Rumah itu begitu sederhana berdiri di tengah rimbunnya daun pepohonan. Berdiri dengan bahan dasar bambu yang terlihat bersih dan mengkilap. Rumah itu kecil yang mungkin hanya ada ruang kamar dan dapur, itu pun dapurnya terlihat jelas dari luar.
Halamannya begitu luas dengan pagar kayu yang membatasinya. Berbagai bunga segar tumbuh subur dan terawat di sana. Bahkan ada pohon persik yang menjulang tinggi yang menambah pemandangan indah sebuah halaman. Di luar pintu, ada beberapa kursi dan meja. Tidak salah lagi kalau itu untuk menampung tamu dari luar. Seperti ini kah kediaman pangeran ketujuh?
Yi Changyin menatap rumah itu dengan sendu. Rumah ini tidak pantas bagi seorang pangeran yang masih di akui kekaisaran. Setidaknya beri yang lebih mewah dan beberapa penjaga juga pelayan. Apakah Xuan Chen yang merawat ini sendirian jika memang benar tidak ada pelayan?
"Ada apa?" Tanya Wen Yuexin ketus. "Apakah kau merasa tidak ingin masuk karena rumah itu kecil?"
Saat itu Xuan Chen menatap Yi Changyin, berusaha membaca apa yang berada di pikiran gadis itu. Apakah dia akan kabur setelah melihat rumahnya? Tapi hatinya selalu berdoa itu tidak akan terjadi.
"Sepertinya aku akan betah jika tinggal disini." Ujar Yi Changyin mengejutkan Wen Yuexin.
Dari pakaian gadis itu, semua orang tahu kalau dia berasal dari keluarga kaya. Jadi Wen Yuexin mengira kalau Yi Changyin akan tidak sudi untuk memasuki rumah itu. Tapi kenyataannya, Yi Changyin malah melompat masuk lebih dulu dari yang lainnya. Sungguh sulit untuk di tebak!
Yi Changyin pertama kali menghampiri pohon persik yang berada di sana. Bunganya yang merah muda begitu indah memanjakan mata. 'Di sini musim semi. Sedangkan di alam langit sedang musim dingin.' Pikir Yi Changyin sambil memetik tangkai persik yang penuh bunga itu.
"Apakah pangeran ketujuh menyukai bunga persik?" Tanya Yi Changyin sambil menghampiri rombongan mereka.
"Iya.. kakak ketujuh paling menyukai bunga persik. Kadang dia suka berdiam di bawah pohon untuk menyegarkan pikiran." Jawab Xuan Rong.
"Saat musim semi, aku sering melakukan hal itu. Rasanya.. semua beban pikiran hilang." Ujar Yi Changyin.
Xuan Chen menatap Yi Changyin yang sedang memainkan bunga-bunga itu. 'Benarkah?' Ucapnya dalam hati. Dia tersenyum di balik cadar putihnya.
"Itu sangat bagus.. jangan-jangan nona dan kakak ketujuh.."
"Diam kau!" Potong Xuan Rong yang membuat Xuan Yao terkejut setengah mati. Sepertinya dia sedikit takut dengan adiknya yang galak itu.
"Aku hanya akan mengatakan jodoh." Bisik Xuan Yao.
"Bagaimana kalau nona itu tersinggung? Kau tidak mau kan?" Balas Xuan Rong berbisik.
"Aku mendengar kalian." Ujar Yi Changyin mengejutkan keduanya. Padahal gadis itu berada jauh di depannya, tidak mungkin untuk bisa mendengar. Wen Yuexin dan Xuan Chen pun tidak mungkin mendengarnya dengan jelas.
Mereka sampai pada meja ruang tamu. Xuan Chen segera mempersilahkan Yi Changyin untuk duduk. Tanpa berfikir panjang Yi Changyin langsung duduk, sebenarnya dia sudah pegal berjalan jauh dari kota ke tempat terpencil ini. Sementara Xuan Chen saat itu memberi kode pada Xuan Rong.
Adik kesepuluh nya itu sudah terbiasa dengan bahasa isyarat. Jadi dia mengangguk paham. Setelah Xuan Rong masuk, hanya ada Xuan Chen, Xuan Yao dan Wen Yuexin saat itu. Yi Changyin yang fokus menikmati pemandangan, tidak peduli dengan Xuan Chen yang terus menatapnya.
