Shen Lan kini sudah berada di gerbang istana alam langit. Sebelumnya dia tidak pernah datang kemari, hingga agak merasa aneh dengan lingkungannya. Klan rubah ekor sembilan masih bagian dari alam langit, tapi lingkungan mereka jelas-jelas berbeda.
Alam langit atas berbeda dengan alam langit bawah. Mereka lebih ketat dan teratur. Tidak ada warna hitam di setiap sudut bangunan-bangunan nya. Bahkan sampai baju zirah prajurit pun berwarna putih dengan kilauan perak.
Tanpa menunggu lama, Shen Lan menghampiri kedua penjaga gerbang dan menunjukkan token kekerabatan Phoenix nya. Kedua penjaga itu tidak menghadang, bahkan dengan senang hati membiarkan Shen Lan masuk ke dalam.
"Silahkan Dewa kecil masuk." Ujar salah satunya dengan sopan.
Shen Lan mendengus saat dirinya di sebut dewa kecil, lalu dia bergegas masuk tanpa memperdulikan mereka lagi. Tak lama kemudian, dia bertemu dengan seorang dayang alam langit yang menghadangnya.
"Tuan dewa, anda tampak baru di istana langit kami. Jika perlu bantuan hamba untuk penunjuk jalan, hamba bisa melakukannya." Ujar dayang itu dengan sopan. Awalnya Shen Lan mengira dayang itu akan macam-macam, nyatanya tidak.
Shen Lan segera menunjukan pelakat kekerabatan klan Phoenix pada pelayan itu. "Nona Xuemei kami mengutusku untuk berbicara dengan putri agung Feng Lian."
*Putri agung \= sebutan untuk istri pangeran di alam langit.
"Silahkan tuan dewa kecil ikuti hamba." Kata pelayan itu sebelum akhirnya berjalan untuk memimpin jalan. Tanpa ragu, Shen Lan mengikutinya dari belakang.
Sampai lah mereka pada gerbang sebuah paviliun yang megah. Pelayan itu beringsut undur diri, sedangkan Shen Lan segera menunjukan plakat pada dua orang pengawal itu.
"Harap tuan dewa menunggu sebentar." Ujar pengawal itu sebelum akhirnya pergi masuk di dalam halaman.
Shen Lan diam-diam tersenyum. Sangat enak dia bisa memasuki sebuah tempat tanpa harus berkelahi terlebih dahulu. bahkan mereka menyebutnya sebagai tuan dewa kecil, ah sungguh menyenangkan.
Tak lama menunggu, pelayan itu kembali. "Putri agung setuju untuk bertemu dengan anda."
"Baik." Shen Lan tersenyum lagi, ini adalah suatu keberuntungan baginya yang belum pernah menginjak alam langit atas sebelumnya.
Shen Lan di bawa masuk menemui Feng Lian. Wanita itu terbilang masih muda dan cantik. Anggun dan menawan. Di pangkuannya tertidur seorang bayi, tidak salah lagi kalau dia adalah anaknya.
Meningkatkan formalitas, Shen Lan bersujud di hadapan wanita itu. "Shen Lan, memberi hormat pada putri agung Feng Lian."
Wanita itu tidak sombong seperti kebanyakan orang di klan Phoenix lainnya. Walaupun masih adik Feng Chao, tapi kepribadian mereka jelas-jelas berbeda. "Bangunlah.." Shen Lan segera menegakkan tubuhnya. "Apa tujuan Yi Xuemei mengutusmu kemari, dewa kecil?" Tanyanya dengan ramah.
Lagi-lagi dia di sebut dewa kecil. Apakah benar dia seperti dewa? Dia hanya bunga roh biasa!
"Jawab putri agung. Perpustakaan langit banyak menyimpan informasi yang bahkan tidak diketahui dunia. Nona muda menyuruhku kemari untuk mencari salah satu buku di sana. Kalau putri agung berkenan, hamba ingin masuk ke dalam dan mencari yang di inginkan nona muda kami atas nama putri agung." Jelas Shen Lan.
Feng Lian tersenyum. "Qiuqiu, antar dewa kecil ini ke perpustakaan langit." Ujarnya pada dayang yang berdiri di dekatnya.
