auranya seakan menunjukkan kalau seluruh Informasi dunia terkumpul di dalam sana. Rak-rak buku menjulang tinggi hingga berkaki-kaki.

Shen Lan dapat merasakan aura berbeda di dalamnya. Wajar, karena semua petunjuk ilmu pasti berada di sana. Di setiap rak yang seakan setinggi langit dan sebanyak ratusan itu terdapat lautan buku dan gulungan bambu yang menggiurkan para kutu buku.

Walaupun Shen Lan tidak tertarik dengan perbukuan, tapi dia merasa takjub kali ini. Bahkan matanya tak henti-henti menatap lautan pengetahuan itu, dan tanpa sadar kakinya telah melangkah jauh ke dalam.

Shen Lan segera menerbangkan badannya, berusaha mencari buku sihir dan formasi untuk Yi Changyin. Banyak buku di sana, seharusnya tentang formasi itu ada kan? Pastinya ini akan memakan waktu berjam-jam.

.......

.......

.......

Xuan Chen membuka matanya saat cahaya matahari itu menerpa wajahnya. Ini sudah siang, apakah dia tidur terlalu lama? Ah sial! Dia telah melewatkan waktu merawat tanamannya. Lalu di mana Yi Changyin? Entahlah. Biasannya dia akan tertidur lebih lama dari Xuan Chen. Bahkan ketika Xuan Chen bangun kesiangan, rubah kecil itu masih tertidur di sampingnya.

Xuan Chen segera menegakkan tubuhnya dengan susah payah. Namun tiba-tiba, Yi Changyin datang terburu-buru dan membantunya duduknya.

"Yang mulia hati-hati.." Ujarnya.

"Ada angin dari mana Yi Changyin bangun lebih dulu dariku?" Tanya Xuan Chen dengan sarkartis.

Yi Changyin mendelik. "Memangnya kenapa kalau aku bangun lebih dulu darimu?" Ujarnya dengan ketus sambil meraih sapu tangan yang terendam air hangat dalam wadah.

"Tidak apa.. ini tidak seperti biasanya."

Yi Changyin tidak menjawab, dia hendak mengelap wajah Xuan Chen dengan sapu tangan itu. Tapi cepat-cepat Xuan Chen menghentikannya.

"Kau tidak perlu repot-repot." Cegahnya.

Yi Changyin mengerucutkan bibirnya sebelum akhirnya dia tersenyum manis. "Yang mulia diam dan menurutlah."

Xuan Chen tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya membiarkan sapu tangan berair itu membasahi wajah dan lehernya. Mata Xuan Chen menatap Yi Changyin yang sedang sibuk dengan senyuman tipisnya.

Perasaan apa ini? Xuan Chen bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya. Wajahnya yang berada tepat di depan matanya ini sangat mempesona. Kulitnya sangat putih dan tatapan mata yang menggiurkan. Sebagian surainya yang hitam legam menghiasi wajah gadis itu.

Yi Changyin sadar dengan tatapan dari Xuan Chen itu. Dia berdehem, membuat Xuan Chen tersentak dari lamunan terpesonanya. "Yang mulia jangan menatapku seperti itu." Wajahnya terlihat memerah, kentara gadis itu memang sedikit merasakan sesuatu di hatinya. "Aku jadi malu."

Xuan Chen terkekeh pelan mendengarnya, baru kali ini dia mendapati seorang gadis mengaku seperti itu saat di tatap oleh lawan jenis.

"Oh ya, dimana kakakmu?" Tanya Xuan Chen tiba-tiba tersadar akan ketiadaan Yi Xuemei.

Lagi-lagi Yi Changyin terlihat terkejut. "Ah! Dia.. dia.. dia memutuskan pulang." Ucapnya terbata-bata.

"Aku sudah menyiapkan sarapan." Ujar Yi Changyin sambil meraih jubah coklat muda diatasi gantungan, dia mengalihkan pembicaraan.

'Jangan sampai Xuan Chen tahu kalau Yi Xuemei pergi untuk meminta izin berguru di akademi Tianjin.' Pikirnya cemas. Xuan Chen tidak dapat mendengarnya, karena dia memutuskan komunikasi batin itu secara diam-diam terlebih dahulu.

