Keesokan harinya.....
Viola membuka kelopak matanya. Ia mengucek kedua matanya lalu beringsut duduk. Merenggangkan otot-otot lengannya itu.
Huem
Viola menguap dan melihat ke arah jendela. Cahaya matahari telah masuk ke dalam jendelanya itu. Ia menyingkapi selimutnya dan duduk bersila dan kembali merenggangkan ototnya.
"Selamat pagi nyonya." sapa Flora tersenyum dari arah pintu. Ia menarik gorden jendela itu lalu melipatnya kemudian mengkaitkannya ke arah paku yang di khususkan sebagai pengkait gorden.
"Hem."
"Apa tidur nyonya nyenyak?" tanya Flora kemudian berjalan ke arahnya.
"Nyenyak sekali, sampai aku bermimpi pergi dari rumah ini. O iya Flo, apa Duchess Eliana dan Duke Arland sudah pulang?" tanya Viola sambil menopang dagunya melihat ke arah Flora.
"Nyonya dan Tuan menginap Nyonya."
"Astagah," Viola menegakkan badannya kemudian berdecak pinggang. "Kapan mereka pergi. Aku merasa risih dengan kehadiran mereka berdua.."
Viola turun dari kasurnya dan melangkahkan kakinya ke arah balkom. Menikmati sinar matahari dan angin pagi yang sejuk. "Flo, hari ini aku ingin mencari udara segar. Aku bosan di sini,"
"Bagaimana jika nanti kita keluar nyonya. Saya akan mempersiapkan segalanya nyonya. Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan pada nyonya."
Flora mengeluarkan selembar kertas, ia menyodorkan kertas itu ke arah Viola.
Viola menatap sejenak ke arah kertas itu, ia meraih dan membuka lipatan itu. Setelah membaca tulisan tangan itu. Viola menatap ke arah Flora meminta sebuah penjelasan.
"Maafkan saya nyonya, hanya itu terakhir yang di titipkan oleh Duchess Lilliana. Maafkan saya juga nyonya, karena baru sekarang memberikannya pada nyonya." ujar Flora merasa bersalah.
"Aku akan menunggunya Flo, aku rindu padanya." ujar Viola terkekeh melihat Flora yang ketakutan dengan wajah cemasnya itu.
Viola melangkah maju membuat wanita di depannya bertambah ketakutan. Viola menggerakkan tangan kanannya. Flora memejamkan matanya, menerima setiap hukumannya. Ia membuka matanya kembali, tidak terjadi apa-apa hanya tepukan di bahu kirinya. "Jangan takut aku tidak akan memakan mu dan terimakasih telah menjaga ku."
Viola bersiul, sementara Flora langsung lemas tubuhnya. Ia berbalik kemudian tersenyum menyusul langkah kaki Viola.
Selesai merias diri Viola mengangkat gaunnya. Lalu berjalan menurunin tangga. Flora pun langsung di buat gagap oleh sang majikan. "Nyonya jangan seperti ini." Flora berjalan di sampingnya sambil menasehati Viola.
Viola berjalan ke arah dapur dengan wajah tegapnya. Ia tidak memperdulikan ceramah Flora yang berada di sampingnya itu.
"Selamat pagi." teriak Viola di ambang pintu dapur. Jelas para pelayan dapur langsung shock melihat kedatangannya.
"Nyonya, kenapa ke sini?" tanya pria paruh baya itu. Sudah dua kali sang nyonya datang ke dapur membuat mereka heboh. Bagaimana jika ketahuan oleh Duke Cristin dan yang lainnya. Sudah pasti mereka di marahi bahkan bisa di pecat.
Viola menarik kursi meja itu, lalu bersendekap dan menyilangkan kakinya. "Kalian tau kan, bagaimana caranya aku memasak nasi goreng. Aku ingin kalian tiap pagi memasak nasi goreng." Viola menarik keranjang kentang di depannya itu. "Dan juga buatkan aku kentang goreng." ujarnya mengambil satu buah kentang lalu mengupasnya.
"Nyonya, biarkan kami saja. Tangan nyonya nanti kotor." ujar Flora mengambil kentang di tangannya.
"Baiklah," ujar Viola melihat ke arah pelayan yang sibuk menyiapkan nasi gorengnya. Sementara yang lain menyiapkan roti dan slai untuk sarapan pagi sang Duke dan yang lainnya.
"Nyonya, mari saya antar ke ruang makan." ujar Flora meraih sebaskom kaca nasi goreng itu.
"Tidak perlu, aku akan makan di sini. Cepat siapkan piring."
"Tapi nyonya,"
"Sudahlah jangan membantah Flo, ayo kita makan di sini." ujar Viola langsung memakan nasi gorengnya tanpa memperdulikan para pelayan yang saling menatap.
Sementara di ruang makan..
Ketiga orang itu merasa ada sosok yang hilang. Ketiga orang itu pun menyadari siapa sosok itu. Duke Cristin dan Duke Arland diam saja. Ingin mereka menyuruh salah satu pelayan memanggil Viola namun karena gengsi, mereka memilih diam dan memakan roti itu dengan hambar. Entah mengapa hari ini kedua orang itu ingin memakan nasi goreng Viola.
"Pelayan, panggil nyonya." ujar Duchess Eliana memecahkan keheningan.
"Maaf nyonya, Duchess sedang berada di dapur." ujar salah satu pelayan maju. Tentunya ia tau, sebelum melayani majikannya. Ia sempat mencicipi nasi goreng buatan Viola.
"Aku akan melihatnya." pekik Duke Arland langsung pergi. Duchess Eliana ingin mencegah namun sepertinya punggung itu telah jauh dari pandangan mereka.
"Sudahlah Ibu dia memang pantas berada di sana." ujar Ferland tanpa melihat ke arah Duke Cristin dan Duchess Eliana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
👑Lian Siyue👑
pengen banget gue timpuk mulut si ferland pake cobek asli nyinyir nya kebangetan
2023-06-06
1
Zulvianti
ati ati ya sampe viola pergi lu cariin, gu jitak lu
2022-03-02
1
AYU DANI
ih itu mulut deke erland sungguh sangat pedas belum pernah kali d cabein tuh mulutnya
2021-05-05
2