Bab VII - Cambukan petir

Yi Changyin keluar dari ruangan tanpa memperdulikan teriakan Xuan Chen dalam benaknya. Dia menatap langit sambil mengumpulkan tekad dan keberanian. Oh Yi Changyin, entah karena apa dia berani berkorban pada pria yang baru di kenalnya itu. Entah kenapa menurutnya rasa ini begitu berbeda.

Yi Changyin mengibaskan tangannya di udara kosong, memutuskan komunikasi antar batin dengan Xuan Chen. Suara larangan itu sudah tak mengiang-ngiang lagi di dalam telinganya, hingga dia bisa lebih tenang menjalani ujiannya. Tentu saja Xuan Chen merasakan tindakan Yi Changyin yang memutuskannya sebelah pihak. Dia lebih lemah di banding hewan abadinya, tidak bisa menghubungkannya kembali.

Yi Changyin mulai melangkahkan menuju tengah-tengah halaman. Menunggu Sambaran petir datang menghantam tubuhnya yang kecil. Dia harus yakin, ini adalah pertama kalinya dia mengorbankan sesuatu untuk orang lain.

JDERR!! JDERR!! JDERR!!

Tinggal cambukan sekaligus menghantam tubuh Yi Changyin. Dia hanya ambruk dengan seteguk darah yang dia muntah kan. Tidak berani berteriak dan membuat orang-orang di belakangnya merasa khawatir. Hanya tiga kali, tubuhnya sudah di penuhi dengan luka berdarah. Cambukan petir itu membuat kulitnya robek secara acak.

Orang-orang di dalam tentu saja mendengar suara petir yang menggelegar dan memekakan telinga itu. Tidak ada yang bisa melakukan apapun selain 'menyaksikan'. Lagipula jika salah satu dari mereka keluar, hanya akan membuat semuanya menjadi sia-sia.

Dengan sisa sisa energi spiritualnya, Xuan Chen dengan berani melayangkan tubuhnya ke arah pintu. Bagaimanapun dia harus turut menerima cambukan petir itu bersama Yi Changyin. Suara petir yang terus menerus menghantam tubuh Yi Changyin itu, sungguh membuatnya merasa sakit. Bagaimanapun mereka terikat kontrak yang begitu erat.

Belum sampai mengenai pintu, Shen Lan segera bertindak. Dia mengunci pintu itu dengan tanaman rambatnya. Lalu membawa kembali Xuan Chen ke atas kasur dengan pelan. Saat itu Xuan Chen langsung menatap tajam Shen Lan. Dia tidak terima keinginan untuk membantu Yi Changyin telah di cegah dengan mudahnya.

Tatapan itu seperti meneriakkan cacian, tapi Shen Lan balas menatapnya dengan datar. "Jika kau keluar, itu hanya akan sia-sia. Jika kau mati, Yi Changyin akan menderita karena harus secepatnya memutus kontrak denganmu. Atau dia juga akan ikut mati." Ujar Shen Lan di tengah-tengah suara guntur yang menyeramkan.

Xuan Chen termenung dalam kekacauan di pikirannya. Dia tidak tahu harus melakukan apa lagi selain menunggu. Dia pantas menerima cambukan itu, kenapa hanya Yi Changyin yang mendapatkannya?

"Sudahlah, kakak. Aku juga sangat khawatir pada Dewi Rubah, tapi.. mungkin ini yang terbaik untuk kalian." Ujar Xuan Rong dengan hati-hati.

"Xuan Rong benar, kakak ketujuh.. kau harus tenang. Nona Yi akan baik-baik saja." Sahut Xuan Yao berusaha meyakinkan.

Xuan Chen masih terdiam dalam kekacauan hatinya, entah kenapa dia merasa menyesal telah menjalin kontrak. Jika tidak, mungkin Yi Changyin tidak akan menderita seperti ini. Tapi wanita itu.. ah sudahlah!

Saat itu Wen Yuexin segera memberikan secangkir air pada Xuan Chen, berniat menenangkan pria yang di kaguminya. Walaupun pria itu sedang mengkhawatirkan gadis lain, tapi dia tetap harus melakukannya.

"Kakak Chen, jangan pedulikan gadis rubah itu. Dia hanya.."

Ucapan Wen Yuexin terhenti saat Xuan Chen merebut cangkir itu dengan kasar. Dia tidak meminumnya, tapi melemparkannya ke bawah kaki gadis itu. Wen Yuexin dan lainnya tersentak melihat tingkah sang pangeran ketujuh yang tidak biasa nya. Tapi yang benar saja, Wen Yuexin bilang jangan pedulikan? Dia pikir cambukan petir itu adalah hal yang sederhana?