"Aku juga sudah membersihkan rumah." Tambahnya yang membuat Xuan Chen terkesiap.

Jadi ini alasan Yi Changyin bangun lebih pagi?

"Aku juga sudah menyiram tanamanmu." Ujar Yi Changyin lagi sambil memasangkan jubah itu di tubuh Xuan Chen.

Xuan Chen menggerayangi wajah cantik yang begitu dekat, mencari celah kebohongan di setiap kata-katanya. Tapi gadis itu terlihat serius, dia tidak berbohong sama sekali. Apa yang dia sembunyikan?

"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Xuan Chen mulai mencurigai sesuatu.

Yi Changyin tertegun sesaat, seperti terkejut ketika Xuan Chen bertanya seperti itu padanya. Jelas-jelas dia memiliki alasan lain yang tidak dapat dia sampaikan.

"Aku.. aku akan menyiapkan makan pagi terlebih dahulu!" Ujar Yi Changyin mengalihkan pembicaraan.

Xuan Chen mencengkram pergelangan tangannya saat Yi Changyin hendak kabur. Lalu menariknya kembali hingga duduk di sampingnya. Xuan Chen menatap Yi Changyin penuh tanda tanya, sementara gadis itu tertunduk menahan sesuatu yang di pendamnya.

"Katakan yang sebenarnya." Pinta Xuan Chen dengan lembut. Dia tidak mau menakuti gadis itu.

"Aku.."

Xuan Chen tersenyum sambil membelai surai hitam gadis itu. "Tidak perlu takut."

"Aku akan pergi."

Senyuman Xuan Chen memudar begitu mendengar hal yang menusuk hatinya itu. "Kenapa?"

"Bukan apa-apa." Kemudian ekspresi Yi Changyin terlihat ceria, berusaha menghibur pria di hadapannya. "Yang mulia kau tenang saja, aku pergi bukan untuk meninggalkanmu."

Wajah muram Xuan Chen berangsur cerah. "Apakah kau akan pergi berkultivasi?"

Yi Changyin mengangguk sambil tersenyum. Xuan Chen bisa bernafas lega. Awalnya dia mengira Yi Changyin benar-benar akan pergi dan memutuskan kontrak dengannya, lalu pergi selamanya. Entah kenapa dia tidak ingin gadis itu pergi.

"Sebenarnya, bukan untuk berkultivasi juga. Aku akan pergi ke daratan tengah dan berguru di akademi Tianjin selama tiga tahun. Selain untuk berkultivasi, aku juga ingin meningkatkan ilmu pengetahuan. Tidak buruk bukan?" Jelasnya antusias. "Ketika makhluk abadi turun ke alam fana, dia akan mendapatkan pengaruhnya. Jadi, aku tidak perlu khawatir karena tidak akan berkultivasi sampai ribuan tahun."

Xuan Chen hanya tersenyum mendengar penjelasannya. "Kalau begitu aku ikut."

"Hah?" Yi Changyin menjatuhkan rahangnya saat mendengar hal itu.

.......

.......

.......

Kaisar Xuan Zhen tersenyum ramah. "Apa? Kau ingin menjadi murid akademi Tianjin?"

"Ya, ayah. Aku akan pergi bersama nona Changyin dan nona Xuemei. Mohon ayah mengizinkan.." Ujar Xuan Chen.

Setelah berunding dengan Yi Changyin, akhirnya gadis itu menyetujui Xuan Chen untuk ikut ke sana. Berlatih dan belajar bersama, itu akan menjadi lebih baik. Lagipula Xuan Chen tidak mau meninggalkan atau di tinggalkan gadis itu.

Jika Xuan Chen mendapatkan keberuntungan dan bisa menjadi murid di sana, kemampuan, kultivasi dan pengetahuannya akan meningkat. Kaisar Xuan Zhen seharusnya tidak perlu khawatir. Karena dengan Xuan Chen menjadi kuat, dia akan bisa melawan keluarga Jiang. Jika berhasil, dia harus berterimakasih pada Yi Changyin.

Yang Qiujiu yang saat ini tengah menemani kaisar pun merasa senang dengan kepercayaan diri putranya. "Kaisar, setujui saja. Ini juga sangat baik bagi Chen'er."

