Aisha diam berdiri, Wisnu jongkok dan mengambil Pacet yang nempel dikaki Aisha.
"Cepat mas, habis darah Aisha" ucap Aisha.
"Tidak mungkin habis Ais, Pacet sekecil ini " ucap Wisnu.
"Sudah.." ucap Wisnu, setelah melepaskan Pacet dikaki Aisha.
"Mana dia mas ?" mata Aisha melihat kearah bawah.
"Tuh.." tunjuk Wisnu kearah lumpur didekat Aisha.
Aisha memijak-mijakkan kakinya kearah yang ditunjuk Wisnu.
'Mati...kau Pacet, enak sekali kau mau menghisap darah ku dengan free. Lebih bagus aku donor darah, dari pada kau hisap dengan free " kata Aisha dan terus menghentak-hentakkan kakinya.
"Sudah...Aisha, pacet nya sudah tidak berbentuk lagi " kata Wisnu, dan Aisha menghentikan kegiatannya tadi.
"Puas.." ujar Aisha.
"Bagaimana, masih mau lanjut ?" tanya Wisnu.
"Nggak, Aisha benci binatang pencuri darah itu " Aisha memutar balik badannya, dan diikuti oleh Wisnu.
"Ha..ha.. bintang kecil begitu masih kau takutkan Aisha " kekeh Wisnu.
"Mas Wisnu juga takut dengan kecoa " balas Aisha.
"Kecoa menjijikkan dan bau " kata Wisnu membela dirinya yang takut dengan bintang kecil yang bisa terbang dan bau itu.
"Pacet itu juga binatang kecil dan menjijikan, suka mengambil darah kita " kata Aisha, sembari melangkah dan matanya dengan awas menatap kebawah untuk menghindari binatang kecil yang menjijikkan tersebut.
"Anggap saja nyumbang " kata Wisnu.
"Lebih bagus nyumbang ke donor darah mas " gerutu Aisha.
"pelan sedikit jalannya Aisha " ingatkan Wisnu.
"Nggak, nanti pacet nya nemplok lagi . Mas suka ya lihat Ais ketakutan " ucap Aisha dengan bibir yang manyun.
"Mas lupa tadi, memvidiokan saat Aisha ketakutan. Lucu sekali, mungkin bisa viral tadi kita post ke sosial media " kata Wisnu.
"Mas... ngeselin tahu..!" seru Aisha, dan makin mempercepat langkahnya.
'Aisha...pacet tuh.... " iseng Wisnu, dan terdengar nya yang keras ditengah-tengah pematang sawah.
"Mas....!" Aisha berlari terbirit-birit, meninggalkan area persawahan.
****
Dua anak manusia, hanya diam saja duduk di bandara.
Hari ini Jeslyn berangkat bersama rombongannya menuju tempat untuk melakukan misi kemanusiaannya.
"Hei... Richard, kenapa kau diam saja. Ayolah friend.. jangan sedih begitu , mungkin kita ada jodoh. Siapa yang tahu, setelah dari sini. Hubungan kita hanya sebatas teman curhat, jika kau ada menyukai seorang gadis dan menikahinya. Aku tidak marah, karena kita tidak ada hubungan lagi " kata Jeslyn dan tangannya menggenggam kedua tangan Richard.
"kau kira semudah itu untuk melabuhkan hati ke orang lain lagi ?" netra coklat Richard menatap Jeslyn dengan tatapan yang terluka, dia heran dengan ucapan Jeslyn yang seperti mudahnya untuk mencintai seseorang.
"Maaf Rich, aku tidak bermaksud berkata aku juga akan melupakan dirimu secepat itu. Tapi aku tahu Rich orang tuamu mengharapkan kau cepat menikah "
"Aku rela, jika kau menikah. Karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya "
Seorang pria menghampiri Jeslyn, dan mengatakan pesawat yang akan membawa mereka akan berangkat.
Begitu mendengar ucapan pria tersebut, Jeslyn dan Richard berdiri. Jeslyn memeluk Richard dan berbisik ditelinga Richard.
"Aku menyayangimu, aku ingin kau bahagia. Carilah kebahagiaan mu, aku sudah menemukan kebahagiaan ku dengan mengikuti misi sosial ini " selesai berkata, Jeslyn mengurai pelukannya. Dan dengan cepat berbalik dan melangkah mengikuti rombongannya.
Tangan Jeslyn mengusap sudut matanya yang sudah mengalir air mata, sebenarnya berat untuk memutuskan mengakhiri hubungannya dengan Richard. Tetapi pekerjaan yang sangat disukainya ini membuat dia memilih untuk berpisah dengan Richard.
"Selamat jalan Jeslyn, semoga keputusan mu ini membuat dirimu bahagia " Richard mengira hanya dirinya yang sedih, dia tidak mengetahui bahwa Jeslyn juga bersedih. Tapi Jeslyn tidak menunjukkan didepan Richard, dia menyembunyikan kesedihannya dibalik wajah cerianya dan tawa candanya.
