Richard masih betah duduk merenung menatap gelapnya malam, dari kejauhan hanya terlihat lampu-lampu dari gedung tinggi berkelap-kelip seperti taburan bintang yang menghiasi langit malam.
Richard merenung, ini kedua kali seorang wanita meninggalkan dirinya dalam kesendirian. Dikiranya Jeslyn akan menemani dirinya, tidak meninggalkan dirinya seperti Rika dahulu yang pergi karena obsesinya untuk mengejar karirnya di dunia medis. Sekarang, lagi-lagi Richard mengalami kegagalan dalam percintaan. Jeslyn meninggalkan dirinya, untuk mengikuti misi kemanusiaan. Richard berpikir hari ini adalah hari berakhirnya hubungan percintaannya dengan Jeslyn.
Richard bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju ruang kerjanya. Richard masuk dalam dan merebahkan tubuhnya keatas sofa yang ada didalam ruangan kerjanya.
Richard berusaha untuk memejamkan matanya, tetapi sekuat apapun dia berusaha. Matanya berat untuk diajak bekerja sama, matanya menatap langit-langit. Pikirannya terus berada apa yang baru dikatakan Jeslyn.
"kenapa Jeslyn ? kenapa kau harus pergi ke Negara yang sangat jauh, membantu orang juga dapat kau lakukan di Negaramu sendiri " gumannya.
"Negara mu juga masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan mu " Richard berbicara sendiri sembari berbaring, kedua tangannya menjadi sandaran kepalanya.
pikiran Richard terus bekerja, dan tak lama kemudian Richard sudah masuk kedalam dunia mimpinya.
Dan saat pintu ruang kerjanya terbuka, dia tidak menyadari. langkah kaki masuk kedalam ruangan kerjanya, tetapi Richard tidak mendengar langkah kaki tersebut. karena ruangan kerjanya berlapis ambal sehingga langkah kaki Jeslyn tidak terdengar.
Jeslyn mendekati dimana Richard berbaring, Jeslyn duduk di atas ambal dan tangannya menyusuri rahang Richard yang kokoh.
"Maaf, untuk kedua kalinya. Seorang wanita telah menyakiti dirimu, tapi aku sangat menginginkan kesempatan ini " ucap Jeslyn setengah berbisik.
Jeslyn tahu tentang masa lalu Richard dengan kekasihnya terdahulu sebelum dirinya, karena dia sudah mengenal Richard dari lama. Walaupun tidak terlalu rapat, setelah mereka saling merasa nyaman. Barulah mereka memutuskan untuk menjalin hubungan percintaan .
"Maaf Rich " Jeslyn bangkit dan mendaratkan kecupan dipipi Richard dan kemudian keluar dari ruangan kerja Richard.
Richard yang ditinggalkan Jeslyn, makin pulas tidurnya.
****
Aisha mengutak-atik laptop yang ada diatas tempat tidurnya, dia melihat-lihat mode baju. Karena Aisha sangat menyukai menjahit, sehingga sering sekali dia menjahit sendiri baju yang dipakainya.
Tok...tok...
"Masuk saja Bu " ucap Aisha, karena dia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Dia tahu bahwa yang mengetuk pintu kamarnya adalah sang ibu.
Pintu terbuka dan muncul wajah ibunya yang baru selesai mandi.
"Aisha, ibu besok mau kerumah nenek. Sudah lama kita tidak kesana, apa Aisha mau ikut ?" tanya ibunya.
"Mau Bu, Aisha juga rindu dengan suasana rumah nenek. Yang jauh dari hiruk-pikuk kota" kata Aisha.
"Besok kita pergi cepat ya, sekarang lagi musim hujan takut nanti saat pulang kita kehujanan. Ais apa besok tidak ada kuliah ?"
"Tidak Bu, mata kuliah Aisha tidak banyak lagi. Dan besok Sabtu Aisha libur "
"Bu, kenapa kita tidak nginap saja ditempat nenek ? apa ibu banyak jahitan ?"
"Oh ya juga, kita sudah lama tidak nginap disana. Ibu tidak ada jahitan lagi, kita nginap saja ya. Tidak perlu buru-buru pulang "
Nenek Aisha tinggal di pinggiran kota, dan suasana masih asri. Sehingga Aisha sangat suka jika berkunjung kesana, apa lagi dia punya sepupu anak dari Abang ibunya yang tinggal dengan neneknya. Dan abang ibunya Aisha sudah meninggal.
"Oke, besok kita nginap. Ayo tidur cepat, biar besok kita semangat. Apa ada tugas kuliah ?" tanya ibunya, saat dilihatnya laptop terbuka di hadapan anaknya.