Kaisar mengangguk senang. "Baiklah. Chen'er, aku menyutujuinya."

.......

.......

.......

Seorang pria tampak berlari menyusuri lorong dengan tergesa-gesa bagaikan dikejar masalah yang membuatnya panik. Xuan Ye berjalan memasuki pintu ruangan Jiang Jinwei tanpa mengumumkan kedatangannya terlebih dahulu.

Ini sangat mendesak baginya, membuat para pelayan yang sedang melayani ibunya itu harus buru-buru undur diri. Jiang Jinwei pun terkejut dengan kedatangan putranya yang tiba-tiba.

"Ibu, ini sangat mendesak."

Jiang Jinwei mendesah kasar, waktu santainya telah di ganggu oleh Xuan Ye. Tapi dia harus tetap sabar, di lihat dari ekspresi anaknya, sepertinya masalah yang akan di laporkan ini tidaklah sederhana.

"Jangan terburu-buru, katakan apa yang terjadi?" Tanya Jiang Jinwei masih sedikit tidak peduli.

"Xuan Chen telah meminta izin pada ayah untuk berguru di akademi Tianjin. Dan ayah menyetujuinya, dia akan pergi esok hari dengan kedua rubah sialan itu!"

Jiang Jinwei menatap Xuan Ye dengan terkejut. Tidak sia-sia putranya ini menganggu waktu bersantainya, atau rencana yang dia rancang bersama akan hancur sia-sia.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi!" Kilat amarah terlihat dimata Jiang Jinwei

Xuan Ye mengerti, artinya sang ibu telah memerintahkan untuk menjalankan rencana itu sekarang. "Baik." Pria itu membungkuk sebelum akhirnya pergi.

Jiang Jinwei menggeram. Dia sangat kesal dengan pergerakan Xuan Chen yang begitu cepat. Ini sangat menjengkelkan! Hampir saja rencananya gagal, lalu mungkin selanjutnya, dia akan menatap keberhasilan Xuan Chen sambil menggigit jari.

.......

.......

.......

Yi Changyin dan Xuan Chen dengan kursi rodanya muncul di udara kosong. Mereka sudah tiba di halaman rumahnya yang sederhana. Hari ini sangat cerah, hingga tumbuhan dan bunga-bunga di sana terlihat lebih segar.

"Sebentar lagi musim panas." Yi Changyin menghela nafas. "Sangat cocok jika kita pergi ke pegunungan Tianjin. Disana sangat sejuk." Raut wajah Yi Changyin terlihat lebih cerah dari biasanya. Dia segera membawa Xuan Chen ke bawah pohon persik dan bersantai di sana.

"Kenapa kau hanya menanamnya satu pohon?" Tanya Yi Changyin sambil merangkak menaiki batang pohon. "Jika menjadikan rumahmu sebagai hutan persik, itu akan sangat indah." Tambahnya sambil bersantai di atas dahan, menikmati waktu-waktunya di alam fana.

"Aku mempunyai alasan."

"Benarkah?" Tanya Yi Changyin sambil menatap Xuan Chen di bawah sana dengan penasaran.

Xuan Chen tersenyum. "Bunga persik sangat indah, bisa menggambarkan seorang wanita. Jadi, aku hanya berharap memiliki satu orang yang setia di kehidupan ini."

"Siapa yang akan di jadikan istrimu?" Tanya Yi Changyin di atas sana, matanya sedang terpejam menikmati kesejukan disana.

Wajah Xuan Chen mengungkapkan kesedihan. "Entahlah, mungkin di kehidupan ini aku tidak akan mendapatkan seseorang yang mencintaiku."

Yi Changyin membuka matanya. Dia tidak berkata dalam hati, atau Xuan Chen akan mengetahuinya dan membuat diri sendiri malu. Dia hanya tersenyum, dan melukis sesuatu di udara kosong, sangat kecil.. hanya dia yang dapat membaca dan melihat.

'Bagaimana kalau aku yang mencintaimu?' Katanya di dalam tulisan lukisan berwarna emas itu.

Di bawah sana, Xuan Chen melakukan hal yang sama. Dia tidak mau mengungkapkan apa yang dia pikirkan dalam hatinya. Atau Yi Changyin akan mengetahuinya.