Sementara di luar sana, Yi Changyin sudah menerima sembilan cambukan petir. Ini adalah yang pertama kali baginya, tapi dia tidak menyesal. Mungkin dengan ini dia bisa mencapai terobosan. Walaupun saat itu badannya sudah tak mampu duduk, apalagi berdiri.

Wajah dan tubuhnya sudah penuh dengan luka darah yang terlihat mengenaskan. Cambukan petir itu terus datang menghantamnya sekarang hanya tinggal tiga cambukan lagi. Satu cambukan bisa sampai sepuluh detik. Sungguh membuat orang menderita!

Sementara di sisi lain, Aoyi Jinqi dapat merasakan petir ini begitu berbeda. Mungkin manusia disini akan mengira ini adalah pertanda hujan, tapi Aoyi Jinqi bukanlah manusia.

"Ini adalah ujian langit, cambukan petir." Gumamnya di tengah-tengah keheningan kota. Orang-orang yang berlalu lalang sudah berlindung karena mengira ini tandanya hujan. Mungkin sebagian kultivator yang kuat, mereka akan menyadari hal yang sama dengan Aoyi Jinqi. Tapi mereka tidak akan menyadari cambukan itu di peruntukan untuk manusia fana atau makhluk abadi.

"Tapi.. petir seperti ini hanya di peruntukan untuk orang-orang alam langit." Gumamnya lagi. "Aku harus menemukan orang itu.." Tambahnya sambil bergegas pergi.

.......

.......

.......

Seorang Kasim membungkuk dengan tangan yang bertumpu memberi hormat. "Salam yang mulia pangeran mahkota, cambukan petir itu berasal di gubuk pangeran ketujuh." Ujarnya dengan berani menyebut rumah sang pangeran dengan kata 'gubuk'. Tentu saja mereka berani, karena pangeran mahkota lah yang menyuruhnya.

"Jadi di gubuk si cacat itu?" Gumam Xuan Ye dengan nada yang mengejek. Pandangannya tidak beralih menatap langit yang terus menurunkan petir-petir menyeramkan itu.

"Ya, pangeran mahkota." Jawab si kasim dengan tunduk.

"Panggilkan adik kedua dan Yu Lin, kita harus bersiap-siap melihat apa yang si cacat itu perbuat." Titah sang pangeran.

"Baik, yang mulia." Kasim itu undur diri dengan tunduk. Dia tidak berani mengangkat kepalanya di hadapan pangeran mahkota yang arogan itu.

Xuan Ye tersenyum miring. "Xuan Chen.. Xuan Chen.. sebenarnya hal apa yang kau perbuat hingga bisa mengundangku?" Setelah mengatakan hal itu, Xuan Ye tertawa pelan.

.......

.......

.......

JDERR!!

Cambukan terakhir, yang keempat belas kali telah selesai menghantam tubuh Yi Changyin. Seteguk darah telah dia keluarkan hingga membanjiri tanah. Tanpa di sadari, darah itu meresap ke dalam tanah dan sebuah rumput aneh dengan aura spiritual yang kental tumbuh dengan cepat.

Suasana langit kembali menjadi cerah yang mungkin membuat beberapa manusia merasa heran dengan hak itu. Yi Changyin masih tengkurap di atas tanah dengan luka berdarah di sekujur tubuhnya. Nafasnya lemah tapi terengah-engah kentara merasa lelah telah menerima siksaan.

Pintu rumah terbuka lebar, sosok Xuan Chen yang pertama kali datang dengan kursi rodanya, kemudian di susul dengan yang lainnya menuju halaman. Tapi tiba-tiba Shen Lan menghentikan langkah semua orang dengan tangannya. Dia merasakan pergerakan aneh pada gadis rubah itu.

Benar saja, tubuh Yi Changyin di selimuti cahaya putih yang silau. Semakin lama, cahaya itu semakin membesar, membuat semua orang menatapnya dengan heran. Tiba-tiba dua kali ledakan terjadi pada tubuhnya, menandakan dua kali sebuah terobosan. Yi Changyin kini mencapai Dewi tahap awal level tiga! Aura spiritual Yi Changyin yang tadinya hijau, berubah menjadi jingga.

"Nona sudah naik level dua kali lipat." Gumam Shen Lan masih dengan ekspresi datar. Tidak ada rasa kagum atau senang bahkan iri di wajahnya. Xuan Chen tersenyum tipis mendengar hal itu, dia merasa bangga. Kemudian Xuan Rong kembali mendorong kursi roda menuju Yi Changyin. Saat itu Wen Yuexin hanya diam di ambang pintu dengan ekspresi masamnya. Hari ini dia benar-benar merasa tidak baik!