"Nggak Bu, hanya lihat mode baju saja. Ais ingin buat baju "
"Ya sudah, ibu tidur dulu. Jangan tidur malam-malam " ucap ibunya dan kemudian beranjak keluar dari dalam kamar putrinya.
Aisha menutup laptopnya, dan meletakkannya diatas nakas yang ada disamping tempat tidurnya.
Aisha merebahkan badannya, dan mengambil ponselnya yang sedari tadi di abaikannya. Karena dia asik melihat gambar-gambar desain baju.
Aisha melihat banyak pesan masuk yang menghubunginya, dari David yang terus bertanya kesediaan untuk pergi bersamanya besok. Dan Alana yang terus mempromosikan Om Richard kesayangannya.
"Ah.. pusing, yang satu ngajak keluar terus. Nih Alana yang kurang kerjaan jodohin Om Richard nya dengan diriku, apa dikiranya hati orang bisa dipaksakan " ngedumel Aisha, sembari membaca pesan dari David dan Alana.
Aisha meletakkan ponselnya, tanpa membalas pesan-pesan yang masuk.
Tak lama kemudian, Aisha sudah berada dalam dunia mimpi indahnya.
****
Aisha dan ibunya, sudah dalam perjalanan menuju kerumah neneknya. Aisha membuka jendela kaca bus yang akan membawanya ke kampung halaman ibunya.
Angin menerpa rambutnya, sehingga sesekali tangannya memegang rambutnya yang panjang. Sehingga angin tidak bisa memainkan helaian rambutnya.
"Tutup saja kacanya " kata ibunya, saat dilihatnya Aisha repot memegangi rambutnya yang diterbangkan angin nakal.
"Ah.. nggak Bu, segar udaranya. Di kota kita tidak mendapatkan udara yang bersih seperti ini " kata Aisha.
Ibunya membuka tasnya dan mengambil ikat rambut dan memberikannya kepada Aisha.
"Nih..ikat saja, dari pada dipegangi begitu " ucap ibunya dan menyerahkan ikat rambut kepada Aisha.
Aisha mengambil dan mengikat rambutnya, sehingga wajah blasteran nya terlihat dengan jelas.
Saat dia di terminal dan sampai naik kedalam bus, banyak pasang mata yang menatap dirinya. Sebenarnya Aisha merasa jengah, setiap akan kerumah neneknya. Hal ini yang selalu dialaminya, pandangan mata orang yang menatap dirinya.
Ibunya juga memahami, perasaan tidak nyaman yang ada pada dirinya anaknya. Tapi yang harus dilakukannya, Aisha sangat mirip dengan ayahnya yang orang luar. Hanya rambutnya saja yang menurun dari rambut ibunya yang hitam legam.
Aisha melihat kearah ibunya, kepala ibunya bergoyang-goyang yang sudah terlihat tertidur. Karena angin membuat mata ibunya tertarik untuk terpejam.
Aisha kembali melihat keluar jendela, dan pandangan matanya melihat hamparan sawah yang sangat luas. Dan terlihat orang-orangan sawah untuk menakut-nakuti burung-burung.
"Hemh.. sudah mau sampai " ketika terbangun, mata ibunya melihat area persawahan ciri khas desanya.
"Sudah Bu, lihat ! padinya mulai menguning. Sawah nenek pasti seperti ini " Aisha ingat, dibelakang rumah neneknya terbentang sawah neneknya yang sangat luas. Karena kakeknya dahulu termasuk juragan dikampung dan sangat dihormati.
"Telaga...!" teriak kernet bus, ketika mereka akan mendekati desa Telaga. Rumah neneknya berada.
" Iya mas " jawab ibunya.
Bus berhenti dipertigaan jalan menuju kampung ibunya, Aisha mengambil tas ranselnya dan tas baju ibunya. Dan mengikuti ibunya untuk turun.
"Anaknya Bu ?" tanya kernet bus tersebut.
"Iya, kenapa ?" tanya ibunya, pertanyaan seperti itu sering diajukan orang jika Aisha ikut bersama ibunya.
Next
Maaf slow update, karena author mau istirahatkan tangan dan mata 🙏
Kakak-kakak reader jaga kesehatan, jangan terlalu diporsir membaca sampai larut.
Istirahatlah jika waktunya istirahat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Putri Sera
Joah ayah Aisyah pasti udh menikah lagi dan punya anak di swis
2022-11-26
0
Arinda_Na
wkkwkwk
ngertii bangettt gmn risihnyaaa jadi aisha
2021-09-12
0
KIA Qirana
TEN
2021-08-26
0