Richard menatap punggung Jeslyn yang berlalu dari hadapannya, sampai punggung itu hilang dipintu menuju ruang tunggu bandara. Setelah bayangan Jeslyn sudah tak terlihat, Richard memutar badannya untuk meninggalkan bandara.
Begitu badan Richard berbalik dan beranjak meninggalkan bandara, pintu ruang tunggu terbuka dan terlihat wajah Jeslyn menatap kepergian Richard.
"Aku merestui mu Rich, jika kau menemukan gadis yang baik. Kejarlah kebahagiaan mu " guman Jeslyn saat melihat punggung Richard yang makin menjauh dari pandangan matanya.
"Are you oke.." sapa temannya, yang sama-sama berangkat menuju tempat yang menanti uluran tangan mereka.
"Ok..I'm fine.." jawab Jeslyn.
***
"Nenek....!" Aisha kembali kerumah neneknya dengan berlari sembari berteriak.
"Ada apa Ais...?" neneknya dan ibunya, keluar. Begitu mendengar suara Aisha .
"Nek..mas Wisnu.." ujarnya, dengan napasnya yang terengah-engah. karena letih berlari dari area persawahan.
"Apa yang dilakukan Mas mu ?" tanya ibunya.
"Mas Wisnu, nakut-nakutin Aisha dengan binatang kecil yang menjijikkan itu !"
"Apa itu ?" tanya ibunya yang tidak tahu apa yang dikatakan Aisha.
"Pacet ?" kata neneknya.
Wisnu yang baru sampai, tertawa melihat Aisha mengadu pada nenek dan ibu.
"Ini nek, mas Wisnu jahat..!"
"Wisnu, apa yang kau lakukan pada adikmu ?"
"Nggak ada nek, tadi ada Pacet nempel ke kaki Aisha " cengir Wisnu.
"Terus kamu tidak lepasin Pacet nya ?" tanya nenek.
"Lepasin nek, cuma lucu aja lihat Aisha loncat-loncat " Wisnu tertawa, dan diikuti dengan tawa ibunya.
"Ibu..! kenapa tertawa juga, ibu juga takut kan dengan bintang kecil itu ?"
"Iya..ibu juga geli melihatnya meliuk-liuk dikaki..ih.." ucap ibunya dengan bergidik membayangkan pacet.
"Kamu ini Wisnu, sudah tahu Aisha takut dengan Pacet kenapa dibawa ketengah sawah ?" kata nenek kepada Wisnu.
"Aisha yang mau kesana nek, bukan Wisnu yang ngajak " kata Wisnu.
"Iya nek, Aisha yang berjalan kesana. Karena Aisha lupa di sawah itu banyak pacetnya.
"Seharusnya mas Wisnu ingatkan Aisha "
"Mas ingin lihat saja, apa Aisha masih takut dengan Pacet " ucap Wisnu sambil ngekeh.
'Sudah...sudah, lupakan soal pacet. Ayo kita makan, Janah sudah selesai masak " kata nenek dan meraih tangan Aisha dan mengandeng masuk kedalam rumahnya.
****
Alana masih berada dalam kamarnya, matanya terus menatap ponselnya yang tadi dilemparkan nya kesembarang tempat.
"Pada kemana semua orang, Aisha dihubungi ponselnya diluar jangkauan. Dony lagi, hari Sabtu begini sibuk dengan pekerjaannya " omel Alana dengan bertelungkup dikasurnya.
"Apa hanya aku yang tidak ada kesibukan "
drrrt...drrt...
Ponselnya berbunyi, Alana beringsut untuk menggapai ponsel yang dilemparkan nya tadi.
"Panjang umurnya " begitu melihat, nama siapa yang tertera ponselnya.
"Halo.. Aisha, kenapa teleponku tidak kau angkat dari tadi ? apa kau masih tidur. Atau kau kencan dengan David ?" tanya Alana dengan beruntun.
"Hei .. satu-satu nanya Non " jawab Aisha dari seberang telepon.
"Ayo kita nonton, aku bosan dirumah terus " kata Alana.
"Maaf Al, aku tidak bisa menemani dirimu. Aku sekarang berada dirumah nenek ku " kata Aisha .
"Kenapa tidak kau kabarin aku Ais..aku bisa ikut !"
"Aku kira kau mau ngedate dengan Dony "
"Dony sibuk "
"Kau nonton sendiri saja " kata Aisha.
"Nonton sendiri seperti orang gila " jutek Alana.
Tertawa Aisha mendengar Alana yang jutek.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Rini Anggraini
ah ga sabar kapan aisha jumpa Richard 🙏
2021-10-04
1
Arinda_Na
ahajaja
2021-09-12
1
KIA Qirana
THIRTEEN
2021-08-26
1