"Woooooooooooowwww," Viola berteriak kencang saat kuda hitam itu melaju dengan kencang. Ia sudah jenuh berdebat dengan Flora yang tidak memperbolehkannya menunggangi kuda. Ia sangat ingin menunggangi kuda, sudah lama hobynya tidak di wujudkan. Pada saat masih ada pamannya, ia sering berkunjung ke kampung halaman Pamannya dan menunggangi kuda.
"Nyonya." teriak Flora dengan mata berkaca-kaca. Kuda itu sangat kencang dan rambut hitam yang berkilau itu pun berkibar di terpa angin. Di lihat dari jauh, Seakan sang dewi menunggangi kuda menghampiri mereka. Lalu bertambah dekat sang dewi itu akan menariknya ke dalam dekapannya dan kuda itu pun melewati Flora begitu saja. Flora merutuki khayalannya yang tak sampai.
"Nyonya, berhati hatilah." teriak Flora.
Dari kejauhan dua pasang mata tersenyum, ia mengagumi permainan di depannya itu. Wanita cantik dengan wajah berwibawa tengah menunggangi seekor kuda. Ia semakin tertarik ingin mengenal gadis itu semakin jauh.
Sedangkan sepasang mata lainnya. Tengah tercengang. Ia membulatkan mulutnya berbentuk huruf O. Matanya berkedip tanpa bernafas. Ia mengucek matanya saat kuda itu melewati depannya. Tidak salah lihat, dia wanita yang ia kenal. Duchess Viola, akan tetapi melihatnya dengan menunggangi kuda seakan bukan Duchess Viola yang ia kenal.
"Ah, biarkan saja. Itu bukan urusannya. Lagi pula Paman tidak akan tertarik mendengar ceritanya itu." Laki-laki itu pun pergi ke rumah Duke Cristin untuk menemui sang Paman. Sudah lama dirinya tak berkunjung.
Sesampainya di kediaman Duke. Laki-laki itu turun dari kudanya. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu. Terlihat Duke Cristin, Duke Arland dan Duchess Eliana sedang khawatir. Sedangkan laki-laki di samping Duchess Eliana hanya bersikap santai.
"Ada apa dengan wajah mereka? apa aku salah waktu datang hari ini?" Gumamnya.
"Apa mungkin mereka sibuk mencari Lady Abella?"
"Ada apa Paman? apa Paman sudah menemukan Lady Abella?" tanya laki-laki itu tersenyum.
"Exsel," Duke Cristin memijat pelipisnya. Sejak tadi ia mondar mandir bukan Abella yang terlintas dari pikirannya. Melainkan Viola yang pergi entah kemana tanpa ijin darinya. Dulu Viola sebelum pergi, sesibuk apa pun dirinya. Pasti dia meminta ijin darinya. Tapi sekarang, perubahan Viola membuatnya terkejut, cemas dan senang. Entahlah, itulah hatinya yang ia rasakan jika bersama Viola.
"Bukan, Paman memikirkan Bibi mu yang pergi entah kemana."
"Hah," Exsel menggaruk telingannya yang tak gatal. Apa telinganya sudah tidak berfungsi lagi sampai ia mendengarkan Pamannya mengkhawatirkan Duchess Viola. Sejak dulu Pamannya tidak mau tau apa yang di lakukan oleh Duchess Viola. Ya, bisa di katakan Pamannya tidak memperdulikannya keberadaannya. Bertemu pun dan bertegur sapa mereka sangat jarang. Bahkan mata sang Paman tidak pernah melihat ke arah Duchess Viola sekalipun mereka berpapasan di kediaman ini. Anggaplah Duchess Viola patung keliling menurutnya.
"Paman aku yakin Lady Abella pasti segera di temukan. Paman yang sabar saja. Cinta itu akan indah pada waktunya Paman." ujar Exsel memperlihatkan raut wajah sedih dan mempraktekkan tangannya seakan menggenggam bunga. Ia masih yakin, telinganya pasti salah dengar. Ia meyakinkan hati dan pendengarannya yang di sebutkan Pamannya adalah Lady Abella bukan Duchess Viola.
Duke Cristin menghela nafas, lagi-lagi dirinya di buat pusing dengan kelakuan Exsel yang menurutnya tingkah lakunya sangat aneh. Duke Cristin menangkap kedua tangannya, ia menatap kedua bola mata Exsel.
Deg
Jantung Exsel berdetak cepat, ia menatap wajah Pamannya. Tidak mungkin Pamannya hilang akal karena tidak menemukan Abella.
"Paman, Exsel tau. Exsel belum lah menikah. Paman jangan melakukan ini pada Exsel." Dengan wajah menunduk dan sedih.
Duke Cristin menaikkan alisnya, ia menggerakkan tangannya. Ingin sekali ia membedah otak eror keponakannya itu.
"Exsel dengar," Duke Cristin mengusap lembut kepalanya. Namun kelembutan itu di sertai penekanan. "Paman memikirkan Bibi mu yang tiba-tiba menghilang." Duke Cristin meremas rambut Exsel. Hingga ia meringis kesakitan namun masih terkejut.
"Bibi." Exsel memundurkan langkah kakinya. "Apa Paman tidak tau? Bibi sedang menunggangi kuda. " Exsel mengelus dagunya dengan menyilangkan kedua tangannya. "Bahkan Bibi sangat kelihatan seperti dewi Paman. Aura kecantikannya tidak bisa membuat ku berpaling. Bahkan banyak laki-laki yang kagum dengan Bibi. Sampai mata mereka tidak berkedip." ujarnya mengingat penangkaran di tempat kuda tadi.
"Apa?!" teriak ketiga orang itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Noni Noni
𝒃𝒂𝒈𝒖𝒔 𝒗𝒊𝒐
2024-05-17
0
muli Yana
wanita abad 21beraksi😅
2024-02-03
2
Lina Lina
heran ya kaget ya..😅😅
2023-05-04
0