Suara cambukan bawah tanah itu menggema di ruangan kedap suara itu. Tidak ada cahaya matahari yang tembus ke ruangan itu hanya ada Obor yang menyala dan bau darah yang begitu menyengat. Ruangan yang selalu di gunakan untuk menghukum orang yang memberontak di kediaman Duke.
Ctar
Ctar
Ctar
Suara cambukan itu terus di layangkan sampai 50 kali. Viola hanya menggigit bibir bawahnya dan meremas gaunnya. Kepalanya sakit di tambah lagi dengan kedua betisnya yang sakit dan perih.
"Heh, keluarga itu, apa mereka pikir dengan memberiku hukuman akan membuat ku meminta maaf. Mati pun aku tidak sudi." Geram Viola. Ia melirik ke arah pengawal yang sedang menjalankan perintahnya. Aura itu semakin dingin. Sang pengawal pun selalu melirik ke arah matanya. Baru pertama kalinya, dirinya merasakan takut melihat guratan api di matanya.
Beberapa menit kemudian.
Viola merasa keheranan. Kedua kakinya tidak merasakan sakit lagi. Ia memutar kepalanya ke kanan. "Apa sudah selesai?" tanya Viola merasakan kegugupannya.
"Su-sudah nyonya."
"Bilang dong, seharusnya aku tidak perlu capek-capek berdiri. Heh, hanya segitu kemampuan mu," ujar Viola saat hendak melangkahkan kakinya. Seketika kedua kaki itu lemas seakan tidak memiliki tenaga.
Viola meremas lututnya dengan menunduk, ia menatap ke dapan. Berusaha kakinya berjalan seperti biasa, tidak ada rasa sakit atau pun perih. "Keluarga Duke ini. Ingin rasanya aku mencabik-cabiknya menjadi perkedel." Gumamnya kembali melangkah.
Sayup-sayup ia mendengarkan suara tangisan dengan nada memohon. Viola menghentikan langkahnya sebentar. Mengingat suara itu, ia membelalakkan matanya. Kini ia ingat, suara itu. Suara pelayannya Flora. Viola berjalan tergesa-gesa. Kedua tangannya membuka pintu kokoh itu.
"Flora," panggil Viola seraya berjalan ke arahnya. Ia tidak tega melihat Flora yang bersimpuh memohon agar di pertemukannya.
"Nyonya," Flora berdiri ia langsung menggenggam kedua tangan Viola. "Nyonya maaf, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah ini nyonya bisa menghukum saya. Tapi untuk sekarang nyonya harus mengobati kaki nyonya."
"Huh, hanya luka begini aku tidak akan mati begitu saja." Kesal Viola.
Dia pun melangkahkan kakinya dengan lebar melewati Flora. Sepanjang perjalanan, Viola melihat para pelayan yang saling menunduk dan ada yang berbisik-bisik. Viola mengehentikan langkah kakinya. Lalu melirik tajam ke arah kiri. Hingga membuat pelayan itu menunduk dan pergi.
"Ck, membosankan," Viola melanjutkan langkah kakinya. Sesampainya di kamarnya Viola melihat pria paruh baya memakai jas putih dan berkacamata.
"Nyonya saya di perintahkan untuk memeriksa nyonya dan mengobati luka nyonya." Pria paruh baya itu berucap dan menunduk ketakutan.
"Siapa yang menyuruh mu?" tanya Viola. Ia tidak menyuruh Flora memanggil Dokter, apa Flora yang menyuruhnya? tidak mungkin kedua bajingan itu yang memanggilnya pikirnya.
"Yang Mulia Duke Cristin dan Yang Mulia Duke Arland yang menyuruh saya nyonya." jawabnya.
Viola tersenyum, mimpi apa dia semalam? Duke Cristin dan Duke Arland memanggilkan Dokter. Oh, tidak lebih tepatnya, dialah yang mencelakainya.
"Tidak perlu, biarkan saja Flora yang melakukannya."
"Tapi nyonya,," pria paruh baya itu begitu ketakutan mengingat kekejaman kedua orang itu. Tadi saja ia seperti akan di makan oleh singa, mengingat tatapan dan suara kedua orang itu.
"Sudahlah aku tidak menerima penolakan. Bilang saja padanya, jangan mengeluarkan uang yang tidak berguna, heh." Viola melihat ke Flora, "Ambilkan aku obat dan kamu pergilah." ujar Viola tanpa melihat ke arahnya.
"Tapi nyo..."
Seketika pria itu bungkam melihat tatapan tajam Viola. Lalu bergegas pergi meninggalkan kedua wanita itu.
"Kenapa nyonya menolaknya? luka nyonya perlu di periksa." ujar Flora yang khawatir.
"Hah, aku tidak butuh. Sebaiknya kamu yang mengobatinya." Viola menuju ke ara sofa, ia mengambil posisi tengkurap dan menggunakan kedua tangannya sebagai bantal.
"Ba-baiklah nyonya."
Sementara di sisi lain.
Terlihat kedua orang duduk melamun. Entah apa yang di pikirkan kedua laki-laki itu yang tampak gusar. Duke Arland terlihat memikirkan sesuatu, ia teringat pada tatapan Viola. Jantungnya berdebar-debar ia merasa tidak suka dengan tatapan itu.
Lain halnya dengan Duke Cristin. Dia merasakan sesuatu asing di matanya. Tidak biasanya Viola akan melawannya atau Ayahnya. Putri yang selama ini ingin merasakan kasih sayang kini menunjukkan tatapan benci.
Apa mungkin dia sudah berubah pikirnya.
"Tuan," pria paruh baya itu akan melaporkan pemeriksaanya atas perintah kedua orang itu.
"Bagaimana?" tanya Duke Arland yang tiba-tiba khawatir.
"Di-dia menolak tuan." lirihnya menunduk.
Kedua orang itu terbelalak, bukan mereka senang tapi ada sesuatu yang aneh di hati mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Osie
ok k4n ini cerita udah end jd maaf aku skip dl mau baca endingnya..kalau ending viola ttp sm duke cristin..maaf ya aku g lanjut baca/Pray//Pray/krn mwnueutku hy perempuan bodoh yg udah di zolimi lahir bathin yp msh ttp bertahan
2024-12-18
0
Noni Noni
𝒊𝒌𝒖𝒕 𝒉𝒂𝒕𝒊𝒎𝒖 𝒗𝒊𝒐..
2024-05-17
0
Sandisalbiah
hem.. banci ..krn lelaki sejati tdk akan melampiaskan amarah dan rasa kecewa pd perempuan.. Arlan dan Cristian.. kalian hanya banci..
2024-02-03
3