Yi Changyin berdiri dengan susah payah, kemudian Xuan Rong datang membantunya. "Nona, biar aku obati lukamu."

"Tidak apa.." Ujar Yi Changyin pelan. "Aku bisa menyembuhkan luka dengan sendirinya." Mendengar hal itu, Xuan Chen hanya menunduk. Dia begitu pengecut, lihatlah gadis itu demi dirinya telah tersiksa tapi tak mempermasalahkan apapun.

Xuan Rong menggeleng cepat. "Bagaimana mungkin.."

"Menjauhlah sedikit, nanti kau akan tahu." Ujar Yi Changyin dengan senyuman tanpa penderitaannya itu.

Xuan Rong terdiam sesaat, dia tampak ragu dengan apa yang di katakan oleh Yi Changyin. Tapi hatinya percaya pada seorang Dewi, mereka mungkin bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain. Akhirnya Xuan Rong mundur beberapa langkah, mengalah pada Yi Changyin.

Yi Changyin mulai membuat formasi rumit di tangannya, hingga aura spiritual menggulung tubuhnya. Aura itu tampak suci tapi membuat Yi Changyin mengenyit kesakitan. Semua orang terkecuali Shen Lan hanya bisa membola kan mata mereka, melihat luka di tangan Yi Changyin yang terlihat tampak merapat kembali dengan gerakan yang perlahan.

Tapi desisan itu membuat semua orang yakin kalau tak mudah untuk merapatkan lukanya kembali. Pasti itu akan sangat sakit di rasa. Setelah semua luka tertutup, Yi Changyin kembali memadamkan aura spiritualnya.

"Luka luarnya memang sembuh, tapi kemampuan itu tidak akan mengobati luka dalamnya." Ujar Shen Lan yang membuat semua orang tertunduk sendu.

Yi Changyin berbalik dengan perlahan, menatap Xuan Chen yang juga sedang menatapnya dengan cemas. Dia pun mengibaskan tangannya untuk kembali menghubungkan komunikasi. Bahkan dalam penderitaannya, Yi Changyin masih bisa tersenyum pada pria itu. Tanpa di duga sebelumnya, Yi Changyin berlari menuju Xuan Chen, dan berakhir di pelukan pria itu.

"Yang mulia, aku berhasil." Ujarnya dengan lembut.

Awalnya semua orang terkejut, tapi hal itu membuat Xuan Rong dan Xuan Yao merasa terharu. Baru kali ini mereka menemukan seorang gadis yang tulus pada kakak ketujuhnya. Bahkan tanpa ragu, Xuan Chen tampak membalas pelukannya. Hal itu membuat Wen Yuexin berjalan menghampiri mereka dengan hentakkan kakinya.

"Bukankah itu sangat tidak sopan?!" Bentak Wen Yuexin. Tapi tak satupun orang yang memperdulikannya. Sepertinya mereka semua sedang menganggap dirinya tidak ada.

"Yang mulia.. bolehkan aku tertidur di pangkuanmu." Pinta Yi Changyin, masih dalam pelukan Xuan Chen.

"Mengapa kau begitu lancang!" Bentak Wen Yuexin sekali lagi.

Dengan mata sendunya, Yi Changyin menatap Wen Yuexin dengan sinis. "Mengapa kau begitu pandai mengurusi orang lain?"

"Kau..?!"

Tanpa memperdulikan Wen Yuexin, Yi Changyin menatap Xuan Chen memelas. "Bolehkah?"

Xuan Chen tersenyum, dia mengangguk pertanda setuju. 'Tentu saja boleh..'

Wen Yuexin yang melihat hal itu hanya menganga tak percaya. Bisa-bisanya Xuan Chen yang begitu dingin pada gadis lain selain Xuan Rong, bisa seperti ini.

"Nona Yi! Kau sangat tidak pantas!"

"Junzhu, nona Yi selesai menerima siksaan demi pangeran ketujuhmu. Ini adalah kebiasaan Yi Changyin ketika selesai mendapat sakit di tubuhnya, ia akan tertidur sampai satu minggu. Tidak ada hal yang tidak pantas di sini." Ujar Shen Lan memberi nasihat sekaligus membela Yi Changyin.

"Kau..?!"

"Yang di katakan tuan Shen Lan, sengat benar." Sahut Xuan Rong dengan lembut. Matanya menatap Shen Lan dengan terpesona, tapi Shen Lan seakan tak peduli dengan hal itu.

Tiba-tiba aura putih menyelimuti tubuh Yi Changyin, semua orang mengalihkan pandangannya pada gadis itu. Tubuhnya menyusut berubah menjadi seekor rubah dan memiliki sembilan ekor yang indah.

