Viola menghentikan langkah kakinya, "Aku akan mencari keberadaan Ibu ku." ujarnya tampa menoleh ke arah mereka. Lalu melanjutkan langkah kakinya kembali.
Duke Arland menatap pintu itu yang sudah tertutup. Hatinya pun merasa tidak enak. Ia ingin mengatakan hal lain. Akan tetapi mulutnya terkunci rapat.
Sementara Duke Cristin, ia merasakan hatinya seakan tak ingin melepaskan Viola. Saat Viola mengatakan akan pergi dan memutuskan hubungan. Tiba-tiba hatinya merasakan di gores. Kedua laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Mereka lebih mementingkan keteguhan hatinya mencari Abella. Segera mereka menepis perasaan yang tidak enak itu.
"Nyonya," Flora berjalan menunduk. Ia begitu penasaran apa yang junjungannya katakan pada dua orang itu.
"Apa tadi.."
"Mereka memarahi tentu aku lawan Flo. O iya Flo, Aku ingin ke dapur. Suasana hati ku sedang tidak enak. Antarkan aku kesana Flo,"
"Tidak perlu Nyonya biar saya saja yang akan memasakkan sesuatu untuk Nyonya."
"Apa kamu bisa membuat nasi goreng?" tanya Viola seraya menaikkan alisnya.
"Makanan apa itu nyonya kenapa sangat aneh?"
"Sudahlah, antarkan saja. Kamu tidak akan tau." ujar Viola.
Flora membuka pintu dapur itu, ia melihat ke arah para pelayan. Ada 10 orang pelayan wanita dan 2 pelayan laki-laki. Mereka sedang sibuk menyiapkan makan malam. Saat melihat kehadirannya. Para pelayan langsung memberikan hormat.
"Ada apa nyonya datang kesini?" tanya salah satu pria paruh baya itu.
"Aku lapar, ingin membuat nasi goreng." Viola melewati pria paruh baya itu. Ia melihat sekeliling dapur itu, bersih tanpa noda sedikit pun. Ternyata keluarga Duke Cristin sangat menjaga kebersihannya.
"Makanan apa itu nyonya? biakan kami yang membuatnya." tawar pria paruh baya itu. Baru kali ini mereka melihat majikannya menginjakkan dapur. Seharusnya sebagai wanita bangsawan tidak suka dengan dapur. Dengan alasan dapur sangat kotor. Biasanya para bangsawan akan menjaga gaunnya dan tubuhnya. Mereka berlomba-lomba mempercantik tubuhnya.
"Sudahlah, aku tidak perlu meladeni pertanyaan kalian." Viola melihat ke arah meja. Banyak sekali bumbu-bumbu dapur. Tidak butuh waktu lama. Viola melihat ke arah piring. Ia menarik lengan bajunya ke atas. Lalu memulai sesuatu yang akan membuat mereka takjub.
"Flo, ambilkan 3 butir telur dan udang yang sudah di potong kecil-kecil dan wortel yang sudah matang, tapi di potong kecil-kecil." perintahnya.
"Nyonya biar kami saja yang melakukannya." tawar pria paruh baya itu.
"Baiklah, tolong kalian kupas bawang merah dan bawang putih itu." ujar Viola.
Ia berdiri di tepi meja itu, melihat para pelayan yang melaksanakan perintahnya.
"Ini haluskan bumbunya." Salah satu pelayan maju. Ia mengambil bumbu yang sudah Viola siapkan. "Dan yang lainya siapkan nasi untuk kita makan bersama." ujar Viola membuat kening para pelayan berkerut. Tapi salah satu dari mereka melaksanakan perintah Viola.
Setelah selesai Viola menggoreng bumbu itu, harum bumbu yang di goreng oleh Viola membuat para pelayan menelan ludahnya. Ada rasa ingin mencicipi masakan sang majikan saat melihat Viola memasukkan telur, wortel dan udang itu. Setelah itu ia masukkan nasi yang sudah di siapkan.
"Nyonya biarkan saya saja." tawar salah satu pelayan.
"Baiklah." Viola meminggirkan badannya, ia duduk di meja itu. Dan melihat mata para pelayan yang sangat penasaran dengan rasa nasi goreng yang ia buat.
"Nyonya masakannya sudah siap. Kami akan mengantarkannya me meja makan."
"Oh, baiklah." ujar Viola beranjak pergi.
Sesampainya di ruang makan. Viola duduk manis melihat para pelayan yang menghidangkan nasi gorengnya dan beberapa hidangan lainnya. Dengan antusiasnya Viola mulai memakan nasi gorengnya.
"Emmm, pedas." ujar Viola kembali melahap nasi goreng itu. Para pelayan saling melihat, mereka tidak berani menegur Viola. Seharusnya Viola menunggu kedatangan Duke Cristin dan Duke Arland yang sudah menjadi tamunya.
"Nona apa tidak menunggu Tuan?" cicit Flora mengingatkan. Ia takut Viola akan menerima hukuman lagi. Karena di anggap tidak sopan.
"Buat apa? aku sudah lapar."
"Ekhem." Viola menghentikan makanannya, ia menoleh ke arah dua laki-laki yang sedang ke arahnya. Bukannya minta maaf, justru ia melanjutkan memakan nasi gorengnya.
"Makanan apa itu?" tanya Duke Cristin melihat ke arah piring Viola dan sebaskom nasi berwarna merah di depannya. Harum bumbu itu membuat kedua laki-laki itu penasaran dan ingin mencicipinya. Apa lagi perutnya sedang lapar.
"Kalian mau, makanlah ! selagi hati ku masih baik." ujar Viola.
Duke Cristin melihat ke arah Duke Arland. Mereka saling mengangguk. Salah satu pelayan maju, ia menaruh nasi goreng itu di piring mereka. Tanpa ada keraguan mereka langsung memakan nasi goreng itu.
Duke Cristin dan Duke Arland saling melihat. Kemudian mereka melahap makanan itu seakan berlomba satu sama lainnya. Walaupun lidah mereka terasa terbakar. Namun mereka tak memperdulikannya. Bagi mereka masakan aneh itu membuat nafsu makan mereka bertambah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Sandisalbiah
wah.. emang jiwa yg masuk dlm tubuh Vio dr mana..? kok tau masak nasi goreng..
2024-02-03
1
Lina Lina
mudah2an habis makan kalian sakit perut anying
2023-05-04
0
Lina Lina
ya teteplah seperti itu dan kalian jgn pernah menyesalinya lanjutkan perjuangan kalian
2023-05-04
0