Wen Yuexin merasa cemburu melihatnya. Dia mendecakkan lidah dan menatap Yi Changyin dengan tajam. Seolah lidahnya itu meneriakkan cacian paling pedas di dunia ini. Sementara Xuan Yao hanya tersenyum menahan tawanya. Baru kali ini dia melihat kakak ketujuhnya menatap seorang gadis dengan cara yang berbeda.
"Pangeran ketujuh.." Yi Changyin berbalik menatap Xuan Chen. "Masih tidak membuka cadarmu? Atau.. aku yang akan membukanya sendiri." Tambahnya sambil mengulurkan tangan, hendak membuka cadar Xuan Chen yang membeku.
Tiba-tiba tangan Wen Yuexin datang menengahi, dengan tujuan untuk memukul tangan Yi Changyin yang menurutnya tidak sopan. Tapi dengan cepat Yi Changyin menepisnya dengan kasar.
"Beraninya kau..?!"
"Beraninya kau mencampuri urusanku." Potong Yi Changyin dengan nada yang tenang.
Tanpa memperdulikan Wen Yuexin yang hampir menggila itu, Yi Changyin membuka cadar putih Xuan Chen dengan berani. Sepertinya gadis itu sudah di anugrahi keberanian yang luar biasa sejak lahir.
Tatapan penasarannya berubah drastis menjadi terpesona. Yi Changyin tak henti-hentinya menatap wajah tampan familiar yang berada di hadapannya itu. Bahkan tangannya masih terulur dan tak bergerak sedikitpun. Penglihatannya tidak mungkin salah, tidak ada yang berbeda bahkan satu lekukkan pun dengan pria dalam mimpinya. Apakah dia sedang berhalusinasi atau memang masih berada di alam mimpi?
"Kau.."
Yi Changyin menjatuhkan cadar itu ke lantai. Tak peduli dengan Xuan Chen yang wajahnya sudah memerah, Yi Changyin mengelus pipinya dengan lembut. Sentuhan dan tatapan itu, membuat Xuan Chen ingin meledak-ledak sekarang juga.
Saat itu Yi Changyin sudah tak peduli dengan Wen Yuexin yang terus memakinya diam-diam tanpa henti. Bahkan tatapan heran dari Xuan Yao pun dia dapatkan. Xuan Rong yang baru datang hanya membeku melihat pemandangan di hadapannya.
Lebih parahnya lagi, Yi Changyin semakin mendekatkan wajahnya. "Apa itu benar kau?" Tangannya masih setia di pipi pria itu. Nafas Xuan Chen sudah berderu kencang seperti bisa meledak-ledak setiap saat. Seperti halnya bertemu dengan kegelisahan yang mendalam.
"Mengapa kau muncul di mimpiku?" Tanya Yi Changyin lagi dengan lembut.
Xuan Chen tidak mengerti apa yang sebenarnya gadis itu pikirkan. Pemahamannya hanya tertuju kalau dirinya adalah pria yang Yi Changyin cari. Tapi.. orang cacat sepertinya? Bagaimana mungkin?
Tiba-tiba cahaya biru tua mengepul di samping Yi Changyin. Perlahan kepulan cahaya seperti asap itu berubah menjadi seorang pria tampan berpakaian serba biru. Xuan Rong langsung terpesona ketika melihatnya. Sedangkan Xuan Yao dan Wen Yuexin merasa terkejut sekaligus waspada.
"Sudah selesai dramanya?" Ujar Shen Lan mengejutkan Yi Changyin. Gadis itu menggertakan giginya, kemudian beralih menatap Shen Lan.
"Bisakah kau tidak menggangguku?!"
"Nona, apakah kau sudah menemukan pria itu?" Tanya Shen Lan tidak menanggapi kemarahan Yi Changyin. Mendengar kata 'nona' kewaspadaan Xuan Yao menjadi hilang.
Wajah Yi Changyin melembut. "Aku sudah menemukannya." Ujar Yi Changyin, telunjuknya mengarah pada Xuan Chen.