"Baik, putri agung." Gadis pelayan itu menghampiri Shen Lan. "Mari, dewa kecil."
"Terimakasih, putri agung." Ujar Shen Lan sebelum akhirnya pergi.
Awalnya dia mengira kalau Feng Lian akan sama dengan kakaknya. Yaitu menyulitkannya terlebih dahulu. Tapi ternyata dia hanya berburuk sangka. Feng Lian sama sekali tidak menunjukkan keagungannya sebagai wanita dari klan Phoenix. Justru di lihat dari lekuk wajahnya, dia bukan orang sombong.
Setelah berjalan lama, Shen Lan dan Qiuqiu sampai pada gerbang yang di jaga dua orang prajurit langit. Keduanya tentu saja sangat tidak asing dengan keberadaan Qiuqiu.
"Bukankan ini Qiuqiu dari kediaman putri agung Feng Lian?" Tanya salah satu panjaga itu dengan ramah.
Qiuqiu tersenyum. "Yaa, dewa kecil ini adalah utusan keponakan putri agung. Atas nama putri agung kami, mohon izinkan dewa kecil ini untuk masuk."
"Oh, tentu saja!"
"Dewa kecil, silahkan masuk." Ujar Qiuqiu mempersilahkan.
"Baik." Selagi Shen Lan memasuki ruangan, Qiuqiu bergegas kembali ke kediaman majikannya.
Shen Lan menatap perpustakaan itu dengan takjub. Jika Yi Changyin yang di bawa ke sini, mungkin dia akan berekspresi sama dengannya. Shen Lan tersadar, mengapa kali ini dia lebih banyak mengeluarkan ekspresi?!
Perpustakaan langit ini jauh berbeda dengan perpustakaan di tempat lain. Ruangannya sangat luas dan tinggi tak beratap. Auranya seakan menunjukkan kalau seluruh Informasi dunia terkumpul di dalam sana. Rak-rak buku menjulang tinggi hingga berkaki-kaki.
Shen Lan dapat merasakan aura berbeda di dalamnya. Wajar, karena semua petunjuk ilmu pasti berada di sana. Di setiap rak yang seakan setinggi langit dan sebanyak ratusan itu terdapat lautan buku dan gulungan bambu yang menggiurkan para kutu buku.
Walaupun Shen Lan tidak tertarik dengan perbukuan, tapi dia merasa takjub kali ini. Bahkan matanya tak henti-henti menatap lautan pengetahuan itu, dan tanpa sadar kakinya telah melangkah jauh ke dalam.
Shen Lan segera menerbangkan badannya, berusaha mencari buku sihir dan formasi untuk Yi Changyin. Banyak buku di sana, seharusnya tentang formasi itu ada kan? Pastinya ini akan memakan waktu berjam-jam.
.......
.......
.......
Xuan Chen membuka matanya saat cahaya matahari itu menerpa wajahnya. Ini sudah siang, apakah dia tidur terlalu lama? Ah sial! Dia telah melewatkan waktu merawat tanamannya. Lalu di mana Yi Changyin? Entahlah. Biasannya dia akan tertidur lebih lama dari Xuan Chen. Bahkan ketika Xuan Chen bangun kesiangan, rubah kecil itu masih tertidur di sampingnya.
Xuan Chen segera menegakkan tubuhnya dengan susah payah. Namun tiba-tiba, Yi Changyin datang terburu-buru dan membantunya duduknya.
"Yang mulia hati-hati.." Ujarnya.
"Ada angin dari mana Yi Changyin bangun lebih dulu dariku?" Tanya Xuan Chen dengan sarkartis.
Yi Changyin mendelik. "Memangnya kenapa kalau aku bangun lebih dulu darimu?" Ujarnya dengan ketus sambil meraih sapu tangan yang terendam air hangat dalam wadah.
"Tidak apa.. ini tidak seperti biasanya."
Yi Changyin tidak menjawab, dia hendak mengelap wajah Xuan Chen dengan sapu tangan itu. Tapi cepat-cepat Xuan Chen menghentikannya.
"Kau tidak perlu repot-repot." Cegahnya.