"Nona Yi.. mengapa kau menjadi menggemaskan seperti ini!" Seru Xuan Rong hendak meraih Yi Changyin yang berubah menjadi seekor rubah itu.

Xuan Yao segera menghentikannya. "Hei!"

Tentu saja Wen Yuexin sangat iri dengan Yi Changyin. Terutama saat melihat wajah Xuan Chen yang terpaku pada rubah itu. Yi Changyin segera melompat ke atas pangkuan Xuan Chen, melingkarkan tubuhnya, lalu memejamkan matanya. Kini Yi Changyin tengah tertidur dengan nyaman dengan elusan lembut Xuan Chen.

"Hari sudah sore.. kakak ketujuh, kami pamit dahulu." Ujar Xuan Yao sambil membungkuk.

"Tunggu.." Ujar Shen Lan dengan mata yang terpaku pada tanah. Sebuah tumbuhan hijau aneh dengan aura spiritual tumbuh di sana. Shen Lan segera berjongkok dan mengambilnya. "Bukankah tadi tumbuhan ini tidak ada di sini?" Gumam Shen Lan.

Tak mau pusing lagi, pria datar itu mencium bau dari tumbuhan. "Ternyata.. ini adalah darah rubah."

"Apa maksudmu? Apakah itu darah milik nona Yi?" Tanya Xuan Rong penasaran.

"Ya, saat terkena cambukan petir, dia tak sengaja mengeluarkan darah jantungnya." Shen Lan menghela nafas. "Mungkin kali ini dia akan tertidur lebih lama."

Xuan Chen sendu menatap seekor rubah yang melingkar di atas pangkuannya itu. 'Apakah itu sakit? Yin'er?'

"Tanaman ini tumbuh dari hati Dewi rubah, aku tidak tahu mengapa bisa tumbuh di sini. Tapi, jika tidak di gunakan akan sia-sia." Jeda Shen Lan sambil menyodorkan tanaman itu pada Xuan Chen. "Serap energinya, ini dapat membantumu untuk menaikan tingkat kultivasi."

'Ternyata seluruh tubuh rubah dapat bermanfaat.' Pikir Wen Yuexin. 'Mengapa tidak menggunakannya nya saja untuk menyembuhkan kakak Chen?' Wen Yuexin tersenyum miring. Hatinya bagaikan di selimuti oleh iblis karena telah berfikiran semacam itu. Jika Xuan Chen tahu, mungkin gadis itu akan segera di tendang jauh-jauh.

Xuan Chen menerima tumbuhan itu, kemudian mengangguk, pertanda mengucapkan terimakasih pada Shen Lan.

"Kakak ketujuh, kau tidak perlu takut pada pangeran mahkota." Ujar Xuan Rong sambil menepuk-nepuk pundak Xuan Chen.

"Itu benar, setelah selesai melakukan terobosan.. aku akan menyembunyikan aura mu." Ujar Shen Lan datar.

Xuan Chen kembali mengangguk, dia sungguh berterimakasih kali ini. Tapi pertemuan mereka hari ini telah berakhir, waktunya untuk ketiganya pulang ke istana. Tidak baik jika ketahuan oleh Permaisuri dan selir agung.

Setelah mengantarkan Xuan Chen ke dalam rumah, ketiganya melangkah pulang. Sementara Shen Lan berubah menjadi bunga mawar biru untuk kembali bertapa. Dia tidak mau menyia-nyiakan setiap detik waktu di dunia ini.

Dibalik pohon, seorang wanita berpakaian biru terang telah melihat kejadian itu sedari tadi. Wanita itu adalah Aoyi Jinqi yang memang telah menemukan sumber dari cambukan petir itu.

'Hanya hubungan kontrak seekor rubah dengan manusia.' Pikirnya dengan ekspresi yang masam. 'Tidak ada petunjuk sama sekali.' Dia pun pergi meninggalkan rumah kecil Xuan Chen. Dia tidak peduli bahkan dengan rumput yang di tumbuhkan oleh darah hati gadis rubah itu. Pasalnya dia tahu kalau rubah ekor sembilan begitu banyak manfaatnya. Tapi tidak semua orang tahu.

.......

.......

.......

Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen😉 Jangan lupa juga buat rate dan vote❤️❤️ Thanks for reading 😉

Terpopuler

Comments

👑Meylani Putri Putti

👑Meylani Putri Putti

saling dukung y thor 3 like lg

2021-03-22

1

🗿🗿🗿🗿🗿

🗿🗿🗿🗿🗿

yang semangat ya thor di tunggu apdate nya

2021-03-13

2

Annisa lie

Annisa lie

semangat

2021-03-08

1

lihat semua
Episodes
1 PROLOG - Pertarungan Seratus Tahun
2 Bab I - Api Spiritual
3 Bab II - Pergi
4 Bab III - Ras Peri dan Kristal Jiwa
5 Bab IV - Pria Lumpuh
6 Bab V - Xuan Chen
7 Bab VI - Kontrak
8 VISUAL TOKOH
9 Bab VII - Cambukan petir
10 Bab VIII - Ketika Pengganggu Datang
11 Bab IX - Rela Demi Dia
12 Bab X - Berkunjung Ke Istana
13 Bab XI - Cambukan Siluman
14 Bab XII - Ketika Di Cambuk
15 Bab XIII - Bantuan Yi Xuemei
16 Bab XIV - Wilayah Zhongjian dan Akademi Tianjin
17 Penjelasan Tingkat Kultivasi dan Beberapa Pembagian di Dunia milik Author:v
18 Bab XV - Perpustakaan Langit
19 Bab XVI - Serangan dari Orang-orang Aneh
20 Bab XVII - Kemarahan Yi Wang
21 Bab XVIII - Sesuatu yang Dibuat Baiyun Dijun
22 Bab XIX - Ramuan Penghilang Cinta
23 Bab XX - Rubah Kecil
24 Bab XXI - Rencana Gaoqing Dijun
25 Bab XXII - Feng'er dan Heilong
26 Bab XXIII - Ruang Dimensi Spiritual
27 Bab XXIV - Bertemu Wei Qiao
28 Bab XXV - Cemburu?
29 Bab XXVI - Akademi Tianjin
30 Bab XXVII
31 Bab XXVIII - Kalajengking Hitam
32 Bab XXIX - Haruskah aku memanggilmu kakak seperguruan?
33 Bab XXX
34 Bab XXXI - Sebenarnya siapa aku?
35 Bab XXXII - Pecahan Ingatan Lagi
36 Bab XXXIII - Singa Roh Api
37 Bab XXXIV - Jebakan Wei Qiao
38 Bab XXXV - Kesalahan Pahaman Berujung Kelaparan
39 Bab XXXVI - Rencana Memutar Balikan Akibat
40 Bab XXXVII - Bodoh!
41 Bab XXXVIII - Tetua Ling Zhao Tahu?
42 Bab XXXIX - Bersama Kakek Bulan
43 Bab XL - Yue Xingfei & Hua Mu Dan
44 Bab XLI - Bayangan yang Menyerang
45 Bab XLII - Kekacauan
46 Bab XLIII - Batu Teleportasi
47 Bab XLIV - Aku mencintaimu..
48 Bab XLV - Mimpi terburuk Sepanjang Masa
49 Bab XLVI - Kau Kekasihku
50 Bab XLVII - Aku mencintainya, jangan halangi aku..
51 Bab XLVIII
52 Bab XLIX - Nasihat Dewi Yuan Ji
53 Bab L - Bulan dan Bintang
54 Bab LI - Pesan Pangeran Ketujuh
55 Bab LII - Rencana Qi Zhongma
56 Bab LIII - Kecelakaan Tak Terduga
57 Bab LIV - Persyaratan Yi Xuemei
58 Bab LV - Rencana Qi Xiangma
59 Bab LVI - Rencana Qi Xiangma (2)
60 Bab LVII - Rencana Qi Xiangma (3)
61 Bab LVIII - Rencana Qi Xiangma (4)
62 Bab LIX - Hadiah Zhang Bixuan
63 Bab LX - Kembalinya Bai Suyue
64 Bab LXI - Bersama Xuan Chen
65 Bab LXII - Kebahagiaan yang Berakhir
66 Bab LXIII - Di Hutan Bambu...
67 Bab LXIV- Penyelamatan Sang Dewi Rubah
68 Bab LXV - Rencana Tersembunyi Yi Changyin
69 Bab LXVI - Rencana Tersembunyi Yi Changyin (2)
70 Bab LXVII - Rencana Tersembunyi Yi Changyin (3)
71 Bab LXVIII - Balasan Untuk Wei Qiao
72 Bab LXIX - Akhir Untuk Sementara
73 Bab LXX - Kisah Phoenix dan Naga
74 Bab LXXI - Kisah Phoenix dan Naga (2)
75 Bab LXXII - Alam Peri yang Berubah
76 Bab LXXIII - Keindahan dan Kenikmatan Duniawi