Wen Yuexin hanya bisa menggertakan giginya melihat kenyataan yang dia lihat. Tidak menyangka yang di cari gadis pengacau itu adalah pria yang di kaguminya selama ini. Sementara Xuan Rong dan Xuan Yao saling menatap tak percaya.
"Tuan muda.."
"Dia pangeran." Yi Changyin membenarkan ucapan Shen Lan.
"Maksudku pangeran, kau adalah orang yang beruntung." Ujarnya.
Xuan Chen menatap mereka berdua tidak mengerti. Beruntung? Apa yang beruntung? Apakah gadis di hadapannya ini adalah Dewi keberuntungan?
"Nona, biar ku tebak. Kakak ketujuh adalah.. orang yang kau cari?" Tanya Xuan Yao dengan seberkas harapan di matanya.
Yi Changyin mengangguk sambil tersenyum.
"Apa tujuanmu mencari kakak ketujuh?!" Tanya Wen Yuexin dengan tatapan yang galak. Sepertinya dia benar-benar tidak suka dengan Yi Changyin.
"Mengapa kau selalu marah? Apakah.. Junzhu cemburu?" Goda Xuan Rong yang membuat gadis itu semakin berwajah seram.
"Sebelum itu aku pernah berjanji akan mengatakan siapa aku dan dimana aku berasal. Tapi.. aku ingin mengatakan semua yang ku maksud.." Yi Changyin menunjuk ke arah pintu. "Di dalam ruangan."
.......
.......
.......
Xuan Chen sudah duduk di atas kasurnya bersama Xuan Yao. Yi Changyin khusus duduk di kursi dan Shen Lan berada di sampingnya. Xuan Rong dan Wen Yuexin berada bersebrangan dengan Yi Changyin.
"Namaku Yi Changyin.." Ujar Yi Changyin mulai memperkenalkan diri.
'Yi Changyin, ya?' Pikir Xuan Chen sambil tersenyum tipis.
"Setiap malam.. aku selalu memimpikan pangeran ketujuh kalian. Mengatakan kalau dia adalah jodohku." Sontak semua orang--kecuali Shen Lan-- terkejut mendengarnya. Melihat reaksi itu, Yi Changyin terkekeh. "Jodoh bukan hanya menikah, tidak perlu terkejut dahulu."
Semua orang segera menetralkan ekspresinya. Mereka terlalu banyak berfikir.
"Karena sering memimpikannya, aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan berniat mencarinya. Dengan janji, akan melakukan kontrak bawahan dan majikan apapun yang terjadi." Tambahnya.
"Bawahan majikan? Nona Yi, tapi.. kau tidak cocok untuk menjadi pelayan." Ujar Xuan Yao menolak.
"Tapi, lebih bagus jika menjadi pelayan!" Ujar Wen Yuexin dengan ketus.
"Kau ini kenapa? Apa alasanmu berbicara seperti itu?" Yi Changyin tersenyum miring. "Didaerah asalku, di tingkat kultivasi seperti mu tidak akan ada berani padaku."
Semua orang tertegun mendengarnya. Terutama Wen Yuexin yang mulai ketakutan. Tingkat kultivasinya berada di kristal level empat, dan gadis di depannya bisa jadi lebih kuat. Dia harus benar-benar waspada untuk menghadapinya.
Yi Changyin mulai berdiri, memejamkan matanya dengan perlahan. Semua orang masih dengan sabar menanti kejutan apa yang akan di berikan oleh gadis itu. Aura putih suci muncul di celah-celah tubuh ramping Yi Changyin. Sembilan ekor muncul di di belakang hingga menciptakan keindahan tersendiri.
Sontak semua orang terkejut dengan apa yang mereka lihat. Aura yang di rasakan adalah Dewi tahap awal level satu. Walaupun bagi alam langit masih rendah, tapi bagi manusia itu sangatlah tinggi. Terlebih di belakang gadis itu muncul sembilan ekor yang cantik dan menawan.
Xuan Chen tidak menyangka gadis yang dia kagumi adalah seorang Dewi. Pantas saja dia mempunyai kipas suci yang dapat mengalahkan Han Jishang dan teman-temannya.
"Dia adalah Dewi rubah ekor sembilan Yi Changyin yang berasal dari alam langit" Ujar Shen Lan masih dengan ekspresi yang datar.
