"Viola sekali pun kamu mengelak. Kamu tetap keturunan bangsawan Duke." teriak Duke Arland menggelagar di ruangan itu.
"Aku tidak butuh, aku tidak butuh pengakuan mu." teriak Viola langsung berlari, lalu menutup pintu kamarnya secara kasar.
Kedua orang itu terpaku, Duke Arland mengakui Viola secara terang-terangan. Ada rasa bahagia di hati Duchess Eliana, Sementara kedua orang itu diam membatu. Duke Cristin masih dalam ke adaan shock, namun ada ribuan bunga di hatinya. Lain halnya dengan Ferland, ia lebih shok, Ayahnya yang dulu tak mau mengakui Viola. Kini terang-terangan mengakuinya.
Ferland membalikkan badannya, hatinya terbakar. Ia tidak terima begitu saj, sang Ayah mengakui Viola. Lalu memilih pergi meninggalkan dari kediaman Duke.
Sepanjang malam Viola mengunci dirinya di dalam kamar dengan buah-buahan yang ia suruh Flora menyiapkannya. Dia malas turun ke bawah dan harus bertemu dengan mereka.
tok
tok
tok
"Nyonya waktunya makan malam." ujar Flora, sejak siang majikannya tidak mau makan. Dan hanya meminta di hidangkan buah saja.
"Masuk lah." teriak Viola.
Flora dan Mira masuk, ia langsung menganga melihat wanita di depannya. Kakinya naik ke atas meja dan memakan buah anggur dengan santai. Kedua wanita itu serempak melihat ke lantai, biji anggur dan kulit pisang berserakah.
"Nyonya." Gumam kedua orang itu.
Flora dan Mira menaruh hidangan itu di atas meja. Viola menurunkan kakinya, ia melihat hidangan di depannya. Matanya berbinar melihat udah yang lumayan besar dengan hiasan sayur dan tomat di pinggirnya.
"Ah, kebetulan sekali ada makanan kesukaan ku." Viola langsung mengambil udang itu, mengupasnya dengan cepat memasukkannya ke dalam mulutnya satu persatu.
Mira tak pernah melepaskan pandangannya dari arah Viola. Sikap dan sifatnya tak kalah jauh dari sang majikan. Ia juga merasa heran, karena yang di katakan majikannya berbeda jauh. Baroness mengatakan jika putrinya sangat lembut dan bersikap polos. Putrinya tidak bisa menatap wajah sang Ayah.
Namun fakta berkata lain. Justru wanita di depannya sangatlah bar-bar.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?" tanya Viola seraya memasukkan udangnya.
"Maaf nyonya," ujarnya menunduk.
"Hey jangan takut aku tidak akan memakan mu. Ayolah kita makan bareng." ujar Viola menyodorkan piring lauk itu.
"Tidak nyonya, kami sudah kenyang." Timpal Flora.
"Hais, baiklah aku akan memakannya."
Viola pun terus melanjutkan santapannya. Tanpa memperdulikan kedua pelayan di depannya. Sementara di balik pintu, ada sepasang mata tertuju ke arah Viola. Ia tersenyum, lalu membuka pintu itu dengan perlahan. Viola ke dua orang itu tidak sadar.
"Duchess."
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Dengan sigap Flora memberikan segelas air di depannya itu. Viola menerima gelas itu lalu meneguknya. Viola mengusap jejak air di mulutnya dengan punggung tangan kanannya itu.
"Kenapa kamu datang ke sini? seperti jailangkung saja." Gerutu Viola menahan perih di dadanya.
"Maaf tadi aku..."
"Nyonya, tuan kami permisi dulu." Ujar Flora dan Mira, meninggalkan Viola dan Duke Cristin seraya mengambil sisa makanan Viola.
Duke Cristin duduk di samping Viola. Dengan cepat Viola memindahkan bokongnya.
"Kamu mau apa?" tanya Viola keheranan. Tidak biasanya perilakunya membuat Viola ketakutan.
"Aku datang kesini, untuk meminta maaf pada mu." ujar Duke Cristin dengan nada lembut. Sikapnya memang salah, tidak seharusnya dia memperlakukan Viola dengan begitu.
Viola terkekeh, "Baru sadar." Viola menarik nafasnya. "Jangan berfikir kita baikan." Viola menyeruput tehnya. "Karena aku tidak tertarik berbaikan dengan mu."
"Duchess aku tau aku salah dan untuk itu..."
"Tidak perlu merasa bersalah dan aku juga tidak akan merasa bersalah." potong Viola.
Duke Cristin menunduk, ia tidak memiliki wajah lagi bertemu Viola. Rasanya ia malu mengingat perlakuannya dulu.
"Bagaimana dengan Kakak? apa kamu sudah menemukan keberadaannya?" tanya Viola.
"Tidak," Entahlah, hatinya tidak ingin membahas Abella.
"Kenapa dengan wajah mu? seperti tidak semangat."
"Aku tidak ingin membahasnya."
Viola tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Semenjak kapan Yang Mulia Duke tidak ingin membahasnya? biasanya Yang Mulia akan semangat membahasnya."
Duke Cristin menatap lekat Viola. Sepertinya memang benar, Viola tidak akan memaafkannya.
"Aku pergi dulu, istirahat lah." ujar Duke Cristin, tanpa sadar tangan kanannya mengusap pucuk kepala Viola. Tepat sampai di ambang pintu Viola menghentikan langkah kakinya.
"Yang Mulia Duke jangan sampai mencintai ku. Karena Yang Mulia Duke pasti tau jawabannya kan,"
Duke Cristin hanya mendengarkannya sekilas, ia kembali melanjutkan langkah kakinya dengan perasaan tak menentu. Tentu saja jawabannya hanyalah sebuah penolakan dari Viola.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Na
🤤
2024-08-12
1
Yusneli Usman
Busheett ni novel...beda kayaknya...bar bar si viola bikin semangat bacanya
2022-07-31
3
Zulvianti
sakit sekali everybody, belum menyatakan cinta di tolak duluan....
2022-03-02
1