"Nyonya," sapa Flora dengan sopan menundukkan kepalanya.
"Dimana Viola?" tanya Duchess Eliana khawatir. Hatinya di liputi perasaan takut dan cemas.
Flora bersyukur, ternyata Duchess Eliana masih sama seperti dulu. Tidak berubah sedikit pun.
"Nyonya sedang istirahat, Ducchess" ujar Flora.
Duchess Eliana menghela nafas, ia merasa Viola hanya ingin menghindarinya. Sejak dulu Viola hanya menangis sendirian tidak pernah memperlihatkan kesedihannya pada orang lain. Menanggung kesedihannya sendirian.
Lilliana maafkan aku yang tak bisa menjaga putri mu dengan baik. Aku gagal Lilliana batin Duchess Eliana berlalu pergi dengan wajah lesu.
Flora memutar kepalanya, lalu menutup pintu kembali. Sesampainya di kamarnya Flora mengambil sebuah surat kecil di laci. Surat peninggalan Duchess Lilliana sebelum pergi. Ia membaca kembali surat itu. Tak terasa air matanya menetes ke surat itu.
"Flora jaga putri ku, Viola. Tunggu aku menjadi kuat. Suatu saat nanti aku akan kembali menjemputnya dan juga dirimu."
^^^Liliana.^^^
Flora kembali melipat kertas itu, ia menatap ke arah langit. Ia berharap secepatnya junjungannya kembali. Menjemput Viola, seandainya dia memiliki kekuasaan pasti ia akan membawa Viola dan memberikannya kebahagiaan.
"Nyonya, saya menunggu nyonya. Saya yakin Nyonya saat ini sedang berusaha." ujar Flora mengembalikkan kertas itu ke lacinya. Besok dia akan memberikannya pada Viola.
Disisi lain...
Seorang wanita yang tak muda lagi tengah fokus ke arah kertas di depannya. Namun wajahnya masih terlihat berseri. Sesekali ia menguap, matanya tetap ia usahakan agar terbuka. Dalam hatinya, ia bertekad akan menjadi kuat dan memiliki sebuah kekuasaan dimana dirinya tidak akan mudah di injak-injak lagi. Dia akan menjemput putri semata wayangnya.
Wanita itu menghentikan pemeriksaannya. Kesehariannya hanya bekerja dan bekerja. Sudah lama dia meninggalkan putrinya. Sangat lama bahkan ia yakin putrinya akan mirip dengan wajahnya.
Flasback
Petir di langit menggelagar, memperlihatkan cahayanya di iringi dengan hujan yang sangat deras. Ia terus berjalan menapaki kakinya di Ibu Kota berharap dengan kepergiannya saat ini ia akan menjadi orang yang berguna untuk putrinya kelak. Ia melihat sekelilingnya, tidak ada orang sama sekali. Ia bingung akan mencari kemana tempat tinggal sementara. Padahal saat ini tidak ada orang yang bisa ia mintai tolonga. Ingin ke rumah Baron, percuma saja. Keluarga Baron telah di kelolah oleh Bibi dan Pamannya. Kedua orang itu lah penyebabnya penderitaannya di mulai.
Benci, is sangat benci. Ternyata orang yang dekat dengan kita belum tentu memperlakukan kita dengan baik. Kadang kala orang yang jauh dari kita lah yang memperlakukan kita dengan baik. Nikah, tidak pernah terlintas dari pikirannya menikah dengan orang yang sudah jelas memiliki istri dan anak. Dia tidak ingin menjadi orang ketiga. Dia memang memiliki seorang putri, tapi itu hanyalah semata permintaan istri pertamanya yang memohon agar dirinya di perlakukan seperti istri. Akan tetapi semua sama saja. Memiliki anak atau pun tidak, ia tidak pernah merasakan layaknya seorang istri.
Udara malam dan dingin itu membuat tubuhnya menggigil. Tubuhnya semakin melemah, kepalanya terasa berat. Matanya tak sanggup lagi untuk terbuka. Hingga ia pingsan di pinggir jalan. Lalu saat ia sadar, ia berada di sebuah ruangan yang mewah. Dan semenjak itulah dia menceritakan kehidupannya kepada kedua orang yang menolongnya. Wanita paruh baya dan pria paruh baya yang tidak memiliki seorang anak. Dengan cinta yang kuat itu tidak pernah menghalangi kebahagiaan mereka. Dan di sinilah dia di kenal sebagai Baroness Lilliana, putri angkat dari keluarga Baron yang terpandang.
Keluarga Baron Armand dan Baroness Aurora. Beruntung keluarga itu berasal dari Kekaisaran sebrang sehingga tidak ada yang mengenalnya. Pada saat itu keluarga Baron menjenguk saudaranya yang sedang sakit dan untungnya saudaranya tidak mengenali siapa dirinya.
"Tunggulah putri ku," ujarnya dengan mata tajamnya seraya mengepalkan tangannya. Ia sudah memiliki sebuah rencana. Dimana dia akan menyuruh seorang pelayan berpura-pura menjadi pelayan di kediaman Duke Cristin yang akan memberikan informasi melalui pelayan itu. Dua hari yang lalu, ia mencari informasi tentang putrinya. Hatinya menangis. Nasib putrinya sama dengan dirinya.
"Mira," teriaknya dengan tegas.
"Hamba, Nyonya." ucap seorang gadis.
"Bersiaplah, besok pagi. Aku sudah mendapatkan informasi. Kediaman Duke Cristin mencari seorang pelayan. Temanilah putri ku, berikan informasi tentang diriku padanya dan yakinkan dirinya bahwa aku akan menjemputnya. Dan ingat datanglah ke toko ini." Liliana memberikan sebuah alamat, "Aku akan sering berkunjung ke toko itu untuk menemui putri ku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
𝕗 𝕚 𝕚
👍
2023-10-20
2
Atieks Syaiful Bahri
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
2021-08-07
0
Anonymous
semangat😇
Jangan lupa mampir yah ke cerita gw😁
Bisa dicari dikolom pencarian👉Golden Bride😁
2021-08-06
1