BAB 10

Aku ingin tertawa terbahak - bahak mendengar Lucky bertutur seperti itu. Mungkin dikiranya aku tidak tahu, tentang rencana mereka. Sekarang aku merasa yakin, bahwa semua ini memang sebuah prank.

"Hhaa, apaan sih Ky, dokter, dokter! Aku juga udah tahu kali rencana kalian apa!"

"HAH? Apa kamu bilang? Seriusan?!"

"Iya! Aku tahu kok, ini semua cuma prank doang kan? Hayoloh ketahuan, hha!"

"E-enggak loh ini semua beneran! Sumpah!"

"Halah, ngaku aja sih. Tenang gak akan aku bocorin kok sama Rian!"

"Hah? Rian?"

"Iya, hari ini ulang tahunnya Rian kan?"

"Hari ini? Ulang tahun, Rian?"

"Iya. Lagian apa - apaan sih, kok aku jadi ikutan kena prank!"

"Emm, prank apaan maksud kamu?"

"Aduh, udah deh jangan pura - pura bego! Aku juga tahu, Azka gak kenapa - napa! Kalian semua lagi nyiapin acara buat ultahnya Rian kan? Dan ini semua cuman prank untuk dia. Udah deh gak usah ditutup - tutupin! Yang ulang tahun kan Rian, kenapa harus aku juga sih yang ikut - ikutan di prank? Gimana sii!"

Mereka memang aneh! Rian yang ulang tahun, aku juga yang kena prank. Aku sungguh tidak paham, dengan maksud mereka. Apakah mereka tidak ingin aku membantu mempersiapkan acara pesta nya.

"Ji?"

"Apa?"

"Jadi, kamu udah tahu semuanya?"

"Iya."

"Aduh, kok bisa sih?!"

"Ya, bisalah!"

"Tadi kamu ngintip?"

"Iya,"

"Ngapain pake ngintip sih?"

"Emang kenapa, gak boleh?"

"Ya, bukannya gi-"

"Apa salah nya sih aku tahu tentang semua ini. Apa salahnya aku ikut campur juga pengen bantuin kalian. Atau kalian emang gak mau aku bantuin? Kalian gak mau aku ada disini? Kalian takut aku ngancurin acara party nya?"

"Enggak, Ji!"

"Kalian benci sama aku? Mereka semua jijik sama aku? Termasuk kamu Lucky, ilfeel sama aku? Kenapa? Aku salah apa?"

"Apasih Ji, gak git-"

"Kalo kalian gak mau ada aku, ngapain aku musti di prank segala?! Kamu pikir ngerasain panik, khawatir, gelisah tuh enak? Kamu kira mudah buat nahan tangis? Sedari awal rasa khawatir ku sama Azka, emang gak main - main! Terus sekarang apa, semua ini terbukti cuma bohongan kan?! Prank untuk Rian, sengaja aku dilibatkan, biar aku gak bisa bantuin kalian, dan cuma dibiarkan ngerasain panik nya doang, gitu? Gitu kan! Emang dipikirnya gak sakit hati apa, dibuat kayak gitu!"

Tidak bisa ku tahan lagi, semua yang aku alami dan kurasakan hari ini benar - benar begitu melelahkan. Air mata sukses mewakilkan semuanya, dengan mengalir begitu deras dari pelupuk mata. Sudah lama aku menahannya, hingga sekarang tidak dapat terbendung lagi. Menangisi semua yang tidak berhasil terpahami.

Aku tidak dapat mengerti, apa yang sebenarnya mereka inginkan. Mereka juga tidak mau menjelaskan, tentang apa yang sebenarnya direncanakan. Hanya aku yang mampu bertanya - tanya dan mengira - ngira sendiri. Hingga berujung, merasa lelah karena terus dibuat bingung.

"Ji, apa - apaan sih. Please lah jangan nangis! Ini semua tuh maks-"

"Lain kali kalo bikin acara ginian, gak usah repot - repot ngundang gue!"

"Ck, denger dul-"

"Gak ngadab banget, bikin prank libatin orang yang gak bersangkutan!"

"Ji, tolong deng-"

"Emang puas banget kan, liat gue nangis kayak gini! Seneng lo?!"

"Enggak Ji, kam-"

"Basi, bikin prank nanggung. Kenapa gak sekalian aja ceritanya si Azka mati, ketabrak tu mobil!"

"Heh, Ji! Keterl-"

"Bakalan seneng banget kan, lo semua! Liat gue nanti stres, uring - uringan sampe pingsan!"

"Apa si-"

"Pas gue pingsan, itu jadi kesempatan emas dong! Lo semua bisa rayain party ultahnya Rian, tanpa gue!"