77 Bab LXXIV - Awal Mula Gunung Tianjin
78 Bab LXXV - Usaha Membangunkan sang Pemimpi
79 Bab LXXVI - Untitled
80 Bab LXXVII - Tuduhan Lao Jun
81 Bab LXXVIII - Kemunculan Sesuatu
82 Bab LXXIX - Bangkit yang Kedua Kalinya
83 Bab LXXX - Bangkit yang Kedua Kalinya (2)
84 Bab LXXXI - Sesuatu yang tertanam
85 Bab LXXXII - Awal Mula Alam Peri
86 Bab LXXXIII - Awal Mula Alam Peri (2)
87 Bab LXXXIV - Untitled
88 Bab LXXXV - Qiao Jirong dan Kembalinya Alam Peri
89 Bab LXXXVI - Di Daerah Istana Bulan
90 Bab LXXXVII - Sesuatu Akan Terjadi
91 Bab LXXXVIII - Dia... Wu Yun?!
92 Bab LXXXIX - Ketika Racun Bereaksi
93 Bab XC - Pil Jamur Lingzhi
94 Bab XCI - Penjelasan si Hantu Wanita
95 Bab XCII - Upacara Penghormatan Terakhir
96 Bab XCIII - Di Atas Ayunan
97 Bab XCIV - Serangan Wanita itu
98 Bab XCV - Yi Changyin Jatuh Pingsan
99 Bab XCVI - Menjadi Putri Ketujuh
100 Bab XCVII - Rindu Ayah : 'Shui Jifeng'
101 Bab XCVIII - Mulai Sekarang
102 Bab XCIX - Berencana Pergi
103 Bab C - Adipati Zhaoyang
104 Bab CI - Mempermalukan Xuan Ye
105 Bab CII - Wu Yun kembali?
106 Bab CIII - Bertemu Kembali
107 Bab CIV - Mimpi di Tengah Badai
108 Bab CV - Merasa kehilangan sebelum membuat kenangan
109 Bab CVI - Derita dari Langit
110 Bab CVII - Rencana Mereka
111 Bab CVIII - Seribu Tahun Lalu, pernah menjadi masa lalu
112 Bab CIX - Hadiah Pernikahan
113 Bab CX - Pernikahan Kedua Kalinya
114 Bab CXI - Yi Changyin Pergi
115 Bab CXII - Menuju Alam Baka
116 Bab CXIII - Rencana Kotor
117 Bab CXIV - Sialan!
118 Bab CXV - Kemunculan Monster Alam Baka
119 Bab CXVI - Diselamatkan Dewi
120 Bab CXVII - Bertemu ayah
121 Bab CXVIII - Diguncang Sampai Karam
122 Bab CXIX - Kembali Memelukmu
123 Bab CXX - Dikacaukan
124 Bab CXXI - Keputusan Xuan Chen
125 Bab CXXII - Anak Kedua?
126 Bab CXXIII - Memecahkan Formasi
127 Bab CXXIV - Kembali Sepenuhnya
128 Bab CXXV - Tidak Seperti yang Dirumorkan
129 Bab CXXVI - Pengakuan Wei Qiao
130 Bab CXXVII - Takut Kehilangan
131 Bab CXXVIII - Di Halaman Belakang
132 Bab CXXIX - Racun Kembali Datang
133 Bab CXXX - Rencana Tersembunyi Xuan Chen
134 Bab CXXXI - Setelah Hukuman
135 Bab CXXXII - Kedatangan Wen Yuexin
136 Bab CXXXIII - Perbincangan
137 Bab CXXXIV - Yi Changyin marah
138 Bab CXXXV - Yi Changyin melahirkan
139 Bab CXXXVI - Xuan Sifeng & Xuan Sijiu
140 Bab CXXXVII - Mengunjungi klan Rubah ekor sembilan
141 Bab CXXXVIII - Kesedihan Xuan Rong
142 Bab CXXXIX - Perang
143 Bab CXL - Masa Lalu
144 Bab CXLI - Kehancuran hati yang sebenarnya
145 Bab CXLII - Yi Changyin bisa kembali
146 Bab CXLIII - Sebelum Mencari
147 Bab CXLIV - Mencari Potongan Jiwa Yi Changyin
148 Bab CXLV - Mencari Potongan Jiwa Yi Changyin (2)
149 Bab CXLVI - Mencari Potongan Jiwa Yi Changyin (3)
150 Bab CXLVII - Setelah pencarian
151 Bab CXLVIII - Menyatukan Potongan Jiwa Yi Changyin
152 Bab CXLIX - Jiwa Telah Memadat
153 Bab CL - Kebahagiaan yang Kembali
154 Bab CLI - Kebahagiaan yang Kembali (2)
155 Bab CLII - Ekstra Chapter 1 : Road To Ending
156 Bab CLIII - Ekstra Chapter 2 : ENDING
157 Dari Author ^_^
Episodes