'Aku juga tidak tahu mengapa hanya menanam satu. Mungkin karena satu itu adalah Yi, dan Yi adalah nama marga mu. Aku berharap kebetulan ini adalah hal yang menyatukan kedua keluarga kita.'

Secara bersamaan, keduanya menghapus lukisan di udara kosong ini hingga hilang tanpa bekas. Senyuman mengembang di bibir mereka berdua. Yi Changyin dan Xuan Chen, seakan memiliki pemikiran yang sama tapi tak bisa di ketahui oleh satu sama lain. Saling memendam hal yang sama, tapi sama-sama tidak berani untuk mengungkapkan. Aih! Sungguh aneh.

Senyuman Yi Changyin menghilang, wajahnya berubah menjadi waspada. Tiba-tiba saja aura aneh terasa olehnya. Ini bukan hal biasa! Dia merasa seperti ada kumpulan orang yang akan melakukan hal yang jahat.

Yi Changyin segera mengeluarkan kipas Yin Zhenjie nya. Lalu turun dari atas pohon hingga udara yang terbelah oleh tubuhnya itu mengibarkan gaunnya yang panjang.

Kakinya mendarat sempurna di depan Xuan Chen. Pria itu sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan Yi Changyin. Jika di lihat, gadis itu seperti merasakan kewaspadaan.

"Yi Changyin, ada apa?"

Yi Changyin tidak menjawab, ekspresinya malah semakin waspada. Matanya menatap tajam ke area sekitar. Aura aneh dan kuat itu semakin menusuk-nusuk ke permukaan kulitnya.

"Keluar!!" Teriak Yi Changyin.

Tak lama kemudian, ratusan orang berbaju hitam mengepung rumah Xuan Chen dari segara arah. Pakaian mereka sama, tatapan mereka sama. Yaitu tatapan membunuh. Yi Changyin semakin waspada dengan hal ini, dia mundur beberapa langkah untuk melindungi Xuan Chen.

"BUNUH MEREKA BERDUA!!!"

.......

.......

.......