Yi Changyin mengerucutkan bibirnya sebelum akhirnya dia tersenyum manis. "Yang mulia diam dan menurutlah."
Xuan Chen tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya membiarkan sapu tangan berair itu membasahi wajah dan lehernya. Mata Xuan Chen menatap Yi Changyin yang sedang sibuk dengan senyuman tipisnya.
Perasaan apa ini? Xuan Chen bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya. Wajahnya yang berada tepat di depan matanya ini sangat mempesona. Kulitnya sangat putih dan tatapan mata yang menggiurkan. Sebagian surainya yang hitam legam menghiasi wajah gadis itu.
Yi Changyin sadar dengan tatapan dari Xuan Chen itu. Dia berdehem, membuat Xuan Chen tersentak dari lamunan terpesonanya. "Yang mulia jangan menatapku seperti itu." Wajahnya terlihat memerah, kentara gadis itu memang sedikit merasakan sesuatu di hatinya. "Aku jadi malu."
Xuan Chen terkekeh pelan mendengarnya, baru kali ini dia mendapati seorang gadis mengaku seperti itu saat di tatap oleh lawan jenis.
"Oh ya, dimana kakakmu?" Tanya Xuan Chen tiba-tiba tersadar akan ketiadaan Yi Xuemei.
Lagi-lagi Yi Changyin terlihat terkejut. "Ah! Dia.. dia.. dia memutuskan pulang." Ucapnya terbata-bata.
"Aku sudah menyiapkan sarapan." Ujar Yi Changyin sambil meraih jubah coklat muda diatasi gantungan, dia mengalihkan pembicaraan.
'Jangan sampai Xuan Chen tahu kalau Yi Xuemei pergi untuk meminta izin berguru di akademi Tianjin.' Pikirnya cemas. Xuan Chen tidak dapat mendengarnya, karena dia memutuskan komunikasi batin itu secara diam-diam terlebih dahulu.
"Aku juga sudah membersihkan rumah." Tambahnya yang membuat Xuan Chen terkesiap.
Jadi ini alasan Yi Changyin bangun lebih pagi?
"Aku juga sudah menyiram tanamanmu." Ujar Yi Changyin lagi sambil memasangkan jubah itu di tubuh Xuan Chen.
Xuan Chen menggerayangi wajah cantik yang begitu dekat, mencari celah kebohongan di setiap kata-katanya. Tapi gadis itu terlihat serius, dia tidak berbohong sama sekali. Apa yang dia sembunyikan?
"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Xuan Chen mulai mencurigai sesuatu.
Yi Changyin tertegun sesaat, seperti terkejut ketika Xuan Chen bertanya seperti itu padanya. Jelas-jelas dia memiliki alasan lain yang tidak dapat dia sampaikan.
"Aku.. aku akan menyiapkan makan pagi terlebih dahulu!" Ujar Yi Changyin mengalihkan pembicaraan.
Xuan Chen mencengkram pergelangan tangannya saat Yi Changyin hendak kabur. Lalu menariknya kembali hingga duduk di sampingnya. Xuan Chen menatap Yi Changyin penuh tanda tanya, sementara gadis itu tertunduk menahan sesuatu yang di pendamnya.
"Katakan yang sebenarnya." Pinta Xuan Chen dengan lembut. Dia tidak mau menakuti gadis itu.
"Aku.."
Xuan Chen tersenyum sambil membelai surai hitam gadis itu. "Tidak perlu takut."
"Aku akan pergi."
Senyuman Xuan Chen memudar begitu mendengar hal yang menusuk hatinya itu. "Kenapa?"
"Bukan apa-apa." Kemudian ekspresi Yi Changyin terlihat ceria, berusaha menghibur pria di hadapannya. "Yang mulia kau tenang saja, aku pergi bukan untuk meninggalkanmu."
Wajah muram Xuan Chen berangsur cerah. "Apakah kau akan pergi berkultivasi?"
Yi Changyin mengangguk sambil tersenyum. Xuan Chen bisa bernafas lega. Awalnya dia mengira Yi Changyin benar-benar akan pergi dan memutuskan kontrak dengannya, lalu pergi selamanya. Entah kenapa dia tidak ingin gadis itu pergi.