Mendengar hal itu Xuan Yao dan Xuan Rong langsung menekuk lututnya. "Dewi.." Wen Yuexin mau tak mau harus menekuk lututnya penuh penghinaan. Tadi dia yang mengolok-olok Yi Changyin, tak pernah mengira kalau dia adalah Dewi yang berasal dari alam langit.
Yi Changyin membuka matanya, sembilan ekor di belakangnya menghilang tanpa jejak. Kemudian gadis itu menatap Xuan Chen. "Yi Changyin pribadi ingin menjalin kontrak bawahan majikan bersamamu. Pangeran ketujuh." Yi Changyin menekuk lututnya di hadapan Xuan Chen. "Mohon izin darimu."
Xuan Chen hanya berusaha menarik tangan Yi Changyin untuk berdiri. Dia tidak bisa berbicara, hanya memberi isyarat pada gadis itu untuk berdiri. Sedangkan wajahnya masih menunjukkan keterkejutan karena sesuatu yang di lihatnya barusan.
Yi Changyin kembali berdiri, dia masih menunggu jawaban pria itu. Bagaimanapun dia sudah berjanji untuk menjalin hubungan ini apapun yang terjadi. Entah atas dasar apa Yi Changyin memilih jalan seperti ini.
Telunjuk Xuan Chen mengarah pada tumpukan kertas, kuas dan tinta. Sepertinya itu lah yang membantu Xuan Chen untuk berkomunikasi. Saat itu Xuan Rong langsung mengambilnya, lalu di serahkan pada Xuan Chen. Pria itu mulai menulis sesuatu di atas kertas dengan alas kayu yang halus dan rata. Setelah selesai, dia memberikannya pada Yi Changyin.
Yi Changyin mulai membaca isinya. 'Kau terlalu tinggi, aku terlalu rendah.. hubungan ini, hanya akan membuat orang-orang istana kekaisaran iri. Aku takut.. membuat kamu dalam bahaya.'
Yi Changyin tersenyum saat membaca kalimat 'Aku takut membuat kamu dalam bahaya.' Kemudian gadis itu kembali menekuk lututnya di hadapan Xuan Chen. "Pangeran, sebelum bertemu dengan mu aku telah berjanji untuk melakukan kontrak ini apapun yang terjadi. Soal tinggi rendah, aku tidak akan mempermasalahkannya. Malah aku akan membantu pangeran untuk berkultivasi, mencari cara untuk menyembuhkan kekuranganmu dan memecah segel di kakimu."
Xuan Chen tertegun mendengarnya. Adakah seseorang sebaik ini? Sepertinya diia berfikir hanya Yi Changyin lah yang seperti ini.
"Pangeran ketujuh.. nonaku mengatakan ini dengan tulus." Ujar Shen Lan membantu Yi Changyin.
Xuan Chen tampak berfikir, dia tidak tahu apa yang harus di lakukan sekarang. Hati dan pikirannya selalu bergelut karena berbeda pendapat. 'Mungkin... ini jalan yang terbaik.' Pikir Xuan Chen sambil menutup matanya. Kemudian, dia mengangguk tanda menyetujui keinginan Yi Changyin.
Tanpa berfikir panjang lagi, Shen Lan mulai mengeluarkan aura spiritualnya. Mengambil darah nadi Yi Changyin dan Xuan Chen dari dalam. Membuat keduanya terlihat kesakitan, tapi ini harus di lakukan. Kemudian Shen Lan menukar darah itu, memasukan darah milik Yi Changyin kedalam nadi Xuan Chen, begitu pula sebaliknya. Dan.. hubungan ini telah di mulai.
Wen Yuexin hanya diam tak bergeming. Dia tak tahu harus berbuat apa lagi setelah ini. Melihat Dewi mempesona itu akan tinggal bersama Xuan Chen setiap hari bahkan selamanya. Mungkin kehadirannya akan semakin tersingkirkan lagi.
"Pangeran ketujuh, anda dapat berbicara batin dengan Yi Changyin mulai saat ini. Jadi.. tidak perlu repot-repot dengan kertas." Ujar Shen Lan datar.
"Benar, mungkin aku akan menjadi juru bicara tuan." Ujar Yi Changyin antusias.