Jangan lupa like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉

Terpopuler

Comments

🦅lilyᰔᩚ

🦅lilyᰔᩚ

bagus😍

2021-05-22

2

Liany

Liany

semangat author

2021-04-05

0

Krysie~

Krysie~

mampir kk

2021-03-15

1

lihat semua
Episodes
1 PROLOG - Pertarungan Seratus Tahun
2 Bab I - Api Spiritual
3 Bab II - Pergi
4 Bab III - Ras Peri dan Kristal Jiwa
5 Bab IV - Pria Lumpuh
6 Bab V - Xuan Chen
7 Bab VI - Kontrak
8 VISUAL TOKOH
9 Bab VII - Cambukan petir
10 Bab VIII - Ketika Pengganggu Datang
11 Bab IX - Rela Demi Dia
12 Bab X - Berkunjung Ke Istana
13 Bab XI - Cambukan Siluman
14 Bab XII - Ketika Di Cambuk
15 Bab XIII - Bantuan Yi Xuemei
16 Bab XIV - Wilayah Zhongjian dan Akademi Tianjin
17 Penjelasan Tingkat Kultivasi dan Beberapa Pembagian di Dunia milik Author:v
18 Bab XV - Perpustakaan Langit
19 Bab XVI - Serangan dari Orang-orang Aneh
20 Bab XVII - Kemarahan Yi Wang
21 Bab XVIII - Sesuatu yang Dibuat Baiyun Dijun
22 Bab XIX - Ramuan Penghilang Cinta
23 Bab XX - Rubah Kecil
24 Bab XXI - Rencana Gaoqing Dijun
25 Bab XXII - Feng'er dan Heilong
26 Bab XXIII - Ruang Dimensi Spiritual
27 Bab XXIV - Bertemu Wei Qiao
28 Bab XXV - Cemburu?
29 Bab XXVI - Akademi Tianjin
30 Bab XXVII
31 Bab XXVIII - Kalajengking Hitam
32 Bab XXIX - Haruskah aku memanggilmu kakak seperguruan?
33 Bab XXX
34 Bab XXXI - Sebenarnya siapa aku?
35 Bab XXXII - Pecahan Ingatan Lagi
36 Bab XXXIII - Singa Roh Api
37 Bab XXXIV - Jebakan Wei Qiao
38 Bab XXXV - Kesalahan Pahaman Berujung Kelaparan
39 Bab XXXVI - Rencana Memutar Balikan Akibat
40 Bab XXXVII - Bodoh!
41 Bab XXXVIII - Tetua Ling Zhao Tahu?
42 Bab XXXIX - Bersama Kakek Bulan
43 Bab XL - Yue Xingfei & Hua Mu Dan
44 Bab XLI - Bayangan yang Menyerang
45 Bab XLII - Kekacauan
46 Bab XLIII - Batu Teleportasi
47 Bab XLIV - Aku mencintaimu..
48 Bab XLV - Mimpi terburuk Sepanjang Masa
49 Bab XLVI - Kau Kekasihku
50 Bab XLVII - Aku mencintainya, jangan halangi aku..
51 Bab XLVIII
52 Bab XLIX - Nasihat Dewi Yuan Ji
53 Bab L - Bulan dan Bintang
54 Bab LI - Pesan Pangeran Ketujuh
55 Bab LII - Rencana Qi Zhongma
56 Bab LIII - Kecelakaan Tak Terduga
57 Bab LIV - Persyaratan Yi Xuemei
58 Bab LV - Rencana Qi Xiangma
59 Bab LVI - Rencana Qi Xiangma (2)
60 Bab LVII - Rencana Qi Xiangma (3)
61 Bab LVIII - Rencana Qi Xiangma (4)
62 Bab LIX - Hadiah Zhang Bixuan
63 Bab LX - Kembalinya Bai Suyue
64 Bab LXI - Bersama Xuan Chen
65 Bab LXII - Kebahagiaan yang Berakhir
66 Bab LXIII - Di Hutan Bambu...
67 Bab LXIV- Penyelamatan Sang Dewi Rubah
68 Bab LXV - Rencana Tersembunyi Yi Changyin
69 Bab LXVI - Rencana Tersembunyi Yi Changyin (2)
70 Bab LXVII - Rencana Tersembunyi Yi Changyin (3)
71 Bab LXVIII - Balasan Untuk Wei Qiao
72 Bab LXIX - Akhir Untuk Sementara
73 Bab LXX - Kisah Phoenix dan Naga
74 Bab LXXI - Kisah Phoenix dan Naga (2)
75 Bab LXXII - Alam Peri yang Berubah
76 Bab LXXIII - Keindahan dan Kenikmatan Duniawi
77 Bab LXXIV - Awal Mula Gunung Tianjin
78 Bab LXXV - Usaha Membangunkan sang Pemimpi