Updated 157 Episodes

1
PROLOG - Pertarungan Seratus Tahun
2
Bab I - Api Spiritual
3
Bab II - Pergi
4
Bab III - Ras Peri dan Kristal Jiwa
5
Bab IV - Pria Lumpuh
6
Bab V - Xuan Chen
7
Bab VI - Kontrak
8
VISUAL TOKOH
9
Bab VII - Cambukan petir
10
Bab VIII - Ketika Pengganggu Datang
11
Bab IX - Rela Demi Dia
12
Bab X - Berkunjung Ke Istana
13
Bab XI - Cambukan Siluman
14
Bab XII - Ketika Di Cambuk
15
Bab XIII - Bantuan Yi Xuemei
16
Bab XIV - Wilayah Zhongjian dan Akademi Tianjin
17
Penjelasan Tingkat Kultivasi dan Beberapa Pembagian di Dunia milik Author:v
18
Bab XV - Perpustakaan Langit
19
Bab XVI - Serangan dari Orang-orang Aneh
20
Bab XVII - Kemarahan Yi Wang
21
Bab XVIII - Sesuatu yang Dibuat Baiyun Dijun
22
Bab XIX - Ramuan Penghilang Cinta
23
Bab XX - Rubah Kecil
24
Bab XXI - Rencana Gaoqing Dijun
25
Bab XXII - Feng'er dan Heilong
26
Bab XXIII - Ruang Dimensi Spiritual
27
Bab XXIV - Bertemu Wei Qiao
28
Bab XXV - Cemburu?
29
Bab XXVI - Akademi Tianjin
30
Bab XXVII
31
Bab XXVIII - Kalajengking Hitam
32
Bab XXIX - Haruskah aku memanggilmu kakak seperguruan?
33
Bab XXX
34
Bab XXXI - Sebenarnya siapa aku?
35
Bab XXXII - Pecahan Ingatan Lagi
36
Bab XXXIII - Singa Roh Api
37
Bab XXXIV - Jebakan Wei Qiao
38
Bab XXXV - Kesalahan Pahaman Berujung Kelaparan
39
Bab XXXVI - Rencana Memutar Balikan Akibat
40
Bab XXXVII - Bodoh!
41
Bab XXXVIII - Tetua Ling Zhao Tahu?
42
Bab XXXIX - Bersama Kakek Bulan
43
Bab XL - Yue Xingfei & Hua Mu Dan
44
Bab XLI - Bayangan yang Menyerang
45
Bab XLII - Kekacauan
46
Bab XLIII - Batu Teleportasi
47
Bab XLIV - Aku mencintaimu..
48
Bab XLV - Mimpi terburuk Sepanjang Masa
49
Bab XLVI - Kau Kekasihku
50
Bab XLVII - Aku mencintainya, jangan halangi aku..
51
Bab XLVIII
52
Bab XLIX - Nasihat Dewi Yuan Ji
53
Bab L - Bulan dan Bintang
54
Bab LI - Pesan Pangeran Ketujuh
55
Bab LII - Rencana Qi Zhongma
56
Bab LIII - Kecelakaan Tak Terduga
57
Bab LIV - Persyaratan Yi Xuemei
58
Bab LV - Rencana Qi Xiangma
59
Bab LVI - Rencana Qi Xiangma (2)
60
Bab LVII - Rencana Qi Xiangma (3)
61
Bab LVIII - Rencana Qi Xiangma (4)
62
Bab LIX - Hadiah Zhang Bixuan
63
Bab LX - Kembalinya Bai Suyue
64
Bab LXI - Bersama Xuan Chen
65
Bab LXII - Kebahagiaan yang Berakhir
66
Bab LXIII - Di Hutan Bambu...
67
Bab LXIV- Penyelamatan Sang Dewi Rubah
68
Bab LXV - Rencana Tersembunyi Yi Changyin
69
Bab LXVI - Rencana Tersembunyi Yi Changyin (2)
70
Bab LXVII - Rencana Tersembunyi Yi Changyin (3)
71
Bab LXVIII - Balasan Untuk Wei Qiao
72
Bab LXIX - Akhir Untuk Sementara
73
Bab LXX - Kisah Phoenix dan Naga
74
Bab LXXI - Kisah Phoenix dan Naga (2)
75
Bab LXXII - Alam Peri yang Berubah
76
Bab LXXIII - Keindahan dan Kenikmatan Duniawi
77
Bab LXXIV - Awal Mula Gunung Tianjin
78
Bab LXXV - Usaha Membangunkan sang Pemimpi
79
Bab LXXVI - Untitled
80
Bab LXXVII - Tuduhan Lao Jun
81
Bab LXXVIII - Kemunculan Sesuatu
82
Bab LXXIX - Bangkit yang Kedua Kalinya