"Sebenarnya, bukan untuk berkultivasi juga. Aku akan pergi ke daratan tengah dan berguru di akademi Tianjin selama tiga tahun. Selain untuk berkultivasi, aku juga ingin meningkatkan ilmu pengetahuan. Tidak buruk bukan?" Jelasnya antusias. "Ketika makhluk abadi turun ke alam fana, dia akan mendapatkan pengaruhnya. Jadi, aku tidak perlu khawatir karena tidak akan berkultivasi sampai ribuan tahun."
Xuan Chen hanya tersenyum mendengar penjelasannya. "Kalau begitu aku ikut."
"Hah?" Yi Changyin menjatuhkan rahangnya saat mendengar hal itu.
.......
.......
.......
Kaisar Xuan Zhen tersenyum ramah. "Apa? Kau ingin menjadi murid akademi Tianjin?"
"Ya, ayah. Aku akan pergi bersama nona Changyin dan nona Xuemei. Mohon ayah mengizinkan.." Ujar Xuan Chen.
Setelah berunding dengan Yi Changyin, akhirnya gadis itu menyetujui Xuan Chen untuk ikut ke sana. Berlatih dan belajar bersama, itu akan menjadi lebih baik. Lagipula Xuan Chen tidak mau meninggalkan atau di tinggalkan gadis itu.
Jika Xuan Chen mendapatkan keberuntungan dan bisa menjadi murid di sana, kemampuan, kultivasi dan pengetahuannya akan meningkat. Kaisar Xuan Zhen seharusnya tidak perlu khawatir. Karena dengan Xuan Chen menjadi kuat, dia akan bisa melawan keluarga Jiang. Jika berhasil, dia harus berterimakasih pada Yi Changyin.
Yang Qiujiu yang saat ini tengah menemani kaisar pun merasa senang dengan kepercayaan diri putranya. "Kaisar, setujui saja. Ini juga sangat baik bagi Chen'er."
Kaisar mengangguk senang. "Baiklah. Chen'er, aku menyutujuinya."
.......
.......
.......
Seorang pria tampak berlari menyusuri lorong dengan tergesa-gesa bagaikan dikejar masalah yang membuatnya panik. Xuan Ye berjalan memasuki pintu ruangan Jiang Jinwei tanpa mengumumkan kedatangannya terlebih dahulu.
Ini sangat mendesak baginya, membuat para pelayan yang sedang melayani ibunya itu harus buru-buru undur diri. Jiang Jinwei pun terkejut dengan kedatangan putranya yang tiba-tiba.
"Ibu, ini sangat mendesak."
Jiang Jinwei mendesah kasar, waktu santainya telah di ganggu oleh Xuan Ye. Tapi dia harus tetap sabar, di lihat dari ekspresi anaknya, sepertinya masalah yang akan di laporkan ini tidaklah sederhana.
"Jangan terburu-buru, katakan apa yang terjadi?" Tanya Jiang Jinwei masih sedikit tidak peduli.
"Xuan Chen telah meminta izin pada ayah untuk berguru di akademi Tianjin. Dan ayah menyetujuinya, dia akan pergi esok hari dengan kedua rubah sialan itu!"
Jiang Jinwei menatap Xuan Ye dengan terkejut. Tidak sia-sia putranya ini menganggu waktu bersantainya, atau rencana yang dia rancang bersama akan hancur sia-sia.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi!" Kilat amarah terlihat dimata Jiang Jinwei
Xuan Ye mengerti, artinya sang ibu telah memerintahkan untuk menjalankan rencana itu sekarang. "Baik." Pria itu membungkuk sebelum akhirnya pergi.
Jiang Jinwei menggeram. Dia sangat kesal dengan pergerakan Xuan Chen yang begitu cepat. Ini sangat menjengkelkan! Hampir saja rencananya gagal, lalu mungkin selanjutnya, dia akan menatap keberhasilan Xuan Chen sambil menggigit jari.
.......
.......
.......
Yi Changyin dan Xuan Chen dengan kursi rodanya muncul di udara kosong. Mereka sudah tiba di halaman rumahnya yang sederhana. Hari ini sangat cerah, hingga tumbuhan dan bunga-bunga di sana terlihat lebih segar.