79 Bab LXXVI - Untitled
80 Bab LXXVII - Tuduhan Lao Jun
81 Bab LXXVIII - Kemunculan Sesuatu
82 Bab LXXIX - Bangkit yang Kedua Kalinya
83 Bab LXXX - Bangkit yang Kedua Kalinya (2)
84 Bab LXXXI - Sesuatu yang tertanam
85 Bab LXXXII - Awal Mula Alam Peri
86 Bab LXXXIII - Awal Mula Alam Peri (2)
87 Bab LXXXIV - Untitled
88 Bab LXXXV - Qiao Jirong dan Kembalinya Alam Peri
89 Bab LXXXVI - Di Daerah Istana Bulan
90 Bab LXXXVII - Sesuatu Akan Terjadi
91 Bab LXXXVIII - Dia... Wu Yun?!
92 Bab LXXXIX - Ketika Racun Bereaksi
93 Bab XC - Pil Jamur Lingzhi
94 Bab XCI - Penjelasan si Hantu Wanita
95 Bab XCII - Upacara Penghormatan Terakhir
96 Bab XCIII - Di Atas Ayunan
97 Bab XCIV - Serangan Wanita itu
98 Bab XCV - Yi Changyin Jatuh Pingsan
99 Bab XCVI - Menjadi Putri Ketujuh
100 Bab XCVII - Rindu Ayah : 'Shui Jifeng'
101 Bab XCVIII - Mulai Sekarang
102 Bab XCIX - Berencana Pergi
103 Bab C - Adipati Zhaoyang
104 Bab CI - Mempermalukan Xuan Ye
105 Bab CII - Wu Yun kembali?
106 Bab CIII - Bertemu Kembali
107 Bab CIV - Mimpi di Tengah Badai
108 Bab CV - Merasa kehilangan sebelum membuat kenangan
109 Bab CVI - Derita dari Langit
110 Bab CVII - Rencana Mereka
111 Bab CVIII - Seribu Tahun Lalu, pernah menjadi masa lalu
112 Bab CIX - Hadiah Pernikahan
113 Bab CX - Pernikahan Kedua Kalinya
114 Bab CXI - Yi Changyin Pergi
115 Bab CXII - Menuju Alam Baka
116 Bab CXIII - Rencana Kotor
117 Bab CXIV - Sialan!
118 Bab CXV - Kemunculan Monster Alam Baka
119 Bab CXVI - Diselamatkan Dewi
120 Bab CXVII - Bertemu ayah
121 Bab CXVIII - Diguncang Sampai Karam
122 Bab CXIX - Kembali Memelukmu
123 Bab CXX - Dikacaukan
124 Bab CXXI - Keputusan Xuan Chen
125 Bab CXXII - Anak Kedua?
126 Bab CXXIII - Memecahkan Formasi
127 Bab CXXIV - Kembali Sepenuhnya
128 Bab CXXV - Tidak Seperti yang Dirumorkan
129 Bab CXXVI - Pengakuan Wei Qiao
130 Bab CXXVII - Takut Kehilangan
131 Bab CXXVIII - Di Halaman Belakang
132 Bab CXXIX - Racun Kembali Datang
133 Bab CXXX - Rencana Tersembunyi Xuan Chen
134 Bab CXXXI - Setelah Hukuman
135 Bab CXXXII - Kedatangan Wen Yuexin
136 Bab CXXXIII - Perbincangan
137 Bab CXXXIV - Yi Changyin marah
138 Bab CXXXV - Yi Changyin melahirkan
139 Bab CXXXVI - Xuan Sifeng & Xuan Sijiu
140 Bab CXXXVII - Mengunjungi klan Rubah ekor sembilan
141 Bab CXXXVIII - Kesedihan Xuan Rong
142 Bab CXXXIX - Perang
143 Bab CXL - Masa Lalu
144 Bab CXLI - Kehancuran hati yang sebenarnya
145 Bab CXLII - Yi Changyin bisa kembali
146 Bab CXLIII - Sebelum Mencari
147 Bab CXLIV - Mencari Potongan Jiwa Yi Changyin
148 Bab CXLV - Mencari Potongan Jiwa Yi Changyin (2)
149 Bab CXLVI - Mencari Potongan Jiwa Yi Changyin (3)
150 Bab CXLVII - Setelah pencarian
151 Bab CXLVIII - Menyatukan Potongan Jiwa Yi Changyin
152 Bab CXLIX - Jiwa Telah Memadat
153 Bab CL - Kebahagiaan yang Kembali
154 Bab CLI - Kebahagiaan yang Kembali (2)
155 Bab CLII - Ekstra Chapter 1 : Road To Ending
156 Bab CLIII - Ekstra Chapter 2 : ENDING
157 Dari Author ^_^
Episodes