"Ngomong-ngomong.. kau ini siapa?" Tanya Xuan Rong sambil mendekati Shen Lan.
Yi Changyin melihat tatapan mata Xuan Rong, dia tersenyum miring. 'Sepertinya.. Xuan Rong mulai terpesona pada pria tanpa ekspresi itu.'
Xuan Chen yang mendengar kata hati Yi Changyin hanya tersenyum tipis. Bisa-bisanya ada seseorang yang di ciptakan tanpa ekspresi. Ada, salah satunya yang bersama Yi Changyin ini.
"Aku adalah bunga roh yang di rawat oleh nona. Aku adalah mawar biru." Jawab Shen Lan datar.
"Ohh.. begitu ya.." Xuan Rong tampak malu-malu. Xuan Yao yang menyadari hal ini pun tersenyum menahan tawanya.
Tiba-tiba suara kilat menyambar terdengar dari luar, mengalihkan semua orang yang berada di dalam. Tadi panas dan cerah, mengapa tiba-tiba ada petir menghantam?
"Ini adalah ujian langit." Ujar Yi Changyin. "Aku dan tuan selesai melakukan hubungan kontrak, tentu saja akan ada ujian langit." Tambahnya.
"Apa?!" Xuan Yao menatap tak percaya.
"Jadi.. kalian akan di sambar petir?" Tanya Xuan Rong dengan polosnya.
Yi Changyin tersenyum samar. "Yaa, cambukan petir ini tidak akan berakhir sampai tujuh kali mengenai orang yang bersangkutan."
"Tapi pangeran ketujuh sangat lemah!" Seru Wen Yuexin. "Apakah kau berencana untuk membunuhnya?!"
"Mengapa kau selalu berburuk sangka?" Sahut Yi Changyin tidak terima. "Aku.. aku yang akan menerima cambukan petir sebanyak empat belas sekaligus!" Akhirnya dia mengatakan hal itu dengan rela. Tapi memang benar, Yi Changyin sudah berencana untuk menggantikan tuannya melewati ujian langit.
Xuan Yao dan Xuan Rong terbelalak mendengarnya. Cambukan petir terkenal begitu menyengat dan menyakitkan. Satu kali saja akan membuat seseorang menderita. Apalagi ini empat belas?!
Baru dua langkah, Xuan Chen sudah menghentikan Yi Changyin dengan menarik tangannya.
'Jangan pergi!!' Teriaknya dalam hati yang tentu saja di dengar oleh Yi Changyin. Wajah pria itu benar-benar di landa kecemasan. Walaupun baru hari ini bertemu, tapi dia benar-benar mengkhawatirkan Yi Changyin!
"Tuan, jika aku terus di dalam, maka petir ini tidak akan pernah berakhir." Yi Changyin tersenyum pada Xuan Chen. "Aku adalah Dewi rubah, percaya padaku."
Setelah berfikir panjang, akhirnya Xuan Chen melonggarkan cengkraman tangannya, melepaskan Yi Changyin menerima hal yang menyakitkan.
'Yi Changyin.. maafkan aku yang terlalu lemah.' Lirih Xuan Chen dalam hati.
Mendengar hal itu Yi Changyin berhenti di depan pintu, kemudian dia menatap Xuan Chen dengan senyuman. 'Tidak apa.. aku akan menjadikanmu kuat.' Setelah mengatakan hal itu, Yi Changyin pergi keluar, untuk merasakan siksa cambukan petir untuk pertama kali dalam hidupnya.
.......
.......
.......
Note : Udh ini ada Visual tokoh 😂
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen😉 Jangan lupa juga buat rate dan vote❤️❤️ Thanks for reading 😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
👑Meylani Putri Putti
aku dtng bw dukungan thor
Salam dari # Ketika takdir mentatukan aku dan mereka
2021-03-22
1
🍫I⃟𝖓a̶『༆Gₑₛᵣₑᴋ᭄』ELN'T🌸ᶠ²ᶜ🌠
semangat kak, ina sudah mampir😊
2021-03-07
53
…𝕮ℓα𝕣α♡🦄🌈 (hiatus)
Kak.. Jan ngegantung, ಥ‿ಥ
2021-03-07
3