"Sebentar lagi musim panas." Yi Changyin menghela nafas. "Sangat cocok jika kita pergi ke pegunungan Tianjin. Disana sangat sejuk." Raut wajah Yi Changyin terlihat lebih cerah dari biasanya. Dia segera membawa Xuan Chen ke bawah pohon persik dan bersantai di sana.
"Kenapa kau hanya menanamnya satu pohon?" Tanya Yi Changyin sambil merangkak menaiki batang pohon. "Jika menjadikan rumahmu sebagai hutan persik, itu akan sangat indah." Tambahnya sambil bersantai di atas dahan, menikmati waktu-waktunya di alam fana.
"Aku mempunyai alasan."
"Benarkah?" Tanya Yi Changyin sambil menatap Xuan Chen di bawah sana dengan penasaran.
Xuan Chen tersenyum. "Bunga persik sangat indah, bisa menggambarkan seorang wanita. Jadi, aku hanya berharap memiliki satu orang yang setia di kehidupan ini."
"Siapa yang akan di jadikan istrimu?" Tanya Yi Changyin di atas sana, matanya sedang terpejam menikmati kesejukan disana.
Wajah Xuan Chen mengungkapkan kesedihan. "Entahlah, mungkin di kehidupan ini aku tidak akan mendapatkan seseorang yang mencintaiku."
Yi Changyin membuka matanya. Dia tidak berkata dalam hati, atau Xuan Chen akan mengetahuinya dan membuat diri sendiri malu. Dia hanya tersenyum, dan melukis sesuatu di udara kosong, sangat kecil.. hanya dia yang dapat membaca dan melihat.
'Bagaimana kalau aku yang mencintaimu?' Katanya di dalam tulisan lukisan berwarna emas itu.
Di bawah sana, Xuan Chen melakukan hal yang sama. Dia tidak mau mengungkapkan apa yang dia pikirkan dalam hatinya. Atau Yi Changyin akan mengetahuinya.
'Aku juga tidak tahu mengapa hanya menanam satu. Mungkin karena satu itu adalah Yi, dan Yi adalah nama marga mu. Aku berharap kebetulan ini adalah hal yang menyatukan kedua keluarga kita.'
Secara bersamaan, keduanya menghapus lukisan di udara kosong ini hingga hilang tanpa bekas. Senyuman mengembang di bibir mereka berdua. Yi Changyin dan Xuan Chen, seakan memiliki pemikiran yang sama tapi tak bisa di ketahui oleh satu sama lain. Saling memendam hal yang sama, tapi sama-sama tidak berani untuk mengungkapkan. Aih! Sungguh aneh.
Senyuman Yi Changyin menghilang, wajahnya berubah menjadi waspada. Tiba-tiba saja aura aneh terasa olehnya. Ini bukan hal biasa! Dia merasa seperti ada kumpulan orang yang akan melakukan hal yang jahat.
Yi Changyin segera mengeluarkan kipas Yin Zhenjie nya. Lalu turun dari atas pohon hingga udara yang terbelah oleh tubuhnya itu mengibarkan gaunnya yang panjang.
Kakinya mendarat sempurna di depan Xuan Chen. Pria itu sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan Yi Changyin. Jika di lihat, gadis itu seperti merasakan kewaspadaan.
"Yi Changyin, ada apa?"
Yi Changyin tidak menjawab, ekspresinya malah semakin waspada. Matanya menatap tajam ke area sekitar. Aura aneh dan kuat itu semakin menusuk-nusuk ke permukaan kulitnya.
"Keluar!!" Teriak Yi Changyin.
Tak lama kemudian, ratusan orang berbaju hitam mengepung rumah Xuan Chen dari segara arah. Pakaian mereka sama, tatapan mereka sama. Yaitu tatapan membunuh. Yi Changyin semakin waspada dengan hal ini, dia mundur beberapa langkah untuk melindungi Xuan Chen.
"BUNUH MEREKA BERDUA!!!"
.......
.......
.......
Jangan lupa like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
🦅lilyᰔᩚ
bagus😍
2021-05-22
2
Liany
semangat author
2021-04-05
0
Krysie~
mampir kk
2021-03-15
1