"Ck, makin ngawur aj-"

"Gue emang gak bisa jadi teman yang baik buat lo semua. Gue gak guna, gue gak berpengaruh, gue gak bermanfaat, gue nyusahin, gue ngeselin. Apalah, gue cuma sampah! Gak harus diperhatiin, gak perlu dihargain. Fitrah sampah emang musti jadi limbah, terbuang, terabaikan. Gue pan-"

"JIA, BISA DIEM DULU GAK! PLEASE, DENGERIN GUE! Eh sorry, sorry, maksudnya dengerin aku. Aku mau ngomong, daritadi kepotong mulu. Gimana sii! Nyerocos terus, mana ngelantur lagi. Denger ya! Sepersekian detik prasangka buruk yang kamu bangun, efeknya bakal lebih kuat dan lebih lama dari detik itu. Jadi kalo emang gak tahu, jangan maksa - maksain tahu dengan menumbuhkan prasangka yang gak baik. Sorry, tapi emang semua dugaanmu itu gak sama, jauh banget. Ini semua sama sekali gak ada hubungannya sama Rian. Oke, memang aku jujur, aku akui, dugaanmu tentang prank, itu benar. Tapi bukan untuk Rian, paham?!"

Semakin bingung dengan pernyataan Lucky, entah apa maksud yang ingin dia sampaikan. Pranknya bukan untuk Rian? Sama sekali tidak berhasil paham, hanya terus - menerus diberi teka - teki. Tapi saat itu, aku rasa cukup untuk mengikuti alur rencana mereka. Benar - benar pusing, memikirkan apa yang sebenarnya mereka rencanakan. Semakin ingin tahu, malah akan semakin rumit, pikirku. Jadi lebih baik aku putuskan untuk meninggalkan rumah sakit ini. Mengacuhkan apa yang sebenarnya mereka inginkan.

"Eh, eh, mau kemana, Ji?"

"Pulang."

"Loh? Kok pulang sih?"

"Serah, gue!" ucapku, sambil berlari meninggalkan Lucky.

"Eh, Ji tunggu!"

"........"

"Jia, tungguin!"

"........"

"Oy, Jia, tungguin!"

"........"

"Jia!"

"........"

"Hey, Jia!!"

"Apasi?!"

"Jangan dulu p-"

"Kenapa? Ada apa? Gue emang gak dibutuhin lagi kan disini? Jadi ngapain gue harus lama - lama di tempat kayak gini, mending pulang aja sekalian, gak ada kepentingan juga kan!"

"Tunggu dulu! gue belum selesai ngomong tadi."

"Ya terus, mau ngomong apa lagi, hah?! Udah cukup ya, sampe sini aja gue ngikutin rencana kalian. Untuk kedepannya, serah ya. Gue gak mau ikut campur! Ini prank untuk siapa, untuk apa ke, terserah, bodo amat, gue gak mau ngikut!"

"Ya bukannya gitu Ji, kata siapa ini gak ada sangkut paut nya sama kamu. Justru....."

"Apa?"

"........"

"Justru, apa?"

"Ehee, iya."

"Iya, apaan sih?"

"Iya, kamu justru."

"Justru, apaan?"

"Iya,"

"Aduh, please deh. Jangan bikin makin gak mood! Udah buruan tothep"

"Iya, justru kamu."

"Iya, justru gue, apa? Apaan?"

"Hemm, ya gitu deh. Hhe,"

"Ih, apaan sih. Sumpah deh, gaje banget lo!"

"Ehhe..."

Nahkan, aku bilang juga apa! Semakin ingin tahu, semakin dibuat rumit. Semakin penasaran, semakin dibikin kesal. Ah, ini benar - benar sudah melewati batas kesabaranku.

Segera ku lanjutkan langkah tadi yang sempat terhenti, menuju kemana saja yang bisa mendamaikan suasana hati ini. Emosiku sudah kian meledak - ledak, ingin segera terlampiaskan.

Aku merasa seperti dipermainkan oleh mereka. Sudahlah, aku muak! Jika terus berhadapan dengannya, tanganku tidak akan bisa dikendalikan. Sudah merasa gatal, ingin sampai mendaratkan pukulan, menuntaskan kemarahan.

...✎﹏𝔻𝕊...

.......

.......

.......

.......

.......

.......

.......

.......

.......

Thanks udah mau mampir😊

Sorry for typo and absurd🙏

Terpopuler

Comments

@Farhan Muiz

@Farhan Muiz

Semangat cans:)

2022-10-06

1

Indra H

Indra H

Next cantik

2022-10-05

2

❤️⃟WᵃfJonathan

❤️⃟WᵃfJonathan

semangat terus

2021-09-20

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!