83
Bab LXXX - Bangkit yang Kedua Kalinya (2)
84
Bab LXXXI - Sesuatu yang tertanam
85
Bab LXXXII - Awal Mula Alam Peri
86
Bab LXXXIII - Awal Mula Alam Peri (2)
87
Bab LXXXIV - Untitled
88
Bab LXXXV - Qiao Jirong dan Kembalinya Alam Peri
89
Bab LXXXVI - Di Daerah Istana Bulan
90
Bab LXXXVII - Sesuatu Akan Terjadi
91
Bab LXXXVIII - Dia... Wu Yun?!
92
Bab LXXXIX - Ketika Racun Bereaksi
93
Bab XC - Pil Jamur Lingzhi
94
Bab XCI - Penjelasan si Hantu Wanita
95
Bab XCII - Upacara Penghormatan Terakhir
96
Bab XCIII - Di Atas Ayunan
97
Bab XCIV - Serangan Wanita itu
98
Bab XCV - Yi Changyin Jatuh Pingsan
99
Bab XCVI - Menjadi Putri Ketujuh
100
Bab XCVII - Rindu Ayah : 'Shui Jifeng'
101
Bab XCVIII - Mulai Sekarang
102
Bab XCIX - Berencana Pergi
103
Bab C - Adipati Zhaoyang
104
Bab CI - Mempermalukan Xuan Ye
105
Bab CII - Wu Yun kembali?
106
Bab CIII - Bertemu Kembali
107
Bab CIV - Mimpi di Tengah Badai
108
Bab CV - Merasa kehilangan sebelum membuat kenangan
109
Bab CVI - Derita dari Langit
110
Bab CVII - Rencana Mereka
111
Bab CVIII - Seribu Tahun Lalu, pernah menjadi masa lalu
112
Bab CIX - Hadiah Pernikahan
113
Bab CX - Pernikahan Kedua Kalinya
114
Bab CXI - Yi Changyin Pergi
115
Bab CXII - Menuju Alam Baka
116
Bab CXIII - Rencana Kotor
117
Bab CXIV - Sialan!
118
Bab CXV - Kemunculan Monster Alam Baka
119
Bab CXVI - Diselamatkan Dewi
120
Bab CXVII - Bertemu ayah
121
Bab CXVIII - Diguncang Sampai Karam
122
Bab CXIX - Kembali Memelukmu
123
Bab CXX - Dikacaukan
124
Bab CXXI - Keputusan Xuan Chen
125
Bab CXXII - Anak Kedua?
126
Bab CXXIII - Memecahkan Formasi
127
Bab CXXIV - Kembali Sepenuhnya
128
Bab CXXV - Tidak Seperti yang Dirumorkan
129
Bab CXXVI - Pengakuan Wei Qiao
130
Bab CXXVII - Takut Kehilangan
131
Bab CXXVIII - Di Halaman Belakang
132
Bab CXXIX - Racun Kembali Datang
133
Bab CXXX - Rencana Tersembunyi Xuan Chen
134
Bab CXXXI - Setelah Hukuman
135
Bab CXXXII - Kedatangan Wen Yuexin
136
Bab CXXXIII - Perbincangan
137
Bab CXXXIV - Yi Changyin marah
138
Bab CXXXV - Yi Changyin melahirkan
139
Bab CXXXVI - Xuan Sifeng & Xuan Sijiu
140
Bab CXXXVII - Mengunjungi klan Rubah ekor sembilan
141
Bab CXXXVIII - Kesedihan Xuan Rong
142
Bab CXXXIX - Perang
143
Bab CXL - Masa Lalu
144
Bab CXLI - Kehancuran hati yang sebenarnya
145
Bab CXLII - Yi Changyin bisa kembali
146
Bab CXLIII - Sebelum Mencari
147
Bab CXLIV - Mencari Potongan Jiwa Yi Changyin
148
Bab CXLV - Mencari Potongan Jiwa Yi Changyin (2)
149
Bab CXLVI - Mencari Potongan Jiwa Yi Changyin (3)
150
Bab CXLVII - Setelah pencarian
151
Bab CXLVIII - Menyatukan Potongan Jiwa Yi Changyin
152
Bab CXLIX - Jiwa Telah Memadat
153
Bab CL - Kebahagiaan yang Kembali
154
Bab CLI - Kebahagiaan yang Kembali (2)
155
Bab CLII - Ekstra Chapter 1 : Road To Ending
156
Bab CLIII - Ekstra Chapter 2 : ENDING
157
Dari Author ^_^

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!