Updated 157 Episodes

1
PROLOG - Pertarungan Seratus Tahun
2
Bab I - Api Spiritual
3
Bab II - Pergi
4
Bab III - Ras Peri dan Kristal Jiwa
5
Bab IV - Pria Lumpuh
6
Bab V - Xuan Chen
7
Bab VI - Kontrak
8
VISUAL TOKOH
9
Bab VII - Cambukan petir
10
Bab VIII - Ketika Pengganggu Datang
11
Bab IX - Rela Demi Dia
12
Bab X - Berkunjung Ke Istana
13
Bab XI - Cambukan Siluman
14
Bab XII - Ketika Di Cambuk
15
Bab XIII - Bantuan Yi Xuemei
16
Bab XIV - Wilayah Zhongjian dan Akademi Tianjin
17
Penjelasan Tingkat Kultivasi dan Beberapa Pembagian di Dunia milik Author:v
18
Bab XV - Perpustakaan Langit
19
Bab XVI - Serangan dari Orang-orang Aneh
20
Bab XVII - Kemarahan Yi Wang
21
Bab XVIII - Sesuatu yang Dibuat Baiyun Dijun
22
Bab XIX - Ramuan Penghilang Cinta
23
Bab XX - Rubah Kecil
24
Bab XXI - Rencana Gaoqing Dijun
25
Bab XXII - Feng'er dan Heilong
26
Bab XXIII - Ruang Dimensi Spiritual
27
Bab XXIV - Bertemu Wei Qiao
28
Bab XXV - Cemburu?
29
Bab XXVI - Akademi Tianjin
30
Bab XXVII
31
Bab XXVIII - Kalajengking Hitam
32
Bab XXIX - Haruskah aku memanggilmu kakak seperguruan?
33
Bab XXX
34
Bab XXXI - Sebenarnya siapa aku?
35
Bab XXXII - Pecahan Ingatan Lagi
36
Bab XXXIII - Singa Roh Api
37
Bab XXXIV - Jebakan Wei Qiao
38
Bab XXXV - Kesalahan Pahaman Berujung Kelaparan
39
Bab XXXVI - Rencana Memutar Balikan Akibat
40
Bab XXXVII - Bodoh!
41
Bab XXXVIII - Tetua Ling Zhao Tahu?
42
Bab XXXIX - Bersama Kakek Bulan
43
Bab XL - Yue Xingfei & Hua Mu Dan
44
Bab XLI - Bayangan yang Menyerang
45
Bab XLII - Kekacauan
46
Bab XLIII - Batu Teleportasi
47
Bab XLIV - Aku mencintaimu..
48
Bab XLV - Mimpi terburuk Sepanjang Masa
49
Bab XLVI - Kau Kekasihku
50
Bab XLVII - Aku mencintainya, jangan halangi aku..
51
Bab XLVIII
52
Bab XLIX - Nasihat Dewi Yuan Ji
53
Bab L - Bulan dan Bintang
54
Bab LI - Pesan Pangeran Ketujuh
55
Bab LII - Rencana Qi Zhongma
56
Bab LIII - Kecelakaan Tak Terduga
57
Bab LIV - Persyaratan Yi Xuemei
58
Bab LV - Rencana Qi Xiangma
59
Bab LVI - Rencana Qi Xiangma (2)
60
Bab LVII - Rencana Qi Xiangma (3)
61
Bab LVIII - Rencana Qi Xiangma (4)
62
Bab LIX - Hadiah Zhang Bixuan
63
Bab LX - Kembalinya Bai Suyue
64
Bab LXI - Bersama Xuan Chen
65
Bab LXII - Kebahagiaan yang Berakhir
66
Bab LXIII - Di Hutan Bambu...
67
Bab LXIV- Penyelamatan Sang Dewi Rubah
68
Bab LXV - Rencana Tersembunyi Yi Changyin
69
Bab LXVI - Rencana Tersembunyi Yi Changyin (2)
70
Bab LXVII - Rencana Tersembunyi Yi Changyin (3)
71
Bab LXVIII - Balasan Untuk Wei Qiao
72
Bab LXIX - Akhir Untuk Sementara
73
Bab LXX - Kisah Phoenix dan Naga
74
Bab LXXI - Kisah Phoenix dan Naga (2)
75
Bab LXXII - Alam Peri yang Berubah
76
Bab LXXIII - Keindahan dan Kenikmatan Duniawi
77
Bab LXXIV - Awal Mula Gunung Tianjin
78
Bab LXXV - Usaha Membangunkan sang Pemimpi
79
Bab LXXVI - Untitled
80
Bab LXXVII - Tuduhan Lao Jun
81
Bab LXXVIII - Kemunculan Sesuatu
82
Bab LXXIX - Bangkit yang Kedua Kalinya
83
Bab LXXX - Bangkit yang Kedua Kalinya (2)
84
Bab LXXXI - Sesuatu yang tertanam
85
Bab LXXXII - Awal Mula Alam Peri
86
Bab LXXXIII - Awal Mula Alam Peri (2)
87
Bab LXXXIV - Untitled
88
Bab LXXXV - Qiao Jirong dan Kembalinya Alam Peri
89
Bab LXXXVI - Di Daerah Istana Bulan
90
Bab LXXXVII - Sesuatu Akan Terjadi
91
Bab LXXXVIII - Dia... Wu Yun?!
92
Bab LXXXIX - Ketika Racun Bereaksi
93
Bab XC - Pil Jamur Lingzhi
94
Bab XCI - Penjelasan si Hantu Wanita
95
Bab XCII - Upacara Penghormatan Terakhir
96
Bab XCIII - Di Atas Ayunan
97
Bab XCIV - Serangan Wanita itu
98
Bab XCV - Yi Changyin Jatuh Pingsan
99
Bab XCVI - Menjadi Putri Ketujuh
100
Bab XCVII - Rindu Ayah : 'Shui Jifeng'
101
Bab XCVIII - Mulai Sekarang
102
Bab XCIX - Berencana Pergi
103
Bab C - Adipati Zhaoyang
104
Bab CI - Mempermalukan Xuan Ye
105
Bab CII - Wu Yun kembali?
106
Bab CIII - Bertemu Kembali
107
Bab CIV - Mimpi di Tengah Badai
108
Bab CV - Merasa kehilangan sebelum membuat kenangan
109
Bab CVI - Derita dari Langit
110
Bab CVII - Rencana Mereka
111
Bab CVIII - Seribu Tahun Lalu, pernah menjadi masa lalu
112
Bab CIX - Hadiah Pernikahan
113
Bab CX - Pernikahan Kedua Kalinya
114
Bab CXI - Yi Changyin Pergi
115
Bab CXII - Menuju Alam Baka
116
Bab CXIII - Rencana Kotor
117
Bab CXIV - Sialan!
118
Bab CXV - Kemunculan Monster Alam Baka
119
Bab CXVI - Diselamatkan Dewi
120
Bab CXVII - Bertemu ayah
121
Bab CXVIII - Diguncang Sampai Karam
122
Bab CXIX - Kembali Memelukmu
123
Bab CXX - Dikacaukan
124
Bab CXXI - Keputusan Xuan Chen
125
Bab CXXII - Anak Kedua?
126
Bab CXXIII - Memecahkan Formasi
127
Bab CXXIV - Kembali Sepenuhnya
128
Bab CXXV - Tidak Seperti yang Dirumorkan
129
Bab CXXVI - Pengakuan Wei Qiao
130
Bab CXXVII - Takut Kehilangan
131
Bab CXXVIII - Di Halaman Belakang
132
Bab CXXIX - Racun Kembali Datang
133
Bab CXXX - Rencana Tersembunyi Xuan Chen
134
Bab CXXXI - Setelah Hukuman
135
Bab CXXXII - Kedatangan Wen Yuexin
136
Bab CXXXIII - Perbincangan
137
Bab CXXXIV - Yi Changyin marah
138
Bab CXXXV - Yi Changyin melahirkan
139
Bab CXXXVI - Xuan Sifeng & Xuan Sijiu
140
Bab CXXXVII - Mengunjungi klan Rubah ekor sembilan
141
Bab CXXXVIII - Kesedihan Xuan Rong
142
Bab CXXXIX - Perang
143
Bab CXL - Masa Lalu
144
Bab CXLI - Kehancuran hati yang sebenarnya
145
Bab CXLII - Yi Changyin bisa kembali
146
Bab CXLIII - Sebelum Mencari
147
Bab CXLIV - Mencari Potongan Jiwa Yi Changyin
148
Bab CXLV - Mencari Potongan Jiwa Yi Changyin (2)
149
Bab CXLVI - Mencari Potongan Jiwa Yi Changyin (3)
150
Bab CXLVII - Setelah pencarian
151
Bab CXLVIII - Menyatukan Potongan Jiwa Yi Changyin
152
Bab CXLIX - Jiwa Telah Memadat
153
Bab CL - Kebahagiaan yang Kembali
154
Bab CLI - Kebahagiaan yang Kembali (2)
155
Bab CLII - Ekstra Chapter 1 : Road To Ending
156
Bab CLIII - Ekstra Chapter 2 : ENDING
157
Dari Author ^_^

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!